Tentang Masker & Vaksin

Disclaimer: Setiap orang berhak memilih prosedur kesehatan yang sesuai dengan kepercayaan mereka, apalagi prosedur yang akan mempengaruhi tubuh mereka. Tidak semua orang harus memilih hal-hal yang dianggap populer.

Jennifer Aniston kata media memilih untuk tidak berteman lagi dengan teman-temannya yang tidak divaksin karena takut menularkan (dan atau ditulari) virus. Ia juga enggan berhubungan dengan mereka yang tak mau membeberkan kondisi atau pilihan mereka. Soal yang terakhir ini cukup kontroversial, karena ini merupakan urusan yang sangat pribadi dan membuat beberapa orang cukup geram. Kegeraman ini membuat saya bertanya, berapa banyak dari kita yang harus kehilangan hubungan dengan orang-orang tercinta karena perbedaan pilihan?

Vaccine Hesitancy & Anti Vaksin

Beberapa orang yang saya kenal, menolak vaksin dan menolak menggunakan masker. Ada yang menolak sepenuhnya. Tetapi ada juga yang menolak vaksin C19 saja. Di era pandemi ini, mereka dikotak-kotakkan. Yang ragu dikategorikan dalam kelompok vaccine hesitancy.

Sementara yang gak mau sama sekali dikategorikan sebagai anti-vaksin. Sejarah mencatat, kotak-kotak terhadap kelompok anti vaksin sendiri sudah ada sejak sebelum pandemi ini mulai dan ada nada yang negatif dari masyarakat terhadap pilihan mereka.

Mereka yang memilih tidak divaksin, atau ragu-ragu tidak hanya orang Indonesia saja, tetapi juga orang asing. Perancis sendiri menjadi salah satu negara yang cukup tinggi angka keragu-raguannya di Eropa.

Lalu, saya ngobrol dengan pilihan mereka dan bertanya karena saya ini kepo. Perlu dicatat, mereka tak berutang penjelasan atas pilihan hidupnya. Tapi karena pilihan mereka tidak populer, ada baiknya juga memahami pandangan mereka. Saya bertanya karena ingin tahu, tanpa rasa menghakimi dan tak datang untuk berdebat.

Yoda sudah divaksin secara penuh dan boleh bermain dengan anjing-anjing lain.
Sebelum divaksin, ia tak diperkenankan bermain dengan anjing lain karena resiko terinfeksi penyakit yang lebih tinggi.

Masker

Penolakan terhadap masker ada banyak alasannya. Salah satu alasan utama yang sering kali saya dengar adalah sesak napas, apalagi jika mereka memang punya kondisi kesehatan. Kebijakan yang mengharuskan orang mengenakan masker, bahkan selama 8 jam saat kerja membuat orang-orang ini ketakutan. Takutnya nyata sekali; dulu beberapa orang yang saya kenal sampai harus dipulangkan dari kantor dan bekerja dari rumah karena ini (ini sebelum pandemi meledak ya).

Menariknya, ada yang merasa identitasnya tercabut karena pakai masker. Ekspresi muka tak kelihatan dan interaksi menjadi sangat terbatas dengan adanya masker. Selain itu, kekesalan dengan kebijakan pemerintah juga memicu sisi rebelious. Capek dan kesal dengan pemerintah yang mengganti-ganti aturan terus-menerus dan menberi pembatasan.

Untuk konteks, aturan di Irlandia memang berubah terus dan seringkali konyol. Ditambah lagi selama pandemi ini pemerintah di sini membuat beberapa skandal, dari bikin pesta, melanggar aturan travel, pesta yang melepas maker, dan tentunya ketahuan. Tak heran kalau kemudian orang jadi eneg dan menentang masker. Masker agaknya dilambangkan sebagai simbol penekanan.

Bagaimana dengan vaksin?

Ada banyak keraguan, ketakutan dan keengganan karena vaksin. Pertama karena mRNA, masih digolongkan “baru”, lalu pembuatan vaksin yang tergolong cepat juga menambah keengganan. Ada pertanyaan besar apakah vaksin ini benar-benar aman atau tidak, apalagi vaksin tidak 100% melindungi dari C19.

