Perempuan Bekerja

Dalam sebuah obrolan ringan saya tak sengaja menangkap sebuah topik menarik tentang perempuan bekerja. Perempuan bekerja memang bukanlah hal yang aneh lagi di abad ini, tetapi ketika perempuan tersebut memiliki pasangan yang sangat mapan, atau bahkan kaya timbul pertanyaan yang menjadi pertanyaan lumrah: “Ngapain kerja kalau suaminya kaya?”. Nampaknya, ada sebuah kewajaran bagi perempuan di masyarakat kita untuk tidak bekerja jika suaminya sudah mampu menanggung biaya hidup.

Di lingkungan yang patriarkis, beban biaya rumah tangga biasanya dibebankan pada pria, sementara perempuan kebagian tugas mengurus rumah tangga. Pekerjaan yang sering kali identik dengan leyeh-leyeh dan juga shopping untuk membelanjakan uang suami. Seperti pernah saya tulis sebelumnya, bagi sebagian orang, menjadi ibu rumah tangga merupakan sebuah kemewahan.

Mengapa saya sebut sebagai kemewahan? Karena tidak semua perempuan yang ingin menjadi ibu rumah tangga dapat sepenuhnya melakukan hal tersebut. Ada perempuan-perempuan yang karena tingginya tuntutan kebutuhan hidup harus berbagi beban biaya bersama suami. Saya sebut berbagi, karena saya tak menyukai ide dan konsep membantu ekonomi rumah tangga. Bagi saya konsep membantu itu terkesan mengurangi nilai kontribusi perempuan. Sudah kerjanya sama-sama capek, eh cuma dianggap sebagai bantuan, tidak dianggap sebagai kontribusi yang sama-sama utamanya.

Selain kelompok di atas, ada juga perempuan yang memang tak mau menjadi ibu rumah tangga secara penuh dan memilih bekerja. Ada banyak hal yang mendorong hal tersebut, dari mengaktualisasi diri, mengejar karir, tak ingin ilmunya hilang begitu saja, mengisi waktu karena bosan di rumah, hingga karena ingin kebebasan finansial dan segudang hal lainnya.

Kelompok yang terakhir dinilah yang tak hanya seringkali dipertanyakan dorongannya untuk bekerja, tetapi juga seringkali dicela karena keputusannya untuk bekerja, terutama ketika sudah memiliki anak. Mereka seringkali dianggap sebagai ibu yang kurang baik, kurang bertanggung jawab, tidak berperasaan dan segudang tuduhan-tuduhan lainnya yang bikin saya gemes. Bahkan, seringkali ada meme yang beredar di sosial media yang mempertanyaan mengapa sang ibu tega meninggalkan anaknya untuk diasuh dengan pekerja rumah tangga yang pendidikannya jauh lebih rendah ketimbang pendidikan sang ibu.

stay home dad

Bapak rumah tangga seringkali dituduh sebagai pria malas yang gagal menghidupi keluarga. Cartoon: http://www.onabrighternote.ca

Mengapa muncul hal-hal seperti itu? karena perempuan bekerja tidak dilihat sebagai sebuah hal yang normal dan wajar. Di lingkungan kita, perempuan bekerja memerlukan alasan, memerlukan dorongan, serta aneka kondisi lainnya. Sementara, jika pria bekerja dianggap sebagai sebuah hal yang normal yang tak perlu dipertanyakan alasannya  sama sekali.

Bahkan, ketika baru lulus kuliah pun masih seringkali ada orang tua yang mengharapkan anak perempuannya langsung kawin dan tak perlu sekolah lebih tinggi lagi (karena akan berakhir di dapur). Sementara, anak pria langsung diharapkan bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus, beli rumah, beli mobil dan melamar anak gadis orang. Ketika bekerja pun, apalagi jika pekerjaannya menuntut jam kerja yang panjang (contohnya menjadi jurnalis), perempuan seringkali diminta untuk berhenti bekerja. Kalimat aneh yang pernah saya dengar seperti ini: “Gak usah kerja sampai harus pulang malam, bapak masih bisa kok ngasih makan kamu”. Ya emangnya perempuan cuma perlu makan? Gak perlu mengaktualisasi diri?

Jika ditanya apakah hal ini bisa diubah? saya pribadi merasa pesimis hal ini bisa diubah secara cepat. Perlu banyak waktu untuk merubah cara pandang masyarakat terhadap perempuan yang bekerja. Tapi setidaknya, diri kita sendiri bisa mulai melihat perempuan bekerja sebagai hal yang normal dan yang tak perlu dipertanyakan lagi alasannya.

Pernahkah kamu mempertanyakan mengapa seorang perempuan bekerja?

Xx,
Tjetje
Perempuan bekerja