Tentang Kewarganegaraan Ganda

Pada saat jam makan siang beberapa waktu lalu, saya berdiskusi dengan seorang teman tentang kewarganegaraan ganda. Seperti banyak diketahui, Indonesia belum memperbolehkan kewarganegaraan ganda kecuali untuk anak-anak yang lahir dari perkawinan campur. Kewarganegaraan ganda bagi mereka pun bersifat terbatas, hanya sampai usia tertentu, lalu mereka harus memilih satu kewarganegaraan. Entah mengikuti ayahnya, atau mengikuti ibunya.

Di luar kelompok tersebut, memiliki kewarganegaraan ganda adalah hal yang ilegal dan melanggar undang-undang. Tapi pada prakteknya ada saja WNI yang memiliki dua paspor, paspor hijau dan paspor negara barunya. Nah dalam perbincangan makan siang itu, kami membahas secara teknis bagaimana Indonesia bisa mengetahui individu-individu yang memiliki kewarganegaraan ganda. Menurut teman saya, negara tak punya informasi dan kuasa untuk mengecek status warga negaranya yang ganda. Sehingga, negara tak bisa dengan semena-mena mencabut kewarganegaraan WNI yang melakukan hal tersebut. Saya sendiri bersikukuh bahwa negara punya hak untuk melakukan hal tersebut, karena hal tersebut ilegal. Perbicangan itu tak sempat memanas, apalagi mendidih karena kami berdua tak tahu bagaimana teknisnya negara bisa mengetahui hal tersebut.

Dan tentunya saya pulang dengan rasa penasaran lalu UU no. 12 tahun 2006. Negara ternyata berhak untuk mencabut kewarganegaraan seseorang karena memiliki kewarganegaraan ganda. Dalam bahasa UU sih mereka yang memiliki kewarganegaraan lain atas kemauan sendiri otomatis akan kehilangan kewarganegaraannya. UU ini juga membahas tentang lembar negara yang mengumumkan mereka yang kehilangan kewarganegaraan. Dan saya pun semakin penasaran ingin tahu bentuk lembar negara tersebut. Tapi ya namanya UU, tak ada detailnya, wong bukan juklak, apalagi juknis. Busyet bahasanya.

Penasaran saya tak berhenti disitu saja, ketika kesempatan datang, saya pun menanyakan secara detail pada pegawai plat merah. Pertanyaan saya terjawab dong, bahkan secara rinci termasuk bagaimana negara melakukan penyelidikan, dari yang paling sederhana seperti melihat jejak dokumen perjalanan atau bahkan mendapatkan informasi resmi dari negara tersebut. Jadi bukanlah hal yang aneh jika petugas KBRI tiba-tiba menolak memberikan perpanjangan paspor pada WNI karena dianggap memiliki paspor lain, atau lebih ektrem, paspor hijau tiba-tiba disita lalu dihancurkan.

Saat ini, beberapa kelompok perkawinan campur serta diaspora sedang berjuang untuk meloloskan kewarganegaran ganda. Kewarganegaran ganda yang diinginkan bukan kewarganegaraan ganda terbatas, tetapi kewarganegaraan ganda secara penuh. Saya sendiri memahami latar belakang perjuangan ini, karena urusan administrasi dengan paspor hijau kita tidaklah mudah. Saya contohnya harus antri di luar bangunan imigrasi negara ini pukul 7 pagi, berdiri melawan dingin, untuk memperpanjang visa. Perjuangan saya ini membuahkan hasil perpanjangan visa satu tahun saja dan tahun depan saya harus melawan dingin lagi. Mungkin tahun depan saya akan bawa kursi atau bahkan buka usaha menyewakan kursi di luar gedung imigrasi.

Mereka yang punya anak juga seringkali mengalami perpisahan singkat yang tak mengenakan di depan imigrasi. Sang anak belok ke antrian yang lebih pendek, sementara sang ibu belok ke antrian EU. Kok ibu-ibu, saya pun sering mengalami hal ini dan dibombardir beraneka rupa pertanyaan.

Ketidakmudahan administrasi ini secara tak langsung juga berdampak pada hilangnya putri dan putra terbaik Indonesia. Ambil contoh yang paling mudah, Anggun Cipta Sasmi yang menjadi warga negara Perancis atau Ananda Sukarlan yang menjadi warga negara Spanyol. Mereka tak sendirian, ada banyak orang-orang Indonesia yang cerdas dan memiliki keahlian terpaksa melepaskan status WNInya karena urusan administrasi paspor hijau yang kurang sakti. Kasihan lho mereka ini sering dianggap sebagai pengkhianat bangsa dan dianggap tak punya nasionalisme. Padahal, nasionalisme itu tak sebatas paspor, tapi dilihat dari hati.

Di sisi lain, kewarganegaraan ganda juga menciptakan kerumitan tersendiri, terutama jika berkaitan dengan pajak. Maka tak heran jika banyak negara seperti, bahkan negara maju tak memperbolehkan kewarganegaran ganda. Di ASEAN, Indonesia setidaknya ditemani Singapura, Thailand, Malaysia, dan juga Myanmar. Sementara negara maju lainnya, seperti Norway dan Jepang tak memperkenankan kewarganegaraan ganda. Berbeda dengan Australia, Amerika dan Irlandia yang memperbolehkan. Irlandia bahkan akan memberikan paspor dengan mudahnya pada orang-orang keturunan Irlandia.  Sebuah kemudahan yang didambakan banyak diaspora dan keturunannya di berbagai belahan dunia.

Setujukah kalian dengan ide kewarganegaraan ganda bagi WNI?

Xx,
Tjetje

Baca juga: Pasangan bule dan ganti kewarganegaraan