Dear Bule Hunter: Tinggal di Luar Negeri itu Nggak Enak

Selamat tahun baru, kali ini saya datang kembali untuk membangunkan para bule hunter dari mimpinya, terutama mereka yang bermimpi tinggal di luar negeri. Beneran lho ada yang mimpi pengen tinggal di luar negeri, lalu buntutnya cari bule karena di luar negeri dianggap lebih enak ketimbang di Indonesia. Ealah kasihan bener cari pria kok buat batu loncatan ke luar negeri. shallow.  Entah darimana sumber mimpi ini, tapi perkiraan saya media seperti televisi dan sosial media yang menggambarkan sudut-sudut yang indah saja membuat negara barat terkesan lebih wah. Akibatnya banyak yang kemudian bermimpi untuk menjadi nyonya-nyonya besar di negara orang sambil menenteng tas bermerek bak Syahrini.  Bahkan, di abad ke 21 ini masih banyak yang berpikiran hidup di luar negeri itu mengangkat derajat gengsi dan martabat.

Kebiasaan mengagungkan luar negeri dan orang-orang di dalamnya secara tak langsung merendahkan negeri kita sendiri. Benar memang, ada hal-hal tertentu yang lebih baik di luar negeri, tapi bukan berarti kawin dengan bule dan tinggal di luar negeri itu bisa seenak para nyai-nyai di jaman penjajahan. Kata suami saya sih, para bule hunter jangan sampai matanya tak bisa melihat realita kerasnya hidup di luar negeri karena fantasi tinggal di luar negeri yang terlalu muluk-muluk.

Salju itu jorok dan ngerepoti

Luar negeri itu katanya cantik karena saat musim dingin tertutupi salju yang putih. Wajar banyak yang penasaran pengen main salju, karena di Indonesia gak ada salju. But let me tell you something, salju yang cantik itu begitu meleleh jadi jorok, licin, membahayakan dan yang paling penting ngerepotin. Silahkan digoogle kalau gak percaya.

Lebih gak enak lagi kalau gak punya garasi dan mesti parkir di luar rumah. Tiap malam mesti nginget-nginget mobil diparkir di mana, begitu pagi datang harus bawa shovel untuk bersihin salju. Sambil ngebersihin salju mesti berdoa, supaya mobil yang dibersihkan bukan mobil tetangga. Itupun sambil berharap engga kepleset es.

everyday-im-shoveling

photo: weknowmemes.com

Shaun the sheep

Di Indonesia urusan pakaian itu gampang dan santai, saking santainya, belanja di supermarket pun bisa pakai daster dan sandal jepit, selama gak malu. Di luar negeri yang sering diagungkan ini, pakai baju saat musim dingin itu mesti berlapis-lapis. Akibatnya badan jadi menggelembung karena kebanyakan lapisan dan tentunya makin mirip dengan shaun the sheep, apalagi kalau ketumpahan salju. Masang pakaian berlapis-lapis itu ribet, harus ektra beberapa menit. Belum lagi jalan dengan badan menggelembung dan harus melawan angin. Berat neng.. berat…. Pilihan untuk pakai baju yang lebih santai juga gak mungkin, salah pakai baju bisa menggigil kedinginan. Sementara kalau kelebihan lapisan, bisa kepanasan macam ayam di dalam oven. Masih mikir tinggal di luar negeri enak?

i-love-winter

Jemuran

Di negeri sendiri, jemur baju sejam dua jam sudah pasti kering. Di luar negeri, jemur baju itu pakai deg-degan, apalagi di negeri yang cuacanya berubah terus menerus. Matahari bisa bersinar super cerah, semua jemuran dikeluarin. Eh dalam sekedipan mata, hujan turun dengan derasnya. Kalau sudah gini, mau diambil mesti mikir-mikir karena keluar rumah, walaupun ke jemuran doang mesti berubah jadi Shaun the Sheep. Pasang jaket, pasang sepatu, cari kunci. Ribetlah. Kalaupun diambil, jemuran juga sudah kepalang basah lagi. Mau teriak “Mbaaaaak tolong dong jemurannya diangkat” juga gak bakalan bisa. Wong para bule itu gak semuanya bisa bayar pekerja rumah tangga. Baju-baju itu kalau gak kering juga baunya minta ampun, biar disiram Chanel number 5 seember juga tetep bau apek.

