Bapak Rumah Tangga 

Banyak dari kita tumbuh dan besar di lingkungan yang menuntut pria harus bisa menyediakan rumah, sandang, papan untuk pasangannya. Di lingkungan sosial kita kewajiban ini dianggap sebagai kewajiban mutlak pria. Kemampuan ini yang membuat pria lebih menarik dan tingkat kelolosan jika melamar pasangan lebih tinggi.

Lingkungan kita yang patriarkis juga selalu mengasosiasikan pria dengan keberhasilan ekonomi. Ambil contoh komentar seperti ini yang banyak kita dengan dalam keseharian: “Nyonya X kerjaannya jalan-jalan ke luar negeri melulu. Suaminya kerja apa sih?” Secara otomatis, lingkungan sosial kita berpikiran bahwa perempuan itu penghasilannya tak seberapa, ini sebenarnya tak salah juga, mengingat banyak perempuan dibayar lebih rendah ketimbang pria untuk pekerjaan yang sama.


Kepala kita yang menuntut pria untuk menjadi breadwinner juga mengidentikkan perempuan dengan dapur dan mengurus rumah tangga. Pada saat yang sama, lingkungan kita juga mengasosikan perempuan pasti mau jadi ibu rumah tangga. Ini bukan masalah di Indonesia saja, tapi di mana-mana.

Lucunya, perempuan yang memilih mengurus rumah tangga sering dicibir, apalagi jika pendidikannya tinggi. “Sekolah tinggi-tinggi kok buntutnya ngurusin dapur”. Sementara perempuan yang memilih bekerja dihina-dina, apalagi jika sang perempuan memiliki anak di rumah. Apalagi jika anak tersebut dijaga oleh pekerja rumah tangga. Habislah Ibu bekerja ini dihina-dina oleh mereka yang tak pernah tahu jumlah tagihan dan kebutuhan rumah tangga. Pendek kata, dalam situasi apapun perempuan selalu salah.

Begitu juga ketika lingkungan kita melihat dan mengenal Bapak Rumah Tangga (stay-at-home-dad/SAHD), sebuah hal  tak umum dan susah diterima di kepala banyak orang. Susah bagi orang untuk menerima konsep bahwa bapak-bapak itu bisa dan mampu berada di rumah secara penuh dan melakukan pekerjaan yang diasosiakan dengan perempuan. Sementara istrinya pergi bekerja, mencari uang.

Tak heran kalau kemudian lingkungan sosial kita heboh. Kehebohan karena kaget ini dilakukan dengan cara, lagi-lagi, menyalahkan perempuan. Perempuan-perempuan ini disalahkan karena tak bisa jatuh cinta dengan pria yang tepat, yang bisa menjadi breadwinner dan memberi uang bulanan. Tak cuma menyalahkan, lingkungan kita juga mengkasihani perempuan yang memilih menjadi tulang punggung. Perempuan-perempuan ini dianggap sebagai perempuan tak berdaya yang dianggap dimanfaatkan oleh suaminya. Sang pria juga tak lepas dari berbagai macam stigma, salah satunya malas bekerja.

Banyak alasan mengapa pria memilih menjadi bapak rumah tangga. Dari mulai ingin membangun hubungan dengan anak-anaknya hingga karena istri memilih bekerja. Alasan-alasan ini tak penting, yang paling penting kita sebagai warga dunia harus mulai membuka mata dan melihat bahwa dunia sudah berubah menuju ke kesetaraan. Laki-laki dan perempuan sudah sama-sama berhak memiliki cuti untuk menjadi orang tua.

Di Indonesia, paternity leaves memang belum diberikan secara resmi oleh pemerintah dan menjadi sebuah kemewahan, karena hanya diberikan oleh beberapa instansi internasional. Mungkin sudah saatnya kita semua berteriak meminta pemerintah merubah UU keternagakerjaan dan menambahkan cuti untuk para bapak baru. Dari beberapa kasus, ada bapak-bapak memilih untuk berhenti bekerja secara penuh untuk menghabiskan waktu berada di rumah saat anaknya tumbuh besar.

Di Abad 21 ini, bukanlah sebuah hal yang aneh ketika bapak mau repot mendorong kereta bayi, menyuapi anaknya, atau bahkan memasak popok ketika istrinya berangkat ke kantor. Sudah saatnya kita menormalisasi hal-hal seperti ini dan berhenti menjadi norak, apalagi hingga mengkasihani pilihan-pilihan mereka. Ketimbang kaget melihat hal seperti ini, lebih baik kalau kita salut, salut pada keberanian para perempuan dan pria modern yang menjadi pendobrak sistem yang mendikte pekerjaan rumah tangga dan dapur hanya untuk perempuan. Nggak semua orang berani jadi SAHD lho.

