Dear Bule Hunter: Tinggal di Luar Negeri itu Nggak Enak

Selamat tahun baru, kali ini saya datang kembali untuk membangunkan para bule hunter dari mimpinya, terutama mereka yang bermimpi tinggal di luar negeri. Beneran lho ada yang mimpi pengen tinggal di luar negeri, lalu buntutnya cari bule karena di luar negeri dianggap lebih enak ketimbang di Indonesia. Ealah kasihan bener cari pria kok buat batu loncatan ke luar negeri. shallow.  Entah darimana sumber mimpi ini, tapi perkiraan saya media seperti televisi dan sosial media yang menggambarkan sudut-sudut yang indah saja membuat negara barat terkesan lebih wah. Akibatnya banyak yang kemudian bermimpi untuk menjadi nyonya-nyonya besar di negara orang sambil menenteng tas bermerek bak Syahrini.  Bahkan, di abad ke 21 ini masih banyak yang berpikiran hidup di luar negeri itu mengangkat derajat gengsi dan martabat.

Kebiasaan mengagungkan luar negeri dan orang-orang di dalamnya secara tak langsung merendahkan negeri kita sendiri. Benar memang, ada hal-hal tertentu yang lebih baik di luar negeri, tapi bukan berarti kawin dengan bule dan tinggal di luar negeri itu bisa seenak para nyai-nyai di jaman penjajahan. Kata suami saya sih, para bule hunter jangan sampai matanya tak bisa melihat realita kerasnya hidup di luar negeri karena fantasi tinggal di luar negeri yang terlalu muluk-muluk.

Salju itu jorok dan ngerepoti

Luar negeri itu katanya cantik karena saat musim dingin tertutupi salju yang putih. Wajar banyak yang penasaran pengen main salju, karena di Indonesia gak ada salju. But let me tell you something, salju yang cantik itu begitu meleleh jadi jorok, licin, membahayakan dan yang paling penting ngerepotin. Silahkan digoogle kalau gak percaya.

Lebih gak enak lagi kalau gak punya garasi dan mesti parkir di luar rumah. Tiap malam mesti nginget-nginget mobil diparkir di mana, begitu pagi datang harus bawa shovel untuk bersihin salju. Sambil ngebersihin salju mesti berdoa, supaya mobil yang dibersihkan bukan mobil tetangga. Itupun sambil berharap engga kepleset es.

everyday-im-shoveling

photo: weknowmemes.com

Shaun the sheep

Di Indonesia urusan pakaian itu gampang dan santai, saking santainya, belanja di supermarket pun bisa pakai daster dan sandal jepit, selama gak malu. Di luar negeri yang sering diagungkan ini, pakai baju saat musim dingin itu mesti berlapis-lapis. Akibatnya badan jadi menggelembung karena kebanyakan lapisan dan tentunya makin mirip dengan shaun the sheep, apalagi kalau ketumpahan salju. Masang pakaian berlapis-lapis itu ribet, harus ektra beberapa menit. Belum lagi jalan dengan badan menggelembung dan harus melawan angin. Berat neng.. berat…. Pilihan untuk pakai baju yang lebih santai juga gak mungkin, salah pakai baju bisa menggigil kedinginan. Sementara kalau kelebihan lapisan, bisa kepanasan macam ayam di dalam oven. Masih mikir tinggal di luar negeri enak?

i-love-winter

Jemuran

Di negeri sendiri, jemur baju sejam dua jam sudah pasti kering. Di luar negeri, jemur baju itu pakai deg-degan, apalagi di negeri yang cuacanya berubah terus menerus. Matahari bisa bersinar super cerah, semua jemuran dikeluarin. Eh dalam sekedipan mata, hujan turun dengan derasnya. Kalau sudah gini, mau diambil mesti mikir-mikir karena keluar rumah, walaupun ke jemuran doang mesti berubah jadi Shaun the Sheep. Pasang jaket, pasang sepatu, cari kunci. Ribetlah. Kalaupun diambil, jemuran juga sudah kepalang basah lagi. Mau teriak “Mbaaaaak tolong dong jemurannya diangkat” juga gak bakalan bisa. Wong para bule itu gak semuanya bisa bayar pekerja rumah tangga. Baju-baju itu kalau gak kering juga baunya minta ampun, biar disiram Chanel number 5 seember juga tetep bau apek.

