Perempuan dan Belajar Sejarah

Ada satu pengguna sosial media yang menuliskan bagaimana ia mencintai sejarah Inggris. Dikeroyok tentunya, karena sejarah Inggris penuh dengan luka. Saya pun bertanya, bagian sejarah yang mana yang disukai sambil menuliskan genosida di Irlandia yang dilakukan oleh Inggris. Akibat genosida itu, jutaan orang Irlandia mati kelaparan dan banyak yang harus meninggalkan Irlandia untuk bermigrasi.

Sampai sekarang dampak genosida ini masih bisa dilihat di Irlandia. Ada desa-desa yang ditinggalkan penduduknya karena Potato Famine dan sisa-sisa kerangka rumah seperti foto di bawah ini masih cukup banyak.


Irish Hunger Memorial, Battery Park, NYC

Eh tiba-tiba, ada diaspora nyamber ngata-ngatain orang Irlandia dan menggeret suku asli Amerika. Tak lupa dia ikutkan maki-makian seperti setan dan babi. Kemudian, ia mengatakan orang Irlandia menderita, tapi bikin penduduk asli di Amerika menderita. Yang nulis, diaspora Indonesia di Inggris.

Dari komentar ini, saya sudah bisa membaca sentimen negatif dan rasis terhadap orang Irlandia. Saya yang waras pun berbagi informais tentang sejarah kedekatan orang Irlandia dengan masyarakat Choctaw. Eh lha kok malah gantian saya yang diumpat:

“Halah udahlah sejarah bangsa sendiri aja lue gak tahu, gak usah sok-sokan ngomong sejarah orang, hanya karena suami lu bule Irish. Gw benci orang Irish”.

Tulisan ini sudah dirapikan, karena aslinya berantakan tanpa tanda baca.


Gak pakai babibu sampah-sampah model gini saya blok aja. Saya gak mau berinteraksi dengan diaspora model rasis dan penuh kebencian seperti ini. Udah gak ketolong juga jadi manusia, karena profilnya sangat anti imigran. Padahal, dia sendiri adalah imigran. Gaya menulis dia juga menunjukkan keterbatasan pengetahuan dasar menulis, karena tak kenal tanda baca. Jadi ya kalau paragraf saja tak diuraikan dengan tanda baca yang tepat, gimana bisa mengurai sejarah masa lalu yang kelam?

Label untuk pelaku kawin campur

Mari kita membahas asumsi bahwa saya, perempuan yang juga pelaku kawin campur, hanya tahu sejarah Irlandia karena melalui jalur perkawinan dengan orang Irlandia. Pendeknya, saya dianggap tak cukup cerdas untuk tahu sejarah Irlandia. Terus terang saya “gak kaget” karena sebagai pelaku kawin campur seringkali ada asumsi bahwa pelaku kawin campur itu kurang cerdas, kurang berpendidikan, tak punya keterampilan. Makanya sampai muncul label negatif diaspora jalur perkawinan.

Di keseharian, stereotype seperti ini dapat tersirat dari komentar atau pertanyaan basa-basi soal kemampuan bahasa Inggris. “How come your English is so good?”. Atau kemudian pertanyaan ini dikaitkan dengan lama waktu tinggal di Irlandia: “How long have you been in Ireland, your English is good?”.

Pemikiran-pemikiran ini datangnya tak jauh-jauh dari bias pribadi dan asumsi kalau pelaku kawin campur itu tak memiliki kemampuan mengedukasi diri sendiri. Entah itu belajar bahasa, atau bahkan baca sejarah sebuah negara.

Di blog ini, saya juga pernah bercerita bagaimana asumsi seperti ini juga bisa datang dari bapak-bapak pelaku kawin campur. Saya pernah nekat duduk di ruang tamu dengan para bapak-bapak berdiskusi tentang politik Indonesia dan membahas Papua. Sementara, ibu-ibu lebih memilih ngobrol di dapur dengan bahasa Indonesia.

