Silent Treatment

Masih melanjutkan tulisan sebelumnya tentang narsistik, kali ini mari ngebahas soal silent treatment yang juga dikenal sebagai stonewalling. Di dalam Bahasa Indonesia ini kurang lebih mendiamkan. Silent treatment ini merupakan metode manipulasi emosi dimana salah satu pihak menolak untuk berkomunikasi dengan pihak lain, udah diem aja gak mau ngomong. Proses ini harus dibedakan dengan proses diam karena mendinginkan kepala, tak tahu bagaimana harus bereaksi (lebih baik diam ketimbang bicara hal yang salah). Bedakan juga antara silent treatment dan proses memutus hubungan dengan orang-orang yang toxic ya.

Dampak Silent treatment itu lebih berbahaya daripada makan cabe.



Perilaku ini bisa terjadi dimana-mana, dalam pertemanan, hubungan keluarga, dalam hubungan asmara, hingga urusan pekerjaan. Dengan keluarga, seringkali kita berbeda pendapat dan ngambek-ngambekan tapi biasanya bisa diselesaikan dengan segera karena campur tangan keluarga lainnya.

Soal urusan pekerjaan, recruiter merupakan salah satu orang yang sering kali bersalah, biasanya dalam bentuk ghosting. Tahu-tahu ngilang aja dan gak nyahut kalau diajak komunikasi. Padahal ketika mereka perlu CV aja gencarnya kayak lagi ngedeketin gebetan.


Dalam pertemanan sendiri ini bisa terjadi dalam berbagai situasi. Ada di dalam satu grup chat, terus nggak nyahut kalau diajak ngomong. Atau yang lebih ekstrem, duduk bareng satu meja tapi menolak ngobrol dengan satu atau dua orang individu, sementara semua orang di meja tersebut diajak ngobrol. Pendeknya, si korban dianggap invisible dan secara sengaja diisolasi.

Dalam hubungan asmara sendiri ini sering terjadi. Ngambek-ngambekan, gak mau ngomong, gak mau terima telpon, sampai pasangan harus  mengemis-ngemis untuk diajak bicara lagi. Bagus kalau cuma ngemis, terkadang ada yang harus mengirimkan aneka rupa hadiah dulu. Udah kayak John Banting aja mesti datang ngasih hadiah. Dalam kasus yang parah, silent treatment dalam hubungan asrama ini bahkan bisa berlangsung selama beberapa dekade, berakhir dengan percertain, atau bahkan berakhir setelah kematian salah satu pihak.


Silent treatment merupakan perilaku penyiksaan secara emosi dan seringkali merupakan hukuman untuk orang lain.


Menurut penelitian, silent treatment, mengaktifkan bagian otak yang mendeteksi rasa sakit secara fisik. Otak manusia juga tak peduli siapa pelakunya, mau teman, keluarga, orang tak dikenal atau musuh sekalipun dampaknya sama. Karena silent treatment ini tak terlihat, tak seperti perilaku abusive lainnya, pelakunya juga dengan mudahnya tak mengakui perilaku ini dan dengan mudahnya akan gaslighting.

Engga kok, guwe gak ngediemin dia. Dianya aja yang sensi kali?

Berurusan dengan pelaku Silent Treatment


Kalau pelakunya recruiter, itu tandanya red flag untuk engga kerja di perusahaan tersebut. Perilaku recruiter seringkali secara tak langsung menggambarkan bagaiman kultur perusahaan tersebut. Kalau mereka tak bisa memperlakukan kandidat dengan baik, bagaimana bisa mereka memperlakukan pekerjanya? Kalau bisa kasih feedback, jangan segan kasih feedback.

Di dalam hubungan asmara sendiri, kalau menjadi pelaku atau menjadi korban, harus mulai belajar bisa berkomunikasi. Sebel karena sesuatu hal? Ngomong yang kenceng. Teori “kamu tahu gak salah kamu itu apa?” gak bakalan bisa dipakai, karena tak semua orang bisa baca pikiran. Pada saat yang sama, satu hal yang dianggap salah oleh satu pihak bukan berarti salah untuk kedua belah pihak.