Gak ada kopaja, taksipun mahal

Katanya hidup di luar negeri itu enak, karena sistem transportasi lebih tertata dan rapi. Duh gimana-gimana lebih enak di negeri sendiri, mau berangkat jam berapa aja pasti nemu angkutan umum. Nunggunya pun gak pakai lama-lama. Di luar negeri ketinggalan bis itu sengsara, mesti nunggu lagi sepuluh, dua puluh, tiga puluh, bahkan satu jam kemudian. To make it worse, nunggu kendaraan di halte pas musim dingin itu juga gak enak, apalagi kalau kesamber angin musim dingin yang kekuatannya dasyat. Mau naik taksi setiap saat juga mikir, bayarnya gak semurah taksi di negeri sendiri. Mau nyetir sendiri lebih mikir lagi, karena dalam kondisi berangin mobil bisa bergeser-geser sendiri.

Memburu pria berkulit putih karena mimpi untuk tinggal di luar negeri dengan bayangan hidup di luar negeri itu enak, bagi saya adalah sebuah kekonyolan dan kedangkalan pikiran. Apalagi kalau mimpi itu ditambahi dengan anggapan bahwa hidup di luar negeri itu glamor dan wah, persis seperti yang digambarkan di televisi ataupun majalah-majalah. Padahal, hidup di luar negeri jauh lebih keras ketimbang Jakarta yang segala sesuatu bisa didapat dengan mudah. Jadi sebelum memburu para bule, apalagi laki orang, untuk untuk mewujudkan mimpi tinggal di luar negeri dan menikmati hidup yang katanya enak, mendingan dipikir lagi deh. Sayangkan kalau kuku sudah rapi-rapi harus patah karena mesti cepet-cepet ngangkat jemuran?

xx,
Tjetje
Bahagia karena gak ada salju di Irlandia

Baca juga:

Dear Bule Hunter: Kawin Sama Bule Itu Gak Enak
Dear Bule Hunter: Kalian Sungguh Menakjubkan

[Dear Bule Hunter] Kalian Sungguh Menakjubkan

Wahai para bule hunter, saya paham dengan keinginan kalian untuk memiliki penghidupan yang lebih baik dengan cara mengawini pria-pria bule bergaji dollar. Keinginan untuk naik ke jenjang sosial yang lebih tinggi itu wajar, manusiawi dan diakui dalam ilmu sosiologi. Dalam teori yang saya pelajari, manusia normal akan bekerja keras untuk bisa naik ke strata sosial di atasnya.

Oh para bule hunter, saya takjub dengan definisi kerja keras kalian yang sangat berbeda dengan defisini yang kebanyakan orang. Kerja keras kalian, untuk menggaet pria-pria bule harus bermodalkan kemampuan intelegensi, layaknya detektif-detektif di film. Kalian harus bersusah payah menghapalkan national day negara-negara tetangga, ajang kumpu-kumpul para ekspatriat, bahkan ajang sepak bola mereka lalu mencari tahu lokasi acara tersebut.  Sungguh hebat ilmu intelegensi anda.

Oh para bule hunter, saya lebih takjub lagi ketika kalian bekerja keras untuk bisa masuk acara-acara tersebut tanpa undangan. Kemampuan kalian untuk menyusup ke acara-acara resmi mengalahkan kemampuan James Bond menyusup sarang musuh. Tak hanya itu, kalian harus kucing-kucingan dengan para security, event organizer, pegawai kedutaan, bahkan pihak manajemen hotel yang setiap saat siap mengusir anda. Tak mudah tentunya melarikan diri dari kerumunan massa dengan sepatu tujuh belas centimeter.

