Gotong Royong di Irlandia

Tulisan ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi saya dan beberapa teman-teman.


Selama tinggal di Irlandia ini saya sudah beberapa kali pindah, dari yang berjarak 5 menit dari pusat kota, pinggiran Dublin, hingga Dublin coret. Di tengah Dublin, individualisme itu sangat-sangat kuat. Komplek apartemen dipenuhi oleh para pekerja profesional yang tak hanya orang-orang Irlandia. Kerja pagi hingga sore, lalu kalau ketemu di lift hanya senyum atau menyapa apa kabar. Semua orang sibuk dengan hidupnya masing-masing.

Begitu kami pindah ke pinggiran kota Dublin, individualisme masih sangat kuat, walaupun tak seperti di tengah kota. Interaksi dengan tetangga sendiri sangat terbatas dan baru meningkat ketika Natal tiba dengan bertukar kartu atau kue-kue Natal.

Di luar Dublin sendiri, komunitas tempat saya tinggal bersatu-padu dalam banyak hal, dan gotong-royong ini sudah kuat sejak sebelum pandemik.

Gotong-royong skala kecil

Di Irlandia, menyetir dengan kadar alkohol itu tak diperkenankan. Ketika ada pesta atau pulang dari pub, alih-alih mencari taksi seperti di Dublin, yang tak minum memberikan tumpangan pulang untuk mereka yang minum. Saya sendiri, karena sudah tak rajin minum, berulang kali mengantar mereka yang minum, bahkan di tengah malam.

Sekali waktu, saya pernah memberi tumpangan tetangga saya pulang seusai pesta di kampung kami. Beberapa kemudian, cerita saya memberi tumpangan ini sudah sampai ke telinga orang Indonesia lain yang tinggal di kampung lain, bahkan beda county. Rumpi….

Tumpangan tak hanya diberikan pada mereka yang minum. Perlu tumpangan untuk mengambil tanaman yang ukurannya besar, perlu ke bandara, perlu ambil mobil ke bengkel, semua bisa minta tolong tetangga. Kuncinya gak segan minta tolong kalau butuh pertolongan.

Bantu-membantu di sini gak cuma urusan tumpangan. Butuh kursi karena ada pesta, gak usah repot-repot nyari penyewaan kursi, pinjem kursi-kursi tetangga aja. Mau beli bel rumah yang pakai kamera, tetangga pun siap nunjukin kamera mereka dan bantu install. Pintu rumah agak rewel, tetangga dengan senang hati ngebenerin. Gak perlu pakai bayar (di sini biasanya kalau dibantuin tetangga kita beliin mereka minum waktu ke pub). Warbiyasak banget deh.

Rujak Cingur tanpa cingur dengan kangkung dari hasil kebun tetangga

Nitip anak, pinjam anak tetangga buat diajak mainan, nitip anjing, atau bahkan kalau ada anjing ilang diambil dulu sama tetangga sampai pemiliknya ketemu. Kalau liburan, nitip rumah juga sama tetangga sebelah, bahkan titip minta sampah di keluarin.

Ketika awal pandemi, salah satu keluarga di kampung kami ada yang harus isolasi mandiri. Bantuan yang diberikan tetangga, dari dibantuin belanja sampai dikirimi makanan mengalir. Perlu apa-apa aja, tinggal minta tetangga. Balik lagi, tinggal bilang aja, tetangga datang dengan pertolongan.

Bedah Rumah

Salah satu gotong royong terbesar yang saya lihat adalah program bedah rumah versi Irlandia. Program ini berlangsung dimana-mana dan pernah berlangsung di kampung kami. Ada salah satu keluarga di kampung kami yang rumahnya perlu direnovasi karena mereka memiliki anak-anak berkebutuhan khusus.