Efek samping vaksin terhadap tubuh juga menjadi alasan lain lagi. Badan baik-baik saja kok secara sengaja dimasuki benda asing hingga mengalami banyak reaksi seperti demam dan pusing tak terkira. Ditambah lagi, mereka yang mengalami efek samping ini, apalagi yang cukup parah, seringkali tak boleh berbagi di media sosial. Postingan atau bahkan akun mereka dihapus oleh media sosial ini. Padahal yang mereka bahas itu reaksi faktual dari vaksin & yang posting tak anti vaksin sama sekali.

Selain hal-hal di atas, ada keengganan dan ketidakmauan yan tinggi ketika tubuh mereka sendiri memiliki imunitas yang cukup tinggi. Tak pernah mengalami sakit menjadi salah satu alasan. Gaya hidup yang lebih alami, tanpa bahan kimia juga dipercaya, dan menurut mereka terbukti membuat tubuh mereka jauh lebih sehat.

Diskriminasi?

Lalu, bagaimanakah mereka diperlakukan di Irlandia yang sudah mulai membuka diri? Membuka diri di sini termasuk kegiatan ekonomi bergejolak lagi, hotel dibuka, restauran buka untuk makan di luar dan juga di dalam bangunan. Menurut aturan yang berlaku saat ini (ini besok bisa ganti lagi), mereka yang sudah divaksin boleh duduk di dalam selama mereka menunjukkan bukti vaksin. Sementara mereka yang tak divaksin, boleh duduk di dalam jika menunjukkan hasil tes PCR, atau menunjukkan bukti pernah terkena Covid dalam waktu 6 bulan terakhir. Penerapannya di lapangan bermacam-macam, ada yang dicek, ada yang tak dicek, dan ada yang disuruh keluar.

Traveling sendiri juga sama. Yang sudah divaksin bisa melenggang dengan EU vaccine passport sementara yang tak divaksin harus merogoh kocek untuk tes PCR di instasi private. Tes gratis yang disediakan pemerintah tak diperkenankan untuk keperlukan jalan-jalan.

Pendeknya, tak ada diskriminasi, mereka semua bisa mengakses hal-hal yang sama, hanya saja dokumen yang diperlukan berbeda. Lalu bagaimana jika mereka dikonfrontasi, seperti ketika masuk ke dalam toko dan harus menggunakan masker. Di sini, penggunaan masker di dalam toko diwajibkan.

Nah, mereka ternyata sudah siap untuk berhadapan dengan para pegawai toko. Jika diminta menggunakan masker, mereka akan mengatakan sebagai pengecualian. Di Irlandia sendiri pengecualian hanya diberikan kepada mereka yang memiliki kondisi kesehatan yang rentan. Tanpa dokumen ini semua harus mengenakan masker.

Ketika mereka tak bisa memberikan dokumen ini, biasanya, mereka akan diminta keluar dari toko. Ya keluar aja dan tak pernah kembali ke toko yang sama. Supermarket yang mengakomodasi orang-orang tanpa masker sendiri biasanya banyak menerima komplen di media sosial.

Penutup

Pandemik mengubah cara interaksi kita dengan manusia lain. Kebijakan publik juga berubah untuk menekan angka infeksi, kapasitas rumah sakit. Kegiatan ekonomi sendiri juga turun drastis.

Memahami pilihan vaksin dan masker itu membuka saya tentang cara pandang orang lain yang berbeda dari cara pandang kebanyakan dari kita. Ada banyak faktor di belakangnya, ada ketakutan, keengganan, ketidakpercayaan, kepercayaan dan pandangan yang berbeda atau bahkan perlawanan pada otoritas. Apapun pilihannya, itu pilihan masing-masing.

Yang pasti, pandemi ini mengubah banyak hal. Kita hidup dalam kondisi yang semakin tak pasti, diiringi sedikit (atau banyak), ketakutan dan kecemasan. Apalagi dengan berita kematian yang belum juga berhenti. Semua orang, merasa kelelahan jiwa dan juga kelehan mental.