Oh para bule hunter, saya semakin takjub dengan kemampuan kalian menjalin komunikasi tanpa awkward moment  dan tidak kehabisan topik pembicaraan. Oh kehebatan masih ditambah dengan kemampuan non-verbal pada tingkat mahir! Bagaimana tak mahir jika dalam waktu kurang dari sekian puluh detik kalian berhasil berbisik-bisik manja di telinga para diplomat. Lima belas detik kemudian, tangan kalian sudah menari-nari di tubuh diplomat tersebut, membuat mereka kebingungan,  salah tingkah dan malu. Sama bingungnya dengan para undangan resepsi hari nasional negara tetangga. Mereka terlalu bingung hingga hanya bisa menunduk melihat sepatu, lalu mengalihkan pembicaraan ketika para orang asing bertanya tentang apa yang terjadi.

"Of course your wife doesn't understand you, she only speaks Thai."

Oh para bule hunter, saya terkaget-kaget ketika tahu sebagian kecil dari kalian mampu membuat pria beristri bertekuk lutut semudah Mbak Jamilah menundukkan pria itu. Kesabaran, ketekunan, strategi serta tentunya sedikit kebekuan hati kalian adalah kunci kesuksesan.

Oh bule hunter saya semakin takjub ketika kalian bisa merayu seorang suami untuk meninggalkan istrinya yang sedang hamil. Merayu suami orang, merebutnya dari sang istri dan membuatnya menceraikan sang istri adalah perjuangan keras yang luar biasa. Saya semakin takjub ketika tahu bahwa membuat pria menceraikan istrinya yang sedang hamil. Bukan hal mudah tentunya dan sekali lagi, perlu strategi, kesabaran dan kemampuan untuk meyakinkan orang.

Oh para bule hunter, saya takjub dengan kepiawaian kalian untuk membuat pria-pria berusia matang bertekuk lutut dengan mudahnya. Padahal, belum tentu lutut mereka yang menua itu bisa ditekuk lho mbak; apalagi jika minyak di lutut itu sudah mulai menipis. Sekali lagi saya tak heran kalau anda memilih para pria matang; penghasilan dan tabungan mereka sudah cukup memadai dan investasi mereka sudah mulai berbuah. Oh betapa kalian sungguh cerdas untuk memilih pria yang tak pelit dan tak cerewet. Pilihan tepat ini membuat saya yang Ekonomist ini merasa gagal mengimplementasikan pengetahuan investasi saya.

Oh para bule hunter, ketakjuban saya tentunya dikalahkan oleh takjubnya Bapak anda di kampung yang melihat makluk tinggi, putih, berhidung mancung yang datang melamar. Saking takjubnya Bapak anda beliau sampai bingung bagaimana memanggil calon mantunya. Dipanggil nama nanti kualat karena budaya melarang memanggil nama orang yang lebih tua, dipanggil Abang tentunya sangat aneh.

Oh para bule hunter, rasanya ketakjuban saya tak habis-habisnya ketika tahu di luar negeri sana kalian masih rajin berburu bule.

Selamat hari Valentine para bule hunter, semoga kalian tak berhenti membuat saya takjub

Baca juga: [Dear Bule Hunter] Kawin Sama Bule Itu Nggak Enak
Dear Bule Hunter: Tinggal di Luar Negeri itu Gak Enak

Disclaimer: Tidak semua perempuan yang bersama pria asing melakukan hal-hal tersebut di atas. Oknum-oknum atau kejadian di atas tidak mewakili semua perilaku bule hunter di Indonesia dan bukan merupakan kebiasaan yang dilakukan banyak bule hunter. Mereka yang disebut di atas hanyalah butiran debu.