Dear Pedagang Online, Jangan Gitu Dong!

Kehadiran media sosial benar-benar merubah dunia, termasuk dunia ekonomi. Mendadak, semua orang tergerak berwirausaha dan membuka toko-toko online di berbagai media sosial menjajakan segala hal yang bisa dijual. Dari gulungan kabel hingga kehangatan satu malam pun bisa dibeli di dunia maya. Saya melihat hal ini sebagai sebuah hal positif, karena ekonomi kita bergerak.

Tapi disisi lain, kehadiran pedagang di berbagai komunitas bukanlah sebuah hal yang diterima dengan tangan terbuka. Ada resistensi dan kecenderungan untuk tidak menyukai mereka. Para pedagang hanya disukai ketika dibutuhkan. Ketidaksukaan dengan pedagang ini tak muncul dalam sekejap, sudah ada sejak jaman dahulu. Bahkan, saat Multiply melebarkan bisnisnya dan merangkul pedagang, para bloggerpun ikut gerah. Sekarang, jika ada pedagang-pedagang di grup, alamat akan ada teguran yang melayang atau bahkan sang pedagang bisa ditendang. Ada beberapa hal yang saya perhatikan, tapi sebelum saya jabarkan ada baiknya saya kasih disclaimer dulu, bahwa tak semua pedagang seperti ini.

Hobi Nyampah Untuk Promosi

Coba iseng-iseng tengok Instagram para artis ibu kota, ada banyak dari mereka yang IGnya diserbu oleh komentar-komentar ajaib yang intinya dagangan. Syahrini yang hobi memamerkan tas Hermes misalnya dikomentari banyak pedagang tas Hermes KW. Sementara, salah satu artis yang belum kunjung hamil, banyak diberi tawaran klinik kesuburan ataupun pengobatan alternatif yang menjamin kehamilan. Gila komentar ini sadis banget ya. Komentar-komentar spam ini juga banyak menawarkan peninggi badan, pemutih kulit, hingga produk-produk aneh lainnya.

Pedagang tak hanya menyerbu artis ibukota saja, tapi juga menyerbu blog blogger ibukota, macam saya. Kan tinggalnya di ibukota Irlandia, boleh dong ngaku blogger ibukota. Isinya, sampah juga. Postingan tampon saya misalnya, banyak diserbu pedagang-pedagang yang menawarkan tampon murah. Lucunya, ada juga spam yang menawarkan jampi-jampi mistis.

Mungkin para pedagang-pedagang ini tak tahu bahwa meminta bantuan pada blogger untuk promosi itu gampang dan lebih baik ketimbang nyampah di komentar. Kirim email saja, minta bantuan untuk mempromosikan produk-produknya. Tak ada ruginya kan mengirimkan email kepada sang blogger, menawarkan produk gratis dengan imbalan tulisan di dalam blog atau promosi di Instagram. Tak harus ngasih uang lho (tak semua blogger itu perlu uang), cukup diberi produknya saja supaya sang blogger bisa tahu kualitasnya.

Urusan Nama

Masih berkaitan dengan komentar nyampah di atas, ada satu karakteristik yang bagi saya sangat khas sebagian pedagang dan membuat mereka jadi terkesan mengesalkan, kurang personal. Banyak pedagang yang tak mau menghabiskan sepuluh detik saja untuk mencari tahu dan mengetik nama sang empunya blog, atau sang empunya akun. Mungkin mereka terlalu sibuk, sehingga lebih memilih memanggil dengan panggilan generik seperti Bunda, Sis, atau Cin. Haduh tolong deh ya, kami kan juga punya nama. Pada saat yang sama, pedagang juga jarang banget memperkenalkan dirinya, jadi pembeli pun tak bisa berinteraksi secara personal. Terpaksa panggil Mbak, atau Mas. Kalau pas bener sih gak papa, kalau pas manggil Mbak jadi Mas, atau sebaliknya gak seru kan?

Mimin juga manusia

Saya juga manusia Min, punya nama juga!

Btw, panggilan Bunda ini buat saya ngenyek banget lho. Apalagi yang nekat manggil-manggil tanpa mencari tahu apakah yang diajak bicara punya latar belakang sebagai ibu-ibu atau engga. Asal nyosor manggil Bunda aja, padahal tak semua orang bisa dan mau dipanggil Bunda. Hal yang sama tak hanya berlaku di dunia maya saja, tapi juga untuk para SPG di supermarket-supermarket. Entah siapa yang memulai trend ini, tapi yang jelas saya juga memulai trend sendiri. Kalau ada yang nekat panggil saya Bunda, biasanya saya kasih tatapan setajam silet yang habis ditajamkan di atas batu cobek (Baca tajeeeem banget).

Hobi Ngetag

Siapa yang gak pernah kena tag foto barang dagangan? Apalagi menjelang Lebaran gini, banyak tag kue kering tanpa contoh kue keringnya, atau baju lebaran, baju koko serta mukena. Ngetag masal ini bagi saya sangat menyebalkan, walaupun bisa diselesaikan dengan cepat dengan cara untag. Tapi kalau pas apes gak ngecek media sosial selama beberapa hari, notifikasi tiba-tiba penuh. Uarrrgh…gemes deh.

Minta Nurunin Tulisan

Nah ini curahan hati sang blogger ibu kota yang baru saja dimintain nurunin tulisan karena mengandung kritikan. Padahal ya blogger ibu kota ini baru nulis penuh kritikan kalau memang pengalamannya super tak menyenangkan. Haduh…haduh….ini kan bukan jamannya Soeharto lagi dimana akses terhadap informasi dan kebenaran harus ditutupin. Ini juga bukan jamannya Tifatul Sembiring lagi yang hobi nyensor-nyensor segala hal.

Jadi para pedagang, kalau lihat tulisan yang mengkritik usaha Anda, coba ajak bloggernya ngobrol gimana cara memperbaiki layanan dan minta masukan. Kalau sudah bagus, undang bloggernya untuk datang lagi. Sekali lagi tak semua blogger itu gila gratisan ya.

Bagi saya, pedagang online itu memberikan kemudahan luar biasa, terutama untuk orang-orang yang sibuk bekerja. Tetapi, ada hal-hal tertentu yang perlu diperbaiki supaya hubungan dengan pembeli (atau calon pembeli) serta teman-teman tak rusak karena binis yang baru dirintis. Perbaikan ini tak hanya soal tata krama dalam berinteraksi, tapi juga soal keterbukaan dalam memberikan informasi harga (jangan nyolot lah kalau pembeli banyak nanya). Kegagalan membenahi hal-hal seperti ini akan dengan mudahnya membuat pembeli beralih ke situs-situs daring yang menawarkan pembelian hassle free, tinggal pencet, barangpun masuk keranjang. Lha kalau sudah begini kan yang untung usaha besar, bukan usaha kecil-kecil yang menggerakkan ekonomi.

 Gimana dengan kalian, punya pengalaman seru dengan pedagang online?

Xx,
Tjetje
Pernah berkelahi dengan pedagang online yang tak kunjung mengirimkan barang pesanan.