Satu desa, bahkan desa-desa sebelah, bergotong-royong memberikan dukungan. Gula, kopi, teh, air panas, aneka kue-kue dan biskuit pun diberikan oleh para tetangga. Sampai ada jadwalnya, supaya orang-orang bergantian. Ini persis ketika jaman tinggal di Jakarta ataupun di Malang, ada jadwal mengirimkan kue dan kopi untuk satpam komplek yang ngeronda.

Mereka yang tak bisa bikin kue, tapi punya kebisaan untuk membangun rumah menyumbangkan tenaga dan waktunya. Tergantung specialisasi mereka, tukang ledeng, tukang listrik, tukang lantai, semuanya kerja bareng tak dibayar. Yang tak punya pengetahuan pertukangan, seperti suami saya, ngeronda untuk jaga peralatan bangunan. Yang gak kebagian jadwal ngeronda, seperti tukang es krim, datang bawa truk es krimnya dan bagi-bagi es krim gratis untuk seluruh kru yang berpartisipasi.

Kalau ini gotong-royong khas Indonesia

Tak cuma makanan dan skill saja, bahan bangunan, dari paku sampai tanaman juga hasil swadaya masyarakat sekitar. Tak hanya individu tapi juga bisnis. Semuanya gotong-royong demi membantu salah satu tetangga desa kami.

Penutup

Irlandia ini konon masuk sebagai salah satu negara yang individualis. Tapi dari pengalaman yang saya alami, engga juga kok, banyak tolong-menolong dan gotong-royong. Ada yang mungkin berargumen, ah ini mungkin karena desa tempat saya tinggal kecil. Tapi salah satu cerita yang saya tulis di atas kejadiannya di kota terdua terbesar di Irlandia.

Kesimpulan saya, individualisme itu tak hanya masalah kultur, tapi juga masalah mentalitas.
Tetangga saya, orang Irlandia, yang saya anterin pulang beberapa minggu lalu menanyakan satu pertanyaan yang penting dan vital: “Do you know anyone in the village?” Kamu kenal sama orang lain gak?

Lha kalau engga kenal dan kalau kita bawa mental individualis, gak nyapa orang, gak ngajak orang ngobrol, apalagi karena tinggal hanya sementara saja, tak mau repot berkenalan dan berinteraksi dengan masyarakat loka, ya orang-orang Irlandia akan menawarkan individualisme.

xoxo,
Tjetje
Dapat kangkung organik satu kresek dari tetangga sebelah rumah.

Cari Perhatian

Manusia itu pada dasarnya memerlukan tak hanya sandang, pangan dan papan, tetapi juga perhatian. Udah dari sononya perhatian menjadi kebutuhan kita. Namun, di media sosial, kita seringkali bertemu dengan orang-orang yang haus perhatian, seakan-akan mereka baru selesai marathon mencari perhatian di tengah padang pasir.

Mencari perhatian, kendati sebuah kewajaran berubah menjadi hal yang aneh ketika kebutuhan ini terlalu tinggi, hingga kemudian menciptakan aneka drama untuk mencari perhatian. Sebuah hal yang sebenarnya tak penting karena kita bukan para pejuang rating reality show seperti Kim Kardashian.

Cara mencari perhatian ini beraneka rupa, dari yang sekedar pamer cerita hidup secara berlebihan, ada yang mengumbar emosi dari satu sisi (baca: marah-marah di media sosial, tapi ceritanya gak berimbang), ada yang menyindir tetangga sebelah, hingga yang mati-matian mencari like tapi malah mengundang cemooh di R/LinkedIn Lunatics (sub-reddit ini sangat dianjurkan).

Lalu kenapa orang dewasa masih suka mencari perhatian, “apa yang salah” dalam kehidupan dan upbringing mereka sampai benar-benar harus perhatian? Saya iseng membaca aneka literatur tentang psikologi manusia pun menemukan banyak alasan.

