Perempuan Bekerja

Dalam sebuah obrolan ringan saya tak sengaja menangkap sebuah topik menarik tentang perempuan bekerja. Perempuan bekerja memang bukanlah hal yang aneh lagi di abad ini, tetapi ketika perempuan tersebut memiliki pasangan yang sangat mapan, atau bahkan kaya timbul pertanyaan yang menjadi pertanyaan lumrah: “Ngapain kerja kalau suaminya kaya?”. Nampaknya, ada sebuah kewajaran bagi perempuan di masyarakat kita untuk tidak bekerja jika suaminya sudah mampu menanggung biaya hidup.

Di lingkungan yang patriarkis, beban biaya rumah tangga biasanya dibebankan pada pria, sementara perempuan kebagian tugas mengurus rumah tangga. Pekerjaan yang sering kali identik dengan leyeh-leyeh dan juga shopping untuk membelanjakan uang suami. Seperti pernah saya tulis di sini, bagi sebagian orang, menjadi ibu rumah tangga merupakan sebuah kemewahan.

Mengapa saya sebut sebagai kemewahan? Karena tidak semua perempuan yang ingin menjadi ibu rumah tangga dapat sepenuhnya melakukan hal tersebut. Ada perempuan-perempuan yang karena tingginya tuntutan kebutuhan hidup harus berbagi beban biaya bersama suami. Saya sebut berbagi, karena saya tak menyukai ide dan konsep membantu ekonomi rumah tangga. Bagi saya konsep membantu itu terkesan mengurangi nilai kontribusi perempuan. Sudah kerjanya sama-sama capek, eh cuma dianggap sebagai bantuan, tidak dianggap sebagai kontribusi yang sama-sama utamanya.

Selain kelompok di atas, ada juga perempuan yang memang tak mau menjadi ibu rumah tangga secara penuh dan memilih bekerja. Ada banyak hal yang mendorong hal tersebut, dari mengaktualisasi diri, mengejar karir, tak ingin ilmunya hilang begitu saja, mengisi waktu karena bosan di rumah, hingga karena ingin kebebasan finansial dan segudang hal lainnya.

Kelompok yang terakhir dinilah yang tak hanya seringkali dipertanyakan dorongannya untuk bekerja, tetapi juga seringkali dicela karena keputusannya untuk bekerja, terutama ketika sudah memiliki anak. Mereka seringkali dianggap sebagai ibu yang kurang baik, kurang bertanggung jawab, tidak berperasaan dan segudang tuduhan-tuduhan lainnya yang bikin saya gemes. Bahkan, seringkali ada meme yang beredar di sosial media yang mempertanyaan mengapa sang ibu tega meninggalkan anaknya untuk diasuh dengan pekerja rumah tangga yang pendidikannya jauh lebih rendah ketimbang pendidikan sang ibu.

stay home dad

Bapak rumah tangga seringkali dituduh sebagai pria malas yang gagal menghidupi keluarga. Cartoon: http://www.onabrighternote.ca

Mengapa muncul hal-hal seperti itu? karena perempuan bekerja tidak dilihat sebagai sebuah hal yang normal dan wajar. Di lingkungan kita, perempuan bekerja memerlukan alasan, memerlukan dorongan, serta aneka kondisi lainnya. Sementara, jika pria bekerja dianggap sebagai sebuah hal yang normal yang tak perlu dipertanyakan alasannya Β sama sekali.

Bahkan, ketika baru lulus kuliah pun masih seringkali ada orang tua yang mengharapkan anak perempuannya langsung kawin dan tak perlu sekolah lebih tinggi lagi (karena akan berakhir di dapur). Sementara, anak pria langsung diharapkan bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus, beli rumah, beli mobil dan melamar anak gadis orang. Ketika bekerja pun, apalagi jika pekerjaannya menuntut jam kerja yang panjang (contohnya menjadi jurnalis), perempuan seringkali diminta untuk berhenti bekerja. Kalimat aneh yang pernah saya dengar seperti ini: β€œGak usah kerja sampai harus pulang malam, bapak masih bisa kok ngasih makan kamu”. Ya emangnya perempuan cuma perlu makan? Gak perlu mengaktualisasi diri?

Jika ditanya apakah hal ini bisa dirubah? saya pribadi merasa pesimis hal ini bisa dirubah secara cepat. Perlu banyak waktu untuk merubah cara pandang masyarakat terhadap perempuan yang bekerja. Tapi setidaknya, diri kita sendiri bisa mulai melihat perempuan bekerja sebagai hal yang normal dan yang tak perlu dipertanyakan lagi alasannya.