Gak ada kopaja, taksipun mahal

Katanya hidup di luar negeri itu enak, karena sistem transportasi lebih tertata dan rapi. Duh gimana-gimana lebih enak di negeri sendiri, mau berangkat jam berapa aja pasti nemu angkutan umum. Nunggunya pun gak pakai lama-lama. Di luar negeri ketinggalan bis itu sengsara, mesti nunggu lagi sepuluh, dua puluh, tiga puluh, bahkan satu jam kemudian. To make it worse, nunggu kendaraan di halte pas musim dingin itu juga gak enak, apalagi kalau kesamber angin musim dingin yang kekuatannya dasyat. Mau naik taksi setiap saat juga mikir, bayarnya gak semurah taksi di negeri sendiri. Mau nyetir sendiri lebih mikir lagi, karena dalam kondisi berangin mobil bisa bergeser-geser sendiri.

Memburu pria berkulit putih karena mimpi untuk tinggal di luar negeri dengan bayangan hidup di luar negeri itu enak, bagi saya adalah sebuah kekonyolan dan kedangkalan pikiran. Apalagi kalau mimpi itu ditambahi dengan anggapan bahwa hidup di luar negeri itu glamor dan wah, persis seperti yang digambarkan di televisi ataupun majalah-majalah. Padahal, hidup di luar negeri jauh lebih keras ketimbang Jakarta yang segala sesuatu bisa didapat dengan mudah. Jadi sebelum memburu para bule, apalagi laki orang, untuk untuk mewujudkan mimpi tinggal di luar negeri dan menikmati hidup yang katanya enak, mendingan dipikir lagi deh. Sayangkan kalau kuku sudah rapi-rapi harus patah karena mesti cepet-cepet ngangkat jemuran?

xx,
Tjetje
Bahagia karena gak ada salju di Irlandia

Baca juga:

Dear Bule Hunter: Kawin Sama Bule Itu Gak Enak
Dear Bule Hunter: Kalian Sungguh Menakjubkan

Advertisements

155 thoughts on “Dear Bule Hunter: Tinggal di Luar Negeri itu Nggak Enak

  1. Ih ini topik baru aku omongin sama teman2 kemarin karena ada seseorang yang dengan jelas dan jumawa mendeklarasikan diri maunya sama bule, kaya, jadi dia gak usah kerja. *kemudian aku dan teman2 melotot bingung* :’)))

    Pada akhirnya aku dan teman2 beranggapan, “Orang yang bilang tinggal di luar negeri itu enak, pasti belum pernah ke luar negeri. Atau kalau pun pernah, pasti nggak sampai lebih dari 3minggu dan pasti dalam rangka liburan aja.” Hihihi.

  2. Bihihihik. Baru kemaren saya komen-komenan soal bule hunter Mbak Tjetje. Suka postingannya. Semoga banyak yang baca ya Mbak. Biar terbuka ituh mata para orang-orang.

  3. Sejauh ini saya betah tinggal di Luar Negeri mbak… emang sih agak repot klo musim dingin. dan sejauh ini paling girang kalo salju turun 🙂 dan untung coat winter aku kwalitas bagus yg emang khusus buat musim dingin -30 dan ga perlu pakai baju berlapis – lapis. hihihi

  4. Aku masih setia nunggu salju datang nih Ail meskipun tahun lalu pernah kepleset waktu ada hujan es. Paling ga punya pengalaman pegang salju 😁 kalo yang lain2 masih bisa kuatasi, yg agak2 susah itu kalo malam2 misalkan tiba2 pengen makan martabak manis, kan males nyeret pantat bikin, meskipun pas tahun baru kemaren berhasil bikin rasa keju dan coklat 💃

      • Salju ternyata sudah turun di Belanda bagian utara. Den Haag kayaknya ga diampiri karena dekat pantai dan suhu masih sekitaran 8,9,10 derajat.
        Iya, aku panggang biasa pakai teflon diatas api. Meskipun bentuknya agak2 mirip pancake karena ga punya teflon khusus, tapi rasanya beneran martabak manis a.k.a terang bulan, bersarang gitu. Duh, terharu aku jauh2 merantau bisa bikin terang bulan haha. Kalau kamu mau resepnya, aku bisa kirim Ail. Dapet dari teman yg punya katering. Gampang ga pakai mixer.

      • Soal bahasa juga Ail, kali aja mau dibahas. Biar tahu kali2 aja ada yg lagi mimpi2 indah cari pasangan di Belanda, padahal musti ujian 2 kali *elap jidat

  5. walau kayaknya menyusahkan, tetep pengen nyobain maen salju di luar negeri mbak Tjetje.
    semoga mata para bule hunter bisa terbuka dengan postingan mbak tjetje

  6. Hi Mbak, selamat tahun baru 🙂
    Setiap tempat pasti ada positif-negatifnya ya, hehehe.. dan tidak melulu sama dengan bayangan. Tapi kalau ingin pindah ke luar negeri dengan alasan mau pasangan bule, mau ngerasain salju (ato mau pasangan bule dengan alasan mau pindah ke luar negeri) mah emang cetek pisan, seperti tidak ada tujuan yang jelas dari hidupnya (oke, mungkin jelas tapi kurang bermakna) 😀

    Salam dari bukanbulehunter. Aku hanya batakhunter (ya suami orang batak sik..hahaha)

    • Eh aku punya temen yang Batak Hunter juga. Batak harga mati gak bisa ditawar lagi. Terus dia rajin cerita soal arisan mamak Batak. Oh now I miss her.

