Racun Hoax Whatsapp Group

Para kerabat, sanak saudara, Oom, Tante serta teman-teman masa sekolah yang sebagian besar tak saya kenal dan tak saya ingat, ijinkan saya berceloteh tentang pengalaman berada di dalam WhatsApp Group atau yang umum dipanggil WAG. Sebagai warga negara Indonesia yang jauh dari kampung halaman, WAG bagi saya adalah pengobat rindu dan jembatan untuk menghubungkan saya dan kalian semua. Perannya vital, karena saya tak ingin ketinggalan berita tentang keponakan yang baru lahir, teman terdekat yang berjuang melawan kanker, hingga berita tentang keluarga yang jatuh sakit.

Sayangnya, beberapa WAG saya sekarang berubah menjadi media murahan untuk ajak menyebarkan berita bohong, hoax. Kalian, para saudara, tante, Oom dan teman-teman berebutan untuk menyebarkan informasi tanpa mengecek terlebih dahulu. Saya paham, sebagai orang Indonesia kita dididik untuk jadi kompetitif, jadi orang pertama yang paling tahu, rasanya jadi seperti jawara kan kalau jadi yang pertama menyebarkan informasi tersebut?

Tak susah mengecek kebenaran berita-berita tersebut, tinggal copy dan paste, maka internet akan membawa kita ke grup yang bertujuan melawan hoax. Bahkan, beberapa hal yang berada di internet juga ada klarifikasinya dari institusi  yang terseret. Ah kalau saja semua penyebar hoax di Indonesia ditangkap, mungkin grup-grup keluarga, grup kawan, alumni akan sunyi dan senyap, karena sebagian anggotanya, terutama yang rajin posting, ditangkap aparat.

Pernah sekali waktu, saya mengklarifikasi sebuah berita bohong yang disebarkan di sebuah WAG, alasan yang saya terima, “saya cuma meneruskan“. Alasan ini bagi saya bukan sebuah hal yang bisa diterima, karena ada konsekuensi dari setiap informasi yang kita sebarkan, apalagi jika informasi itu tak valid dan tak bermutu. Berita yang kalian teruskan itu menunjukkan kualitas kalian dalam menyaring informasi.

Ambil contoh, seorang kenalan saya yang bermukim di Irlandia. Ia cemas tak karuan ketika membaca pesan di WAG, tsunami akan menghampiri lokasi di mana kebanyakan keluarganya tinggal. Saya yang bukan ahli tsunami ini sampai harus menjelaskan bahwa berita tersebut bohong. Lha kalau ia yang tinggal jauh saja bisa cemas, bagaimanakah dengan mereka yang berada di daerah bencana sana, apa gak tambah kalang kabut? Sudah tertimpa bencana masih harus ditakut-takuti lagi. Teganya kalian.

Hoax politik juga tak kalah sampahnya. Di sebuah malam, tiba-tiba notifikasi masuk bahwa bensin akan naik pada tengah malam. Maka ramailah omelan muncul, darah mendidih, tekanan darah meningkat, umpatan terhadap pemerintah tak terelakkan. Tunggu punya tunggu, harga BBM tak naik, permintaan maaf juga tak muncul, padahal  pesan kenaikan BBM itu dikirimkan ke beberapa group. Beda aliran politik itu wajar, normal di sebuah negara demokrasi, tapi menyebarkan informasi-informasi tak akurat seperti ini itu sampah benar. Benar-benar menunjukkan kualitas kalian.

Lucunya, beberapa dari kalian adalah orang-orang yang tak muda lagi.  Kukira dengan umur kalian yang jauh dari umur kami, anak-anak muda ini, kami bisa menghormati pengalaman dan kedewasaan kalian. Maaf, hilang hormatku ketika tahu kalian bahkan tak bisa mengecek kebenaran sebuah berita dan hanya bisa menyebar-nyebarkan.

