Aliansi Tak Bisa Masak

Saya ini tergabung dalam aliansi di atas. Ketidakbisaan masak saya ini parah, parah banget. Ketika datang di Dublin, saya cuma bisa masak nasi, mie instan, telur goreng dan aneka sayur yang direbus atau dioseng kilat. Oh ya, saya juga tak bisa merebus telur. Asal rebus telur, pasti dalamnya masih mentah. Pyor…..

Tapi namanya manusia dan juga karena dipaksa keadaan, saya terpaksa belajar masak. Terpaksa banget, karena kalau gak masak saya tak akan makan. Selama di sini saya belajar masak aneka rupa makanan Indonesia, karena sejak tinggal di sini, saya cuma napsu sama makanan Indonesia. Padahal waktu tinggal di Indonesia, maunya makanan asing melulu. Ya namanya juga manusia. Nah selama dua tahun ini, saya syukurnya sudah agak pinter sedikit, sedikit lho ya! Tapi setidaknya ilmu memasak saya sudah sedikit berkembang dan yang paling membanggakan, saya sudah bisa rebus telur. 🤣

img_3222

Selain membuat aneka lauk, dari ayam yang dimasak paniki, betutu, soto hingga ayam goreng. Bicara ayam goreng, saya masih penasaran cara membuat ayam yang kaya rempah seperti di Indonesia. Resep ayam goreng saya di dapat dari Bu Nur, pekerja rumah tangga yang dulu sering menyajikan ayam nan enak. Sayangnya si Ibu sudah pensiun dan ayam saya masih belum mendekati rasa ayam buatan si Ibu. Gila ya, nyoba bikin ayam goreng saja, saya harus membeli ayam dari beberapa tukang daging yang berbeda, karena kualitas dan hasil akhir ayam tak sama.

Selain memasak lauk, yang kebanyakan ayam (karena saya tak makan daging merah), aneka kue Indonesia juga ada di dalam daftar hal-hal yang harus dicoba dibuat. Target untuk setidaknya membuat satu kue setiap bulan tentu saja tak terpenuhi, karena agak ambisius. Tapi bolehlah saya berbangga hati, karena sudah bisa bikin tahu isi, kue ku, kue pukis, nagasari, dan yang paling gres: risoles! Bisa bikin risoles, yang diisi ragout ayam lalu tak hancur ketika digoreng itu sungguh pencapaian luar biasa. Bahkan dalam sebuah acara makan siang dengan seorang Romo, beliau mau minta risoles saya dibungkus. Aduh gak terdeskripsikan bagaimana girangnya hati saya. Mungkin buat yang jago masak sih ini hal biasa, tapi buat saya ini luaaaaaar biasa. (Btw, saya memodifikasi resep Diah Didi untuk bikin risoles)

Jika taun kemarin kaastengels à la Indonesia menjadi menu hantaran untuk tetangga, tahun ini saya mencoba membuat nastar dan selainya. Hasilnya mengerikan, bentuknya amburadul, rasanya apalagi. Tapi ya saya tetep nekat membagikan kue tersebut, demi kritik membangun.

Apa lagi yang akan saya lakukan tahun 2018 ini? Saya akan terus bereksperimen, mencoba aneka rupa resep-resep baru, menyempurnakan resep yang gagal dan menyesuaikan dengan bahan lokal (apalagi untuk kue kering). Intinya, tak akan ada kata menyerah dari saya. Kalau gagal ya coba lagi, hingga bisa dan tentunya harus bisa.

Satu hal yang saya pelajari dari proses panjang ini, ternyata kue Indonesia itu bahan-bahannya sederhana dan sangat murah, tapi proses pembuatannya perlu kesabaran tingkat dewa. Gara-gara belajar membuat aneka masakan ini, ketika pulang ke Indonesia, saya jadi jauh lebih menghargai makanan Indonesia, apalagi makanan yang dihargai sangat murah, karena di balik murahnya makanan itu ada pengorbanan dan kesabaran luar biasa. Dan sampai sekarang, saya masih gak terima kalau kue-kue ini dijual dengan murah, karena kebayang capeknya di dapur (dan panasnya!).


Selamat Tahun Baru kawan, semoga kalian diberikan semangat tinggi untuk mencoba hal-hal baru dan menambah ilmu! Kalian, suka masak apa?

xx,

Tjetje

Advertisements