Kesetaraan Jender Dalam Bahasa

Words are powerful tools to change society; from the way they behave to the way they think. Ketika menginginkan lingkungan sosial yang setara penggunakaan kata-kata tepat harus dilakukan agar pria tidak terlihat lebih superior ketimbang perempuan. Tak hanya soal superioritas saja, tetapi juga untuk menekankan keterlibatan perempuan.

Dalam penggunaan bahasa sehari-hari, baik dalam bahasa yang diucapkan maupun dituliskan, seringkali kita menemukan jender bias. Jender bias biasanya ditandai dengan kecenderungan untuk menekankan kepada satu jender ketimbang jender lainnya, biasanya ditekankan kepada pria ketimbang perempuan. Sebagai contoh, tengoklah deklarasi kemerdekaan Amerika yang menuliskan bahwa “…all men are created equal…”; semua pria diciptakan setara,lha terus perempuannya gak setara? Berbeda dengan Proklamasinya Irlandia yang memulai dengan kata Irishmen and Irishwomen.

Pekerjaan-pekerjaan dalam bahasa Inggris juga tak lepas dari maskulinitas. Fisherman, chairman, congressman merupakan beberapa kata yang memberi kesan bahwa pekerjaan tersebut milik pria. Padahal, perempuan bisa dan sudah banyak yang melakukan pekerjaan tersebut.  Bias jender juga terjadi ketika kita menggambarkan suatu kondisi pria dan perempuan dengan deskripsi yang berbeda; pria dengan kemampuan intelektualnya sementara perempuan dengan penampilan fisiknya.

Tak hanya Bahasa Inggris, bahasa Indonesia sendiri juga memliki kata yang tak sensitif terhadap jender. Kita menggunakan kata pahlawan dan bangsawan, tetapi tak punya kata pahlawati dan bangsawati. Jika kemudian ada perempuan yang menjadi pahlawan, harus ada penambahkan kata perempuan di akhir kata. Bagi saya yang bukan ahli bahasa dan kemampuan Bahasa Indonesianya awut-awutan ini memberikan kesan kuat bahwa yang normal dan lazim menjadi pahlawan dan bangsawan itu pria.Tapi, herannya bagi mereka yang berjalan di catwalk ada pemisahan peragawan dan peragawati. [Jika ingin membaca lebih lanjut tentang bahasa Indonesia dan jender, silahan baca jurnalnya disini.]

makeithappen

tema IWD 2015 #makeithappen

Kesetaran antara perempuan dan pria harus dimulai dengan penggunaan bahasa yang netral terhadap jender (gender neutral language). Contoh gampangnya, ketimbang mengatakan policemen, bisa dirubah dengan police officers. Sedangkan jika ada kata-kata dalam bahasa Inggris yang mengharuskan penulisan kata ganti his atau her, lebih baik dibuat plural saja sehingga tidak mengarah ke perempuan atau pria saja. Contoh paling gampangnya seperti kalimat ini “If a bloggers want to write better English, he they should practice”.  

Membiasakan diri untuk menulis atau menggunakan bahasa yang netral terhadap jender tidaklah mudah. Tapi selamat ada niat, pasti bisa. Beberapa hal yang saya lakukan dan bisa diadopsi antara lain

1. Baca

Salah satu boss saya pernah bilang dalam setiap kesempatan selalu: baca, baca, baca dan baca sesuatu yang bermanfaat. Ada banyak informasi tentang jender dan bahasa, dari universitas hingga  badan-badan United Nations mengeluarkan panduan serta kuis; jika sedang punya waktu saya sering membaca panduan ini untuk membuat membuat kepala familiar dengan kata-kata yang netral.

 2. Googling (terpujilah dia yang menciptakan google dan membuat hidup lebih mudah)

Ketika menemukan kata-kata yang tak sensitif jender, biasanya ditandai dengan kata men, saya langsung google untuk mencari bahasa yang netral. Baru-baru ini misalnya, saya menggogle tentang fishermen yang kata netralnya adalah fishers atau fisherfolks. Googling saya untuk postingan ini juga membawa saya pada genderbread versi 2.0. Ntar kapan-kapan saya akan cerita tentang boneka gender ini ya. Tapi kalau pengen segera belajar, silahkan dibuka website yang bikin boneka versi dua ini.

Genderbread-2.1

Jender tak hanya laki-laki dan perempuan, tapi lebih rumit. Lalu untuk membuatnya makin rumit saya bertanya: kombinasi genderbread ini kalau dibikin matematika berapa pangkat berapa ya?

 3. Praktek dalam tulisan

Saya berkutat dengan laporan, proposal dan aneka rupa dokumen yang harus sensitif jender. Buat saya membuat laporan-laporan tersebut memberikan peluang untuk selalu bisa praktik. Tak perlu menunggu laporan untuk bisa praktik, sebagai blogger  kita bisa mempraktekannya di blog sendiri. Dalam praktek pun kita tak perlu takut untuk salah. Namanya juga manusia pasti tak lepas dari kesalahan.

Tulisan ini sengaja saya buat untuk memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) yang dirayakan setiap tanggal 8 Maret. Saya berharap semoga kita semua, baik perempuan maupun laki-laki, bisa sama-sama berkontribusi, termasuk dengan rangkaian kata yang kita buat, untuk membangun masyarakat yang setara. Selamat hari International Perempuan!

xx,
Tjetje
Bukan ahli jender
Menerima masukan & kritik dengan tangan terbuka