Matinya Majalah Kita

Pagi itu, saya mengenakan seragam sekolah, siap untuk berangkat ke sekolah. Hari itu begitu tertancap di kepala saya, karena loper koran kami mengantarkan majalah Gadis. Sebelum berangkat ke sekolah, saya duduk membuka-buka lembaran majalah yang warna sampulnya hari itu kuning, sambil tak sabar ingin cepat-cepat pergi sekolah untuk pulang, karena ingin membaca majalah tersebut. Hari itu saya begitu girang, terlalu girang mungkin hingga memori majalah Gadis pertama saya begitu kuat menancap di kepala.

Jaman 90an, tak ada Twitter, boro-boro Twitter, internet saja tak ada. Majalah menjadi salah satu sumber informasi kami, apalagi bagi saya yang tinggal di Malang. Selain  menyambungkan saya dengan glamornya ibu kota dan informasi-informasi tentang artis ibu kota dan artis internasional, majalah Gadis juga sukses menempelkan ide tentang kaos H&R, kaos bikinan Bandung yang jaman itu ngetrend banget.

Saat itu, majalah kerap kali memberikan alamat rumah para artis atau Gadis Sampul. Salah satu teman SD saya (SD sodara-sodara!) ada yang hobi mencatat alamat dari majalah dan mengirimkan surat untuk artis-artis atau para Gadis Sampul. Surat-surat tersebut dibalas dengan surat template dan ditemani dengan foto studio yang diberi tanda-tangan. Saya sendiri tak pernah demen nulis surat ke mereka, karena bingung nulis apa.

Selain membaca majalah Gadis, saya juga membaca Kawanku, majalah yang dipenuhi pin-up atau poster para penyanyi dan artis-artis. Sebagai remaja 90an, poster-poster itu saya tempelkan di satu tembok di kamar saya. Beberapa poster itu masih ada di tembok kamar ABG saya (saya punya kamar ABG dan kamar dewasa) yang sekarang jadi kamar setrika. Nah suatu ketika, suami saya tak sengaja melihat koleksi poster-poster tersebut (OMG, malu 🤦‍♀️) lalu dia kaget sambil ketawa kencang ketika melihat sebuah band Irlandia yang salah satu anggotanya teman dia sekolah yang kebetulan tinggal tak jauh dari rumah mertua. Nama bandnya OTT, yang dulu nyanyi ulang lagu “All Out of Love”. Untungnya saya gak gitu ngefans.

Masih ada yang kenal sama OTT?

belakangan ini heboh karena upah jurnalisnya dicicil, juga menjadi salah satu majalah yang rajin saya baca. Ibu saya berlangganan majalah ini sejak lama dan saya jadi ikutan rajin membaca. Nah ketika membaca majalah ini saya selalu membacanya dari belakang. Yang saya baca duluan tentunya Gado-gado di bagian paling belakang. Tulisan yang dikirimkan oleh pembaca ini bisa membahas beraneka rupa cerita. Satu tulisan yang membekas di kepala saya soal Dutch treat, tentang pengalaman seorang pembaca yang menghadiri pesta ulang tahun dan berakhir harus membayar makanan sendiri & tidak dibayari. Femina sendiri menjadi majalah yang lumayan, cukup information dan tentunya iklannya tak seabrek.

Di Jakarta sendiri saya sempat berlangganan Femina, tapi akhirnya berhenti karena loper yang tak disiplin dalam mengantar majalah, juga karena harga yang dijual jauh lebih mahal ketimbang harga yang dibanderol. Harga jauh dari banderol ini kayaknya problem Jakarta dan para loper ini sering kreatif, harga majalah ditutup dengan corrective pen lalu harga baru ditulis di atasnya. Rekor saya ketipu, empat puluh ribu rupiah untuk majalah tempo yang aslinya tak begitu mahal.