      Ember emang cetek kalau alasan pengen pindah ke luar negeri.

  7. wkwkw… ah, ternyata cerita romantis gandengan tangan sambil menyusuri salju itu cuman ada di film film donk mbak … sisanya? kedinginan 😛
    lucuu pas baca bagian semoga bukan mobil tetangga yang dibersihin 😛
    btw, bulan-bulan ini aku kemana mana pake sandal jepit lho mbak. ngantor, ke mall, pergi kemana pun dah. seriously. kenapa ? yaaa alasan simpel, karena kalo ujan rempong aja kalo pake sepatu. kesel lah kalo pake sepatu basah. dan alasan lain karena emang doyan banget berjepit ria. di rumah punya beberapa macam sandal jepit manik aneka warna 😛

    • Di Irlandia sih gak ada salju, jadi kalau romantis gandengan tangan di bawah hujan. Selama pas gak dingin menusuk aja, kalau dingin keterlaluan tangan masuk jaket.

      Eh beli sepatu boots plastik aja biar gak kena kutu air.

  8. Bhihihik saya mau pindah ke luar negeri tapi sama suami sendiri ah X))
    Mungkin para bule hunter itu kebayang bakal jadi Carrie Sex and The City kali. Hidup di luar negri emang ga seenak di televisi lah. Semua negara pasti punya kendala masing2 🙂
    Btw sempet kepikir pindah ke luar negeri bukan karena terbuai romantisnya, atau enak2nya kayak di TV cuma karena bosen di cina cina in disini padahal ngomong cina aja gak bisa 😆 . Sejak 98, selalu was was aja 🙂

    • Nah itu soal keturunan, sentimen dengan keturunan Cina banyak bener ya dan masih terus ada. Herannya kalau sama keturunan Arab atau bule lebih welcome. Padahal kontribusi orang keturunan Cina gak kurang-kurang. Terus masih pengen pindah gak? Daripada was-was terus.

      • Masih mba. Kalo pernah jadi korban 98 pasti yang namanya isu kerusuhan, walaupun cuma isu pasti bikin kita was was. Toko bokap dulu pernah kena jarah soalnya.
        Pindah negara selalu jadi pertimbangan untuk cari tempat yang lebih aman, tapi sejauh ini masih sekedar rencana. Aku dan pasangan sama sama anak pertama, kalo pindah kepikiran aja sama orang tua gimana (apalagi pasangan). Mereka udah tua, udah gak mau pindah. Jadi yah sementara ini doa nya aja di kencengin 😀 apalagi kalo mau pemilu hahahaha

  9. BENER BANGET!

    Cowo gue yang orang eropa aja kalo mau milih tinggal di Indonesia atau Di Eropa dia lebih milih hidup di indonesia. dia suprise banget hampir semuanya murah dan gampang dicari (makanan) kalo disana semua restoran , cafe mahal semua, mreka ga ada warteg hihi. selain itu orang disini hangat gak sedingin orang disana yang cuek bebek. dia suprsie kita yang beda kulit,etnik (kampung), agama bisa akur di indonesia, sedangkan di negaranya kulit,agama, dan negara bisa ribut cuma karena wilayah bagian , misal orang south ama east enggak akur gara-gara apa gitu ..

    nah cuman minusnya orang tanah air kita masi suka rasis, mulutnya suka sembarangan. trus maen pukul rata semua bule .. haisss

    buka mata banget deh kalo baca artikelnya mbak tje! love it keep going!

  10. Hahaha tapi emang ada aja yg tujuan nya pengen dpt pasangan bule dan tinggal di luar negri, aneh memang (dan hrs bule bkn yg berkulit hitam, padahal klo dah cinta siapa yg bisa menolak).
    Punya pengalaman tentang taksi disini, suami pernah trauma dibentak supir taksi gara gara naik taksi dari airport ke rumah, supir nya bilang klo jarak nya deket knp ga naek bis aja, ngerugiin tau! Hahahaha. Jadi kita klo mo ke Rotterdam airport pake mobil, kita di drop duluan suami nyari parkir, di tempat parkir gratisan yg hrs pake jln jauh dulu atau balik lg ke rmh, dari situ naik bis, dulu krn repot bawa dua bayi dan koper koper, sekarang dah mendingan bisa dibawa naik bus dan kita cuma ngurusin koper aja. Trus waktu jaman hamil besar dulu, klo kontrol ke rumah sakit suka naik taksi krn msh bingung hrs naik tram dan Metro, dulu taunya naik bis doang, pertama ngasih tip ke supir pas pulang nya taksi yg lain kasih saran, ga usah ngasih tip, krn bayar taksi itu mahal. Pernah juga dpt pengalaman ditelepon temen yg minta tolong di jemput krn suaminya mabuk sampe ga bisa jln, rumah nya di dorp ga ada bus mlm mlm, mo telpon taksi udah ketakutan bayarnya mahal.
    Yes, tinggal di luar negri perlu perjuangan ga boleh level dan manja. Biasanya yg manja udah banyak yg balik lg ke Indonesia krn ga kuat.

