Penitipan Anak

Beberapa waktu lalu, di Luas, tram Irlandia, saya mendengarkan dua perempuan mengobrol dengan kencang dan mereka tak sedang berdekatan. Nampaknya, mereka sudah lama tak bertemu dan mereka saling mengupdate status masing-masing.

Salah satu dari mereka sudah menjadi nenek dengan tiga orang cucu, kendati anak-anaknya baru menginjak awal dua puluh tahun. Dari nguping ini saya kemidian jadi tahu kalau si nenek tak mau menghabiskan hidupnya mengasuh cucu. She has life, begitu menurut si nenek. Makanya dia engga dititipi cucunya.

Sikap nenek ini berbeda dengan di Indonesia, begitu anak kawin langsung disuruh buru-buru punya anak supaya sang kakek dan nenek, yang biasanya menginjak usia hampir pensiun, bisa menghabiskan masa tuanya mengasuh cucu. Istilah setelah pensiun jadi MC pun muncul, bukan Master of Ceremony, tapi momong cucu (mengasuh cucu), gratis pula.

Saya, hobinya momong anjing orang

Di Irlandia, tak lazim memang menitipkan cucu pada neneknya, walaupun ada juga yang tak berkeberatan. Lalu di mana anak-anak ini dititipkan ketika orang tuanya bekerja? biasanya mereka dititipkan ke penitipan anak, mereka berada di sana sejak pagi hingga sekitar pukul tujuh malam.

Yang tak bekerja dan punya sedikit uang pun ada yang melakukan hal ini supaya bisa mendapat kebebasan, me time & sang anak bisa beninteraksi dengan anak kecil lainnya. Ongkos penitipan anak sendiri beraneka ragam, tergantung lokasi dan jumlah anak yang dititipkan. Kalau si anak punya kakak yang juga dititipkan, biasanya bisa mendapatkan sedikit diskon. Jadi berapa ongkos nitip anak? Bisa ratusan hingga ribuan Euro. Mahal? Relatif.

Di Irlandia sendiri juga ada penitipan gratis, tapi biaya penitipan gratis dari pemerintah hanya diberikan ketika si anak berusia dua tahun delapan bulan dan hanya hingga si anak masuk primary education. Setelah dan sebelum itu, orang tua harus merogoh koceknya. Tak heran kalau kemudian banyak ibu-ibu muda dengan gaji yang tak sepadan yang kemudian memilih untuk berhenti bekerja ketimbang menghabiskan seluruh penghasilannya untuk membayar penitipan anak.

Selain penitipan anak, banyak orang juga mengambil tenaga au pair, wah tenaga au pair di sini banyak diperas tenaganya karena tak ada aturan mengenai jam kerja mereka. Mereka juga tidak dilindungi hukum. Kebanyakan au pair ini berada di Irlandia untuk mengambil kursus bahasa Inggris. Jadi mereka menjaga anak ketika hari kerja dan kursus bahasa Inggris di akhir pekan. Berapa uang yang mereka terima? Tergantung kebaikan, kalau apes ya tak dibayar/ dibayar minimum, disuruh jaga anak, bersih-bersih, hingga memasak. Lalu buntutnya harus ke pengadilan untuk menuntut gaji. Tentu saja kasus seperti ini jarang terjadi.

Penutup

Beberapa orang mungkin ada yang bertanya mengapa orang tua tega menitipkan & meninggalkan anaknya seharian pada orang asing. Lha mau gimana lagi? Kondisi di sini memang berbeda, gak bisa seenaknya meminta si nenek mengasuh anak 365 hari.

Lagipula, di penitipan anak ini mereka justru bisa berinteraksi dengan anak-anak seusianya. Tumbuh kembang mereka juga diawasi oleh tenaga profesional yang punya kualifikasi. Gak sembarangan orang bisa bekerja di penitipan anak.

Di penitipan anak juga mereka bisa jatuh cinta, cinta monyet tentunya. Seorang bocah ingusan yang belum genap empat tahun jatuh cinta pada keponakan perempuan saya & satu hari keponakan saya tak masuk untuk dititipkan. Bocah itu menangis histeris dan tak bisa dihentikan, sampai ipar saya ditelpon. Lha bisa apa ipar saya, wong gak ikut punya anak. Akhirnya, untuk menenangkan si bocah ingusan itu, dia diberi obat pereda demam, biar lebih tenang. Ah cinta monyet.