Kamu, sudah pernah ketemu dengan bapak rumah tangga, atau berminat untk jadi salah satunya?

xx,
Tjetje

Advertisements

25 thoughts on “Bapak Rumah Tangga 

  1. Bapakku, bapak rumah tangga. Sejak awal menikah sampai meninggal tak pernah absen berbagi tugas mengerjakan pekerjaan RT dengan Ibu. Apalagi waktu Ibu memutuskan kuliah lagi sambil bekerja, total yg mengerjakan pekerjaan RT adalah bapak dari mencuci baju (manual krn kami ga pernah punya mesin cuci), masak, bersih2 rumah, ke pasar, ngurusin anak2nya yg masih kecil2 dll. Itupun Bapak juga sambil kerja. Waktu itu kami ga punya rewang. Yg ada dicibir tetangga karena ga lumrah laki2 mengerjakan pekerjaan RT, apalagi lihat Ibu yg kuliah lagi. Bapak seperti itu karena didikan Mbah Putri yg ga pernah membedakan laki2 dan perempuan dalam ngurusin rumah. Jadi dari kecil, Bapak sudah biasa yg namanya masak dll (Bapak satu2nya laki2 diantara 4 bersaudara). Akhirnya, adikku yg laki2 pun sudah terbiasa dari kecil nanak nasi dari dandang, cuci baju, nyapu, ngepel dll. Justru terkadang aku heran kalo tahu ada laki2 yg ga mau cuci piring, nyapu, ngepel dll. Maunya semuanya disiapkan (karena aku ga terbiasa aja lihatnya).
    Suamiku berencana 2 tahun lagi ambil cuti 1 tahun karena aku ada rencana balik kuliah dan kerja. Dia ngurusin rumah. Selama ini kami berbagi tugas di rumah, meskipun untuk bersihin toilet dan KM aku ga pernah mau (kecuali kepepet banget haha).

  2. Ah, memang stigma yang terbentuk dari pola patriarkis masyarakata sini memang nyebelin. Sempet ada masanya kami merencanakan mengambil jalan ini, saya berhenti kerja dan fokus di rumah sementara istri bekerja. Masih dalam tahap rencana dan minta pendapat saja sudah begitu banyak pandangan yang mencoba menggoyahkan rencana kami. Tapi bagaimanapun pendapat orang toh mereka gak pernah tahu apa yang kami hadapi kan.

  3. Kalau yang murni seorang bapak yang menggantikan posisi ibu di rumah sih belum pernah, Mbak. Tapi orang tua saya keduanya bekerja, dan ayah saya tidak sungkan tuh kalau melakukan pekerjaan rumah tangga. Malah, masakan Bapak lebih enak dari masakan Ibu, hihi. Akhirnya yang biasa masak justru Bapak.
    Mungkin pada awalnya memang terasa agak janggal kalau melihat seorang pria bekerja di rumah sementara yang ngantor justru istrinya. Tapi ya seperti Mbak bilang ya, kita mesti membiasakan diri. Mereka pasti punya alasan, yang pribadi, yang kita tak perlu tahu. Lagi pula, sesungguhnya SAHD tidak melanggar hukum, jadi kan sah-sah saja, ya?

      • Iya Mbok, mungkin karena pengaruh adat juga. Jika ada metulung acara besar, yang memasak malah para pria, hehe.
        Tabu karena tak pernah dibiasakan, ya… itu memang salah.

  4. Ayahnya anak-anak sepertinya bisa dibilang Bapak Rumah Tangga juga. Soalnya, hampir setiap hari, pekerjaan bebersih rumah selalu diambil alih sama dia. Kalau pas nggak sibuk, pagi juga nyiapin keperluan anak-anaknya sebelum sekolah.

    Masak juga bisa, lebih enak malah daripada masakanku (terutama masakan Indonesia). Awalnya beberapa temannya suka nanya, kenapa dia yang ngerjain kerjaan perempuan? apakah ibunya anak-anak malas atau gak mau disuruh2? Dia sih bilangnya daripada nggak ada kerjaan di rumah, mending beberes. Kalau sudah capek, tinggal main dan tidur sama anak. Hahaha!

    Tapi di lingkunganku juga nggak sedikit sih Bapak Rumah Tangga ini, walau tetap ada omongan nyinyir dari sebelah-sebelah gitu. :))

  5. Di Indonesia memang masih patriarkis banget ya. Sering aku melihat/mendengar argumen yang dipengaruhi oleh budaya ini. Yang juga membumbui masalah ini adalah kebiasaan mencibir/langsung menstigma negatif suatu situasi yang “berbeda” dari apa yang dianggap “norma” atau kewajaran.