Pernahkah kamu mempertanyakan mengapa seorang perempuan bekerja?

Xx,
Tjetje
Perempuan bekerja

Advertisements

101 thoughts on “Perempuan Bekerja

  1. Entahlah, saya pribadi tidak pernah mempertanyakan perempuan bekerja.
    Saat kerjaan ada libur agak panjang, seminggu misalnya, saya malah jadi bosan di rumah. Bisa jadi, bekerja adalah salah satu cara agar saya tetap ‘waras’ , punya kontribusi terhadap kelangsungan hidup bersama pasangan πŸ˜€

      • Hahahha betul betul. Lsg stres liat lantai yg abis disapu dan dipel eh kok kotor lagi :)))
        Etapi mbak Tje, saya setuju ama sistim yg mewajibkan kalo kepala rumah tangga (dalam hal ini suami) yg bertanggung jawab penuh atas nafkah keluarga. Kalo si istri ingin bekerja, silakan saja. Dalam koridor berkontribusi bersama dan si suami tidak 100% membebankan roda ekonomi keluarga pada istri. Gimanapun juga, istri adalah tulang rusuk, bukan tulang punggung. Correct me if im wrong πŸ˜‰

      • Oh ya, ibuku dulu tipe wanita pekerja keras. Dan dgn mjd wanita bekerja, tidak terlalu berat beban finansialnya ketika beliau memutuskan berpisah dgn ayah. Tetap bisa menyekolahkan 2 anaknya. Beliau berpesan : bahwa meski perempuan dan meski sudah menikah, sebisa mungkin jadilah perempuan yg mandiri

      • Personally aku gak suka ide tulang rusuk vs tulang punggung karena kesannya perempuan nomor 2. Having said that, Itu kepercayaan masing2 orang dan sepengetahuanku dasarnya agama ya?

      • Yup, quote itu dr agama, mbak. Ah, pada akhirnya memang kembali kepada keputusan dan kesepakatan masing2 pasangan ya. Karena tiap rumah tangga kondisinya berbeda-beda

  2. Kalau aku pribadi ga pernah mempertanyakan mengapa seorang perempuan bekerja Mbak, karena menurut aku setiap orang pasti punya pertimbangannya masing-masing.

    Nah kalau tentang kalimat yang bilang kalau perempuan yang ujung-ujungnya masuk ke dapur, aku pernah dapat statement dari Ibu teman aku yang bilang kalau cewek itu pada dasarnya ga perlu kuliah karena pada akhirnya bakal masuk ke dapur. Pas itu aku ceritain sama mama aku dan mama aku ga ngerti cara pikiran itu Ibu. Temen aku itu emang pada akhirnya ga kuliah, tapi 2 tahun kemudian dia akhirnya kuliah tuh.:D

      • Nah kalau disana ngeyel supaya anaknya belajar masak Mbak, kalau temen ku ini mamanya ga ngebolehin dia kuliah karena dianggap “gak guna”, tapi di lain sisi mamanya ga ngeyel suruh dia belajar masuk tuh (yg katanya cewek ujung-ujungnya masuk dapur), lah terus gimana coba ceritanya itu.:D

      • Soalnya di Indonesia bisa cari pekerja rumah tangga ya, jadi gak penting bisa masak. Yang penting bisa nguruh2 😁

        Aku gak paham itu gak boleh belajar. Ngajarin anak kok ngajarin gak maju πŸ˜’

      • Nah bisa jadi Mbak, kalau disuruh tinggal di LN mungkin modiar Mbak temen ku itu.:D
        Nah itu, mama ku aja ga ngerti sama jalan pikiran mamanya dia. Kok kayak kesannya diajarin buat pasrah aja nerimo gitu Mbak.

  3. Aku pernah mempertanyakan kepada ibukku sewaktu aku masih usia SD kayaknya tapi aku ingat sampai sekarang. Waktu itu aku selalu merasa iri kenapa teman2 yang lain selalu ada ibunya kalau siang dan main2 sama ibunya. Sementara aku sama adik2 dititip ke tetangga, ibu mengajar kadang sampai pulang malam (sebelum kawin ibu sudah kerja). Aku tanya kenapa ibu kok kerja? Jawab ibu : 1. supaya ibu tidak bergantung secara ekonomi kepada bapak dan kalau ada sesuatu yg buruk terjadi dengan keluarga, ibu bisa mandiri tanpa harus bergantung pada siapapun. 2. Ibu dan bapak bekerja karena aku dan adik2 harus sekolah sampai tinggi, jadi butuh biaya yang tidak sedikit. 2 alasan itu yg aku ingat sampai sekarang. Ibu ngajarin aku dan adikku yg cewek bahwa perempuan itu harus punya penghasilan sendiri, sedikit apapun itu, jadi ga bergantung sepenuhnya secara ekonomi kepada pasangannya.