Bagaimana dengan di Dublin? The Economist sempat menjadi pilihan saya selama beberapa bulan tapi akhirnya saya berhenti juga, karena lebih cepat membaca secara daring. Tsunami internet inilah yang berkontribusi besar pada mulai matinya industri majalah, termasuk majalah Hai yang sempat berjaya sekali. Tak hanya majalah sih, koran-koran pun berguguran satu-persatu dan mulai digantikan oleh koran daring yang judulnya sensansional, beritanya terpotong-potong dan tentunya clickbaity. Namanya juga gratisan.

Salah satu momen paling menyenangkan untuk membaca majalah itu, bagi saya, di salon, ketika kepala dan pundak dipijit saat creambath. Ah surga banget deh. Kalian, punya kenangan manis dengan majalah dan punya majalah favorit?

xx,
<<<<Ailtje

Juga membaca Panyebar Semangat & Bobo

Advertisements

56 thoughts on “Matinya Majalah Kita

  1. Wah iya baca majalah sambil dipijit creambath enak banget. Favoritku majalah Bobo. Seneng baca ceritanya, mungkin karena itu majalah pertama yang aku bisa baca dan suka. Jadi paling memorable Bobo. Menjelang SMP ke SMA baca Gadis. Lulus SMA (kuliah), lebih suka baca majalah “Chic” dan majalah “Spice” sayang mereka semua udah bubar :/

  2. Aku juga dulu suka banget baca kedua majalah itu, Kawanku dan Gadis. Kalau nggak baca di rumah teman yang langganan, ya baca di sekolah sewaktu ada yang bawa dan bacanya bergilir hahaha. Aku hanya beli kalau ada edisi khusus (misalnya edisi Harry Potter) atau pas mereka kasih bonus bagus, soalnya uang jajanku sedikit jadi nggak bisa selalu beli.

  3. jaman SD, langganan Bobo. Geser jaman SMP dan SMA langganan Aneka. Jamannya Westilfe, Britney dkk yang waktu itu populer banget. Sampai temen2ku suka ngumpulin posternya. Nah, jaman kuliah geser lagi bacaannya jadi Cita Cinta. Trus stop karena yaaa….hiburan dan informasi di internet sekarang begitu gampang diklik.

    Nah, sekarang mbak Tjetje pernah ketemu salah satu anggotanya OTT yg rumahnya deket mertua nggak ? 🙂

    • Aku jaman SD juga baca Bobo tapi gak punya memori kuat tentang Bobo.

      Aku gak pernah ketemu sama anggota OTT, cuma sama salah satu anggota Westlife pernah samprokan di Pub. Suami masih ngenalin muka dia (lupa yang mana) sementara aku gak inget muka mereka.

  4. Majalah bobo kak Ail, hhahaha.. jujur aja, dulu aku lebih suka ngumpulin bonusnya ketimbang baca majalahnya itu sendiri.. beranjak ABG mulai kenal majalah misteri dan ketika ada yg pulang ke indo pasti nitip

  5. Kalau nggak salah dulu majalah Kawanku (atau bukan ya? Lupa persisnya yang mana) pernah promo besar-besaran sewaktu SMA, dimana kalau beli via perpustakaan ada diskon banyak 😀 .

    Tapi iya sih, memang terjadi pergeseran ya dari percetakan ke daring.

  6. Aku bisa dibilang besar sama majalah mba.
    Dari mulai Bobo dan Donal Bebek (TK, SD), trus ke Kawanku dan Gadis (SMP, SMA, Kuliah) sampai ke Cosmopolitan sama Femina sampe sekarang. Sedih deh liat majalah itu makin lama makin menciut baik ukuran maupun waktu terbitnya. Femina aja sekarang jadi majalah 2 mingguan. Terakhir dengan udah kocar kacir redaksinya. Sungguh berharap Femina bisa bertahan. Cosmo belakangan ga beli lagi karena terlalu mahal dan kebanyakan iklan barang2 yg aku ga bisa beli jadi tinggal baca Femina deh.
    Hahaha dulu majalah Kwanku itu kiblat banget apalagi kalo ngefans sama boyband, pin up sama posternya di tunggu.