Disclaimer dulu, ini bukan tulisan ilmiah dan saya tak selalu benar. Sumber bacaan saya juga belum tentu benar. Jadi jangan dianggap sebagai kebenaran absolut ya. Karena sesungguhnya yang paling benar adalah mereka yang suka mencari perhatian. Lainnya salah semua. #Eh

Kesepian

Pecahkan saja gelasnya biar ramai

Biar mengaduh sampai gaduh

Jadi kegaduhah yang dimunculkan di media sosial itu ternyata bermula dari akar penting, rasa kesepian. Bikin konten demi mengundang engagement supaya tak kesepian.

Ya ini sih masuk akal, kalau orang sibuk mah, boro-boro mikir bikin content drama, mau nengok media sosial juga gak sempet, apalagi mikir bikin konten yang mengundang reaksi. Bikin konten itu kan pakai mikir, menata kata-kata dan mengunggah pada waktu yang tepat.

Kesepian tak bisa dipahami sebagai tak ada yang menemani ya. Terkadang ada orang-orang yang dalam keramaian pun masih merasa kesepian karena kebutuhan untuk interaksi dengan manusia dewasa lainnya tak terpenuhi. Pssst… dalam perkawinan hal seperti ini biasanya mengundang perselingkuhan, fisik maupun batin.

Gak Pede

Ketika saya masuk kelas theater, saya diminta untuk berdandan seperti orang yang tak mandi, rambut tak diatur dan berlaku seperti orang dengan gangguan kejiwaan. Kami diminta berjalanan keliling kota Malang. Sendirian.

Tujuan dari proses ini untuk membangun kepercayaan diri & supaya kami tak peduli dengan apa kata orang tentang penampilan kami. People will always comment anyway, tapi yang penting pede dulu.

Kendati terlatih percaya diri, sebagai manusia saya masih tetap punya kecemasan dan nervous ketika harus melakukan public speaking (padahal ini kerjaan saya). Namanya juga manusia.

Nah, orang-orang yang nervous ini banyak yang bergantung pada pujian dari orang lain. Pujian tentang penampilan, skill serta hidup mereka menjadi booster untuk kepercayaan diri mereka. Kerja pujian ini tak datang, ya harus dicari dengan berbagai cara. Tanpa pujian ini, insecurities jadi merajalela.

Makanya saya tak pernah mempercayai keglamouran dan kepedean berlebihan di media sosial. Seringkali, begitu ketemu langsung, banyak yang bergulat dengan insecurities yang dimanifestasikan ke aksi-aksi cari perhatian.

Cemburu

Tak pede ini juga bersahabat dekat dengan kecemburuan. Kecemburuan ini muncul karena banyak alasan dan karena dipicu hal-hal yang sepele, dari kedekatan, materi, kesuksesan. Apa aja bisa menjadi pemicu kecemburuan.

Melihat teman yang dianggap kesayangan lebih dekat dengan orang lain, lalu cemburu dan posesif. Buru-buru membuat statement kedekatan, persis seperti anjing yang mengencingi pohon untuk marking dominance. Masalahnya, kedekatan manusia itu tak perlu statemen, hanya perlu aksi dan hubungan pertemanan yang kokoh.

Yoda, punya anxiety dan FOMO. Maunya ditemenin melulu, kalau engga dia cari perhatian cakar-cakar kaki orang.

Ketika tak diajak keluar, kemudian muncul FOMO (fear of missing out) yang dibarengi dengan permintaan untuk diajak. Kalau tak diajak, ada saja metode mencari perhatian yang akan dibuat. Dari mengaku diajak tapi tak bisa, hingga membuat acara tandingan yang mengikutkan banyak orang.

Melihat harta dan tahta orang lain juga seringkali menjadi cemburu. Kenapa rumput tetangga lebih hijau, plastik sekalipun? Kenapa aku tak punya ini dan itu, kenapa aku kok masih gini-gini aja, sementara orang lain lebih sukses.

Namanya juga manusia, kadang, atau bahkan seringkali lupa bersyukur.