Di tempat kalian tinggal, anak-anak dititipkan di mana ketiga orangtuanya bekerja?

xx,

Tjetje

Advertisements

31 thoughts on “Penitipan Anak

  1. kalo ibuk saya emang gak mau momong cucu
    mau nikmatin hidup katanya
    kalo mertua saya sih fine” aja
    tapi kaminya yang malah sungkan
    jadi ya mending dirawat sendiri memang lebih pas

  2. anak saya dititipin ke neneknya nih mbak πŸ™‚
    sebelum melahirkan, ada wacana kami mau menitipkan anak di daycare. wacana lain diasuh sama orang. untuk opsi diasuh sama orang lain ini, langsung saya coret begitu ada kesempatan trial dan akhirnya menurut saya beliau malah bikin saya stress. akhirnya ngomong baik baik kalau kami nggak lanjut nitip anak ke beliau.

    nah, opsi daycare nih. tapiiiii neneknya nggak kasih ijin, kasian sama cucu. akhirnya ya beliau yg jagain anak selama kami kerja.

    tapi ya tetep tau diri lah ya saya. tiap pagi ketika anak dianter, udah mandi pagi dan udah sarapan, udah siap susu sebotol. baju baju bersih udah rapi. botol udah cuci steril. makanan + camilan anak untuk 1 hari sudah kami siapkan. begitu pulang kerja, anak langsung saya pegang. kalau weekend ada waktu, kami ajak nenek jalan jalan.

    berkali kali kami tanya : bu, saya sediain art ya buat bantu di rumah?
    tapi nggak mau πŸ˜€

    semoga lancar dan diberi kesehatan aja neneknya si bocah ini πŸ˜€

  3. Hahaha, di Belanda juga kurang lebih seperti itu. Kalau punya anak kedua, ketiga, dst yang dititipkan di tempat yang sama, bisa dapat diskon, hahaha πŸ˜† . Dan kalau tidak salah (ini sih aku nggak tahu soalnya nggak punya anak jadi nggak ada pengalaman langsung, cuma dengar-dengar aja πŸ˜› ), sebagian biaya penitipan anak itu tax-free alias bisa diklaim untuk tax refund, hahaha. Eh, either that atau memang ada tunjangannya sih, aku lupa πŸ˜› .

  4. Persis kayak di Australia.., meski kakek nenek di sini kayaknya lebih bersedia dititipi cucu (dibandingkan dgn di Irlandia), tapi tetap tak seperti di Indonesia. Somewhere in between.. Dilema buat para ibu juga sama.. Kerja tapi gajinya sebagian besar habis buat day care. Kalo gak kerja maka ada tunjangan dari pemerintah yg gak bisa diklaim karena dianggap “tidak berkontribusi” dalam pembayaran pajak (gak bayar pajak penghasilan, kan gak dapat gaji)..

      • Maksudnya “lebih bersedia” karena aku sering lihat di sini, meskipun nitip anaknya sesekali aja, bukan yg tipe tiap hari gitu. Ada child care benefit di sini, berhak atau tidaknya dan jumlahnya tergantung penghasilan ortu dan jumlah anak dalam keluarga.. Tanpa tunjangan, biaya day care di sini sekitar 100 dolar per hari per anak. Aku pernah nulis ini di Januari deh kayaknya..

  5. Saya memilih pekerjaan part time yang di Jakarta sudah sangat lazim. Agar tetap bisa mengurus anak saya setelah dia pulang sekolah. Saat masih musim libur tahun ajaran baru dan juga basian libur lebaran kemarin. Karena jatuhnya libur 1,5 bulan, alih – alih menggunakan jasa infal, saya pilih daycare yang tersedia di kantor Suami. Sama – sama bayar, saya pilih yang pasti.

    Menitipkan anak ke orang tua tidak saya lakukan, kecuali terpaksa ada keperluan atau saat menginap di rumah orang tua. Selain kedua orang tua saya masih aktif meskipun sudah pensiun. Saya sangat sadar, hormon Kakek Nenek mengasuh cucu sangat berbeda saat mereka membesarkan saya dulu. Kakek Nenek bila hanya sebagai supervisor menjaga cucu, eksekusi diserahkan pada babysitter atau ART menurut saya lebih manusiawi dibanding Kakek Nenek momong cucu langsung.