    • Mbak, terus itu supir taksi bisa dikomplain gak bentak-bentak gitu? Model supirnya persis tuh sama kayak taksi putih-putih di Jakarta yang suka marah kalau jaraknya deket.

      Setidaknya bisa ada gambaran kalau hidup di luar negeri itu perlu kerja keras, biar para bule hunter itu siap sedia.

      • Waktu itu suami gak komplain malah trauma ga mau baek taksi lg klo ke Rotterdam airport, mungkin bisa klo kita mau komplain, kebetulan aja itu supir nya dpt yg songong, biasanya baik-baik dan sopan.

    • Eh baru ngereply liat ini, iya sama di Kopenhagen pun supir taksi banyak lagak, pernah sampe akhirnya ngomel sepanjang jalan karena terlalu deket dari airport (biasa naik metro / underground, tapi pas lagi banyak banget bawaan), sampe akhirnya aku laporin ke manajemennya, tulis surat komplen.

      • Trus dpt tanggapan ga setelah kamu komplain? Bagus lah berani menyuarakan hak kita, udah bayar kok masih ngomel panjang lebar, harusnya bersyukur ya dapet rezeki ada penumpang. Ada ada aja memang

      • Ya ditanggepin dibales aja kalau mereka minta maaf atas nama supir dan nanti supir akan ditegur gitu aja sih, ga tau prakteknya setelah itu gimana. Sudah setelah itu juga ga pake2 taksi lagi dari airport.

        Ember, bukannya enak malah deket, bisa balik lagi ke airport ngantri penumpang lagi.

  11. Ya yang punya rumah yang harus nyekopin salju, kalau yang punya apartemen ya manajemen apartemennya yang menghire orang untuk nyekopin salju 🙂

    Soal taksi, aku hampir nggak pernah naik taksi disini, sudah mahal kebanyakan supirnya banyak lagak, mulai dari yang nggak mau nganter karena terlalu deket (dari airport, bawa barang banyak), sampe marah2 gara2 bawa peliharaan (dalam tas carrier loh, bukan lalu lepas kemana2).

      • Snowmelt system maksudnya? Ditaburin garam di jalan? Atau something else? Kalau di ibukota macam Kopenhagen sih iya, dari pemkotnya ada kendaraan untuk naburin garam & kerikil, but untuk masuk ke jalan residential aku nggak tau, nggak pernah tinggal di suburb / rumah

      • Norway bagian mana? Jelas bukan Oslo, karena di Oslo licin sekali klo pas salju turun dan temperatur yang berubah2 (plus minus dalam satu hari) bisa bikin jalanan jadi es. Ada kadang outlet yang keluarin udara panas dari bangunan terdekat, tapi bukan semacam underground heating. I know this because I work in this field (drainage / underground piping).

        Disini jelas nggak ada karena saljuan nggak pernah separah di Norway.

      • Karl Johan gate doang kali. (Shopping street) itu yang selalu bebas salju, itu mah cuman satu strip jalanan. Yang lain2 kagak ada

      • Nah, masalahnya di Oslo itu orang2 Norwegia udah piawai jalan diatas es, jadi makanya mereka nggak kasih garam / kerikil di jalan2 biasa. Soal shopping street, itu cuman jalan sepanjang 1km doang, ya mungkin aja itu doang yang dipasang snowmelt.

        Tanjakan? Now we’re talking. Aku udah bolak balik hampir mau kepleset masuk ke stasiun Nationaltheatret di Oslo karena itu tanjakan pake cement yang licin banget. Makanya ogah banget klo disuruh business trip ke Oslo pas winter. Males. Setauku sih nggak ada yang bebas salju kecuali ya satu ruas jalan shopping street itu

      • Belum pernah nyoba ya hahaha tapi seperti yang aku bilang, semua orang Norwegia di Oslo udah canggih banget jalan di atas es, bahkan sempet pas aku keluar malam2 sama temen2 minum bir, ada loh yang pake hak tinggi jalan santai aja gitu diatas es

  12. Halo Mbak, selamat tahun baru ya, semoga tahun ini lebih sukses dari tahun lalu :)).
    Postingan yang menggelitik! Sebenarnya, di mana pun itu tidak ada yang namanya hidup enak dan serbagampang, semua pasti ada kesusahan, jadi kalau ada yang ingin hidup enak yah… pikir-pikirlah lagi :haha.
    Setelah baca ini saya jadi makin mantap berpikir, hidup di luar negeri justru keras dan hanya orang-orang berkemauan keraslah yang bisa bertahan di sana. Kalau kemauan cuma ingin enak, yah selamat berjuang :haha.