Penutup

Manusia itu kompleks dan sangat menarik. Sebagai manusia, saya sendiri pernah bergulat dengan aneka hal yang saya sebut di atas. Dulu tapi, jaman masih pakai seragam warna biru dan kerepotan mencari tahu identitas diri.

Selayaknya manusia, kita berproses dengan berjalannya waktu dan juga pengalaman hidup. Sekarang kalau melihat hal-hal seperti ini, jadi bikin flash back ke masa di mana otak belum berkembang secara sempurna, mencari tahu tujuan hidup dan penuh insecurities.

Nah bagaimana kalau ketemu manusia yang hobi banget cari perhatian gini? Ya itu pilihan masing-masing. Kita bisa mengatur reaksi yang kita mau. Kalau punya tenaga dihadapi. Kalau saya, sekarang tak punya energi untuk menghadapi orang-orang kesepian yang caper gini.

Tjetje
sedang belajar menikmati JOMO

Tentang Masker & Vaksin

Disclaimer: Setiap orang berhak memilih prosedur kesehatan yang sesuai dengan kepercayaan mereka, apalagi prosedur yang akan mempengaruhi tubuh mereka. Tidak semua orang harus memilih hal-hal yang dianggap populer.

Jennifer Aniston kata media memilih untuk tidak berteman lagi dengan teman-temannya yang tidak divaksin karena takut menularkan (dan atau ditulari) virus. Ia juga enggan berhubungan dengan mereka yang tak mau membeberkan kondisi atau pilihan mereka. Soal yang terakhir ini cukup kontroversial, karena ini merupakan urusan yang sangat pribadi dan membuat beberapa orang cukup geram. Kegeraman ini membuat saya bertanya, berapa banyak dari kita yang harus kehilangan hubungan dengan orang-orang tercinta karena perbedaan pilihan?

Vaccine Hesitancy & Anti Vaksin

Beberapa orang yang saya kenal, menolak vaksin dan menolak menggunakan masker. Ada yang menolak sepenuhnya. Tetapi ada juga yang menolak vaksin C19 saja. Di era pandemi ini, mereka dikotak-kotakkan. Yang ragu dikategorikan dalam kelompok vaccine hesitancy.

Sementara yang gak mau sama sekali dikategorikan sebagai anti-vaksin. Sejarah mencatat, kotak-kotak terhadap kelompok anti vaksin sendiri sudah ada sejak sebelum pandemi ini mulai dan ada nada yang negatif dari masyarakat terhadap pilihan mereka.

Mereka yang memilih tidak divaksin, atau ragu-ragu tidak hanya orang Indonesia saja, tetapi juga orang asing. Perancis sendiri menjadi salah satu negara yang cukup tinggi angka keragu-raguannya di Eropa.

Lalu, saya ngobrol dengan pilihan mereka dan bertanya karena saya ini kepo. Perlu dicatat, mereka tak berutang penjelasan atas pilihan hidupnya. Tapi karena pilihan mereka tidak populer, ada baiknya juga memahami pandangan mereka. Saya bertanya karena ingin tahu, tanpa rasa menghakimi dan tak datang untuk berdebat.

Yoda sudah divaksin secara penuh dan boleh bermain dengan anjing-anjing lain.
Sebelum divaksin, ia tak diperkenankan bermain dengan anjing lain karena resiko terinfeksi penyakit yang lebih tinggi.

Masker

Penolakan terhadap masker ada banyak alasannya. Salah satu alasan utama yang sering kali saya dengar adalah sesak napas, apalagi jika mereka memang punya kondisi kesehatan. Kebijakan yang mengharuskan orang mengenakan masker, bahkan selama 8 jam saat kerja membuat orang-orang ini ketakutan. Takutnya nyata sekali; dulu beberapa orang yang saya kenal sampai harus dipulangkan dari kantor dan bekerja dari rumah karena ini (ini sebelum pandemi meledak ya).

