Kawin Sama Bule Perbaiki Keturunan?

Bukan rahasia lagi kalau orang Indonesia itu terobsesi dengan kulit putih. Buat mereka apapun yang kulitnya putih, itu lebih baik dari yang berkulit gelap. Ketidakcintaan terhadap kulit sendiri ini pernah saya bahas dalam seri Thing Indonesian Like, edisi Whitening. Maaf, tulisannya edisi Bahasa Inggris yang tak sempurna.

Obsesi terhadap kulit putih ini juga membuat manusia Indonesia mengagungkan bule secara berlebihan. Bagi orang-orang ini blasteran disamakan dengan bibit unggul, lebih cakep, lebih ganteng. Akibat pemikiran seperti ini, ibu-ibu yang punya anak blasteran biasanya suka cemas berat kalau pergi ke tempat umum, karena orang-orang ini selalu nggak bisa nahan diri untuk nyubit, nyolek, pokoknya menyentuh anak blasteran pakai tangan yang gak cuci tangan kalau ke kamar mandi. Sementara, kalau anak Indonesia, yang lucu sekalipun, cukup dilihat aja, nggak perlu dicolek-colek, paling banter, ih anaknya lucu deh.

Tampang babu

Kulit bukanlah satu-satunya faktor yang bikin orang Indonesia terkesima berat sama londo-londo itu. Mata yang warnanya berbeda dari warna mata, hidung mancung, serta badan yang menjulang tinggi juga faktor yang membuat mereka melihat bangsa barat sebagai bangsa yang “lebih”. Nah, kalau bule tersebut kemudian jalan  dengan perempuan Indonesia yang bertampang asli Indonesia, berhidung pesek, struktur gigi yang tak rapi, tak terlalu tinggi, kulit sawo matang, rambut keriting, komentar yang muncul keseringan:  “Ih…kok istrinya jelek kayak babu gitu”. Apalagi kalau mbak ini kayak saya, jarang dandan.

Ada dua hal yang gak saya suka dari omongan itu, pertama soal kejelekan wajah. Wajah manusia itu ciptaan Tuhan, kenapa harus dihina sih? Setiap manusia itu, mau pesek, mau mancung, mau tinggi, pendek, gendut, kurus, adalah manusia yang cantik. Hal kedua yang nggak saya suka adalah asosiasi kata jelek dan babu. Saya nggak suka pakai kata babu, menurut saya itu kasar sekali. Pembantu pun bukan bahasa yang politically correct, bahasa  yang tepat menurut saya adalah pekerja rumah tangga. Ini untuk menekankan bahwa mereka adalah pekerja, bukan batur, babu, apalagi budak. Pengasosian ini menunjukkan bagaimana sebagian orang Indonesia tidak menghargai sesamanya sendiri. Padahal keunikan wajah kita adalah ciri khas yang dibuat Tuhan untuk mewarnai bumi ini. Wahai orang-orang yang suka berkomentar seperti itu, berhentilah mengasosiakan mengasosiasikan pekerja rumah tangga dengan hal yang dipersepsikan buruk.

Mahesh Babu

Iseng menggoogle kata babu, muncul Mahesh Babu. Ganteng ya bow?

Uang Banyak

Komentar lain yang sering ditujukan kepada orang Indonesia yang memiliki hubungan dengan WNA adalah urusan finansial. Yang paling umum nih “Enak ya, laki bule uangnya banyak”. Entah bagaimana menanggapi komentar tak penting seperti ini. Pokoknya pukul rata kalau bule pasti kaya raya. Mengasosikan bule dengan banyak uang itu menyebabkan mereka sering ditipu dan dikasih harga yang ugal-ugalan mahalnya. Apalagi kalau di Bali, begitu ketahuan ada bulenya langsung dirubah harganya.

Sebenarnya, di Indonesia pun juga banyak pria yang uangnya banyak. Apalagi yang pelatnya merah, duit nya berlimpah dan berhamburan Duit banyak itu kan karena kerja dan nabung, bisa juga karena korupsi, nggak ada hubungannya sama ras. Di luar negeri juga banyak pengemis-pengemis bule. Jadi jangan asosikan bule dengan uang banyak, lihatlah mereka sebagai manusia, bukan sebagai ATM.