  13. alhamdulilah di batam keluar malem masih bisa manggil taksi kalo dah mentok telp ojek langganan :D.

    ini musim ujan aja udah misuh2 ngga karuan jemuran ngga kering , eh tapi di sini kan ada launddry sekilo 7 kg. 😀

  14. Bener banget ini mbak! Apalagi… ANGIN!!!!! Hiks hiks hiks!!!!!!!!! Untuk masalah bule hunter atau bukan, aku bukan bule hunter, nyari pacar juga gak terlalu matok dapet orang apa… eh taunya tahun baru ini malah memutuskan untuk nyoba relationship sama bule. Rejeki tahun baru, bisa jadi…

    Ini daftar bener-bener sama banget lah kaya apa yang aku rasain. Mau jajan keluar aja harus pake baju pergi yang tebelnya alaihim di musim dingin ini padahal cuma mau ngopi terus pulang doang. Jadi inget kalo di Indonesia mah pake baju rumah aja ke warung ato ke mamang tukang bakso. Itu lah yang paling dikangenin!!!

  15. Tje, Ini tambahan buat bule hunter. Tinggal di negara si bule: jarang ada salon untuk creambath & reflexology, misalnya ada harganya mahal dan ngga seenak di Indonesia.

    Terus karena bule jarang yang nikah, undangan ke pesta pernikahan itu bisa dihitung jari. Artinya: kamu bule hunter, jarang bisa dandan full seperti difilm. Bisa sih kalo mau ke pesta ulang tahun dandan full, kalo kamu ngga peduli dan pede bener overdressed.

    Ngga ada tukang ojek, ojek motor atau ojek payung.

    Kalo males masak, ya harus masak. Mau delivery paling pizza dan sejenisnya. Ngga ada tukang makanan pake gerobak keliling depan rumah.

    Punya anak, susah mau janjian sama temen karena anak yang jaga siapa? Babysitter mahal.

  16. Pingback: [Dear Bule Hunter] Kawin Sama Bule itu Nggak Enak | Ailtje Ni Diomasaigh

  17. Pingback: [Dear Bule Hunter] Kalian Sungguh Menakjubkan | Ailtje Ni Diomasaigh

  18. Sawang sinawang ya Tje. Memang setidaknya tulisanmu ini bisa jadi bahan pertimbangan klo alasan kawinnya krn dianggep calon pasangannya buat batu loncatan. Kasian ah.
    Etapi, ada juga lho tropic hunter (atau istilahnya apalah, itu lho, para bule sebangsa pemburu cowboy Bali atau pemuda dr negara tropis.

    • Iya kasihan bener, belum lagi nanti ada yang kawin morotin doang. Duit bulenya diabisin, terus ditinggal. Bikin nama orang Indonesia jadi jelek. Tropical hunter banyak, cewek-cewek Jepang minta dihamilin terus anaknya dibawa ke Jepang. Terus itu bukan cowok Bali biasanya cowok Madura, lol. Aku baca ini jaman kelas 6 SD di koran lokal di Bali terus melekat di kepala deh.

  19. Hhahahaha….
    Ini postingnya ‘ngena’ banget ya buat bule hunter.

    Kalau mau tinggal di luar negri, kenapa harus cari bule ya?
    Kan bisa optimalin potensi diri, biar nantinya bisa dapet kerja di luar negri.

  20. Bu, dimotivasi ke arah positif dong bule hunter nya.
    Kalau mau hidup di luar negeri, mbok ya jangan jadi pekerja seks non komersial dengan menikahi bule.
    Tapi jadi pekerja high skill, belajar yang rajin, isi kepala dengan skill setara bule, sekolah, kerja di luar negeri, hidup di luar negeri.
    Tinggal di luar negeri bisa enak,ada rasa aman, transportasi publik ga berbahaya, pemerintah peduli pada rakyat, dst, dan yang paling penting ada rasa dihargai karena isi kepala, bukan karena jumlah uang yang dipunya, apalagi hasil jual body.