Menariknya, ada yang merasa identitasnya tercabut karena pakai masker. Ekspresi muka tak kelihatan dan interaksi menjadi sangat terbatas dengan adanya masker. Selain itu, kekesalan dengan kebijakan pemerintah juga memicu sisi rebelious. Capek dan kesal dengan pemerintah yang mengganti-ganti aturan terus-menerus dan menberi pembatasan.

Untuk konteks, aturan di Irlandia memang berubah terus dan seringkali konyol. Ditambah lagi selama pandemi ini pemerintah di sini membuat beberapa skandal, dari bikin pesta, melanggar aturan travel, pesta yang melepas maker, dan tentunya ketahuan. Tak heran kalau kemudian orang jadi eneg dan menentang masker. Masker agaknya dilambangkan sebagai simbol penekanan.

Bagaimana dengan vaksin?

Ada banyak keraguan, ketakutan dan keengganan karena vaksin. Pertama karena mRNA, masih digolongkan “baru”, lalu pembuatan vaksin yang tergolong cepat juga menambah keengganan. Ada pertanyaan besar apakah vaksin ini benar-benar aman atau tidak, apalagi vaksin tidak 100% melindungi dari C19.

Efek samping vaksin terhadap tubuh juga menjadi alasan lain lagi. Badan baik-baik saja kok secara sengaja dimasuki benda asing hingga mengalami banyak reaksi seperti demam dan pusing tak terkira. Ditambah lagi, mereka yang mengalami efek samping ini, apalagi yang cukup parah, seringkali tak boleh berbagi di media sosial. Postingan atau bahkan akun mereka dihapus oleh media sosial ini. Padahal yang mereka bahas itu reaksi faktual dari vaksin & yang posting tak anti vaksin sama sekali.

Selain hal-hal di atas, ada keengganan dan ketidakmauan yan tinggi ketika tubuh mereka sendiri memiliki imunitas yang cukup tinggi. Tak pernah mengalami sakit menjadi salah satu alasan. Gaya hidup yang lebih alami, tanpa bahan kimia juga dipercaya, dan menurut mereka terbukti membuat tubuh mereka jauh lebih sehat.

Diskriminasi?

Lalu, bagaimanakah mereka diperlakukan di Irlandia yang sudah mulai membuka diri? Membuka diri di sini termasuk kegiatan ekonomi bergejolak lagi, hotel dibuka, restauran buka untuk makan di luar dan juga di dalam bangunan. Menurut aturan yang berlaku saat ini (ini besok bisa ganti lagi), mereka yang sudah divaksin boleh duduk di dalam selama mereka menunjukkan bukti vaksin. Sementara mereka yang tak divaksin, boleh duduk di dalam jika menunjukkan hasil tes PCR, atau menunjukkan bukti pernah terkena Covid dalam waktu 6 bulan terakhir. Penerapannya di lapangan bermacam-macam, ada yang dicek, ada yang tak dicek, dan ada yang disuruh keluar.

Traveling sendiri juga sama. Yang sudah divaksin bisa melenggang dengan EU vaccine passport sementara yang tak divaksin harus merogoh kocek untuk tes PCR di instasi private. Tes gratis yang disediakan pemerintah tak diperkenankan untuk keperlukan jalan-jalan.

Pendeknya, tak ada diskriminasi, mereka semua bisa mengakses hal-hal yang sama, hanya saja dokumen yang diperlukan berbeda. Lalu bagaimana jika mereka dikonfrontasi, seperti ketika masuk ke dalam toko dan harus menggunakan masker. Di sini, penggunaan masker di dalam toko diwajibkan.

Nah, mereka ternyata sudah siap untuk berhadapan dengan para pegawai toko. Jika diminta menggunakan masker, mereka akan mengatakan sebagai pengecualian. Di Irlandia sendiri pengecualian hanya diberikan kepada mereka yang memiliki kondisi kesehatan yang rentan. Tanpa dokumen ini semua harus mengenakan masker.