Perbaikan Keturunan

Komentar terburuk menurut saya adalah PERBAIKAN KETURUNAN. Mau guyonan, mau basa-basi nggak penting, komentar ini melecehkan orang yang diberi komentar dan pasangan bule secara umum. Sesuatu yang diperbaiki berarti tidak berfungsi dengan benar, atau rusak. Lha kalau sudah datang dari keturunan baik-baik dengan kualitas yang baik, termasuk kualitas fisik yang baik (seperti saya), apalagi yang mau diperbaiki?

Orang-orang yang suka ngomong kayak gini mungkin harus cek MRI untuk mencari tahu dimanakah otak mereka tersembunyi. Mereka juga harus mulai mempertanyakan, mengapa perbaikan keturunan itu kemudian menjadi penting, jangan-jangan merekalah yang merasa keturunannya nggak bagus dan perlu diperbaiki. Satu hal lagi, orang-orang ini perlu memperbaiki kualitas mereka sebagai manusia, biar lebih bangga dengan diri sendiri dan keturunannya.

Tapi dari semua komentar yang sering saya denger, rekor komentar terajaib dipegang oleh seorang istri dosen yang berkomentar ke Mama saya: “Ail nakal ya, pacarnya bule?”. Nakal, hari gini masih dianggap nakal karena punya pacar yang kulitnya putih. Tante-tante minta dilombok* .

Bangga gak dengan keturunanmu dan tubuhmu?

xx
Tjetje
dilombok: dijejali lombok karena mengatakan hal yang dianggap kurang pantas.

Pengen Punya Pacar Bule?

Saya tadinya engga kepengen, apalagi kepikiran bakal punya pacar Bule, apalagi jadi bini bule. Obsesi saya (dan mantan-mantan saya) di masa lalu justru pria-pria berkulit sawo matang nan seksi. Tapi Tuhan dan Cupid berkata lain, dikirimkannya pria berkulit putih, tanpa kuda putih, dari negeri nun jauh disana yang berhasil mencuri hati saya.

Punya pacar WNA, kalau ketemu temen lama pasti komentarnya: “enak ya, mau dong dicarikan pacar bule!” Entah apa maksudnya enak itu, tapi saya paling anti menjodohkan orang lain, mau bule mau lokal, buat saya no no. Resiko menjodohkan dua hati itu selain terlalu besar, karena bisa kehilangan teman, juga melelahkan. Teman-teman Kenalan-kenalan yang minta pacar bule itu biasanya juga melihat dan mengasosiasikan bule dengan kata glamor, status ekonomi dan sosialnya lebih tinggi sehingga hidup lebih enak dan mudah. Iya kalau jaman Belanda, para kompeni hidupnya lebih enak, sementara rakyat jelata merana. Jaman sekarang mah udah gak relevan lagi. Lagipula,  milyarder sekalipun yang uangnya berserakan, hidupnya juga gak gampang, mesti usaha kerja keras dulu.

Buat yang pengen punya pacar bule, saya sharing beberapa tips tidak biasa (baca: ngaco_, supaya tidak ngomel-ngomel dan kaget jika berkenalan dengan orang asing:

Sharing

Punya kekasih WNA itu berarti harus punya kemauan untuk berbagi segala hal termasuk berbagi tagihan. Jadi kalau makan di luar bareng ya tagihan ya dibagi dua. Kalau jalan-jalan terus sewa tuk-tuk ya bagi dua. Kalau gak, ya gantian bayarnya. Stop berpikiran bahwa bule itu = ahli waris paman Gober, terus mereka layak diperas.

Buat bule (dan saya) kesetaraan dalam hubungan itu penting. Jadi dia bayar, saya juga bayar. Harta dia  ya harta dia, punya saya ya punya saya. Gak ada prinsip yang berkata: hartamu milikku, hartaku milikku. Ada juga kok bule yang nggak keberatan bayarin, banyak mungkin, tapi perlu diterapkan di kepala bahwa mereka bukan ponakan Paman Gober ya.