  21. Halo mbak Ailsa, seru nih post nya, gak sabar menunggu post yg berikutnya. Mbak, tentang bule hunter, gimana tuh kalo ada yg udah mau married terus ga jadi terus ternyata dia udah hamil & sampai melahirkan anak terus ditinggal begitu aja sama itu bule..
    Oh iya, ada lagi nih…tentang bule hunter yg suka hadir/menyusup di acara acara formal/acaranya diplomat … Sy koq jadi penasaran ya pingin tahu cerita cerita itu… Ada gak…? Maaf sy kepo ya mbak.. 😃

  22. Ngomongin cuaca, emang ajib banget yaa, aku aja yg baru icip2 doang disini buat liburan, udah cape sama klo mau ke supermarket mesti masang berlapis2 hahah.. Td mlm aku dpt cerita dr tmn aku org indo mba, tmnnya dia di indo, umur 32, ngotot minta dicariin pacar bule, duda gapapa, asal ganteng dan kaya, hny krn dia di indo udh umur 32, blm nikah dan pingin hdp enak di luar negeri ktnya 😪😪. Belom ngerasain ajaaa pedihnya ya mba haha..

    • Aduh, aku mau ketawa gak jadi, sedih dengernya. Ini jadi kaya kena tekanan sosial supaya cepet-cepet kawin dan buntutnya kawin cuma karena udah umur dan (God forbid), settle for less. Anyway, yang kayak gitu tuh yang mesti dikasih tahu bahwa hidup di luar negeri itu gak seindah yang dibayangan mereka. Aduh aku jadi penasaran deh pengen tahu bayangan mereka luar negeri enak itu gimana sih.

      • Oya, satu lg, aku ngomong ke temen aku itu kan mba, aku blg, klo ktmu bule gk mau nikah gmn, bule belanda kan rata2 pd gk mau merit kan, trs kt dia, gw udh blg sm temen gw, dan dia gapapa, selama dia bs tinggal di luar negeri >.<. Kasian yaaakk mba.. Ada loh temen aku yg nyesel dia nikah sm bule belanda, krn dia ngerasa seberat2nya kerja diindo, disini th seribu x lbh berat, blm pulang kerja mst masak, beresin rumah. Aku jg penasaran mba apa yg dipikiran mereka, aplg sampe ngotot2. Klo tinggalnya di belanda ketambahan les bahasa diindo hrs lulus, trs disininya jg hrs lulus.

  23. “Watch out for the yellow snow” – that’s what my step dad used to tell me years ago ;D
    Dan seperti biasa, tulisannya bagus mba. Spot on – menohok banget bilangnya ya? buat para bule hunter ini. Untunya aku real life belum pernah ketemu jenis mereka, dan bagus juga sih mungkin buat mereka. Aku bisa blak2an banget. They’ll be fried! 😆

  24. Wihhh aku suka postingannya ini mbaa. Eh tapi aku tetap mau ngerasain salju. Biar deh norak. Haha.. Semoga mereka yang masih berusaha keras dan berapi-api untuk dapatin suami bule bisa mulai sadar setelah baca postmu ini ya mba…

  25. Wah ternyata gak seindah yang saya bayangkan. Jadi mikir betapa indahnya hidup di negeri ini. Tapi ya tetep pinginnya indonesia menjadi negara maju dengan fasilitas lengkap. Namanya orang ya pingin enaknya doang ha ha ha…..

  26. Pas baca bagian cuaca plus jemuran ini ya aku mau teriak, “Ini bener banget” .. Plus pakai baju berlapis-lapis itu nyebelin. Ngeluarin jemuran aja mesti pakai baju super duper komplit plus sarung tangan kalau nggak mau tangan kebas. Plus nggak kece kalau difoto baju sama sepatunya itu mulu. Itu aku sih lebih tepatnya karena jaket sama sepatunya itu mulu hahaha
    Kena angin pas nunggu bis ini juga super benar sekali. Haduuuh telat semenit aja siksaan sampai bis berikutnya datang. Tambah lagi bis di daerah ku sini payah jadwalnya nggak sesuai sama yang di aplikasi. Belum lagi udah nunggu lama terus bis yang datang rusak dan nggak bisa angkut penumpang. Apesssssss..

    • Terus ya kemaren ada yang komentar anonymous: gak punya dryer ya Mbak. Aku lihat IPnya di Jakarta. Ya kali, being Indonesian, gak puas kalau cucian gak digantung dulu.

      Soal kebas bener banget. Aku biasanya keluarinnya nyicil. Gak kepikiran pakai sarung tangan. Next time!

  27. Aiiiii, bersiin salju itu beneran ngeselin. Cantiknya cuman buat dipandang doang, bersiinnya setengah metong. Dingin banget dan capek. belon setiap kali parkir pasti kejatuhan snow lagi. BErsiin lagi. Haduh……..
    EHh…belon lagi sidewalk didepan rumah juga harus dibersihkan.

