Khas Indonesia Banget 

Mungkin beberapa hal yang saya tulis di bawah ini terdengar biasa-biasa saja bagi kebanyakan dari kalian. Tapi semenjak pindah ke luar, hal-hal sepele ini membuat saya melihat perbedaan mencolok dengan negara tempat tinggal saya. Lucunya, perbedaan ini tak saya lihat sebelumnya ketika saya kerap menengok pasangan di Dublin. Memang beda ya kalau tinggal dan liburan.

Musik
Pernah merhatiin gak kalau orang Indonesia itu suka sekali dengan musik dan selalu memainkan musik dimana-mana. Maksudnya sih biar ramai dan gegap gempita. Di salon (yang bikin susah ngobrol dengan hairstylistnya), di restauran (yang bikin susah ngobrol dengan teman) bahkan di kendaraan umum. Nulis ini saya jadi inget abang mikrolet yang suka pasang speaker segede gaban (gaban itu apaan sih?) dengan suara musik dangdut yang menggelegar. Kalau sudah gitu malas naik deh, karena kuping bisa sakit.
Di Irlandia saya jarang sekali mendengar musik di ruang-ruang publik, apalagi yang kenceng, kecuali mereka yang mengamen di jalanan. Pada kendaraan pun pemusik ini tak diperkenankan mengamen, tak seperti di Perancis yang jadi nyeni karena metronya diwarnai pengamen. 
Kehadiran musik dimana-mana tak diwarnai dengan usia toko kaset dan CD yang panjang. Di Jakarta saya kesulitan mencari toko kaset dan hanya tinggal satu Duta Suara yang tersisa. Nampaknya musik-musik ini hasil bajakan semua. 
Colokan dimana-mana 
Power bank saya teronggok di dalam laci sejak lama. Bagi saya colokan lebih baik ketimbang Power bank demi kelangsungan usia baterai yang lebih lama. Di Indonesia, menemukan colokan itu gampang banget. Bahkan di beberapa Café saya semakin banyak menemui charging station untuk meninggalkan handphone.
Nampaknya cara Restaurant, Café dan rumah makan di desain untuk mengakomodasi seribu colokan. Jauh berbeda dengan Irlandia yang miskin colokan. 
WiFi friendly 
Ada guyonan Warung-warung kopi di Indonesia itu sebenernya jualan wifi, bukan. Jualan kopi. Ya gimana, kopinya segelas, wifinya dipakai buat mengunduh film. Makenya pun berjam-jam.
Beberapa coffee shop bahkan meletakkan kata sandi untuk wifi di dekat kasir supaya tak ditanya lagi. Tingginya kebutuhan akan wifi ini memang harus dipahami mengingat mahalnya harga Internet di Indonesia. Saya yang pengguna setia Telkomsel ini menghabiskan lebih dari lima ratus ribu untuk liburan dua minggu. Ini internetnya paketan lho ya. Entah gimana data kayak kesedot mesin. Mungkin ini sebabnya orang lebih banyak menggunakan wifi ketimbang data di telepon genggam.
Kamar mandi tanpa kode


Di Irlandia itu kamar mandi diberi kode, termasuk yang Di Starbucks. Orang sini memang pelit dengan akses terhadap kamar mandi dan orang-orang yang akan akses kamar mandi harus memasukkan kode yang ada di tanda terima.
Di Indonesia mau ke kamar mandi gampang, gak perlu repot-repot cari kode atau berhadapan dengan barista yang nyolot ketika dimintai kode. Tapi, biarpun tanpa kode, kamar mandi di Indonesia joroknya masih luar biasa. Becek, bekas kaki, bahkan tissu berserakan.
Kamu, pernah merhatiin gak hal-hal yang Indonesia banget? 
xx,

Tjetje