Berduka

Salah satu mimpi buruk tinggal di luar negeri adalah ketakutan ketika kehilangan anggota keluarga yang meninggal dunia. Ada rasa cemas. Kalau untuk saya, tak sama dengan kecemasan ketika tinggal di kota atau provinsi yang berbeda, di mana pulang kampung bisa semudah memesan tiket kereta api atau pesawat terbang.

Di masa pandemi ini lebih-lebih, ada terlalu banyak kematian dan tiba-tiba pulang kampung menjadi sebuah hal yang tak mudah. Jarak jauh memisahkan masih harus ditambah dengan masa karantina. Sementara, di Indonesia ada kecenderungan jenasah dimakamkan sesegera mungkin. Akibatnya, banyak yang tak bisa pulang untuk menguburkan orang-orang terkasih. Pemakaman harus dijalankan secara daring. Tak ada lagi kesempatan untuk mengucapkan perpisahan, atau sekadar mencium tubuh dingin orang-orang tercinta untuk terakhir kalinya.

Pendeknya, di masa ini, luka hati kehilangan orang-orang tercinta itu seperti luka terbuka yang disiram cuka. Perih tiada terkira.

Proses kematian di Indonesia itu seperti plester obat yang harus ditarik sesegera mungkin. Keluarga berpulang, tamu datang dan yang kehilangan tak bisa berdiam diri untuk berduka dan memproses kematian tersebut. Menjelang pemakaman bahkan keluarga yang berduka harus terus-menerus menceritakan proses kematian yang seringkali pedih. Tak terbayang trauma ketika harus terus-menerus menceritakan saat yang menyedihkan seperti ini.

Di sini sedikit berbeda. Keluarga biasanya diberi waktu untuk berduka karena jenasah tak segera dimakamkan, di masa pandemi ini saya tak tahu bagaimana prosesnya, karena ada pembatasan jumlah orang yang boleh terlibat. Mendongeng tentang proses kematian biasanya ada, tapi tak seintens di Indonesia yang “harus” diceritakan kepada semua pihak yang datang, sehingga ketika pemakaman justru dipaksa sibuk bercerita kemana-mana ketimbang fokus pada luka hati dan perpisahan. Di sini, para tamulah yang biasanya bercerita dan saling ngobrol. Tamu-tamu ini seringkali tak saling kenal, tapi kemudian duduk dan membahas kebaikan yang sudah berpulang.

Berduka sendiri tak ada yang salah ataupun yang benar. Semua orang berduka dengan caranya sendiri-sendiri dan melalui banyak tahapan, dari menolak, marah, negosiasi, bahkan terkadang depresi yang bisa berdampak banyak pada kesehatan tubuh dan jiwa, hingga pada tahapan menerima kematian tersebut. Proses berduka sendiri juga bermacam-macam, ada yang cepat, ada pula yang butuh waktu agak lama, tergantung masing-masing individu dan kedekatan pada yang berpulang.

Di beberapa kasus bahkan orang-orang perlu pertolongan dari profesional untuk menangani duka. Apalagi pada kasus-kasus kematian yang memberi banyak pertanyaan dan sulit dicerna, atau pada kasus dimana ada penyesalan luar biasa sebelum kematian (sedang berkelahi, berbeda pendapat, berbohong, tak membagi rahasia besar). Penting sekali untuk bisa berteriak meminta pertolongan profesional dan meminta pertolongan itu tak perlu dilabeli sebagai sebuah hal yang memalukan.

Penutup

Di masa pandemi ini, jumlah berita duka yang datang dari Indonesia sangatlah tinggi. Kehilangan keluarga, melihat teman-teman dan orang-orang yang kita kenal berduka menjadi sebuah hal yang rutin.