      • Iyaaa, dulu tuh kalo demen boyband atau groupband mesti banget langganan kawanku hahahaha. Sampe langit2 kamar posternya, kelakuan masa itu. Untung pas jaman kuliah udah di copotin semua sama nyokap hahahaha…
        Sedih emang Femina, padahal dulu nungguin tiap Kamis, sekarang 2 minggu sekali malah ga jelas terbitnya kapan. Sekali pernah beli sih jadi sedikit lebih tebal tapi cerita bersambungnya udah ga ada 😦

  7. Dulu aku langganan Kawanku juga (tapi pas sebelum ganti jadi majalah remaja, dulu isinya lebih kearah anak2….), terus ganti langgan Anita (Cemerlang) juga sebelum jadi majalah remaja (isinya cerpen2). Gadis dan sejenisnya malah ga berlangganan karena buang2 duit imho, mending beli novel (dulu koleksi Trio Detektif). Adanya justru minjem karena banyak temen2 di sekolah yang langganan.

    Sekarang langganan majalah National Geographic, udah sepuluh tahun adanya masih jalan terus ini…. tadinya juga langganan TIME sama Newsweek tapi ga sempet bacanya jadi diputus.

  8. Waktu zaman SD aku langganan majalah Bobo dan selalu menunggu-nunggu hari Kamis karena hari itu Ayah selalu pulang kantor dengan membawa majalah BOBO. Dan sekali-sekali beli majalah Kawanku juga 🙂 Pas SMP dan SMA, mulai beralih ke GADIS dan suka berkhayal jadi model sampul gitu *Cita-cita yang gak kesampaian :D* Paling suka baca GADIS pas musim pemilihan Gadis Sampulnya dan berasa ikutan proses karantina sama si calon-calon model tersebut dan ketemu model model cowok yang ganteng 😀

  9. Hai salam kenal mba Ailsa. Saya suka baca tulisan mba di blog ini😊 Dulu saya langganan majalah Bobo sejak TK 0 besar. Kalimat pertama yg bisa saya baca “Bona gajah kecil berbelalai panjang”. Masa yg indah untuk dikenang, setiap hari kamis jadi hari yg spesial menunggu si Bobo datang.

    • Terimakasih sudah mampir dan baca Ayu dan terimakasih udah ngingetin soal Bona juga. Seharian aku mikir, gajah pink itu namanya siapa. Terus itu belalai ya selalu panjang banget, tapi kadang2 pendek. Aku dulu mikir, ini gimana sih kok gak konsisten. LOL

  10. Aku zaman sd langganan bobo (kayaknya semua anak baca bobo ya di zamannya), geser smp-sma mulai baca gadis dan kawanku plus sesekali beli aneka yes karena ada cerbungnya!! begitu kuliah seneng sama majalah chic. sayangnya majalah chic gulung tikar, padahal informatif banget majalahnya 😦

  11. Dari Bobo, lalu Kawanku, terus Hai, lalu Cosmopolitan dan Cosmogirl (menurun), dan sering banget beli eceran Femina. Tapi yang paling berkesan sih majalah Hai, soalnya aku haus informasi pop culture 🙂 Sekarang sih aku langganan majalah New York Mag, supaya update yang happening di New York dan terus terang baca feature majalah itu sesuatu deh. Kayaknya sih untuk wilayah New York, majalah New Yorker dan koran New York Times masih berjaya. Disini print’s not dead 🙂

  12. I’m into you mbaa….mungkin kita besar digenerasi yg sama 😁poster2 tertempel dibelakang pintu, jaman masih dengerin kaset, jaman keemasan spice girl . Even sampe sekarang masih baca bobo karena anak2 sekarang yg langganan.

