Banyak Anak Tak Selamanya Banyak Rejeki

Orang Indonesia percaya bahwa banyak anak, banyak rejeki; atau anak akan membawa rejekinya masing-masing. Kalimat-kalimat tersebut kemudian menjadi justifikasi untuk punya banyak anak. Bagi saya yang bukan penganut aliran-aliran di atas, rejeki nggak tiba-tiba datang karena punya anak, semuanya harus diusahakan dan yang paling penting : banyak anak tak selamanya banyak rejeki.

Dari manakah asal usul banyak anak banyak rejeki?

Di Indonesia, membeli asuransi ataupun membeli rencana pensiun bukanlah hal yang wajar. Bagi kebanyakan orang, hanya bekerja menjadi PNS-lah yang menjamin hari tua. Makanya banyak orang berlomba-lomba jadi PNS, supaya dapat pensiun. Padahal kalau mau, mereka bisa bekerja keras di masa muda untuk membeli pensiun plan dan berleha-leha di masa tua.

Urusan asuransi juga begitu, banyak orang Indonesia yang belum sadar untuk membeli asuransi. Biasanya mereka beralasan untuk makan saja susah kok mau buang-buang uang untuk perusahaan asuransi. Urusan sakit lazimnya dipikirkan belakangan, ketika sudah kejadian. Bukan si sakit yang memikirkan, tapi keluarga besarnya yang kemudian harus gotong royong bayar ongkos rumah sakit.

Konsep kekerabatan yang besar dan tolong-menolong dalam lingkungan keluarga inilah yang kemudian dipercaya memunculkan anggapan banyak anak banyak rejeki (banyak anak banyak yang gotong royong kan?). Konsep ini selain sukses bikin penduduk membludak juga bikin kerjanya orang asuransi susah, karena semua orang bergantung pada anggota keluarganya. Secara teori, ketika anaknya banyak, sukses dan berpenghasilan cukup, tentunya rejeki orang tua akan banyak. Tapi, masih relevankah teori ini?

Punya anak dijaman ini bukanlah hal yang murah. Emang bener ketika anak bayi lahir cuma perlu susu dari ibunya. Tapi ada komponen biaya lain yang kalau digabungkan jumlahnya akan fantasis, dari biaya persalinan, popok, baju (karena anak cepat besar),  hingga gaji staf domestik untuk merawat anak. Ini belum termasuk biaya kesehatan dan biaya pendidikan lho! Di kota besar seperti Jakarta, biaya pendidikan yang baik itu sebulannya bisa buat beli berlian setengah sampai satu karat. Ini ongkos bulanan lho ya, belum termasuk ongkos antar jemput, jajan, seragam, ataupun rekreasi. Sekolah di Indonesia itu mahal banget.

Makanya buat saya, konsep banyak anak banyak rejeki itu sudah nggak relevan lagi. Yang ada, banyak anak banyak rejeki buat toko peralatan bayi, rumah sakit bersalin, dokter, sekolah, perusahaan jasa penyalur pekerja rumah tangga, bukan buat orang tua. Walaupun tak bisa dipungkiri anak-anak memberikan kebahagiaan yang tak bisa dibandingkan dengan uang. Banyak anak banyak rejeki mungkin cuma berlaku di negara-negara yang penduduknya rendah sehingga ketika bayi lahir negara memberikan dana yang jumlahnya lumayan.

Tanpa mengurangi peran pria, perempuan punya peran besar dalam memutus konsep banyak anak banyak rejeki ini. Yang hamil perempuan, yang ngatur keuangan rumah tangga juga kebanyakan perempuan dan yang memasang atau menelan kontrasepsi itu perempuan; maka, kalau disuruh beranak banyak, pikirkan dengan baik-baik. Bukan berarti tak boleh (your body, your rule), tapi pertimbangkan juga penghasilan. Cukupkah penghasilan berdua untuk membayar sekolah yang bagus, membeli asuransi yang bagus? Kalau anaknya bisa dimasukkan ke sekolah bagus, kenapa harus beranak banyak dan  masuk sekolah biasa-biasa saja?

Tiap-tiap orang punya cara dalam merencanakan hidupnya. Ada yang langsung punya anak tanpa membuat perencanaan keuangan, ada juga yang nabung dulu supaya bisa punya anak tanpa mengorbankan hobi belanjanya. Semuanya pilihan individu masing-masing. Apapun keputusannya, bertanggunjawablah atas keputusanmu, pada anak-anakmu. Satu lagi, sebelum punya anak pastikan punya asuransi kesehatan dan pension, jangan gantungkan dua hal itu pada mereka.

lorraine

Tulisan ini saya ikut sertakan dalam blogiversarrynya Chez Lorraine. Mbak Lorraine, atau yang biasa dipanggil mbak Yoyen, merayakan ulang tahun blognya yang kesepuluh. Silahkan tengok disini kalau ingin ikutan meramaikan, siapa tahu kecipratan hadiah.

Kenapa saya harus dipilih jadi pemenang? Selain karena tulisan ini memenuhi semua persyaratan, tema tulisan ini saya pikirkan selama dua minggu *serius bener kan* karena buat saya sepuluh tahun anniversary blog itu serius. Dalam sepuluh tahun pastinya banyak dampak positif terhadap pada cara pandang orang lain. Tulisan pendek ini layak menang karena dalam tulisan ini ada harapan supaya perempuan di Indonesia bisa berpikir matang-matang sebelum memutuskan sesuatu yang akan merubah tubuhnya dan hidupnya. *tetep serius*

Happy blogiversarry Mbak Yoyen !

 Xoxo

Ailtje