Membuka media sosial atau aplikasi chat sekarang menjadi sebuah hal yang agak menakutkan karena intensitas berita duka yang kian tinggi. ๐Ÿ’”

Teruntuk kalian semua yang berduka karena kehilangan keluarga ataupun orang-orang terdekat, please mind yourself. Ambil waktu untuk berduka dan menata hati kembali. Semoga seiring berjalannya waktu, luka hati tersebut bisa membaik. Mungkin tak akan sepenuhnya pulih, tapi setidaknya jauh lebih baik dari sebelumnya.

Peluk virtual dari Irlandia, semoga kita semua senantiasa sehat!

Xoxo, Tjetje







13 thoughts on “Berduka

  1. Yang namanya jadi perantau di manapun, bahkan โ€œhanyaโ€ beda provinsi, tetap rasanya sama ketika menerima berita duka. Ga bisa dibedakan. Deg2annya sama saat membuka atau menerima telepon tengah malam.

    Aku kerja di Jakarta pas Bapak meninggal. Beritanya kuterima menjelang tengah malam. Pesawat ke Sby yang paling pagi jam 5. Setelah sampai, harus melanjutkan perjalanan ke kotaku 5 jam pakai mobil. Jadi sudah pasti ga ketututan untuk melihat dan mengikuti prosesi pemakaman Bapak. Ga bisa melihat Bapak untuk yang terakhir kali.

    Aku harus โ€œdealโ€ dgn meninggalnya Bapak, butuh waktu 9 tahun untuk berhenti mempertanyakan yang ada di kepalaku. Pertanyaan2 semacam kenapa, mengapa, dsb. Baru awal tahun ini aku banyak2 berdialog dgn diri sendiri (setelah beberapa kali harus melalui proses dgn professional) dan akhirnya bisa pada satu titik yang namanya Ikhlas yang sesungguhnya. Acceptance tentang kematian. Akhirnya langkahku lebih ringan. Kayak sudah ga ada yg nggandoli di hati dan pikiranku.

    Semoga keluarga kita sehat2 selalu. Walaupun kuakui, selama pandemi ini, cemas selalu datang. Mikir keluarga di Indonesia.

  2. Tulisan ini nyesss banget. Sebagai orang yang tahun lalu ditinggal anggota keluarga pada masa pandemi dan ga bisa pulang, ini aku banget. (Wafatnya bukan karena covid). Apalagi pas mbak cerita beberapa orang perlu konsultasi ke tenaga profesional untuk ngomongin kedukaan, itu juga aku banget, karena ketika masih bisa ketemu, aku ada masalah dengan almarhum jadi ngga ketemu sama sekali. Di masa pandemi versi Delta ini apa lagi, mbak. Tiap hari pengen pulang dan harap2 cemas semoga keluarga di Indonesia baik2 aja terutama yang udah sepuh. Semoga kita semua ada umur panjang jadi bisa ketemu lagi.

      • Udah cukup membaik mbak, thank you for asking, pelan2 belajar ikhlas dan belajar berdamai dengan masa lalu. Tapi kalo lagi stress, salah satu indikasinya adalah mimpi ketemu almarhum. Beberapa hari lalu mimpi ketemu almarhum lagi, dan emang pas banget lagi banyak pikiran.

      • Pas banget kemarin peringatan setahun almarhum meninggal. Aku menghindari buka IG story nyokap, bokap, dan adik2 karena pasti peringatannya mereka cukup lebay. Sementara aku cuma posting foto bunga kirimanku di kuburan almarhum saja. Ada sih foto bareng, tapi ya ga usah lah dimasukin di medsos.

  3. Hm kalau di masa pandemi…ada lho kepala desa yg sampai rahasiain kalau ada warga yg meninggal kena corona. Karena kalau nggak gitu adaa aja yg melayat dgn alasan nggak enak ati.๐Ÿ˜… Jadinya setelah melayat minggu berikutnya ada lagi yg wafat, tuh virus kerjanya muter-muter aja, kalau gak di stop bisa habisin satu desa. Yg namanya kultur budaya nggak bisa diubah hanya dlm semalam memang ๐Ÿ˜…

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s