Ketika mereka tak bisa memberikan dokumen ini, biasanya, mereka akan diminta keluar dari toko. Ya keluar aja dan tak pernah kembali ke toko yang sama. Supermarket yang mengakomodasi orang-orang tanpa masker sendiri biasanya banyak menerima komplen di media sosial.

Penutup

Pandemik mengubah cara interaksi kita dengan manusia lain. Kebijakan publik juga berubah untuk menekan angka infeksi, kapasitas rumah sakit. Kegiatan ekonomi sendiri juga turun drastis.

Memahami pilihan vaksin dan masker itu membuka saya tentang cara pandang orang lain yang berbeda dari cara pandang kebanyakan dari kita. Ada banyak faktor di belakangnya, ada ketakutan, keengganan, ketidakpercayaan, kepercayaan dan pandangan yang berbeda atau bahkan perlawanan pada otoritas. Apapun pilihannya, itu pilihan masing-masing.

Yang pasti, pandemi ini mengubah banyak hal. Kita hidup dalam kondisi yang semakin tak pasti, diiringi sedikit (atau banyak), ketakutan dan kecemasan. Apalagi dengan berita kematian yang belum juga berhenti. Semua orang, merasa kelelahan jiwa dan juga kelehan mental.

Lalu, kalau kemudian pertemanan tak bisa dilanjutkan lagi karena pandangan yang berbeda ini, ya tak usah dilanjutkan. Manusia itu tak selalu harus cocok, tak selalu harus memiliki pandangan yang sama. Kalau memang memilik tak bisa mentolerir pandangan yang berbeda, tinggal hapus aja dari daftar pertemanan atau kalau lebih ekstrem, blok aja.



Kamu, seperti Jeniffer Aniston juga?


Tjetje
Pengguna masker yang sudah divaksin secara penuh.

Tapi, bukan teman Jeniffer Aniston.

Menghina Pekerjaan Orang



Pernah dengan tentang Nikmatul Rosidah Dobson? Mbak Nik ini salah satu Youtuber Indonesia yang tadinya bermukim di HK lalu pindah ke Canada. Akun Youtube Mbak Nik banyak bercerita tentang masakan dan juga keluarganya. Di Facebook, Mbak Nik sering bercerita tentang aneka perisakan yang ia terima, dari orang yang tak ia kenal. Ada banyak hinaan yang dia terima, dari soal rumah yang baru ia beli, dituduh berfantasilah, suaminya pun ikut dihina, bahkan yang terakhir latar belakang pekerjaan dia yang pernah bekerja di Hong Kong juga dihina. Soal hinaan terhadap pekerjaan Mbak Nik ini bagi saya sebuah hal yang sangat “menarik2”, karena orang tak malu-malu menunjukkan wajah aslinya demi kepuasan menghina orang lain.



Tanya kenapa?



Observasi saya, ketergantungan kita di Indonesia terhadap pekerja rumah tangga itu sangat tinggi. Tapi sayangnya ketergantungan ini tak dibarengi dengan penghormatan, malah dibarengi dengan diskirimasi dan hinaan terhadap pekerjaan mereka. Hinaan ini kemudian melebar tak hanya kepada pekerja rumah tangga tapi juga pada TKW, yang berbuntut perlakukan yang bebeda dan diskriminatif. Soal ini pernah saya bahas panjang lebar di postingan 5 tahun lalu di sini.

Masyarakat kita juga kemudian memunculkan hinaan “muka pembantu”, yang tak jelas maksud dan definisinya apa. Apalagi menjadi pekerja rumah tangga itu tak memerlukan fitur muka yang unik seperti ketika harus menjadi model. Bisik-bisik tetangga juga sering mengatakan “dia itu dulu bekas pembantu”. Seakan-akan menjadi pekerja rumah tangga adalah sebuah hal yang salah. Sudahlah gaji di bawah UMR, jam kerja gak jelas, masih juga dihina-dina.

