Pada saat maka siang beberapa waktu lalu saya dan teman kantor berdiskusi soal berita yang menjadi viral. Seorang perempuan di Australia, kalau saya tak salah, protes kepada pasangannya di media sosial. Protest perempuan ini tentang cincin pertunangannya yang berharga 1300 saja, entah euro atau dollar.
Ia nampaknya kecewa karena harga cincin ini tak sepadan dengan gaji pasangannya yang enam digit. Enam digit itu berarti setidaknya 100,000. Ini gaji per tahun ya, bukan gaji perbulan. Perempuan ini dihujat habis-habisan karena dianggap matre. Saya sendiri melihatnya tak pantas ngomel kepada tunangan di media sosial. Kenapa tak langsung kepada tunangannya saja, biar gak jadi benjolan di hati dan biar jadi pertimbangan apakah hubungan perlu dilanjutkan atau tidak. Walaupun aneh juga kalau tiba-tiba nanya: “Eh tunangan, kenapa kamu beli cincinnya yang murah meriah, gak beli yang super mahal?”
Nah pada saat makan siang itu semua orang berdebat panjang soal berapa jumlah angka yang pantas diinvestasikan untuk cincin berlian. Bagi saya, perdebatan soal harga cincin ini adalah perdebatan yang tak akan selesaikan, karena kemampuan dan selera orang berbeda-beda. Pendapatan orang, tabungan, cicilan dan hutang orang juga masing-masing. Kendati penghasilan tinggi, kalau cicilannya tinggi otomatis tak banyak uang tersisa untuk membeli cincin.
Bagaimana dengan norma kepantasan membeli cincin pertunangan. Soal ini pendapat orang bermacam-macam. Ada yang bilang setidaknya tiga kali gaji kotor. Berarti, dalam kasus di atas, setidaknya 25k, dua puluh kali lipat dari uang yang dia habiskan untuk membeli cincin. Tapi tentunya aturan tak tertulis ini tak bisa digunakan oleh semua orang, karena kasus orang berbeda-beda. Tengoklah Kate Middleton yang mendapatkan cincin warisan Lady Di. Kocek yang dirogoh mungkin hanya sebatas mengganti cincin yang ukurannya pas saja.
Balik lagi, pilih-pilih cincin ini memang kondisi keuangan masing-masing. Walaupun kenyataannya di beberapa kultur, pria-pria memaksakan diri mengambil pinjaman dalam jumlah besar demi membeli cincin berlian dari butik ternama. Yang pelit sendiri juga ada, saya setidaknya tahu satu orang yang membeli cincin pertunangan dengan mata “sebesar pasir” yang kemudian menjadi bahan tertawaan banyak orang, termasuk pria-pria.
Di kultur kita sendiri, cincin pertunangan bukanlah sebuah hal yang penting. Di barat sendiri saya perhatikan cincin pertunangan sering menjadi acuan untuk menunjukkan sudah dilamar. Cincin yang dipasang di jari kiri ini juga menjadi pengingat bahwa yang bersangkutan sudah dilamar, tak boleh digoda-goda lagi.
Ketika saya bertunangan beberapa tahun lalu, teman-teman saya (yang orang asing) pada heboh ingin melihat cincin pertunangan. Setelah melihat cincin kawin, pembicaraan tentang rencana perkawinan pun dibahas. Mereka ini heboh bertanya rencana, tapi tak ada satupun yang minta diundang. Bagi mereka, mendengar orang lain bertunangan saja sudah menyenangkan.
Orang-orang Indonesia yang saya kenal juga bertanya hal yang serupa, tapi ada satu pertanyaan berbeda yang membuat saya tak nyaman. Berapa karat kah cincin tunangan saya? Padahal, mengukur sebuah berlian itu tak hanya dari karatnya saja, tapi ada faktor-faktor lainnya. Lagi pula, apa pentingnya, toh si cincin juga nantinya akan ikutan cuci piring.
Pada akhirnya, karat cincin itu, bagi saya, bukan sebuah hal yang penting. Yang terpenting tentunya, cinta kami berdua, dijaga supaya tak karatan. #ApaSih. Tapi kalau kemudian bagi orang lain carat, cutting, colour and clarity dari cincin mereka lebih penting, ya urusannya masing-masing. Yang penting dibawa seneng aja.

Kalian, pakai cincin pertunangan juga?







Show me love, leave your thought here!