  4. 1. Di sekolah SMA-ku dulu ada kok beberapa guru perempuan yang suaminya tajir-melintir tapi beliau tetap kerja, tanteku juga gitu. Alasannya buat ngisi waktu kosong di rumah, abis beres2 rumah kadang bingung mau ngapain lagi, bosen jg.. Drpd ganggu suami kerja atau ngabisin duit suami mendingan menghasilkan, toh? Apalagi kalo lagi pengen belanja yang agak mahal gituh. Biar ga merasa bersalah2 bgt, ntar dicap isteri durhaka πŸ˜†
    2. β€œGak usah kerja sampai harus pulang malam, bapak masih bisa kok ngasih makan kamu” <– THIS!! Waktu aku lagi nggarap skripsi sambil kerja part time mbak, pacaran lah eike sama pria berusia 38th~ Pernah gitu ya lg asik2 ngobrol dia bilang,"kamu ga mau fokus ngerjain skripsi aja? Ngapain sih kerja-kerja gitu papamu masih bisa biayain hidup kamu, kan?" Aseeemm.. Mending dia ngomong gitu sambil ngirim duit lah ini kagak! πŸ˜₯ Ilfil langsung. Soalnya aku kerja kan keputusanku sendiri, malu lah umur udah 22th minta mulu. Bukannya dukung kek kasih kata2 penyemangat kek eh malah gitu.
    3. Walaupun misalnya nanti suamiku milyuner atau triliuner (amin amin!) mungkin aku tetep akan bekerja mbak, alasannya kya no. 1 itu. Ga harus deh kerja yang dibayar, jd volunteer atau buka charity gitu jg boleh~ macam Melinda Gates gitu loh xixixi πŸ˜€

  5. Kalimat aneh itu terlontar dari Ayah saya. Alasan utama, cari uang/aktualisasi diri/apapun itu istilahnya, gak elok perempuan pulang malam. Faktor keamanan. Lain hal kalo jurnalis biasanya kos. Perempuan bekerja atau tidak, kembali ke pilihan masing2. Apalagi udah punya anak yg lg masa golden age.

  6. Disini, terutama perempuan2 Asia / dari Indonesia biasanya tidak kerja, entah karena merasa nyaman dengan income pasangannya atau gimana. Kalau ada apa2 baru mereka kelimpungan, dan ini juga salah satu alasan banyak yang stay in abusive relationship, karena nggak bisa / nggak tau mandiri. Sedih.

  7. kerja buatku itu me time mbaa….. suami juga oke2 aja kalo aku kerja, udah sepakat dari awal sebelum nikah. itung2 menghibur diri kan ya, biar ga stres mikirin yg di rumah..huaahahaha.. etapi bukan pelarian lho ya πŸ˜›

  8. karena di besarkan dilingkungan yang mana semua perempuan bekerja (mandiri sendiri) dari nenek, tante, sampe ibu saya semua mandiri jadi udah biasa, yang nyinyir malah tetangga karena terlalu sibuk sama kerjaan ujung-ujungnya gak nikah-nikah, padahal nikah juga butuh biaya, dan biaya dari kerja juga. Padahal kalo saya nganggur pun mereka bahkan bisa lebih nyinyir mbak :), serba salah juga kan πŸ˜€

  9. Saya ga pernah mempertanyakan kenapa wanita bekerja. Sah sah saja kalo menurut saya, asal dia juga tahu posisinya sebagai istri atau ibu, selain bekerja dia juga punya kewajiban mengurus suami dan anak. Saya suka salut sama wanita pekerja dan bisa memanage keluarga dengan baik,,, kebetulan setahun nganggur dan lagi berburu pekerjaan hehehe pas nganggur itu bete dan merasa otak tumpul hehe

  10. Aku ga pernah mempertanyakan, kemaren sedih deh mba baca share-sharean tulisan (entah siapa yang nulis) intinya perempuan kerja. Perempuan yang dimaksud disini ibu yang udah beranak, ga ada gunanya kerja karena sama aja, terus kalo mereka kerja ga barokah karena anaknya terbengkalai dsb. Kasian bacanya ;(

  11. Nggak pernah mempertanyakan, hehe. Sederhana. Kalau kebutuhan fisiologis sudah terpenuhi, artinya kebutuhan psikisnya yang masih belum. As simple as that.