  13. Selain radio, majalah adalah salah satu kenangan masa kecil. Dulu aku gonta ganti majalah langganan, tapi yang paling berkesan adalah majalah Bobo sejak kelas 1 SD sampai 4 SD dan majalah Gadis sejak 1 SMP sampai 3 SMA. Paling seneng inget memori baca majalah Gadis sama mbak di rumah (cuma beda 1 tahun dari aku), terus ngobrol in soal baju, gadis sampul, dan gosip2 artis. Dulu aku pengen jadi jurnalis juga karena doyan baca majalah. Pas SMA, makin sibuk, jadi baca gadis juga cuma sempet2an aja. Dulu pas kuliah aku suka beli eceran Cosmo Girl dan GoGirl. Dulu tante juga langganan tabloid Nova, jadi suka baca2 juga… dan tante satu lagi langganan Femina jadi suka baca kalau main ke rumahnya. Ah, kenangan masa lalu banget, deh!

  14. Suka beli eceran bobo,ananda sm donald kl lagi ke kota. Maklum kami dulu tinggal agak jauh dr kota 😊 setelah pindah ke jakarta sering menyisihkan uang saku untuk beli gadis atau kawanku dan ibu saya langganan nova.
    Setelah kuliah rutin beli cita cinta bahkan beberapa kali menang ikutan sayembara ultah mereka. Saat mulai kerja langganan femina sampai dapat bb torch krn iseng ikutan isi sayembara ultah femina mbak ail 😂😂 begitu hamil langganan mother and baby tapi sekarang justru gak langganan lagi karena ya baca online itu tadi

  15. Bobo, Gadis, Kawanku, Nova, OMG jadi mendadak kangen semua majalah-majalah itu sekarang mba! Masa-masa indah tanpa internet ya itu haha.. Sempat rutin beli Reader’s Digest Asia, Intisari, dan NatGeo tapi sudah berhenti sekarang karena engga sempat baca dan berakhir jadi tumpukan di rak saja.

  16. Waktu ABG dulu aku sukanya gadis sama kawanku, dan paling hepi kalau ada bonus posternya wkwkwkwk…
    Terus sedih juga pas baca bbrp bulan lalu katanya kawanku udh gak cetak lg..

  17. dulu langganan Si Kuncung, karena ibuku juga bacanya itu, ..oomku yg kirim dari Jakarta..
    majalah Femina baca sejak edisi pertama, punya tanteku
    dulu suka banget majalah Femina dan Gadis.
    suatu saat pabriknya kedua majalah itu terbakar di tahun 76an kalau nggak salah dan nggak terbit sampai beberapa minggu,
    setiap minggu datang ke agen berharap majalanya sudah terbit,

  18. Wah aku kayaknya salah satu pembeli segala macam majalah deh.. ga langganan krn takut kena omel nyokap, tp selalu beli eceran, dr majalah sampe tabloid. Yg disebut diatas, aku dulu punya semuanya, dan jujur, akhirnya yah jadi sampah.. kayaknya benar2 berhenti tuh awal 2009, selanjutnya masih beli tapi di targetin cuma beberapa aja, krn beralih ke novel haha.. dan memang sedih banget, banyak banget majalah yg sudah gulung tikar atau pindah ke online. Padahal dulu selalu nunggu tiap awal minggu atau awal bulan untuk dapatin edisi terbaru beberapa majalah..

  19. lupa dari majalah apa, dulu 97′ ada grup patrio yang ada eko,akri parto, saya kok suka banget sm lawakan mereka,dapat alamat kontak patrio dr majalah, kirim surat , dan taunya di balas, mereka foto studio ber3, masih cupu2 gitu hehe trus tulisan tgn eko patrio,duh sedihnya tuh surat dr artis pertama kali:D ilang di asrama-.-‘ saya paling seneng aneka yes, nyari gratisan disekolah, di perpust nya langganan majalah aneka, dan kalau ada majalah baru, duh antri pinjemnya, jd suka baca majalah2 lama , dulu perput sekolah itu malah surga banget, kok ya kepikiran sekolahan langganan majalah remaja, biar pada rajin ke perpust:D:D

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s