Privacy

Sudah bukan rahasia kalau bule itu sangat menghargai privacy, walaupun gak semuanya, yang rumpi abis kayak emak-emak juga banyak banget. Bedanya sama orang Indonesia, nanyanya ga vulgar banget, baru kenal langsung nanya sejuta pertanyaan pribadi. Kalau bule pelan-pelan nggak langsung tembak. Main cantiklah. Tapi buntutnya sama, sama-sama pengen tahu. Penasaran emang bawaannya manusia. Namun pada umumnya, bule nggak akan nanya hal-hal pribadi kalau baru kenal, kalaupun sudah kenal juga banyak kok yang intrusif. Saya pribadi melihatnya mereka lebih santun dan lebih elegan kalau nanya, gak asal tembak.

Di negeri ini, boro-boro menjunjung, mau cari padanan kata privacy dalam bahasa Indonesia aja belum ketemu. Nggak deket dan pengen mendekat aja, kita udah nanya hal-hal personal macam:  Berapa umurmu? Kapan kawin? Sudah isi? Beberapa orang juga nekat nanya basa-basi:  “Gajinya gede ya?”. Hah sumpah lah ya, urusan uang itu urusan sensitif, jadi nggak usah nanya-nanya.  Intinya, kalau deket-deket  bule dilarang tanya pertanyaan yang bikin lawan bicara kita jadi ga nyaman dan sebel, termasuk soal agama. Kalau pengen nanya2 mendingan nunggu mereka yang memulai topiknya atau nunggu deket ya. Sekali lagi kalaupun deket juga gak bisa nanya sembarangan tentang hal-hal personal.

Alkohol

Sebagian bule itu minum alkohol, it’s part of their culture. Ada sih yang nggak minum, saya pribadi belum pernah menemukan yang nggak minum. Eh ada ding, calon Mertua saya nggak minum. Syahdan, di Irlandia banyak yang gak minum, selain karena mereka nyetir juga karena sejarah negara yang dulu sempat sengsara. Nah, kebanyakan orang Indonesia, ketika berkaitan dengan alkohol langsung berkata: nggak sesuai adat timur. Yang ngomong gini ketahuan kalau lihat Indonesianya cuma sebagian, gak menyeluruh. Negeri ini itu luas banget, nggak bisa diklaim bahwa disini nggak ada budaya minum. Tengoklah di Bali dengan araknya dan alkohol oplosan di Sulawesi yang terkenal bisa bikin terbang ke surga secepatnya (dan selamanya).

Bagian ini nggak menganjurkan orang untuk minum. Tapi kalau diajakin bule keluar minum, ikut aja. Diajakin minum itu bukan berarti orang harus minum alkohol. Kalau kebetulan agama melarang (eh emang ada ya agama  yang ngebolehin?) dan nggak minum, ya nggak perlu minum. Saat kumpul-kumpul gini jadi ajang untuk ngobrol dan yakinlah, kalau kita ngomong gak minum mereka akan menghormati kok.

Bicara tentang alkohol jadi nyerempet tentang pub. Bagi bule, mungkin lebih tepatnya bagi orang Irlandia, pub adalah tempat nongkrong, ngobrol, serta nonton pertandingan olahraga, macam Sevel di Indonesia. Cerita saya tentang persepsi salah tentang pub bisa dibaca disini.  Disini, nilai pub bergeser ke sisi negatif karena banyaknya pekerja yang menjajakan jasanya; ditambah lagi “budaya timur (Timur Tengah kali ye)” yang melihat alkohol sebagai hal yang super negatif.

Saya masih punya beberapa “tips gila” lagi (bukan tips sih, lebih ke ocehan ngaco), yang akan saya share di postingan selanjutnya. Tapi sebenernya yang paling penting kalau pacaran, sama siapapun & apapun rasnya, adalah menjadi diri sendiri. Tunjukkan semua kebaikanmu dan buang jauh-jauh keburukanmu (eh bukan disembunyiin lho ya, dibuang!).

 xx,
Tjetje