Dari berapa tahun lalu, seorang temen di Belanda sudah wanti-wanti kalau BTS konser, dia ngajakin tiket war. Ketika pengumuman mereka akan konser di Eropa, kami pun bersiap nyari tiket. War pertama saya, London, gagal. Gara-garanya saya lupa matiin VPN. Tapi jadi pengalaman, karena tiap ticket war itu punya sensasi yang berbeda.
Begitu war untuk Paris, saya merasa sudah siap mental 100%. Begitu masuk dan beli tiket, semua kategori ditulis dalam bahasa Perancis, dan saya yang belajar bahasa Perancis dari mulai level A1 sampai conversation, bahkan sempat kerja di badan internasional yang juga menggunakan bahasa Perancis tiba-tiba gak bisa bahasa Perancis. My mind went blank. PANIK!

Dalam kepanikan itu, saya gak bepikir untuk klik fitur translate dan langsung klik dua tiket “Pelouse“. Setelah beres, bayar, baru mikir: “C’est quoi pelouse?“, lapangan ijo itu, jadi saya mikir ini tiket berdiri. Ternyata ini tiket duduk, tapi di area yang datar. Jadi tubuh pendek ini pasti kelelep. Saya pun balik lagi, tanpa antri, beli lagi dua tiket duduk di luar area pelouse.
Setelah selesai beli tiket, adrenaline rush berganti dengan dopamine hit, karena dapat tiket. Seharian tubuh rasanya kayak lari, tapi gak pakai lari. Setelah itu tentunya tumbang.
Jual Tiket Face Value
Dua tiket berdiri di Perancis ini tidak saya gunakan dan saya pun berprinsip akan jual dengan harga face value, down to the cent, alias gak pakai untung atau bahkan pembulatan. Seorang teman menawarkan dua tiket itu kepada seorang ARMY di Eropa yang tak kebagian tiket.
Sebuah keputusan yang salah, karena urusan pembayaran saya minta transfer bank. Eh kok ya dikomenin perkara ongkos transfer yang recehan sangat. Keribetan ini makin bertambah ketika 2 tiket ini ternyata tak bisa ditransfer semuanya, satu tetep nyangkut di nama saya.
Saya pun harus cari tahu ke Ticketmaster cara transfer. Ternyata saya harus bikin surat supaya dia masuk dan gongnya: saya harus kasih copy kartu identitas saya. Wah soal yang terakhir ini bikin saya tak nyaman sama sekali. Udahlah tak dapat untung satu sen pun saya malah kerepotan sendiri.
Ticket War Singapura
War membeli tiket masih belum usai, tujuan selanjutnya adalah Singapura. Kali ini saya bangun jam 4 pagi untuk bersiap beli tiket & komputer sudah saya siapkan dari malam. Begitu masuk, kurang dari tiga puluh menit, saya berhasil beli 12 tiket, untuk tiga hari.
Saya sengaja gak ngambil tiket VIP dan gak milih hari terakhir. Terus saya iseng antri untuk hari terakhir & pergi tidur bentar. Eh kok ya ada teman yang nanya tiket hari terakhir. Sat-set gak pakai drama, saya pun dapat lagi empat tiket untuk hari terakhir. Jadi dalam waktu sekejap saya dapat 16 tiket.

Penutup
Saya tahu banyak ARMY yang gak kebagian tiket, yang sedih dan yang teriak-teriak egois, rakus, tamak, dan segala tuduhan lainnya. Saya paham kok, war ini gak mudah dan ketika tak kebagian pasti ada rasa marah dan iri menyeruak.
Tapi di sisi lain, saya juga sangat paham kalau mereka yang kelebihan tiket gak akan mau menjual dengan harga face value. Ada kelelahan yang luar biasa setelah tubuh diserang adrenaline dan dopamine. Ada waktu yang terpakai dan harus dihargai. Saya juga sangat paham di tengah ekonomi yang sedang tak mudah ini ongkos jasa titip jadi terasa berat.
Lalu untuk menambah keruwetan, di tengah-tengah kekecewaan ini tak sedikit yang tak segan melaporkan ke Ticketmaster dengan tuduhan mendongkrak harga tiket tak karuan. Sementara itu para scammer merajalela, mengambil sedikit keuntungan dari para fan yang tak teliti dan takut tak kebagian tiket. Oh sungguh berwarnanya dunia fandom K-Pop ini!
Anyway, untuk kalian semua yang dapat tiket, see you in Singapore!
xoxo,
Tjetje