Mengatasi Phobia Ketinggian

Disela-sela kerjaannya, almarhum bapak saya hobinya terjun payung. Beliau pernah mendarat dengan sukses di tengah sawah, tapi juga pernah memenangkan medali pekan olahraga negeri ini. Berkebalikan dengan alm. bapak saya, saya justru takut ketinggian, alias mengalami acro phobia. Rasanya ketakutan ini sudah ada semenjak kecil. Seingat saya, saya pernah mandi keringat ketika harus naik jembatan penyeberangan di Malang (yang di depan Bioskop Merdeka) dan di Surabaya (yang di depan IAIN). Kedua jembatan ini, bagi saya, tidak dibangun dengan struktur yang kokoh karena beralaskan kayu. Di kepala saya, kayu yang terpapar matahari, tersiram hujan ini bisa patah kapan saja dan saya bisa terjerembab ke bawah dan langsung ditabrak mobil dibawahnya.

Begitulah kepala orang yang phobia, setidaknya kepala saya. Otak berimajinasi hal-hal yang negative dan imajinasi itu datang tanpa diundang. Selain takut jembatan, saya juga takut sama eskalator yang naik menuju ketinggian. Bagi saya, eskalator yang menyambungkan dua lantai, seperti eskalator sepatu hak tinggi di Senayan City ataupun eskalator dua lantai di Pacific Place sangatlah menakutkan. Saking takutnya, saya sampai bisa merasakan getaran eskalator, getaran itu yang kemudian memicu keringat di ketiak, kaki dan tangan saya.  Saya juga menghindari berada di sisi eskalator yang memberikan pemandangan bebas ke lantai bawah, apalagi kalau bangunannya tinggi. Rasanya hati tak tenang, kaki gemetar melihat ketinggian.

IMG_7997

Takut Ketinggian, tapi gak begitu takut naik cable car di Hong Kong

Nasib membawa saya terjebak ketinggia ketika menuju Badui Dalam. Ketika itu kami, segerombolan tukang jalan-jalan, harus mendaki pinggiran bukit yang licin karena hujan dan di sisi pinggir jurang. Nggak ada jalan lain selain naik karena pulang bukanlah opsi. Tanjakan terakhir itu akhirnya saya lawan dengan segala ketakutan sampai merangkak-rangkak, otak saya berpikiran bahwa gravitasi tak cukup menahan saya di tanjakan tersebut. Alam sedang baik dengan saya, selesai saya mendaki, kabut di puncak pun hilang dan saya mendapatkan pemandang gunung-gunung yang cantik. Sayangnya, kamera tak diperkenankan merekam karena kami sudah berada di Badui dalam. Herannya, saya tak pernah takut dengan lift, yang berkaca-kaca sekalipun, otak dan hati saya merasa aman dengan segala penutupnya. Bahkan saya tak takut terbang dengan pesawat di atas sekian ribu kaki. Tapi kalau olahraga ekstrim di Benoa Bali, dikasih seratus juta pun saya nggak akan mau.

Selain takut ketinggian, saya juga takut ular. Mungkin ini berhubungan dengan masa lalu ketika ada ular beracun masuk ke dalam rumah. Mama saya dengan tenangnya membunuh ular tersebut dengan air panas. Saya menduga, Ailsa kecil takut mamanya dilukai dan ketakutan itu membekas hingga sekarang. Tapi, jaman saya masih belajar jadi animal activist saya nekat duduk di kelas yang melibatkan ular. Nggak ada hewannya sih, tapi seluruh pelajaran yang diberikan isinya gambar ular semua. Bahkan sebelum kelas dimulai, seorang animal activist bernama Mbak Sri bertanya apakah saya akan baik-baik saja jika mengikuti kelas itu. Saya nekat melawan perasaan takut saya, toh hewannya gak ada disitu. Hari ini saya masih takut ular, saya pantang berfoto dengan ular melingkar di leher tapi saya tahu kalau berjalan di alam, ular akan menyingkir ketika mendengar suara langkah kaki kita. Fiuh!

Senayan City

Photo was taken from Skyscappercity.com

Cara Saya Melawan Phobia Ketinggian

Hari pertama saya kerja di Jakarta, waktu itu kantor saya di Chase plaza, saya diantarkan  sampai gerbang kantor. Aman, jadi saya tak perlu naik jembatan. Tapi hari kedua, saya diturunkan di seberang kantor. Ketika itu pilihannya hanya dua: mati ditabrak mobil karena menyeberang di Sudirman atau naik jembatan dan melawan ketakutan. Saya memilih yang kedua dan jalan perlahan menaiki jembatan sambil memegang pegangan jembatan. Dasar phobia, naik jembatan bukannya cepet-cepet malah menikmati setiap ketakutan dengan perlahan-lahan. Tapi kalau cepet-cepet saya takut jembatannya roboh karena terkena beban tubuh saya ketika berlari-lari. *bukan saya yang kegedean ya, tapi saya mikirnya struktur jembatan itu ringkih banget*

Berbulan-bulan saya berjuang melawan ketakutan dalam pikiran saya, setiap pagi saya tersengal-sengal karena kesulitan bernapas dan bermandikan keringat. Tapi usaha saya membuahkan hasil  dan saya nggak takut lagi menaiki jembatan penyeberangan, bahkan sekarang, kalau saya mau saya bisa lari-lari di jembatan-jembatan tersebut. Hari ini saya masih berjuang melawan ketakutan saya dengan eskalator. Saya mengatasi itu dengan melihat orang lain yang relaks naik eskalator, menyanyi di dalam hati dan terus mengalihkan pikiran supaya kaki tak merasakan getaran eskalator. Saya juga menghindari hak tinggi (menurut kepala saya keseimbangan saya berkurang kalau pakai hak tinggi) dan meminimalisasi bawaan sehingga tangan bisa focus pegangan. Semoga satu hari nanti saya bisa naik eskalator dua lantai dengan hak tinggi, tanpa merasa perlu cemas kehilangan keseimbangan atau membayangkan eskalator roboh. Segede apa sih saya ini kok sampai takut eskalator roboh.

Punya phobia nggak? Gimana mengatasi ketakutan phobia tersebut?