Cerita Pandemik

Halo dari Irlandia yang untuk kesekian kalinya mengalami lockdown. Rasanya jika saya tak salah mengingat ini lockdown ketiga di level 5 dan ada beberapa lockdown dengan level yang lebih rendah yang saya tak ingat lagi karena sudah terlalu sering. Kendati sudah sejak Maret 2020 saya bekerja dari rumah, pengumuman lockdown masih tetap membuat stres. Apalagi lockdown kali ini seusai Natal dan diperpanjang hingga bulan Maret nanti. Mendadak sunyi senyap setelah gegap gempita musim Natal.

Panic buying
Saya termasuk salah satu orang yang panik tak karuan ketika pengumuman lockdown di bulan Maret. Rasa panik ini muncul karena beberapa tahun lalu ketika badai salju datang di Irlandia saya tak siap dan berakhir tanpa roti, susu (tapi punya banyak beras dan mie).

Jika orang lain panik membeli tisu toilet, saya panik membeli segala macam hal yang saya lihat di supermarket Asia. Spesifik di supermarket Asia saja. Rumah di kampung dan saya sangat takut tak boleh ke supermarket yang lokasinya tak dekat. Begitu ambisiusnya saya, sampai membeli beras ketan untuk membeli lemper. Tentunya tak satu lemperpun yang jadi dan beras ketan sukses saya hibahkan ke tetangga.

Di awal pandemik, saya juga ikut ngantri membeli kebutuhan di supermarket biasa. Saat itu saya antri dengan beberapa kolega kantor yang panik membeli bahan untuk anak-anak mereka. Sementara saya repot membeli air dan bahan makanan untuk makan malam (kami tak pernah membeli banyak makanan, biasanya hanya cukup untuk dua atau tiga hari). Kepanikan itu ternyata tak beralasan, karena supermarket masih terus-menerus buka.

Membuat Roti dan Kue

Saking banyaknya waktu yang saya punya, saya juga ikut membuat aneka roti di musim semi dan musim panas. Saat itu tepung protein tinggi untuk membuat roti tak mudah ditemukan, karena semua orang membuat roti. Saya juga membuat sourdough, tapi tak sukses dan akhirnya harus membunuh sourdough saya.

Akibat hobi baru membuat roti ini, saya dan suami sukses menambah beberapa kilogram ke timbangan. Parahnya, di akhir tahun ini saya menemukan hobi baru, belajar membuat cake. Percobaan pertama dimulai dengan cake pandan chiffon yang tentunya tak mudah hingga marble cake. Sekarang saya beralih membuat kue-kue kering dan lagi-lagi tetangga yang menjadi korban untuk menghabiskan hasil percobaan saya. Oh bless them.

WFH 

Jika harus bekerja dari rumah selamanya, saya tak keberatan. Tak perlu bangun pagi-pagi untuk bergulat dengan kemacetan lalu lintas pagi hari yang persis dengan tol dalam kota di Senin pagi. Zoom meeting setiap saat, dan jantung rasanya berhenti berdetak dan panik luar biasa setiap kali internet di rumah ngambek. Untungnya internet ngambek hanya terjadi dua atau tiga kali. Fiuh….

Jika di awal pandemik saya hanya menumpuk dua buah kursi plastik untuk menjadi meja saya, di akhir tahun saya membuat kantor yang proper demi kesehatan punggung dan kenyamanan. Sekarang, kerja jadi rumah jauh menyenangkan. Parahnya, sejak kerja jadi rumah saja jadi bekerja lebih keras dari biasanya.

Menjaga Kesehatan jiwa

Selama 2020 ini fokus saya ada pada kesehatan jiwa tak hanya jiwa saya, tapi juga orang-orang yang berada satu tim bersama saya. Ini benar-benar jadi fokus utama saya. Saya tak segan memutus hubungan pertemanan yang beracun, membatasi baca berita tentang pandemik dan fokus pada diri sendiri.

Mudah? tentu tidak, apalagi ketika kemudian lockdown kedua datang pada awal musim dingin. Matahari mulai menghilang, kegelapan datang dan kita semua berada dalam isolasi. Tiba-tiba saya menemukan diri bergulat dengan depresi.

Perjuangan melawan depresi bukan hal yang mudah. Tapi satu hal yang pasti, saya menyibukkan diri. Selain baking, saya juga menulis buku harian untuk menuangkan perasaan saya. Rasanya kayak anak remaja lagi, memegang pulpen dan jurnal. Tak ada rahasia perasaan pada gebetan tentunya. Apalagi cerita ketika tak sengaja ketemu di samping telepon umum. #Eh.

Jalan kaki untuk meningkatkan detak jantung juga jadi satu hal yang selalu saya coba lakukan. Untungnya ya di Irlandia ini, hujan, angin, bersalju pun kita masih bisa jalan untuk mencari udara segar. Ketika bersalju saya bahkan keluar rumah tiga kali untuk jalan kaki. Entah mengapa udaranya jauh lebih menyenangkan.

Berbicara dengan terapis juga jadi satu hal yang saya lakukan. Mencari bantuan untuk menjaga kesehatan mental bukanlah sebuah hal yang perlu diberi stigma atau dilabeli. Tapi saya tak menutup mata, masih banyak yang tak mengerti dan berusaha memahami kesehatan mental ini. I am not going to lie, saya pun baru benar-benar ngeh, ketika orang-orang terdekat dan saya sendiri mengalaminya.

Orang-orang berkata bahwa saat pandemik belajarlah satu hal yang baru. Buat saya, anjuran ini tak berlaku, saat pandemik, lakukan apa saja yang bisa menjaga kesehatan jiwa. Apa saja, selama tak menyakiti orang lain dan tak melanggar aturan. Termasuk, membeli dan memakai tracksuit* demi kenyamanan di dalam rumah. Anything for my sanity!