Kala itu saya mendapatkan komentar “You are a very unusual woman”. Tak cukup sekali, di lain kesempatan saya bertemu lagi dan dia berkomentar “Ah I forgot that you are not like the rest of them“. Them di sini maksudnya para ibu-ibu yang lagi ngerumpi di dapur dan melepas rindu berbicara bahasa Indonesia.

Penutup

Saya tidak menampik bahwa pasangan bisa mempengaruhi cara kita berpikir dan pengetahuan yang kita serap. Ambil contoh yang paling tragis, diaspora Indonesia yang jadi anti imigran. Mereka lupa warna kulit dan identitas diri sebagai imigran. Tak jarang pola pikir ini muncul karena dipengaruhi pasangannya yang juga anti imigran (serta keengganan untuk edukasi diri sendiri). Agak ironis.

Di kasus di atas, komentar ini bisa jadi muncul karena si penulis hanya tahu sejarah negara tempat dia tinggal karena suaminya yang bercerita. Mungkin, bagi dia, pengetahuan tentang negara pasangan itu diwariskan melalui tali perkawinan, bukan dari baca buku, nonton dokumenter, atau mengulik Microsoft Encarta.

Tahun udah 2026, masih saja ada generalisasi model begini. Perempuan gak perlu nungguin laki-laki untuk cerita kok untuk tahu, kami para perempuan bisa baca buku-buku sejarah dan menurunkan informasinya pada generasi selanjutnya.

xoxo,
Tjetje

Bergaul dengan Diaspora

Disklaimer: diaspora di sini mengacu ke diaspora Indonesia.

Berapa bulan lalu, salah satu pelajar Indonesia yang sedang sekolah di Barat Irlandia bikin status kalau diaspora Indonesia di Irlandia itu terbagi menjadi tiga: mahasiswa, pekerja dan yang kawin dengan bule. Lalu ia menambahkan: yang jalur kawin sama bule biasanya norak, istilahnya “kere munggah bale”. Mahasiswa penerima beasiswa S3 ini mengalami sendiri ketika berkumpul-kumpul dengan istri bule di Irlandia yang sibuk membahas harta, termasuk tas bermerek.

Kere munggah bale ini sangatlah kasar, artinya orang sangat miskin naik ke atas balai. OKB. Noveau Riche.

Anyway, hasil observasi di atas itu tentunya ramai dengan aneka komentar (termasuk komentar kasar), karena si pelajar dianggap sangat judgmental walaupun sudah sekolah tinggi. Si pelajar pun dihina-dina karena memilih bergaul dengan orang Indonesia dan bukan orang Irlandia.



Gegar Budaya Topik Obrolan

Saya pun ketawa, karena tiba-tiba jadi teringat perjuangan diri sendiri ketika baru pindah ke sini. Ketika baru pindah ke sini, saya sempat mengalami gegar budaya soal kualitas obrolan dan isi obrolan dengan diaspora.

Obrolan mereka gak jauh-jauh dari aset dan finansial dengan nada dasar pamer. Dari mulai harga tas bermerek (ditemani dengan keluh kesah karena pasangan yang “pelit” dan tak mau membelikan tas), tipe rumah, jenis kendaraan, hingga jumlah isi tabungan. Ada pula obrolan yang menyertakan slip gaji, dari gaji sendiri hingga gaji pasangan.

“Tje, coba lihat deh berapa banyak aku bayar pajak bulan ini!” Sambil menyodorkan dengan paksa slip gaji yang sudah dilipat sedemikian rupa untuk menutupi nama dan PPS. Effort banget pamernya.


Nyari diaspora yang bisa diajak ngomongin tema umum, atau sekedar bahas politik Indonesia itu tak mudah. Kalau mau nyari obrolan berbobot ya mesti ngobrol sama pelajar. Btw, peta diaspora kita sekarang sudah lebih beragam ya, bahkan ada diaspora yang bisa diajak bahas lukisan.

Mainnya sama orang Irlandia dong!