  12. Aku ga perna mempertanyakan Tje (ga kritisπŸ˜…) tapi menurut aku perempuan mau kerja atau tidak, itu pilihan pribadi karena banyak hal2 yg membuat seorang perempuan bekerja atau tidak. Yang aku suka sebel adalah penilaian dari perempuan2 yg bekerja terhadap perempuan/ seorang ibu yg tidak bekerja. Kadang mereka suka mikir istri atau ibu yg tidak bekerja itu bodoh, malas, etc etc. Padahal kan blm tentu begitu. Contoh: dinegara yg ga ada pembantu/supir kadang sikon tertentu membuat seorang perempuan lebih memilih utk tidak bekerja, karena, alasan anak2 yg masih terlalu kecil untuk ditinggal, atau kalau dia bekerja berarti anak harus ke day care, biaya day care tidak murah per anaknya. Kadang, gajian hanya untuk bayar day care aza. Jadi, kadang bukan karena si perempuan malas atau hanya mau leyeh2 dirumah. So, to work or not is a choice for each individual, for others please don’t judge easily πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»

  13. Jaman saya kecil ibu bekerja, tp setelah adik lahir dia memutuskan untuk ngurusin anak dirumah. Sampai skrg dia suka nyesel sama keputusan itu. Setelah anaknya mandiri ada masa dia kehilangan identitas, hanya sebagai istri atau ibu anak2. Padahal dia lulusan S1 (pd jaman itu tinggi bgt), dan posisi kerja sudah manager. Jadi pesannya kepada anak2nya yg dua2nya perempuan utk jgn sampai ngelepasin karir. Bukan ngejar penghasilan saja, lbh utk punya jati diri dan mandiri. Oh ya bokap jg dulu kecewa nyokap berenti kerja, sebenernya lumayan kan ada pemasukan tambahan πŸ˜‚

  14. Kalau aku pribadi.. Ga pernah mempertanyakan kenapa wanita harus bekerja mba.. Terlebih aku ngaca aja sama kehidupan keluarga sendiri.. Bapak punya usaha.. Tp usahanya runtuh saat aku masih kuliah dulu.. Tp untungnya mama bekerja.. Jadi yaa ga terperosok banget secara ekonomi keluarga karena ada mama yang bekerja.. Dan sekarang aku berfikir.. Bagaimanapun besarnya pemasukan suami.. Aku harus tetep kerja. Walaupun gaji ga seberapa tapi tetp harus kerja. Takut kejadian kaya mmaku gtu.. Anak masih butuh banyak biaya tapi suami jatoh ekonominya. Atau kita ga pernah tau kehidupan pernikahan kita kedepannya kaya apa, amit2 sih.. Kalau cerai ditengah jalan gimana sedangkan anak masih kecil2, kalau aku ga bekerja pasti jadi problem yang besar banget, dan yang lebih ngeri lagi.. Kalau suami meninggal di usia dini anak masih kecil kecil.. Kalau aku ga bekerja juga repot mba. Nah itulah yang saat ini jd patokan ku buat siapapun yang jadi suamiku semapan apa dia, dia harus tetep ijinin aku kerja. πŸ™‚

    Oia mba ai, salam kenal yaaa. Hehehe aku udah sering komen disini padahal baru sekrng sadar blm ada permisi perkenalan πŸ˜‚πŸ˜ŠπŸ˜„

  15. Di sini kalau nggak bekerja malah dianggap aneh. Bila si ibu dalam 3 tahun pertama memiliki anak menjadi SAHM, itu nggak ada yg menanyakan tp kl sudah lebih dari 3 th masih di rumah saja pasti banyak pertanyaan2 nyinyir. Pokoknya jadi housewife itu dianggap ‘kasus’ lah, bukan sesuatu yg wajar. Bahkan di media masih sering dibahas tentang what’s wrong being a housewife, apakah housewife masih bisa diterima di masyarakat kita (masyarakat di sini maksudnya), dan semacamnya. Kupikir itu juga karena tuntutan ekonomi di sini yang memang tinggi yang mengakibatkan para wanita (dan pria) dari kecil memang sudah dibiasakan untuk mandiri.