Kadang dalam hati kecil saya, rasanya ingin teriak dan mengumpat, apa kalian tak ada kegiatan yang lebih bermanfaat saja untuk mengisi kesibukan? Ketimbang mengirim hoax, ada baiknya hidup dihabiskan untuk bermain dengan cucu, jika punya cucu. Berkebun dan menyiangi rumput di halaman, membaca koran sambil meminum teh. Melakukan kegiatan sosial yang bermanfaat atau bahkan mendekatkan diri pada Tuhan (jika masih percaya Tuhan). Atau bahkan melahap buku, seperti bapak mertua saya, volunteering seperti Ibu mertua saya yang usianya sudah menginjak kepala tujuh, bikin kerajinan dan sibuk pameran seperti ibu saya. Bukan dihabiskan dengan menyebarkan hoax di grup-grup WhatsApp. 

Sebelum mengirimkan hoax, ada baiknya juga kalian baca sampai selesai. Selain mempertanyakan apakah topik tersebut benar, tanyakan pula apakah ini akan menyakiti orang lain. Bisa bayangkan bagaimana muka mereka yang bukan pemeluk agama Islam ketika membaca tulisan bahwa UNESCO mengeluarkan informasi bahwa Islam adalah agama paling damai di dunia. Tak susah mencari informasi kepanjangan dari UNESCO dan mandatnya. Tak susah juga mencari tahu bahwa berita ini adalah hoax basi yang sudah pernah diklarifikasi. Klasifikasinya bahkan masih terpampang di situs UNESCO.

Akhir kata, ijinkan saya anak muda ini memberi tahu kalian para orang-orang yang harusnya mengajari saya kebijaksanaan dan kehati-hatian, apalagi dengan segala kedewasaan umur kalian, bahwa hidup ini bukan kompetisi. Tak perlu kita berlomba-lomba jadi yang pertama untuk menyampaikan informasi yang salah. Salah-salah informasi hoaxmu itu bisa membuat orang jantungan. 

Sekali-sekali, kebo nusu gudel* ya, para Tante, Oom.

Salam sedikit hormat,
Ailtje

Kebo nusu gudel merupakan peribahasa Jawa yang berarti orang tua belajar dari yang lebih mudah. 

 

Advertisements

29 thoughts on “Racun Hoax Whatsapp Group

  1. Saya baru-baru ini menemukan bahwa orang tua yang baru melek internet dan main youtube, jadi punya prinsip semua yang ada di youtube itu pasti benar. Alasannya khan di internet, pasti bener. Walau saya berusaha memberi pengertian, namun sepertinya tidak masuk akal mereka karena ‘internet pasti benar’. Entah harus bagaimana lagi untuk memberikan pengertian agar cek dan ricek dulu suatu berita sebelum share 😦

  2. Memurut saya ya mbk justru karena mereka tua itulah masalahnya. Lahir di era sebelum internet menjadikan internet itu hal baru yang gemerlapan bagi mereka-mereka ini. Karena masih dini itu maka mereka menelan apa pun yang ada, semacam kurang pemgalaman dibandingkan kita-kita yang lebih melek internet. Saya juga sampai setengah frustasi sendiri karena kedua orang tua dan adik saya juga pakai WA dan nyaris memercayai setiap hal di WA. Kalau pun saya buktikan yang mereka percayai itu adl hoax mereka akan ganti bilang kalau informasi yg saya tunjukkan juga hoax. Belum lagi soal lapor-melapor. Kebetulan ponsel saya memorinya nggak kuat buat buka Ebook yg saya beli di playbook trs saya pinjem hpnya ibu saya, biasanya paket datanya saya matiin juga utk menghindari distraksi pesan WA yang tiap detik itu. Eh, besoknya di kantor beliau di protes teman-temanya krn beliau nggak lihat atau ninggalin komentar di video temannya yang lagi bikin bakso atau apa yang udh diupload di WA. Kan saya jadi “WHAT???”