Komentar asbun soal gaul sama orang Indonesia ini menunjukkan betapa orang gak paham kalau nyari teman orang Irlandia itu susah. Mereka ini ramah, pakai banget, tapi nggak nyari teman. Kebanyakan dari mereka sudah punya teman dari kecil dan lingkar pertemanan mereka ini sangatlah rapat.

Gak semua orang juga cocok dengan gaya pergaulan orang Irlandia. Gaulnya orang Irlandia itu di pub, minum. Gak harus minum alkohol, tapi kalau harus nongkrong di pub berjam-jam, perut bisa kembung dan gula darah melonjak karena kebanyakan soda.

Tak cuma itu, orang-orang yang baru pindah biasanya mengalami fenomena “tiba-tiba rindu aja pengen ngobrol sama orang Indonesia” dan pengen makan makanan Indonesia. Jadi ya wajar kalau tiba-tiba pengen aja duduk sama orang Indonesia.



Penutup

Pergaulan diaspora di luar Indonesia itu penuh dengan warna. Observasi saya, di Indonesia pergaulan kita sangat terkotak-kotak dan biasanya hanya dengan mereka yang punya banyak kesamaan. Dari kesamaan hobi, tingkat ekonomi atau pendidikan. Begitu pindah ke luar negeri, pergaulan kita melebar, lebih beragam dan hanya disatukan oleh satu kesamaan: sama-sama orang Indonesia!

Kotak-kotak yang membagi kita di Indonesia, kotak kelas sosial, tak jarang memunculkan gesekan karena perbedaan prinsip. Ketika terbiasa pamer pencapaian pendidikan tiba-tiba ketemu diaspora yang ngotot bahas Louis Vuitton. Gak cuma gak cocok, tapi pasti langsung kaget.

Nanti pada saatnya, diri sendiri akan belajar menyaring diaspora model begini. Gak perlu sampai mereka buka mulut, dilihat dari covernya aja, udah langsung ketahuan mana yang bisa diajak ngobrol berbobot, dan mana yang ahli aset dan finansial. Biasanya kalau udah ahli gak akan ngumpat lagi, tapi otomatis menjauh untuk melindungi diri. Ini semua proses, perlu waktu dan tentunya perlu kepleset ketemu diaspora aneh dulu.

xoxo,
Tjetje

Undangan Kumpul-Kumpul

Jadi observer itu menyenangkan, seringkali kita menemukan ide hanya dari duduk diam satu dua jam melihat dan mendengar kelakukan orang lain. Tapi tak selamanya menyenangkan, kadang-kadang suka bikin gemes, apalagi kalau ngelihat kelakukan yang buat gw itu pet peeve. Pet peeve itu kelakuan yang mengganggu buat gw, sekali lagi buat gw lho ya, buat orang lain mungkin biasa aja.


Bawa Tamu Tambahan

Di Indonesia itu kalau ada pesta dari orang-orang tertentu, tamunya suka minta diundang. Minta diundang, berasa VIP aja. Jadi jangan heran kalau pesta-pesta di Indonesia awalnya hanya 1000 orang (dan udah memperhitungkan dua kepala, plus anak-anak, plus pengasuh anak, nenek, kakek dan lain-lain), lalu bisa bertambah jadi 5000 orang. Lha minta diundang.

Di Irlandia kalau urusan tamu sangat strict, apalagi kalau acara makan yang harus duduk manis dan jumlah kursi dan porsi makanan harus pas untuk semua tamu. Kalau pestanya di rumah, si tuan rumah juga mesti memperhitungkan kapasitas rumah. Biasanya konfirmasi undangan itu perlu banget dan kalau mau bawa plus-plus (gak cuma plus 1), permisi dulu dari jauh-jauh hari. Kalau tuan rumah punya kapasitas tentunya diijinkan.

Nah yang epic entunya yang model tiba-tiba muncul di depan pintu dengan tamu tambahan ketika jumlah porsi dan kursi sudah pas. Tuan rumah gak cuma bingung cari kursi, tapi panik ngerebus kentang dan lari nangkap ayam di halaman belakang untuk tamu dadakan.