  28. Mbak salam saja dariku yang sudah beberapa hari ini ngerok salju dari mobil disaat subuh pun belum habis dan dinginnya minus untuk para bule hunter ya. Dan kalau sudah beku itu di kaca depan, ngeroknya perjuangan. Oh iya bilang juga kalau winter jalan licin mobilnya bisa terguling kemarin dah ada kasusnya tuh di berita. Sama winter rawan stress juga. Rapopo melu sarkastik ya Mbak.

  29. Pingback: Repotnya Ketika Salju Turun | Nonikhairani

  30. Tulisan Mbak Ail ini selalu menggugah, semoga makin dikit deh pada bule hunter yg pikirannya cetek. Jangan pada mikirin enaknya ajah. Kalo aku mw liat salju aja sambil jalan2, belum kepikiran tinggal diluar mungki klo dapet lanjut S2 kali yah. Makin sering travelling ngingetin lagi klo di Indo tuh enak banget, angkot tinggal teriak sampe, ojek ada di setiap pengkolan jalan, ngejemur pun bisa dimana aja dan langsung kering.

    • Indonesia is indeed surga. Tapi kemaren aku ngobrol tentang Indonesia sama orang di kasir, dia bersyukur dengan Irish weather karena hujan badai masih bisa keluar, sementara panas kan gak bisa keluar. Aku senyum aja, lha kalau hujan badai aku selimutan aja di rumah.

  31. Pernah di Jepang pas lagi musim gugur masuk ke musim dingin. Waktu itu masuk pagi dan udah ada frost gitu jadi kan dingin. Eh masuk pabrik langsung ditegur karena masukkin tangan ke dalam saku. Katanya itu tanda orang yang malas. Tapi kan dingin, Pak… T,T

  32. Pingback: Komentar Ajaib | Ailtje Ni Diomasaigh

  33. Kalo baca artikel tentang bule hunter bisa takjub sendiri. Padahal prinsip cari pasangan harus sepikiran, bukan hanya karena beda negara. Kejadian juga di kantor kalo ada cewek sebut saja bos yang ketemu orang india (lama tinggal dan sekolah di jerman) di bilang kayak model dan di bilang beautiful udah berasa dilangit ketujuh dan bangga banget kalo dapat bule (padahal orang india), udah nanya apa mobilnya di jerman, gimana apartemennya, apa saja asetnya blablabla…….padahal entah itu jawabannya beneran ato gak, malah jadi kasihan lihatnya

  34. Tulisannya bagus mbak, membuka mata orang indonesia soal bule. Saya share tulisan di blog ini ke grup temen2 kantor dan mereka baru “ngeh” tinggal di luar negri ga se enak yg dibayangin. Semangat mbak, tetep tulis fakta2 soal bule dan kehidupan luar negri ya hehe

  35. Wait, saya baru nemu blog ini dari twitter (bukan dari gugel dengan keyword yg ngilani).. beberapa poin saya setuju, tapi bagi saya sih.. hidup di luar Indonesia lebih banyak enaknya deh.. Kalau kamu nggak mandiri, atau biasa hidup manja, dan nggak bisa on time memang repot. Tapi, saya malah reverse culture shock ketika adjust kehidupan di Indo, apalagi waktu public transportation kita yang gak on time. Hidup di negara maju, ngedidik saya untuk on time karena lengah beberapa detik aja, saya akan ketinggalan bus atau kereta.

    buat bule hunter, hal2 ini memang derita.. malah, waktu pulang ke Indo, saya merasa aneh dengan manjanya hidup di Indo, yang biasanya abis makan di fastfood taroh baki sendiri pas diterapkan di Indo, orang pada ngeliatin, dikira .. pekerja internship yg belom kebagian seragam.

    Saya pengen hidup di negara maju, tapi bukan sebagai bule hunter.. karna kerja di sana, di gaji sesuai dengan keringat dan skill yang kita punya.. di Indo?? Kalau gak ada koneksi atau teman2 yang berpengaruh, susah punya karir yang bagus..

    • Di Indonesia memang kita bisa dengan mudah menjadi manja, karena banyak manusia yang perlu pekerjaan dan harga SDM relatif murah. Otomatis muncul pekerjaan-pekerjaan untuk memanjakan. Di luar negeri (gak semua luar negeri lho ya), pekerja jauh lebih dihargai dan lebih mahal. Makanya tak bisa manja. Gak bisa nyalahin juga kalau orang Indonesia jadi manja, karena memang situasi memungkinkan. Dan nature manusia juga untuk mencari kemudahan dan keenakan.