Dalam pertemanan sendiri kalau didiamkan, tanyakan baik-baik apa yang terjadi, kenapa teman tersebut diam. Kalau bisa diselesaikan bagus, kalau perlu minta maaf jangan segan juga untuk minta maaf. Kalau tak bisa diselesaikan ya tutup buku, move on. Gak gampang sih ini, karena akan ada proses berduka, apalagi ketika pertemanan tersebut sudah terjalan bertahun-tahun. Tapi ya tak semua pertemanan itu harus cocok untuk seumur hidup.

Gak semua silent treatment harus diselesaikan dengan ditanya baik-baik, ada juga metode yang cuekin balik. Apalagi ketika silent treatment itu dilakukan untuk mendapatkan reaksi dan mengontrol orang lain. Ini biasanya ketika berurusan dengan orang-orang narsistik.

Bagaimana kalau pelakunya teman bukan, keluarga bukan, recruiter bukan? Ingat-ingat saja bahwa perilaku ini tuh mirip seperti anak kecil yang ngambek karena tak boleh makan satu bungkus coklat sendiri dan harus berbagi dengan anak kecil lainnya. Bedanya, anak kecil otaknya masih berkembang, sementara orang dewasa sering diidentikan dengan otaknya kurang satu ons. Kurang satu ons!

Pernah melakukan silent treatment atau jadi korban silent treatment?

Namaste,
Pernah melakukan silent treatment dan menjadi korban.

5 thoughts on “Silent Treatment

  1. Wow, it’s interesting to know that it’s called silent treatment. Dalam hal ini aku udah pernah jadi pelaku, tapi lebih sering jadi korban, baik dari recruiter, teman, gebetan, mantan dan keluarga.

    Yg paling ekstrim sama gebetan (senior kuliah 3 tingkat di atas aku). Semua aksesku ke dia diblok, bahkan aku mau say hi as a friend (ketika udah gak ada rasa) pun diblok. Padahal dari dulu ketika masih ada rasa aku sering bilangin dia utk gak takut kasih tau di mana salah aku. Tapi dia memang nyaris gak pernah gubris, tapi di saat yg sama malah sering haha hihi sama cewek2 Jepang. Ditambah di Pinterestnya banyak publish foto2 porno Jepang pulak, tanpa kepekaan kalau mayoritas temannya orang Indonesia yg sensi thd pornografi 😦

  2. Aku sering banget men-silent treatment suami hahaha, ABG banget benernya kadang, cuman klo dah kzl dah males ngomong, terus doi yang panik karena ga merasa salah apa2… but yes it’s a toxic behaviour I guess….

  3. Pernah alamin tapi nggak sadar kalau lagi di silent treatment. Kirain lagi sibuk aja 🤣#orangnyaoramudeng.
    Di kasus lain teman ada yg malah gembira saat di silent treatment krn kesempatan untuk ganti pergaulan krn yg silent-in bawel dan obsesif.
    Dengan kata lain merusak tidaknya ST ini juga tergantung dari respon emosional korban. Kalau nggak merasa ya nggak ada damage (yg ada malah yg ST tambah dongkol 🤣). Tapi setuju kalau memang ingin diam dalam rangka menahan diri atau butuh space harusnya pengumuman dulu. “Sorry. I need more time.” Yang repot kalau sdh dikasih tahu tetap lawan tidak mau memahami.

    • Bagus itu kalau lagi diST terus gak ngeh. Komunikasi untuk bilang perlu space dan waktu juga penting, aku setuju juga.

      Btw, itu yang move on dan ganti pergaulan seru banget. Aku jadi kasihan pelakunya padahal kan dia pengen hukum orang, tapi malah ditinggal. LOL

Leave a Reply to wieskyblueid Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s