Ngobrol dengan tuan rumah

Namanya orang ngumpul-ngumpul itu tujuannya untuk catching up, apalagi di masa pandemik gini. Orang rindu berinteraksi. Jadi kalau beruntung diundang untuk datang ke rumah orang pastinya semangat untuk ngobrol-ngobrol, nanya kabar dan bagaimana menjaga jiwa selama pandemik.

Sebelum gw pindah ke sini, gw udah sempat diwanti-wanti sama salah satu blogger senior tentang segregasi orang Indonesia kalau ngumpul. Yang orang Indonesia di dapur ngobrol Bahasa Indonesia, yang bukan orang Indonesia di ruang tamu ngobrol bahasa lain. Yang guwe perhatiin gak cuma itu aja, ada lagi kebiasaan yang sangat gak inklusif. Jelas-jelas ada orang asing yang tak bisa berbahasa Indonesia, terus-menerus aja bicara Bahasa Indonesia. Gregetan banget kalau lihat model begini, karena nganggep orang asing itu invisible, making gregetan kalau kemudian orang asingnya kasih kode.

Soal ngobrol juga seringkali ada pertanyaan yang intrusif soal tuan rumah. Seringkali pertanyaannya kepo dan model interogasi, pembicaraan gak mengalir dan bahasa tubuh tuan rumah biasanya udah gak nyaman banget. Kalau observing orang, biasanya momen ini yang jadi momen penting buat guwe, karena level pertanyaan kepo orang itu suka gak karuan anehnya.  

Buka Kulkas

Di tempat tinggal guwe dulu sering banget ada acara yang melibatkan banyak tamu. Biasanya banyak tante-tante yang datang ikut ngebantuin dan berurusan dengan kulkas. Entah ngambil makanan di kulkas, atau memasukkan makanan di kulkas. Yang gw perhatiin, tante-tante ini suka rikuh kalau harus berurusan dengan kulkas, minta ijin dulu atau seringnya nyuruh guwe. “Dik, ijin mau masukin makanan ke dalam kulkas”. Duh jadi kangen deh sama tante-tante ini.

Di Irlandia, jika ada pesta apalagi saat musim panas, minuman seringkali dimasukkan ke dalam kulkas. Tamu datang membawa birnya sendiri, titip di kulkas  dan ketika akan minum tinggal ambil sendiri. Biasanya mereka yang mau taruh minuman permisi dulu sama tuan rumah dan tuan rumah yang natain, kenapa? Karena ngobok-ngobok dan mindahin isi kulkas tuan rumah itu gak sopan banget, kecuali kalau tuan rumah kasih ijin kulkasnya diobok-obok.

Nanti kalau mau ambil minum lagi, permisi lagi sama tuan rumah. Di sini, sama kayak di Indonesia, buka tutup kulkas orang itu bukan sebuah hal yang normal. Kedekatan tamu dengan tuan rumah juga suka menentukan, kalau tamunya udah deket banget biasanya lebih relaks soal ini dan tuan rumah suka nyuruh buka sendiri.

Soal Makanan

Nah ini sumber drama. Ada tamu yang suka nggak mikir kalau masih ada tamu lain yang akan datang. Acara belum mulai, gorengan sudah habis dimakan oleh satu tamu. Semua tamu belum datang, udah ada yang bungkus-bungkusin makanan dan dimasukin ke tas. Ini gak cuma di iklan aja, di kehidupan nyata banyak dan gak cuma orang Indonesia aja kok, orang Irlandia juga ada yang model begini. Bedanya kalau orang kita bungkus gorengan, orang luar bungkusin kue-kue Irlandia.

Ada juga tuan rumah yang perhitungan kalau orang datang, dihitung apa yang dibawa dan apa yang dibungkus. Ngeri udah kalau diundang tuan rumah model begini, karena disuruh bungkus tapi dipelototin. Sukur-sukur kalau dipelototin, kalau sampai diomongin kemana-mana itu yang makan ati. Bungkusan makanan nilainya tak seberapa, reputasi dirusak.

