Kompetisi Dengan Teman

Mama saya bertutur, di usia matang ini, orang-orang yang beruntung adalah orang-orang yang memiliki teman baik. Tak perlu banyak-banyak, cukup segelintir tapi berkualitas dan bertahan sepanjang usia hidup kita.

Akhir bulan lalu, saya merayakan pertemanan yang sudah berlangsung selama lebih dari dua dekade di Paris. Sepulang dari Paris, saya bercerita pada suami betapa bahagianya saya bertemu teman baik. Kaki boleh lelah setelah lebih dari 30 ribu langkah menyusuri jalanan di Paris, tapi hati saya tidak lelah. Suami lalu berujar: dalam pertemanan kami, tidak ada one up-manship. Makanya pertemanan ini awet dan langgeng hingga sekarang.


Definisi dan contoh

Setelah membaca banyak artikel, saya mendefinisikan one-upmanship sebagai persaingan atau kompetisi dengan teman yang tidak sehat. Akar persaingan ini dari keinginan untuk mendapatkan pengakuan serta status sosial. Pendeknya seluruh aspek dalam pertemanan itu dijadikan sebagai sebuah kompetisi dan mereka yang melakukan one up-manship ini selalu merasa harus menjadi nomor satu, harus jadi jawara. Kebutuhan untuk menang ini timbul karena kepercayaan diri yang sangat rendah dan harus didongkrak dengan “hasil dari kompetisi ini”. Akibatnya, pertemanan jadi toxic, muncul konflik dan tentunya suasana pertemanan jadi tak menyenangkan lagi.
Dalam pertemanan, kita sering kali bercerita hal yang baik maupun hal yang buruk. Nah teman yang kompetitif ketika mendengarkan cerita ini sudah langsung menyiapkan cerita tandingan yang jauh lebih spektakuler. Salah satu contoh yang sering muncul jika membahas topic ini adalah tentang Elevenrife. Jika kita bercerita tentang liburan di Tenerife (salah satu pulau milik Spanyol di Afrika), mereka akan bercerita liburan tandingan di Elevenrife. Even if Elevenrife doesn’t exist.



Contoh sederhana lain, sebut saja A. A baru mengadopsi anak kucing, lalu ia bersemangat menceritakan anak kucing dan kelucuannya. Si kompetitif, tak ada keinginan untuk tahu tentang si anak kucing ini, lalu ia sibuk menceritakan tentang anak macan, entah macan tetangga, macan yang akan dibeli, atau macan dalam angan-angan. Yang jelas lebih spektakuler dari si anak kucing.

Mata dan telinga tak boleh memberikan banyak perhatian pada anak kucing karena semua harus ditujukan pada anak macan. Kucing dan macan ini bisa diganti dengan apa saja, dari mulai berita gembira, hingga berita sedih. Iya, berita sedih pun dipakai kompetisi untuk menuai simpati.

Menurut ilmu psikologi, mereka yang kompetitif gak penting gini ini dikarenakan rasa percaya diri yang rendah serta kecemburuan dengan kesukseksan temannya. Ada pula rasa takut kalau dirinya dianggap tak penting, sehingga seringkali mereka harus membual untuk bisa menang dalam kompetisi imajinatif ini.

Tentunya, mereka yang memiliki kepribadian seperti ini seringkali tak sadar tentang ini.

Menyusuri Paris bersama sahabat.

Penutup

Berteman dengan orang yang memiliki kepribadian ini tuh melelahkan sekali. Segala aspek dalam hidup dijadikan bahkan kompetisi. Lagi ngobrol, lagi beraktivitas bareng, tiba-tiba jadi kompetisi, bahkan tak jarang disertai komentar-komentar yang membuat diri sendiri jadi down.

Kalau betah, tentunya hubungan tak sehat ini bisa dilanjutkan. Tak perlu terseret dalam jiwa kompetitif dan biarkan mereka selalu menang. Lalu jadi pendengar yang baik, dan tertawa-tawa dalam hati ketika melihat up-manship ini. Tiap orang tentunya punya toleransi yang berbeda-beda dalam menghadapi hubungan melelahkan seperti ini. Ketika diri sudah tak kuat, dan ingin keluar dari pertemanan tak sehat seperti ini. Mundur saja secara teratur tanpa stonewalling atau silent treatment.

Semoga kalian semua dikelilingi teman-teman yang baik dan diberkahi dengan pertemanan yang berkualitas dan awet sepanjang usia hidup!

xoxo,
Tjetje

2 thoughts on “Kompetisi Dengan Teman

Leave a reply to Tjetje [binibule.com] Cancel reply