      Soal pekerjaan, saya kurang setuju. Gak selamanya di luar negeri itu menghargai dengan baik skill yang dipunya. Skill bagus dihargai murah, bisa banget disini, bahkan oleh perusahaan besar. Di Indonesia, punya karir bagus tanpa koneksi dan teman-teman yang berpengaruh itu bisa kok. Bisa banget, you just need to stand out. Nah masalahnya orang Indonesia suka malu-malu kalau urusan “jual diri dan jual skill”.

      • beda profesi kali ya.. Tapi kalau saya, design industry, kerja di luar jauh lebih dihargai deh. Bayarannya. Dibanding Indo, karna orang di luar lebih melek technologi, mengerti trademark dan hak cipta jadi mereka bisa menghargai suatu karya. Kalau di Indo… ?? Makan hati jadi multimedia designer di Indo.

        Tambahan lagi, jumlah bigots di Indo vs di luar, banyakan Indo deh.. contoh kasus terhangat, gimana ignorantnya orang Indo terhadap LGBT, dan banyaknya jumlah homophobia.. Indonesia is not my cup of tea.. Kalau liburan sih oke.. sayang, no choice!! 😀

  36. beda profesi kali ya.. Tapi kalau saya, design industry, kerja di luar jauh lebih dihargai deh. Bayarannya. Dibanding Indo, karna orang di luar lebih melek technologi, mengerti trademark dan hak cipta jadi mereka bisa menghargai suatu karya. Kalau di Indo… ?? Makan hati jadi multimedia designer di Indo.

    Tambahan lagi, jumlah bigots di Indo vs di luar, banyakan Indo deh.. contoh kasus terhangat, gimana ignorantnya orang Indo terhadap LGBT, dan banyaknya jumlah homophobia.. Indonesia is not my cup of tea.. Kalau liburan sih oke.. sayang, no choice!! 😀

    • Hahahahaha…rupanya eneg juga ya dengan kasus LGBT di Indonesia. Terlalu dibesar-besarkan, padahal tuntutan mereka juga tak banyak. Bukan perkawinan apalagi adopsi anak, mereka cuma minta tidak didiskriminasi dan punya hak berkumpul.

      Anyway, kita sangat beda industri. Industri saya lebih baik dalam memberikan apresiasi dan untungnya, bos-bos saya pun sangat baik.

  37. Pingback: [Dear Bule Hunter]: Iya Kawin Sama Bule itu Enak Kok! | Ailtje Ni Diomasaigh

  38. Pingback: Pengalaman Istri Bule Jelek Ketika Liburan – Celoteh si Indah

  39. Nemu blog ini pas googling “enak ga enaknya tinggal di inggris”.
    Awalnya sengaja searching bule inggris buat nglatih biar mkn bagus ngomong inggrisnya buat support di tempat kerja…eh ga taunya dpt lebih.
    Interest seh cm ya masih mikir lagi,beda agama euyy

  40. Mbak tjetje,,saya kebetulan tengah menjalin hbngan yg serius dgn cwe brasil dan ini mungkin beda cerita dgn eropa,,yg masih saya pertimbangka adalah kultur,,budaya
    Dan agama,,yg tahu sendiri kultur orng brasil adalah kebebasan walaupin kita kuat berkomitmen,,tapi takut dgn lingkungan yg serba bebas,,
    Untuk lingkungan kebetulan di daerah portaleza yg suhu hampir sama di jakarta saat kemarau,,
    Jadi bngun mau gimna ya hahaha

  41. O.M.G. baru baca dan suka banget sama tulisannya!
    Sedih ya sm pandangan beberapa orang ttg tinggal di luar negeri (LN) itu enak.
    Jangankan tinggal di LN, baru rencana aja udah byk prsyaratan (belum lagi ngurus nikah beda warga negara yawlaaah).
    Trus sampe LN yakali nganggur (walaupun pasangan mampu menghidupi) sedangkan umur masih produktif, cari kerja pun susah katanya.
    Segala sesuatu harus dikerjain sendiri musti mandiri (jgn harap ada pembantu, kecuali keluarga milyuner kali ya?)
    Udara dingin bener bgt, malah kata cowokku bisa bikin orang depresi pas winter itu.
    Apa apa mahal, gak bisa jajan bakso abang abang😂
    Anw, dimanapun sih akan nemu ya hal yg gak enak (even di jakarta pun), tapi bukan berarti tinggal di LN itu 100% enak.
    Maap ini gue curcol bgt ya mbak
    tapi bule hunter, please consider all things mentioned in this blog!

    Ini komenku paling telat yah 😀

    Regards from Jakarta❤

  42. Jangankan kawin sama bule, kerja sama bule juga biasa saja, sering di kantor kalo bule perlakuannya beda lebih istimewa. Tinggal di luar negeri kalo lama nggak tahan nggak ada ojek mbak. Salam kenal ya

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s