  16. Saya bekerja, dan beberapa kali pernah melamun kira2 apa motivasi para wanita bekerja ini ya. Biasanya sih kalo di kereta gitu pas di gerbong perempuan. Tau lah ya gmn “ganasnya” gerbong itu. Namun kesimpulan yg saya ambil adalah keyakinan bahwa apapun alasan mereka, itu merupakan hal yg sangat penting. Soalnya ampe rela bejibaku kyk gt 5 hari seminggu, 2 kali sehari. Luar biasa haha

  17. Di socmed ku malah sempet marak “menyarankan” wanita untuk stay at home no matter what, pakainya dalil agama.
    Aku malah jadi mikir, mungkin emang beberapa selfish boys pengen punya istri yang bergantung sepenuhnya sama dia supaya bisa diatur. Ehehe

    • Aku gak mau mendebat agama karena agama itu gak bisa didebat. Tapi aku gak setuju dengan cara “ngebully” para perempuan yang bekerja. Padahal siapa yang tahu kebutuhan mereka? Kalaupun kerja bukan karena kebutuhan ekonomi kan juga bukan urusan kita.

      • Aduh, ini benar sekali, deh, penyataannya. Agama nggak usah dan nggak bisa didebat. Tapi juga nggak usah bully keputusan setiap perempuan. We don’t know her shoes. We don’t know what she need on her plate. Hargai semua keputusan. Dan semua perempuan yang sudah mengambil keputusan harus mau deal sama konsekuensinya. But yes, IMO, bekerja atau tidak, perempuan harus bisa independen secara finansial untuk persiapan kejadian buruk yang bisa menimpa siapa saja, kapan saja.

        Salam kenal, ya, Mbak πŸ™‚

  18. Saya bangga ibu saya malah mendorong anak perempuannya untuk bekerja, mengejar karir, dan menuntut ilmu setinggi mungkin. Alasannya, biar mandiri, biar tidak (terlalu) bergantung dengan suami. Hidup itu keras, mana tahu besok ada kejadian apa-apa, begitu katanya :hehe.

    Ibu saya pun seorang wanita pekerja yang di mata saya sangat mandiri. Tapi beliau tidak mengabaikan keluarga, tuh. Jadi melihat apa yang saya alami sebagai anak seorang wanita pekerja, saya beranggapan tidak ada alasan untuk bertanya, apalagi melarang, ketika seorang perempuan ingin bekerja, tentu dengan catatan kalau ia mampu menyeimbangkan urusan keluarga dan karirnya :hehe.

  19. Perempuan sibuk kerja dinyinyirin, ga kerja juga bakalan dinyinyirin. Apa pun pasti akan ada komentar orang yang positif atau negatif yaa. Hiks. Tapi seharusnya santai aja ya, toh semua orang pasti punya pilihannya masing-masing.

  20. Curhat dikit. Dulu aku tinggal di real estate yg (bukannya pamer) terbilang elit lah dan aku sering bawa temenku (si Anu) maen k rumah buat belajar bareng atau sekedar ngobrol2 cantik gitu lah. Cukup lama lah gak ketemu dari beberapa bulan sebelum dia nikah.

    Nah, belum lama ini dia WA aku dan cerita kalau dia lagi freelance (kalau gak salah). Terus aku minta lowongan freelance k dia juga kalau ada sama aku juga cerita kalau aku masih jadi job seeker.

    Tau gak kak, dia bilang apa? “Siwi kan duitnya udah banyak, ngapain cari kerja?” Gitu sambil pake emote monyet yg lg tutup muka.

    Iya sih, dia memang bercanda, tp rasanya kind of menusuk gimanaa gitu loh. Aku kan juga pengen aktualisasi diri, pengen berprestasi (tapi bukan terobsesi) ya. Menurutku sih dia hanya melihat aku dari luarnya aja. Secara dia dulu jg pernah maksa mau minjem duit k bapakku sampe dateng k rumah pagi2 tanpa ngasih kabar sementara aku masih tidur. Mungkin karena bapakku ikhlas ngasih duit k dia, dia jadi mikirnya aku hidup enak truz gak perlu ngapa2in.

    Akhirnya biarpun cm d WA aku gretak dia supaya gak ngejudge niat baik orang sembarangan wlo cm bercanda. Maaf sih, dia emang dari golongan reliji yg terlalu konservatif. Dan maaf jadi curhat dan komennya kepanjangan 😦

    • Kapan-kapan aku bahas tulisan tentang orang kaya dan orang mampu ya. Orang kaya atau orang mampu di Indonesia sering dilihat sebagai ATM yang duitnya ngucur. Terus sering banget dimintain tolong. Mereka jadi kayak sapi perah. Bapakmu, kalau menurutku diperah sama temenmu.

