Melawan Reverse Culture Shock

Selama bermukim di sini, hampir tiap tahun saya pulang kampung, untuk melepas rindu pada keluarga dan makanan Indonesia. Pulang kampung kali ini, sama seperti sebelumnya, saya mengalami reverse culture shock lagi. Dua hari pertama saya, rasanya pening melihat banyaknya hal-hal yang saya sudah tak terbiasa lagi. Belum lagi ketidakbiasaan ini ditambah dengan panas Jakarta yang membara, polusi dan kabut polusi yang menggantung di langit-langit Jakarta, serta kerinduan pada hujan yang saat itu tak kunjung datang. Emosi pun membara, saya jadi mudah bete. Mood saya pada dua hari pertama jadi sangat buruk. Soal kekagetan ini pernah saya tulis di sini dan di sini.

Kebetean ini ditambahkan pula dengan komentar tentang tubuh yang membuat saya semakin emosi jiwa. Jauh sebelum pulang ke Indonesia, saya sudah siap menerima komentar tentang berat badan saya yang bertambah. Toleransi terhadap komentar ini saya atur di level: GENDUT. Komentar apapun dengan embel-embel gendut tak akan membuat saya emosi. Manusia boleh berencana, ogoh-ogoh tapi punya rencana yang jauh lebih kejam. Pada acara perkawinan (yang menjadi tujuan utama saya pulang kampung), saya mendapatkan komentar tubuh saya GEMBROT. Saudara bukan, teman bukan, kenal juga hanya sekilas saya. Orang yang sama kemudian menyempurnakan komentarnya dengan memukul pantat saya sambil berkata, “kamu beneran gendutan deh”. Detik itu saya ingin berkata kejam, tapi saya menahan diri. Pelan-pelan, saya bunuh dia dari pikiran saya. To me, she is six feet under.

View this post on Instagram

Kramat Jati Market. 2019. #Market #Pasar #Indonesia

A post shared by Ailsa (@binibule) on

Tak hanya komentar soal tubuh, Jakarta juga membuat saya emosi jiwa dengan kesemrawutannya. Jangan ditanya betapa stressnya saya, rasanya pingin cepet-cepet kembali ke Irlandia, supaya bisa menghirup udara segar. Semacet-macetnya Irlandia, kendaraan masih berjalan lurus, tak seperti di Jakarta. Padahal kemana-mana saya disetirin, gak nyetir tapi ikut stress. Tapi apalah gunanya bermuram durja ketika kita hanya kembali pulang setahun sekali. Saya kemudian memutuskan untuk membalik reverse culture shock ini. Bagaimana caranya?

View this post on Instagram

Dear #Jakarta, I love you so much.

A post shared by Ailsa (@binibule) on

Saya berpasrah diri pada hal-hal yang tak bisa saya ubah. Realitasnya, Jakarta memang macet & polusi di mana-mana. Dan di tengah kesemrawutan ini, sepeda motor masih seenaknya sendiri, tanpa aturan. Klakson pun masih sangat meriah. Dan di tengah-tengah kesemrawutan itu, I counted my blessings. Dari mulai gak perlu ikutan nyetir, gak perlu kepanasan, duduk nyaman di dalam mobil hingga bisa ngobrol hantu dengan pengemudi kami.

Panas Jakarta yang membara juga membuat saya bersyukur, masih ada AC untuk mengademkan diri. Bisa ngadem di mall juga sambil minum kopi. Serunya lagi di Indonesia kopi yang ditawarkan selalu panas atau dingin. Di Irlandia, jangan harap dapat es kopi, apalagi di musim dingin ini. Para barista juga ramah-ramah tak terkira, padahal kerja mereka panjang dan sangat melelahkan.

Berada di Jakarta juga membuat saya bisa makan apa saja, di mana saja dengan mudahnya. Dari masakan Indonesia hingga masakan Jepang. Di Irlandia, tak ada masakan Jepang yang otentik, jadi pulang ke Indonesia bertemu aneka ramen rasanya surga banget. Soal pemesanan makanan juga mudah sekali, tinggal buka aplikasi dan pencet-pencet tombol Gojek. Selesai.

Saya juga bahagia banget masuk toilet di mal-mal di Indonesia. Baunya wangi, bersih, jangan dibandingkan dengan mal di Irlandia. Petugasnya pun juga ramah gak karuan. Biarpun dicuekin oleh lebih dari 90% pengguna toilet, mereka masih tetap mengucapkan terimakasih dengan senyum.

Keramahan khas Indonesia juga menjalar ketika memasuki toko-toko untuk berbelanja, atau sekadar mencoba. Dari Factory Outlet yang menjual produk-produk buatan Indonesia hingga toko-toko di mall. Bahkan para abang-abang yang menjaga makam pun tak terkira ramahnya. Mereka berlarian mencoba membantu saya menemukan makam-makam yang saya kunjungi.

Setelah puluhan purnama dan beberapa kali pulang, akhirnya saya belajar bagaimana membuat pulang kampung tak beracun,  meminimalisasi energi negatif dan tentunya mengatur kekagetan dengan hal-hal yang kita tak biasa lagi. Apalah gunanya pulang kampung kalau cuma untuk ngomel-ngomel, apalagi kalau kemudian diabadikan di media sosial dan meracuni orang lain.

Ada yang punya tips lain biar gak kaget kalau pulang kampung?

 

Xx,
Tjetje
Yang sangat malas ngeblog