Gak cuma bungkus-bungkus aja, tapi juga soal ngambil makanan. Begitu lihat makanan Indonesia melimpah ruah, langsung pengen nyoba semua. Abis itu engga diabisin dan makanan harus berakhir di tempat sampah. Beberapa yang punya anak kecil juga sering melakukan hal serupa. Ambil makanan agak banyak, lalu anaknya gak doyan, makanan disingkirkan begitu saja. Ada beberapa ibu-ibu yang saya salut banget, kalau anaknya gak abis, ibunya yang makan.

“Aku gak pernah diajarin buang-buang makanan”.


Penutup

Gak di Indonesia gak di Irlandia kalau acara kumpul-kumpul itu selalu berwarna-warni, ada aja dramanya dan kelakuan aneh-anehnya. Dari yang flexing, saingan sama tuan rumah, gak berbaur sama tamu lainnya hingga tentunya yang berkelahi di rumah orang. Hidup jadi berwarna, tapi kadang-kadang warna-warni ini gak diperlukan. Too much, too bright.

Gw sendiri pernah ngalami tamu datang, pulang dilepas di depan pintu, eh begitu keluar rumah langsung menghela napas panjang kayak naga yang abis lari marathon. Di depan muka guwe sebagai tuan rumah. Kayaknya lega banget keluar dari rumah gw. Engga lagi deh ngundang model naga gini.


Pandemik ini, masih suka ngumpul-ngumpul?

Namaste,
Kumpul sama yg sehati aja

Bicara Soal Bunuh Diri

Trigger warnings & Disclaimer: Topik di bawah ini sangat sensitif,  jika kalian memerlukan bantuan mohon menghubungi ahli Kesehatan jiwa. Perlu dicatat bahwa yang menulis blog ini bukan ahli Kesehatan jiwa dan tak punya kompetensi untuk mendiagnosis dan menolong.

Selama tinggal di Indonesia, saya tak banyak mendengar berita soal orang-orang yang mengakhiri hidupnya. Di Indonesia, topik ini sangat tabu dan masyarakat kita mendoktrin bahwa bunuh diri itu berdosa. Sedari kecil kebanyakan dari kita sudah mendengar orang-orang yang bunuh diri akan masuk neraka. Orang-orang yang bunuh diri itu akan menjadi hantu yang mengganggu orang-orang yang hidup.

“Rumah itu berhantu karena ada orang yang bunuh diri dulu di situ”

Begitu saya pindah ke Irlandia, salah satu orang Indonesia di sini langsung mengingatkan bahaya depresi. Ia berbicara terbuka tentang pergulatannya untuk mengambalikan kesehatan mental. Sebuah pembicaraan yang mulai banyak dibicarakan di Irlandia dan tentunya tak setabu di Indonesia.

Dari seorang teman yang bekerja di bidang ilmu pengetahuan, saya kemudian mengetahui bahwa angka bunuh diri di Irlandia ini akan mulai merangkak naik masuk ketika matahari tenggelam lebih cepat menjelang musim dingin. Ia bahkan bercerita bagaimana angka ini lebih tinggi pada pria ketimbang perempuan, dan ada profil-profil usia yang lebih rentan.


Data angka bunuh diri di masa lockdown ini belum akan siap sampai  beberapa tahun ke depan. Di sini, kebanyakan orang yang meninggal dunia akan diotopsi terlebih dahulu dan ada proses pemeriksaan resmi untuk mengetahui penyebab kematian, inquest namanya. Proses ini memakan waktu lama, sehingga data tak bisa siap dengan sigap. Selama lockdown ini sendiri, saya sudah mendengar terlalu banyak kasus bunuh diri dari orang-orang terdekat, termasuk keluarga.