  21. Artikel yang menarik Mbak. Mama saya adalah wanita karier, setelah pensiun pun masih dimita bekerja karena beliau memang bagus prestasinya. Keputusan beliau bekerja pada mulanya ialah untuk mencukupi kebutuhan keluarga yang membutuhkan lebih daripada satu income, juga untuk menghindar seharian bersama mertua, karena 12 tahun pertama nikah , tinggal di pondok mertua indah.

    Sebelum nikah saya sempat kerja di beberapa tempat, namun setelah menikah dan punya anak, saya dan suami memutuskan supaya saya di rumah saja. Karena tinggal di USA, tidak ada bantuan pembantu, hanya ada bantuan dari budak budak mesin.

    Memang dalam hal apakah mau mencari nafkah setelah menikah ada beberapa pandangan. Ada yang pro, ada yang kontra, dan ada yang pro dengan pilihan pribadi. Saya termasuk dengan yg pro pilihan pribadi. KAlau ada yang mau kerja di luar rumah yah silahkan…kalau ada yang mau di rumah aja silahkan… Saya berusaha netral. Temen yang kerja menjadi sumber uang jajan karena terkadang mereka menitipkan anak kepada saya, dan saya dikasih uang jajan.. Teman yg tidak kerja di luar rumah, tentunya juga menjadi teman untuk hang out bareng sehari hari

    Ada juga teman yg istirnya kerja di luar, suaminya yang menjadi bapak rumah tangga, karena kebetulan karier istrinya jauh menanjak sedang suaminya agak stuck. Namun pada akrhinya keluarga ini pun happy, karena kedua pihak sepakat…

  22. Kalau saya sih nggak terlalu peduli kata orang. Memang di masyarakat masih menganggap bahwa perempuan sebaiknya tidak bekerja ntar takutnya bisa bentrok sama suami ketika berbicara tentang uang. Kadang kan suaminya jadi merasa minder klo gaji istri melebihi gaji suami. Ujung2nya bertengkar dan biasanya sih bakalan cerai. Jadi bingung juga saya pro atau kontra ha ha ha………..

    • Ah iya ada pria yang egonya terluka ketika istrinya lebih maju. Tapi menurutku Pria-pria yang mau menjadi bapak rumah tangga (dan jadi bahan omongan) itu adalah perubah struktur sosial. Mereka perlu dihargai.

  23. Itu pilihan, ga pernah menanyakan knp perempuan bekerja, juga ga pernah mempertanyakan kenapa perempuan stay di rumah saja meskipun gelarnya segudang 😊
    Pasti tiap orang punya pertimbangannya sendiri. Jadi kalo ada yg nyinyir knp aku kerja padahal anak masih kecil, bhay..

  24. Aku pribadi udah ngalami keduanya. Dulu abis kuliah langsung kerja. Sekarang abis nikah berhenti dulu karena kita mau siap2 migrasi ke tempat suami. Kerja cape sih, tapi klo dapet gaji dr jerih payah sendiri rasanya lebih bangga aja dan lebih leluasa mau belanja apa2. Jadi ibu rumah tangga juga cape lho, entah knp serasa kerja melebihi jam kantor wakakak karena harus beberes rumah plus masak yg ga ada abisnya karena kita makannya banyak, padahal cuma berdua LOL. Tiap diajak makan di luar sama suami seneng banget karena bosen di rumah. Plus nya sih lebih santai aja, bisa ngelakuin hobby lebih flexible kaya ngegym dan baca buku, ga usah stress sama waktu commute yg gila di jakarta. Tiap pilihan ada plus minusnya lah.

    • Bener bngt ternyata di rumah doang kerjanya lbih cape ya…aq sejak ikut suami di UK g krj tp aku creatif bikin kue, gardening di depan rumah, masak, bersih2 rumah…ealah nonstop yak πŸ˜† apalagi sejak beli mesin jahit aku suka jahit2 dress sendiri alamaaak wkt 24jam berasa kurang loh.cpt bngt udah sore wktunya masak πŸ˜†, krn lidah udik/kampungan aku lebih suka masak drpd makan di resto paling 1x seminggu cuma refreshing aja kata suami dating lg πŸ˜†

      • Hahah iya mbak, klo diajak makan di luar aku seneng karena ga usah masak πŸ˜‚ soale lama2 enek juga nyium bau masakan sendiri LOL. Tp pengen balik kerja lagi sih nanti di Oz, biar nambah temen dan punya pegangan hihihi