  6. Bapakku juga pernah ngurusin aku di rumah. Bahkan, walaupun ada ART di rumah, tapi tetep aja, yang namanya anak pasti lebih seneng diurus sama bapaknya dibanding ART. Tapi, sekarang, bapakku malah kerja di luar kota. Jadi, aku jarang ketemu. Padahal, masakannya lebih enak dibandingkan masakanku sendiri.

  7. Aku salut sama cerita2 diatas, dimana bapak-bapak bisa (&terbiasa) plus MAU turun tangan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Ada masanya ketika aku hamil muda di tahun 2015, Suami yg mengambil alih pekerjaan beberes dan juga memasak. Ga terlalu ada problem krn tinggal di apartemen ukuran tak terlalu besar (60 m2) dgn dapur yg cozy. Lagian waktu itu, dia jg blm aktif ngantor, so masi byk waktu + energi untuk melakukan itu semua, hehehe. Tp bebersih + cuci + jemur jg cm butuh 90 menit kok; jam 6.30 udah beres semua. Memang memasak yg butuh agak lama.

  8. Di Fiji banyak banget SAHD karena kalau istri yang dapet kerjaan disini (expat) otomatis suami/partner nya ga bisa kerja. Dan hal yg sangat biasa, malah amazed banget sama para SAHD ini, kesabarannya ngurus anak-anak mereka, masak segala dll.

  9. Suamiku bekerja di drilling off shore, klo lagi off hampir semua pekerjaan domestik aka kerjaan rumah spt nyuci, nyapu,ngepel ,masak ,momong anak ,belanja, dia kerjakan(weekend embok2 yg kerja d rumah libur ). Aku full time mommy,klo dia yg kerjain aku disuruh nyenengin diri, jalan2 ,kesalon. Karena terbiasa aku jadi jengah sm bapak2 yg cuma ongkang2 sementara istrinya repot luar biasa. Oh ya…di daerah tempat tinggalku banyak bapak rumah tangga karena istrinya pada jadi tkw. Biasanya, yg urusin anaknya si bapak dan yg ngurus rumahnya si mbah. Sepanjang yang kutahu, pilihan unt menjadi bapak rumah tangga adalah keterpaksaan. Lebih mudah bagi istri klo mau jadi tkw daripada bapak yg jadi tki , menyangkut biaya unt jadi tkw dan pilihan pekerjaan serta pilihan negara yang dituju.

      • Belum pernah survey sih….tapi memang ada satu dua cerita begitu. Uangnya buat foya2 sm perempuan lain, digerbek di hotel melati. Arggg mau marah hati, si istri si tulang rusuk sdh berbaik hati jadi tulang punggung,taunya dikadalin.

  10. Aku punya satu teman yang SAHD tapi ya itu, ujung-ujungnya ribut dengan pihak keluarga karena istrinya dianggap sudah melecehkan suami. Kalau dibilang SAHD murni juga engga karena temanku masih masuk kantor seminggu sekali, sisanya dia kerjakan di rumah, sedangkan kantor istrinya tidak bisa begitu. Kalau ga salah, suami Anne Hathaway di film The Intern juga SAHD. Jujur, orang-orang disini masih susah menerima SAHD karena budaya patriarki yang sudah terlalu kuat mengakar sejak dulu. Butuh niat kuat dan nyali super tangguh untuk menjalaninya.

  11. Saya belum pernah liat SAHD di lingkungan saya Mbak Tjetje. Kebanyakan temen2 dan keluarga baik suami maupun istri semuanya bekerja. Pekerjaan rumah dibagi bersama. Kalau ada rejeki banyak bisa pekerjakan pembantu dan baby sitter/bayar day care. Kalau tidak ya anak dititip di anggota keluarga yang lain.
    Tapi ada juga sih teman2 yang suami2nya sama sekali ga mau bantu urus RT. Apa pengaruh budaya patrilineal mungkin?. Jadi si suami2 ini dibesarkan kayak raja kecil. Waktu belum nikah semua mamanya yang kerjain. Setelah nikah istrinya. Saya kasihan sih sama teman2 ini udah kerja cari uang, harus urus anak dan rumah sendirian pula. Tapi itu sudah jadi pilihan hidupnya.
    Kalau saya dan suami sepakat bagi tugas sesuai minat dan bakat.. Alah 😂😂😂
    Tapi pekerjaan dia di luar rumah lebih banyak sementara pekerjaan saya sebagian besar bisa dikerjakan dari rumah, jadi saat ini saya yang lebih dominan ambil kerjaan rumah dan anak.

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s