Memahami bunuh diri

Orang-orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya berada dalam rasa sakit mental yang sangat ekstrem. They are in an extreme pain. Pikiran-pikiran untuk mengakhiri hidup ini datang tak diundang, di beberapa kasus mereka hanya berhenti pada ide untuk mengakhiri hidup dan mereka mendapatkan pertolongan. Tetapi, di banyak kasus, ini berproses, berjalan dalam jangka waktu yang cukup lama dan berakhir dengan pengakhiran hidup.

Depresi akut disebut-sebut sebagai salah satu penyebat, tapi bukan berarti mereka yang depresi juga akan akan mengkahiri hidupnya. Selain depresi, krisis dalam hidup, seperti kehilangan pekerjaan (apalagi bagi pria yang masih dianggap penopang hidup keluarga), isolasi (kalau di sini di kampung-kampung terpencil), kehilangan anggota keluarga, atau sakit yang akut yang mengubah mood.


Di Irlandia banyak kampanye yang dijalankan untuk raising awareness topik ini. Salah satu informasi yang dibagikan adalah tanda-tanda mereka yang kemungkinan berpikiran untuk mengakhiri hidup, seperti bicara soal rencana tersebut, mengatakan tak punya tujuan hidup, merasa bersalah dan juga merasa malu. Ada juga yang memberikan hadiah atau barang yang sangat personal untuk berpamitan. Salah satu tanda lain ada isolasi dan tak mau bertemu orang. Emosi dan mood mereka pun juga berubah. Selain itu, ada konsumi alcohol dan penggunaan obat yang berlebihan. Nomor untuk krisis pun bisa dihubungi, baik telpon maupun untuk sms.

Sayangnya di Indonesia, hotline untuk layanan pertolongan pertama krisis bunuh tidak ada. Semoga satu saat nanti ada Menteri Kesehatan yang memprioritaskan Kesehatan jiwa.

Media

Di Irlandia, Ketika jalur kendaraan umum, biasanya kereta,  ditutup karena kasus-kasus insiden yang fatal. Pengumuman di media sosial begitu sederhana dan pengguna media sosial tak membahas secara sensasional. Tak ada yang repot mencari tahu siapa, menyebar foto atau bahkan menambahkan doa-doa di foto tersebut.

Pengumuman kematian di media, baik yang masuk berita diliput wartawan, ataupun pengumuman kematian dari keluarga juga sangat sederhana, meninggal mendadak, meninggal secara tragis. Tak ada penjelasan secara mendetail, atau berita secara berlebihan dengan tetangga dan keluarga.

Mengapa? Karena pendekatan seperti ini penting, untuk  menghindari perilaku imitasi orang-orang yang rentan Selain itu tentunya untuk menghormati ruang keluarga yang berduka atas tragedi kematian ini.

Penutup

Keluarga yang ditinggalkan juga cenderung tak mau membicarakan topik ini karena stigma buruk yang melekat. Pada banyak kasus juga banyak yang menyalahkan diri sendiri karena tak melakukan intervensi, tak melihat gejala dan karena tak menolong. Beberapa juga menyangkal dan menutupi luka hati kehilanggan anggota keluarganya. Proses berduka ketika kehilangan keluarga dengan cara ini memang berbeda dan akan lebih baik jika dibantu konseling professional.

Sedihnya, mereka yang mengakhiri hidup sering dituduh egois oleh orang-orang di sekitarnya yang tak paham soal kesehatan jiwa ini. Padahal, mereka meninggalkan hidup karena tak ingin menjadi beban orang-orang terdekatnya dan karena tak tahan lagi dengan rasa sakit yang mereka alami.  Mereka juga tak punya niatan untuk menyakiti orang-orang terdekatnya. They are just in pain, an extreme one.

Teruntuk kalian orang-orang yang kehilangan teman, keluarga dan orang-orang terdekat karena bunuh diri, semoga seiring berjalannya waktu, luka hati kalian membaik.   Dan untuk kalian yang memerlukan bantuan, segera minta bantuan dari profesional.

xoxo,
Tjetje