  6. Kalo di blok aku, kebanyakan mamanya bocah nggak kerja, soalnya biar bisa ngurusi anak. Ada juga yang diurus sama neneknya setiap hari. Bahkan, ada yang nenek sama mamanya si bocah yang tinggalnya deketan supaya bisa gantian ngurus bocahnya.

  7. Cinta monyet.. antara lucu, gak lazim, tapi emang begitulah adanya. Cinta emang gak pandang usia, ras, dll.. anyone can fall in love. Sayang, ketika anak kecil jatuh cinta udah ditabuin, padahal yang namanya anak2 masih polos, jatuh cinta juga pasti pure cinta, bukan karena ada hidden mission.. sepertinya perlu edukasi spesifik nih buat anak2 yg bisa dengan siapa aja jatuh cinta πŸ˜€

  8. Si kembar pernah masuk penitipan anak waktu usia mereka belum genap dua tahun. Di Belanda menurut ukuran kami biayanya mahal luar biasa, dua anak di titip kan tiga kali seminggu bikin kami kelabakan tp kami tak ada jalan keluar nya, saat itu saya harus ikut kursus wajib bahasa Belanda. Walau kursus nya hanya setengah hari tapi biaya penitipan tetap harus dibayar penuh. Jadinya kadang klo aku ada keperluan atau ingin istirahat di rumah, si kembar dijemput sore saja setelah papanya pulang kerja.

  9. Mba, apakah ada alasan khusus kenapa dari umur 2 thn 8 bulan dikasih gratis?
    Disini juga, biasa nya ke penitipan, dan dibantu tunjangan pemerintah tergantung besar gaji orangtua. Kalau ngeliat kakak ipar sendiri, anaknya 2, jadi dia sama suami kerja masing2 4 hari, 3 hari nya si anak2 di penitipan, 1 hari di rumah oma opa gantian. Misalnya si kakak di rumah Oma A, adek rumah Oma B, minggu depan gantian. Soalnya opa oma jg kalau pun bantu jaga seperti ini, gk mau sekaligus 2 apalg di umur yg mereka aktif bukan main.

    • Umur segitu masuk usia untuk Early Childhood Care and Education (ECCE). Di sini, saking mahalnya, kalau dititipkan nenek/kakek selama satu hari beda harganya gak signifikan, jadi mending sekalian dititipin satu minggu.

  10. Anak saya titip daycare. Di Bali gaji untuk babysitter Mahal, kurang lebih gaji Saya. Untuk titip nenek, ini lebih gak mungkin lagi karena selain mereka wanita pekerja, mereka juga tinggal jauh dari kami, satu di Kalimantan, satu di DonegalπŸ˜‚ tapi daycare juga Ada kekurangannya, anak jadi lebih sering sakit Dan repot juga harus antar jemput.

    BTW gak cuma aupair yang diperas kerjanya, babysitter Dan ART di Indonesia juga gak Ada jam kerjanya, udah gitu gajinya kecil lagi.

  11. Anak saya titip di day care sejak umur 18 bulan. Sebelumnya saya bawa anak ke tempat kerja tapi semakin dia besar semakin sulit. Untuk titip di ortu juga tidak mungkin. pertama mereka jauh di denpasar, saya di jimbaran. Kedua, mereka juga masih ada bisnis di toko. Ketiga, kakak saya yang tinggal di dekat rumah ortu juga sering menitipkan kedua anaknya ke Mama saya, jadi saya tak mau tambah merepotkan. Keempat, saya meliat ada perbedaan pola asuh antara kita dan ortu, tapi mau menegur kan rasanya kurang enak.
    Saya coba cari2 tenaga pengasuh tapi ternyata mahal sekali. Hampir sama dengan gaji saya 😒😒😒. Lagipula saya engga suka diintilin orang lain di rumah maupun di tempat kerja.
    Akhirnya saya pilih masukkan ke day care . Day care di sekitar rumah kebanyakan untuk anak campur dan expat sementara saya mau anak masuk daycare lokal supaya lancar Bahasa Balinya. Syukur ketemu 1 day care yang bagus (harganya)πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Lokasinya walau agak jauh dari rumah tapi masih 1 jalur di antara tempat kerja dan rumah. Jadi saya bisa antar jemput sambil berangkat kerja. Untuk saya bener2 jadi solusi paling pas saat ini

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s