      • Aku malah lebih suka masak loh krn aku masaknya bisa beda2 ntar indonesian food ntar italian food ntar english food ntar indian vietnames food ato aku berkreasi sendiri pengen makan apa. Klo kita bisa berkreasi g bakal pernah bosan makan dirumah plus klo kita menikmati masakan sendiri berasa puas dan happy itu bikin awet muda loh ! Konon katanya rasa kepuasan diri dan happy atas kreasi sendiri itu menumbuhkah hormon hormon anti ageing dalam tubuh kita…πŸ˜… pantesan aku udah 34th tp masih imut2 *etdah amit2 kali πŸ˜…

  25. Beruntung keluargaku amat sangat demokratis, malah amat sangat menganjurkan (mengharuskan lebih tepatnya) anak perempuan bekerja, mandiri, jangan tergantung sama suami. Unik memang.
    Kalo ketemu keluarga yang ditanya bukan “kapan punya anak” tapi “kerjaan gimana kemajuannya? Progress karir gimana? ayo dong jangan stuck di satu perusahaan, cari pengalaman!” πŸ˜€

  26. Ngak pernah nanya,krn emang bukan ruang lingkup says utk bertanya. Kecuali kl saya ditanyai pendapat. Sy sendiri dibesarkan du lingkup yg semua wanita bekwrja. Ibu saya juga bekerja. Keluarga saya juga penganut perempuan ngak boleh tregantung sama suami, hrs mandiri. Tapi setelah Kawin dan punya anak, saya jadi wanita yg tradisional,yg punya pikiran kewajiban saya di rumah,kewajiban Suami saya bekerja cari uang. Kalo memang bener 2 dapur ngak bisa lagi ngebul, baru saya kerja cari uang.

  27. Bertanya kenapa memilih salah satu jalan sih nggak pernah. Lebih sering bertanya-tanya kenapa banyak yang sudah memilih salah satu jalan tapi kok kayaknya nggak puas amat sama hidupnya terus memutuskan untuk lempar-lempar batu ke kolam orang…

    Apabila ditanya alasannya, sebagai pribadi, saya pilih bekerja karena berbagai hal, dan memang alasan ekonomi berada di nomor sekian. Bekerja buat saya ya me time, aktualisasi diri, salah satu cara untuk ‘memaksa diri’ berkarya, berbuat sesuatu, dan untuk mencari hal-hal lain yang sepertinya akan sulit saya dapat jika memilih jalan yang lain.

    Dari keluarga, justru Ayah saya tidak suka melihat saya diam di rumah jadi IRT; beliau malah mengernyitkan dahi dan berkata ‘ngapain?’ Suami; ngasih lampu hijau untuk apapun yang mau saya pilih. Kerja silakan, di rumah silakan; dengan syarat dan ketentuan: kalo pilih di rumah, dilarang keras cuma golar-goler main game atau tidur siang, harus produktif! Yang mana buat saya mah susyah kalo nggak ada ‘paksaan’ atau motivasi. Biasanya lebih sering hot hot chicken shit kalo lagi semangat bikin apapun.

    So, here I am. A working mom. Dengan restu suami. Dan anak; Insya Allah tidak kekurangan apapun (kecuali berat badan yang nggak bisa ditransfer dari emaknya), bahkan masih nenen meski udah lewat dua tahun ^^

    Yang terpenting gimana bisa happy dalam menjalani pilihan. Kalo masih nyenggol-nyenggol pilihan orang, malah jadi timbul pertanyaan mungkin sebenernya itu jeritan hati terdalam ya?

  28. Aku nggak pernah mempertanyakan Mba, mungkin karena ibu kerja, jadi dari kecil ngeliatnya sebagai hal yang biasa aja kalau ada perempuan kerja. Cuma kadang agak gemes juga kalau pilihan untuk bekerja atau nggak bekerja masih aja diperdebatkan, lalu pilihan yang satu dianggap lebih baik dari yang lain.

    Gemes juga pas seorang ustad pernah ngelempar statement: bila wanita habiskan untuk anaknya 3 jam sedangkan di kantor 8 jam ! lebih layak disebut Ibu ataukah Karyawan.

    Gemes karena meski kerja, buat Saya, ibu ya tetep ibu, the person whom i look up to. Ah kzl deh.

  29. Kalau aku tidak pernah mikir hal itu, bagi aku selagi aku mampu kerja ya kerja aja. Untung suami kasih izin. Beda halnya kalau dia tidak kasih izin tapi jangan sampai lah dan ngak mau mikir..