Lalu, kalau kemudian pertemanan tak bisa dilanjutkan lagi karena pandangan yang berbeda ini, ya tak usah dilanjutkan. Manusia itu tak selalu harus cocok, tak selalu harus memiliki pandangan yang sama. Kalau memang memilik tak bisa mentolerir pandangan yang berbeda, tinggal hapus aja dari daftar pertemanan atau kalau lebih ekstrem, blok aja.



Kamu, seperti Jeniffer Aniston juga?


Tjetje
Pengguna masker yang sudah divaksin secara penuh.

Tapi, bukan teman Jeniffer Aniston.

12 thoughts on “Tentang Masker & Vaksin

  1. Aku terus terang memang enggan untuk nanya apakah seseorang memilih vaksin atau nggak. Dalam benakku, bertanya seperti itu semacam bertanya kamu agamanya apa. Aku pribadi ga suka kalo ada yang nanya aku vaksin apa nggak. Ya meskipun aku nulis di blog ttg hal ini, tapi aku males berkoar2 ttg vaksin. Sudahlah, itu pilihanku pribadi, jadi aku ga mau gembar gembor.
    Masker, saat ini aku memakai di tempat yang diwajibkan saja macam di kendaraan umum. Selebihnya aku ga pakai. Kecuali kalau pas sinusku kumat, baru pakai sejak keluar rumah sampai masuk rumah lagi. Sebenarnya aku senang pakai masker, orang jd ga lihat raut mukaku yg judes 😅

  2. Aku awalnya malas vaksin krn alasannya kok cepet banget vaksinnya jadi… Hehehe.. Cuma setelah vaksin jadi lebih tenang krn ‘virusnya udah masuk tubuh’ kok.. Sekarang temen2 udah pd vaksin tahap 3 yg moderna.. huhuhu, pengen dapet tp kayaknya gak bakal dpt jatah itu…

  3. Aku tipe orang yang vaksin untuk kepraktisan, biar bisa lebih bebas beraktivitas, jalan-jalan pun ngga perlu keluar uang untuk PCR. Tapi aku juga tahu kok banyak orang2 di sekitar ku yang ngga mau vaksin. Mertua nggak mau vaksin karena ngga nyaman (kok secepat itu bikin vaksin). Suami awalnya enggan vaksin tapi akhirnya vaksin juga. Ada juga kolegaku yang akhirnya buka kartu kenapa dia enggan di vaksin: karena tubuhnya sering mengalami efek samping hebat kalau di vaksin apapun, jadi dia takut bakal sakit yang aneh2 setelah di vaksin.

    Buat aku sih, kamu mau atau ngga vaksin, ngga usah diomongin panjang lebar. Ngga hutang penjelasan, sekaligus bisa irit bicara juga, karena banyak orang yang terlalu terpolarisasi dengan vaksin vs ngga vaksin ini. Tapi ya kesel juga mbak kalau lihat narasi HARUS VAKSIN di media sosial, terus kalau yang keceplosan bilang nggak vaksin/belum vaksin, bakal dijelek-jelekkan atau ditanya2 alasannya kenapa ngga mau ikut status quo.

      • Bener banget, enggan atau ga mau vaksin kan ga selalu anti-vaksin atau ga percaya Covid. Pernah aku ngetwit “Akhirnya suami mau divaksin juga setelah gw ngerengek pengen jalan2 keluar NL”. Terus ada yang jawab dengan pilihan kata yang agak judging, “Hah emang sebelumnya suaminya ga mau divaksin?” Seolah generalisasi ngga vaksin Covid = anti-vaksin Covid atau malah lebih parah ngga percaya Covid.

  4. Kalau disini karena kasus naiknya varian Delta seperti India, levelnya sudah beda, mbak. Mungkin yang sampai seperti Jen karena orang nggak berani ambil resiko. Horror benar nyari RS saat Juli kemarin. Kalau nggak lihat atau alamin sendiri, susah paham. State of fearnya lain. Memang reaksi masyarakat akan jauh dari ideal. Sosialisasi vaksin nggak bisa cuma 6 bulan, musti puluhan tahun. Tapi namanya juga kejar-kejaran dengan herd immunity.

    Ada kondisi-kondisi dimana seseorang harus memutuskan ada di pihak mana.

Leave a Reply to Phebie 📸 | Cerita Fotografi Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s