    Sigh.

  3. Inilah alasanku GAK MAU gabung di WAG keluarga, alumni, reuni, endesbre endebre. Singkatnya: aku amat sangat selektif untuk urusan WAG. Krn aku gampang naik darah klo liat : (1) orang yg ngetiknya alay/ singkatan seenaknya sendiri yg bikin aku bingung. (2) orang yg nyebarin HOAX. Sungguh stok sabarku tipis dan kueman-eman buat menghadapi anak2ku saja drpd kubuang di WAG.

  4. Iya, enak bener ya ketika ditanya dan mengelak dengan menjawab “Saya cuma meneruskan”. Menurutku, ketika sudah mengirimkan suatu berita maka si pengirim (walaupun bukan pembuat berita/informasi) mesti bertanggung-jawab terhadap apa yang ia kirim itu.

  5. kalau aku perhatikan, para om-tante seumuran ortuku yang main medsos biasanya jd nyebelin: 1. komen apa pun status aku di fb dan ig, kadang lengkap dengan ayat kitab suci, lebih sering lagi ngadu ke ortuku, 2. semangat amat meneruskan berita ga jelas/kadaluarsa/hoaks. aku sampe unfollow para om-tante yg sudah terlanjur friend di sosmed dan bikin privacy setting di setiap post di sosmed aku 😦

  6. Mbaaakk aduh kenyang urusan broadcast abal-abal macem gini. Saya join beberapa WAGs dan sampai keluar dari salah satu group karena broadcast hoax. Sebelum keluar, saya luruskan dulu kalau itu hoax dengan meminta si tante cek sumber (hoax nya diulang dari hoax beberapa tahun lalu). Saya sih nggak tahu gimana grup setelah saya semprot karena kebetulan itu grup diet hahaha.
    Mama saya sendiri juga sering jadi korban hoax. Untungnya sekarang sudah nggak ada handphone, Papa juga handphone masih Nokia non android. Sayangnya, Mama masih suka nonton tv yang sering memberitakan hal di luar proporsi atau provokasional. Biasanya suka saya tune out kalau sudah ngomong. Menurut saya, hoax suka menimpa orang yang lebih tua justru karena mereka malas cek info. Apalagi kalau misalnya yang mengirim orang yang lebih dipercaya. Untungnya saya dan adik-adik lebih suka cek fakta dulu. Dan setuju, Mbak Ai, hormat saya langsung turun kalau sudah pernah broadcast hoax 😂 tapi dipendam saja karena nggak baik ngatain orang yang lebih tua.
    Temen pernah, bahkan barusan, kirim hoax soal bencana yang sebenarnya ditelaah saja masih susah dipastikan, kok ini yakin bakal ada beneran. Mungkin sifatnya awas dan waspada tapi bener deh bikin spanneng yang baca. Saya diemin dan ga berapa lama si temen cerita habis dimarahi ortunya karena bikin ribut hehe.
    Beruntunglah yang masih logis pemikirannya atau ada yang mengingatkan. Karena kalau semua ditelan mentah-mentah, apa jadi hidupnya nanti?

  7. bener banget, grup WAG keluarga sih kebanyakan-.-‘ saya baru masuk grup WAG baru, kumpulan walimurid TK nya anak, yg bikin pihak sekolah,tapi di setting hanya admin sekolahnya aja yang bisa nulis pesan..kita2 cuma baca dan liat kiriman foto aktifitas anak2 aja, mungkin berdasar pengalaman suka byk yg nyebar hoax dan ujug2 ada yg berantem di grup2 WAG gitu apalagi isinya mamak2 semua kan, pihak sekolah antisipasi biar ga jadi grup rumpi

  8. Kak izin repost (sama persis dengan link dan nama njenengan) dan share yaaa.. (share ke grup wa bapak ibu orang tau yg suka BC-BC ga jelas…. hihi. Makasih.

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s