Dikriminasi Bangsa Sendiri

Kemarin siang saya ngobrol-ngobrol sama temen sebilik kerja tentang diskriminasi di negeri sendiri. Temen saya ini baru aja belanja di sebuah supermarket premium. Ketika itu, dia ngantri dilayani tukang daging. Ternyata, selesai melayani orang Jepang, si tukang daging ini nggak mau ngelayani temen saya dan malah memanggil anak baru untuk melayaninya. Entah apa alasannya, yang jelas temen saya emang asli Indonesia dan penampilannya biasa-biasa aja (baca: nggak pakai high heels, rambutnya bukan hasil dikeringkan di salon, matanya bebas bulu mata palsu, nggak nenteng tas mewah, tapi juga gak nenteng tas KW)

Belum juga selesai ngomel tentang perlakuan beda yang diterima oleh teman saya, eh tiba-tiba kemarin mendengarkan kalau Bapak Duta Besar Indonesia untuk Iran, Bapak Dian Wirengjurit, diperlakukan tak baik oleh ground staff nya perusahaan penerbangan Emirates. Pak Dubes memilih jalur biasa-biasa aja, tanpa meminta perlakukan khusus. Biasanya, pejabat Indonesia itu urusan penerbangannya ditangani oleh protokoler dan  mereka tinggal naik ke atas pesawat aja. Bahkan kalau telat, protokolerlah yang akan “ngeganjel ban” pesawat dan bikin satu pesawat nungguin.

Pak Dubes dengan sukses gak disambut ramah oleh staff ground Emirates, mbak Dwi Nopiawati yang juga asli Indonesia. Beliau menduga ini terjadi karena bawaannya yang banyak banget. Masih menurut Pak Dubes, Mbak Nopiawati ini melayani Pak Duta Besar dengan ketidakramahan khas Indonesia, tapi begitu tamu bule yang muncul si mbak langsung baik hati.

Berita-berita yang diturunkan di media Indonesia sementara ini baru memaparkan pendapat dari sisi Pak Ambassador dan belum menyampaikan pembelaan dari Mbak Dwi Nopiawati ataupun Emirates (PRnya Emirates dimana sih?). Saya menduga-duga ada dua kemungkinan kenapa si Mbak jadi baik, pertama si Mbak kena sindrome mendadak-baik-kalau-ada-bule atau si Mbak Bule Hunter. Semoga dugaan saya, dua-duanya salah. Pembuktian dugaan ini juga baru bisa didapat kalau si PR Emirates keluar dan menjawab.

Ngomongin soal diskriminasi, sadarkan kita kalau didiskriminatif di negeri ini SERING dilakukan oleh orang Indonesia terhadap orang Indonesia. Menurut saya, orang-orang dengan wajah asli Indonesia (baca: rambut keriting, tinggi biasa-biasa saja, badan nggak slim dan kulit sawo matang) malah jauh lebih rentan terhadap diskriminasi karena dengan semena-mena diidentikkan dengan kemampuan ekonomi dan daya beli yang lemah.

Stop discrimination

Saya termasuk yang sering didiskriminasi dan diperlakukan tak ramah, apalagi kalau lagi nggak dandan dan banyak nanya tentang produk yang harganya tak murah. Ajaibnya, perilaku diskriminatif ini tiba-tiba nggak akan muncul ketika kita dandan. Saya pernah iseng mencoba mengetes layanan sebuah vendor, hasilnya kalau dengan dandan cantik, parfum yang bisa kedeteksi dari jarak sekian meter dan  kacamata hitam di kepala, pelayanan akan jauh lebih ramah. Jadi jangan heran kalau orang Indonesia suka dandan abis-abisan walaupun cuma buat keluar beli cabe segenggam.

Selain harus berdandan cantik, untuk mengurangi kemungkinan didiskriminasi pakailah bahasa Inggris. Agak sok sih, tapi pelayanan berubah 180 derajat ketika kita pakai bahasa Inggris. Komplain cepet ditanggapi, minta perbaikan ini itu juga lebih cepet direspons. Padahal bahasa Inggris saya itu medok dan tak sempurna. Rupanya, bahasa Inggris awut-awutan bukanlah masalah. Mungkin disangka yang komplain bule, jadi langsung diprioritaskan.

Anyway, ada satu lagi hal yang tiba-tiba bikin seluruh jagad raya jadi super ramah pada perempuan berkulit kelam dan bersandal jepit (macam saya), cukup gandeng aja bulenya.  I kid you not, sudah banyak orang Indonesia yang dilayani dengan tidak ramah karena jalan sendiri, eh begitu pasangan WNAnya muncul pelayanan berubah 180 derajat. Saya menyebut hal ini sebagai power of bule. Asal bule yang muncul layanan jadi ramah dan urusan apapun jadi lancar.

Saya sendiri pernah berada di dalam sebuah pertemuan resmi dengan orang yang sudah menggondol aneka rupa gelar akademik. Setelah selesai pemaparan tentang sebuah program, pendapat saya tak diminta, yang diminta malah pendapat orang berambut pirang yang kebetulan lagi belajar kerja, alias magang. Sampai pertemuan selesai kami yang WNI (dan kami berdua sama-sama menyadari) tak pernah ditanya pendapatnya. Segitu nggak berartinya ya pendapat orang Indonesia?

Wahai saudara-saudaraku sesama orang Indonesia, jangan silau dan membeda-bedakan perlakukan kepada orang asing dan orang orang lokal. Sesungguhnya kita sama-sama manusia, apapun ras dan warna kulitnya.

Cerita tentang Pak Dubes bisa dibaca disini.

Catatan tambahan: ada informasi dari beberapa sumber (termasuk dari beberapa komentar di bawah) bahwa ternyata yang arogan adalah Bapak Duta Besar. CCTV nya belum dikeluarkan, tapi semoga segera dikeluarkan oleh Emirates agar mematahkan dugaan saya di atas dan membersihkan nama Mbak Dwi.

Salah satu komentar di bawah dari PR Companynya. Semoga cepet diselesaikan.

PR Emirates

 

Cheers,

Ailsa