Apa kabar kalian? sehatkah?

 

xoxo,
Ailtje

PS: *menggunakan tracksuit itu identik dengan tak berkelas.

Menjaga Kesehatan Jiwa

Sebelum saya mulai postingan ini, disclaimer dulu ya kalau saya bukan pakar kesehatan jiwa, wellness, atau pakar-pakar lainnya. Saya cuma manusia biasa yang penuh nista dan dosa. 

Pandemik global yang berlangsung saat ini membuat banyak orang harus berdiam diri di rumah masing-masing. Di Indonesia, ada pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), di Irlandia, negeri tempat saya tinggal juga ada pembatasan gerak. Keluar dari rumah hanya untuk hal-hal yang penting, hanya bisnis yang penting yang diperkenankan untuk buka dan olahraga hanya diperkenankan 2 km dari tempat kediaman. Jadi tak ada kegiatan kegiatan ku lari ke hutan, atapun ku lari ke pantai, kecuali kalau tinggal tak jauh dari hutan ataupun pantai.

Bukan kali ini saja dunia menghadapi pandemik, sebelumnya ada flu babi yang juga melanda Indonesia. Tentunya skalanya tak sebesar dengan kondisi kita sekarang ini. Aktivitas kita pada saat itu masih normal. Pendek kata, saat itu kita masih bisa hura-hura ke cafe, jalan-jalan ke mall dan tentunya masih takut sinar matahari karena takut kulit menjadi kelam.

Olahraga

Pembatasan ruang gerak ini berdampak besar terhadap kesehatan jiwa kita. Mendadak, kita terpenjara di dalam rumah sendiri. Dalam kasus saya, ada pembatasan 2 km dan seringkali ada polisi yang mengecek tujuan kita. Mereka juga berhak mengirim kita pulang jika dirasa hal tersebut tidak penting.

Jalan kaki menjadi satu hal yang sangat berharga sekali. Sehari saya bisa berjalan kaki hingga tiga kali, di pagi hari, di saat makan siang dan usai kerja. Musim semi yang membawa hawa hangat juga membuat hal ini lebih mudah. saya tak bisa bayangkan apa jadinya jika pandemi ini berlangsung ketika memasuki musim dingin.

Makan Sehat

Olahraga juga harus dibarengi dengan makan yang sehat. Tak seperti di Indonesia yang punya banyak opsi untuk pesan makanan melalui aplikasi, di sini pilihannya sangat terbatas. Apalagi saya tinggal di kampung yang lebih dekat dengan sapi dan domba ketimbang dengan rendang dan tongseng.

Alhasil, saya pun harus masak sendiri, sehari tiga kali. Padahal sebelumnya saya hanya perlu masak satu kali, karena makan pagi dan siang disediakan kantor. Tapi pilihan untuk masak sendiri ini membuat diri lebih menyadari untuk memasak makanan yang jauh lebih sehat. Walaupun tetep sebagai anak Indonesia sejati, selalu pengen bikin gorengan. Prinsipnya, minyaknya engga pakai sedotan.

 

Ngobrol

Interaksi kita secara langsung dengan manusia berkurang sangat dratis. Saya beruntung tinggal bersama suami yang bisa diajak ngobrol, tapi saya tahu ada banyak orang di luar saya yang tinggal sendirian. Kesepian pasti merasuk banget, apalagi mereka yang usianya sudah tua.

Nah, kalau kalian punya anggota yang tinggal sendiri, jangan lupa ditelponin untuk bertanya kabar. Kalau kalian mampir ke rumah mereka, pastikan jaga jarak, jangan dekat-dekat dan tak perlu cium tangan, atapun cium pipi. Pastikan juga ketika kalian menelpon siap ditanyak dengan pertanyaan kapan kawin, kapan beranak dan panjaaaang…Kalau tak siap (dan daripada makin stress), cukup dikirimi pesan saja untuk menanyakan kabar dan berharap mereka sehat.

Media Sosial

Dalam pidatonya, Perdana Menteri Irlandia sempat mengingatkan untuk menjaga kesehatan jiwa dengan membatasi waktu yang dihabiskan di media sosial. Media sosial itu seperti pisau bermata dua, bisa menjadi tempat senang-senang dan bisa menjadi tempat yang muram durja. Kita sendiri yang punya kontrol.

Di masa seperti ini mendadak banyak orang yang menjadi pakar. Pakar data, pakar penyakit, jadi dokter, hingga yang beraksi jadi jurnalis dan membuka informasi center dan terus-menerus membagi informasi tentang COVID 19. Dalam lingkungan pertemanan kalian pasti ada saja yang seperti ini.

Berhubung kita punya kontrol, ada baiknya media sosial digunakan untuk hal-hal yang positif dan hal-hal yang negatif dimute saja. Saya sendiri membatasi penggunaan media sosial dan hanya baca sumber-sumber yang terpercaya. Sehari cukup satu atau dua kali, tak perlu terus-menerus mendengarkan tentang pandemik di seluruh dunia. Nanti bisa stress sendiri.

Banyak juga orang yang melakukan hal positif di media sosial. Menyenangkan sekali melihat orang-orang bermain tebak-tebakan, sekadar menyapa menanyakan kabar, pamer hasil karya dari dapur masing-masing,  membuat komik, hingga membuat konten lucu di TikTok. Saya sendiri, aktif menuliskan lockdown diary di IG saya. Silahkan ditengok dan mari berinteraksi ngobrol-ngobrol ringan di IG saya di sini.

Kalian, punya tips dan trick khusus untuk menjaga kesehatan jiwa di tengah pandemi ini?

xx,
Ailtje