Image by Pijon from Pixabay

Ketika saya tiba di Irlandia beberapa tahun lalu, pekerjaan pertama saya adalah tukang bersih-bersih media sosial, upahnya cukup rendah, hanya 25% lebih tinggi daripada upah minimum. Pekerjaan ini tidak untuk semua orang, karena bersih-bersih yang dilakukan terkait dengan konten yang aneh-aneh di media sosial dan bisa memicu trauma. Kala itu, pekerjaan tersebut cukup mudah didapatkan karena kemampuan bahasa Indonesia yang saya punyai. Jenis pekerjaan ini memang memerlukan kemampuan bahasa, kecepatan dalam menganalisis dan kebisaan untuk berhadapan dengan trauma.

Lalu, dalam sebuah acara, pertama kalinya dalam hidup saya, saya merasakan bagaimana rasanya dihina dan direndahkan karena pekerjaan dan perusahaan tempat saya bekerja. Di depan orang banyak tentunya.


Tadinya, saya berpikir menghina pekerjaan orang lain itu hanya pada pekerjaan dengan penghasilan rendah. Eh tapi tunggu dulu, dokter gigi yang sekolahnya susah pun tak lepas dari hinaan. Baru kenalan dengan orang, begitu tahu pekerjaan dokter gigi udah langsung menghina pekerjaan dokter gigi karena identik dengan rasa sakit (dan biaya yang tak murah), lalu malas dekat-dekat karena rasa takut dan insecurity karena pekerjaan orang lain.

Yang menyedihkan, kadang-kadang hinaan terhadap profesi ini bermula sejak dini, ketika anak-anak yang akan memilih minat profesinya memantapkan hati. “Ngapain sekolah jadi tukang mandiin anjing, gak ada uangnya”. Atau mereka yang ingin jadi pengacara, belum-belum sudah disumpahi kaki satu di neraka dan satu di surga. Situ dewa penjaga pintu neraka dan pintu surga?

Penutup

Adanya kultur yang mempermalukan dan menghina orang lain karena pekerjaan mereka itu membuat orang kemudian malu jika pekerjaan mereka diketahui orang lain. Menjadi pelayan di restauran misalnya, kemudian lihat seseorang yang dikenal, kabur dan sembunyi. Malu dan takut dihina.

Tak bisa dipungkiri, dipermalukan dan dihina orang lain itu pasti menyakitkan. Saya sendiri melihat hal seperti ini sebagai sebuah “kelucuan” yang memicu pertanyaan, mengapa orang lain mati-matian merendahkan pekerjaan orang lain (dan pada prosesnya meninggikan pekerjaan mereka sendiri, kadang ketinggian sampai lapisan langit gak cukup)?

Bagi saya, konfrontasi orang-orang seperti ini tuh buang-buang energi. Kalau kebetulan ketemu, sekalian aja dikompor-komporin, biar makin tinggi. Let them have the moment. Hitung-itung berbuat baik, bikin orang lain merasa lebih baik tentang dirinya sendiri, bisa membuat mereka merasa agak superior dan jadi menggelembung karena bangga banget dengan dirinya sendiri, persis seperti Giant di seri Doraemon. Mereka juga tentunya bisa lebih pede karena “lebih baik” daripada orang lain, walaupun hanya sementara. Kasihan lho, gak setiap saat mereka punya momen seperti ini.

Pada akhirnya, pekerjaan itu tidak mendefinisikan kita sebagai individu. Mau pekerjaan apa aja, kalau kelakuannya jelek, nyamuk juga males nemplok.


Pernah dihina karena pilihan pekerjaan dan atau profesi kalian?

Ailtje
Blogger, bukan CEO atau C-suite lainnya kayak anak-anak CH. #Eh