  30. Mbak Ailsa, sy gak pernah tanya2 sih kenapa perempuan masih bekerja/memutuskan keluar dr pekerjaan; itu mah urusan pribadi ya.. Begini mbak, sy nih suka berpikir bhw: kalo sy masih tinggal di Jkt sy gak mau lepas kerjaan sy tapi sy kan skrg tinggal di negara org (pinjam istilah mbak Yoyen: imigran cinta) nah, kalo sy mau kerja sy harus punya visa kerja. Tahun ini sy mau perpanjang visa, kayaknya kepingin coba punya visa kerja, eh tapi… Urusan anak anak bagaimana yah…hihihihihi… 😁 Yah, bisa diatur deh.. Hayo…. Gimana tuh mbak,,? mungkin para komentator yg tinggal di luar Indonesia ada yg punya pengalaman..?

  31. Kalo aku g pernah tanya2 gtu tp malah aku yg ditanya *suami bule ngapain kerja?* sebelum ikut suami ke Uk aq krj di Bandara Bali jd SPG trus setelah nikah aku resign krn mau ikut suami ke UK. Nah ternyata visa 2x di tolak jd suami balik ke Uk Sendiri dan krn hrs ngurus bisnisnya suami 3bln kemudian br dtg lg. Aq sementara 3bln nunggu aq kerja lg eh tetangga sebelah tanya kyk gtu…”ngapain kerja suami situ kan bule mang g dpt jatah uang dr suami ? Masa kalah sama suami aku walo bukan bule mah suamiku melarang aq kerja, jd g usah kerja kan tinggal ngangkang doang” *ealah neh org bahasanya saru bngt! πŸ˜• krn kesel aku liatin buku BCA ku yg tiap bln ada income sekian2 dr suami plus gajiku sendiri. Aku blg “uang hasil krj sendiri lebih nikmat” plus uang dr suami kan tambah mantap πŸ˜† tuh org lgsg diem g koar2 enak tinggal ngangkang doang lagi…ini org biasa ngomong gtu ma perempuan2 lain kyknya bangga bngt tinggal ngangkang πŸ˜… #gagalpaham

  32. Saya pikir, mungkin sudah saatnya orang indonesia yang merasa modern, berpendidikan dan ingin mengaktualisasikan diri dijalur positif untuk berhenti menjadikan pendapat/omongan orang lain sebagai barometer hidup, jika pendapat-pendapat itu tidak relevan dan tidak potensi untuk berkontribusi positif terhadap diri kita.
    We made our choice, then just live it and pay the price accordingly :-D.
    Others’ judgement should be none of our concern, because they will only hinder us from developing.
    Saya rasa hanya dengan begitu budaya: ngomongin orang; ngurusin urusan orang; ngomentari pilihan-pilihan pribadi orang; nasehatin orang tanpa diminta; akan bisa dikurangi pelan-pelan. Kalau di cuekin kan lama-lama juga mingkem sendiri wkwkkwkwk.

    Setiap pilihan hidup itu ada alasannya, dan selama itu sifatnya pribadi, nggak melibatkan kepentingan umum, maka itu bukan urusan orang lain untuk mengajari baik buruknya. If we have any opinion or evalutation about that, it should be only done for our own need, then it’s only right to be kept for our selves. Unless that related person personally request us to speak it out. What decision is great for one person is not always sensibel enough for another person. Everyone has their own priority in life and should just be ready to pay the cost of any choice accordingly.
    Kalau semua wanita memprioritaskan rumah tangga maka kita ngga akan punya wanita-wanita tangguh kaya Sri Mulyani, Merkel, Margaret Thatcher, Ibu Retno Menlu kita, dan lain-lainnya.
    Tapi ngga sepantasnya juga kalau lantas semua wanita lantas diharapkan untuk memprioritaskan karir hanya karena jaman modern, emansipasi, hanya karena ortu nya udah susah payah nyekolahin tinggi-tinggi.
    Everybody has their own role to play in life, and let them just play the way they like. They will have to be responsible for their own decision anyway ^_^.

    Apa yang saya utarakan di paragraf terakhir ini, secara teori semua orang juga ngerti, saya yakin itu.
    Tapi pada prakteknya, kebanyakan orang indonesia tetep aja ngga bisa mengabaikan omongan ngga berguna dari orang2 usil disekitarnya.
    I believe, if we really do emphasise, if we do put an importance in our own privacy, then we should be able to ignore all unnecessary comments from others about our personal life. At least, we should never let our selves suffer because of them.
    Only this way, that typical “bad habit” could be reduced slowly.

  33. Ngga sih. Aku ngga mempertanyakan kenapa perempuan bekerja karena alasannya pasti bervariasi dan sifatnya pribadi. Untuk para ibu dan karena aku juga seorang ibu, prinsipku happy mom happy kids. Ibu mau bekerja atau ngga, yang penting happy dan saling hormati pilihan masing-masing.

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s