Tentang Stasiun Radio

Siapa yang masih sering mendengarkan radio? Saya masih sering dong streaming dari Irlandia. Radio ini menjadi sahabat saya ketika menyetir, di kantor (ketika tak mengajar dan harus duduk di depan komputer) serta ketika pulang ke rumah sembari memasak di dapur. Bagi saya, radio gak ada matinya!

Pilihan stasiun radio saya sendiri di sesuaikan dengan kondisi dan lokasi saya. Di rumah dan di jalan, saya lebih sering mendengarkan radio lokal Dublin. Radio yang paling sering saya dengarkan di sini 98 FM yang diklaim sebagai Dublin’s Best Radio Station. Selain urusan musik dan mendengarkan berita, saya juga suka mendengarkan acara interaktif yang mengajak pendengar membahas berbagai topik aneh-aneh. Beberapa topik terakhir yang saya dengarkan soal pro-kontra memiliki akun tabungan bersama dan kejadian-kejadian horor hingga soal percintaan beda usia antara duda beranak satu yang berhubungan dengan anak kuliahan dengan beda usia 20 tahun. Soal yang terakhir ini komentarnya kejam-kejam.

Selain memberi inspirasi tulisan dan membuka wawasan, mendengarkan radio melatih telinga saya untuk mendengarkan aksen Irlandia, walaupun aksennya tak terlalu kental, serta memperkaya koleksi kosakata yang sering digunakan di Irlandia. Saya besar dengan Inggris Amerika, jadi ada perbedaan besar ketika pindah ke sini dari yang paling sederhana seperti antara chips dan crisps, hingga soal ukuran metrics.

Untuk mempertahankan kosakata Inggris Amerika saya, Kiis FM menjadi radio pilihan yang saya streaming dari computer. Bukan musik yang saya cari, tapi acara interaktifnya Ryan Seacrest dan pendengarnya yang berdiskusi (atau lebih tepatnya berdebat) karena satu hal. Entah karena dating gak berjalan, rent belum dibayar, atau karena ditinggal selingkuh. Seru sih karena lagi-lagi telinga harus cepat menangkap isi pembicaraan. Satu lagi yang saya suka dari programnya Ryan Seacretst, dia suka nanya: “Tell me something good“. Ini menyenangkan banget lho dengernya, karena kepala kita udah kebanyakan dengar hal-hal negatif yang bikin capek.

Radio Indonesia juga masih sering saya dengarkan, biar nggak ketinggalan hal-hal baru dan juga kosakata kekinian dari Indonesia. Radio yang saya dengarkan PramborsFM, biasanya sih saya mendengarkan Sunset Trip, walaupun saya gak demen dengan jumlah iklan di radio ini. Duh buanyaaak banget dan repetisinya, apalagi soal apartemen yang iklannya kenceng itu. Saya juga gak demen dengan Fakta Cemen Ala Mr. Lessman, karena garing berat & suatu ketika pernah becandaan soal suicide. Suicide is not a joke and should never be a joke.

Dari radio Indonesia saya jadi tahu tentang penyanyi-penyanyi Indonesia terbaru. Perkenalan pertama saya dengan lagu-lagu Tulus juga gara-gara PramborsFM. Lagu Gajah menjadi lagu Tulus yang pertama kali saya dengar. Di PramborsFM ini saya juga jadi ngeh kalau orang-orang itu suka kirim makanan untuk para penyiar. Malam-malam lagi siaran, tiba-tiba dikirimi martabak. OMG, saya dengernya merana gitu, karena tak ada martabak manis kaya kalori di Dublin.

Menariknya, ketika saya tinggal di Jakarta, saya justru tak terlalu menggemari radio. Saya hanya sesekali mendengarkan radio dan hanya radio Perancis saja. Sebelum dituduh sombong, saya mendengarkan radio Perancis untuk mengasah kemampuan bahasa Perancis saya. Sayangnya sekarang kemampuan saya udah menghilang, karena bahasa ini jarang saya gunakan.

Saat tinggal di Malang sendiri saya mendengarkan beberapa radio lokal seperti Makobu dan Kalimaya Bhaskara. Entah dua radio itu masih ada atau tidak. Tapi dulu, ketika masih berseragam (baca: masih muda dan masih sekolah, tapi tidak ingusan), saya pernah beberapa kali mampir ke stasion radio, untuk menuliskan request lagu serta mengirimkan salam kepada teman-teman. Seneng lho kalau dapat salam dari radio dari teman gini, rasa senang yang sederhana. Apalagi kalau yang ngirim salam cem-ceman.

Bagaimana dengan kalian, masih suka dengerin radio dan punya stasiun radio favorit? Atau kalau gak suka dengerin, just tell me something good 😉

xx,
Tjetje

Advertisements