Perkawinan Sesama Jenis di Irlandia

Salah satu topik yang juga disarankan untuk ditulis di dalam blog ini adalah tentang legalisasi perkawinan sesama jenis kelamin di Irlandia, terimakasih banyak Adie atas ide tulisannya. 

Lebih dari 60% pemilih pada bulan Mei lalu menyatakan persetujuannya terhadap perkawinan sesama jenis, melalui referendum. Irlandia kemudian menjadi negara pertama yang melegalkan perkawinan sesama jenis melalui referendum. Dan semua mata pun memandang negeri kecil yang penduduknya hanya 4.5 juta dengan penuh keheranan.

Wajar jika banyak orang menoleh keheranan terhadap hasil referendum yang menarik ini, mengingat 84.2% warga negara Irlandia adalah pemeluk Katolik Roma. Orang-orang Irlandia dikenal sebagai pemeluk Katolik yang cukup kuat. Apalagi jika berkaca pada sejarah ketika Henry VIII membuat Anglican supaya bisa menceraikan istrinya Catherine of Aragon. Saat itu, Irlandia mati-matian mempertahankan agamanya. Selain itu, sekolah-sekolah di Irlandia juga banyak dikelola oleh gereja, sehingga pengaruh gereja Katolik terhadap masyarakat Irlandia bisa dibilang cukup kuat. Sama seperti agama lainnya, Katolik juga menolak perkawinan gay.

Lalu bagaimana bisa orang-orang yang sangat Katolik ini menerima perkawinan sesama jenis? Ada yang mengatakan bahwa keberhasilan penggantian konstitusi untuk memperbolehkan perkawinan antara homoseksual serta lesbian ini merupakan tanda-tanda bahwa pengaruh Katolik dan Gereja telah memudar. Tetapi, ada juga yang mengatakan bahwa sebenarnya ini merupakan tanda keberhasilan Katolik mengajarkan cinta kasih terhadap sesama manusia, termasuk gay dan lesbian. Tingginya angka persetujuan menunjukkan tingginya kesetaraan, pemahaman hak asasi manusia serta cinta kasih kepada manusia lainnya, tanpa diskriminasi terhadap orientasi seksual.

Defisini perkawinan sendiri di Irlandia berbeda dengan definisi perkawinan di Indonesia. Di Indonesia perkawinan dianggap legal ketika sudah sah menurut agama. Sementara di Irlandia ada dua macam pencatatan perkawinan, agama dan sipil, ataupun secara sipil saja. Dengan persetujuan ini maka seluruh pasangan gay dan lesbian bisa mencatatkan perkawinan secara sipil dan menerima hak serta kewajiban yang sama dengan warga pasangan heteroseksual. Perkawinan gay pertama di Irlandia kemungkinan besar baru akan terjadi pada saat musim gugur, karena perubahan ini tak bisa terjadi instan. Ada proses administratif yang nampaknya cukup panjang. Walaupun secara hukum perkawinan ini masih agak lama, Tourism Ireland langsung mengeluarkan video yang menargetkan pasangan gay untuk kawin di Irlandia. Video ini dikeluarkan tak lama setelah pengumuman hasil referendum.

Situasi di Irlandia tentunya sudah tidak seperti dahulu lagi, sekarang saya melihat pasangan gay lebih terbuka, terutama di tempat-tempat umum. Di taman misalnya, pasangan gay tak malu-malu lagi untuk bermesraan dan bergandengan tangan menyusuri sisi-sisi Dublin. Di media masa, juga mulai ada pengumuman pertunangan antara pasangan-pasangan gay. Gay parade yang berlangsung hari Sabtu minggu lalu menjadi ajang perayaan besar-besaran, terbesar dalam sejarah Irlandia, terhadap perubahan ini. Sayangnya saya melewatkan gay parade tersebut karena harus kembali ke tanah air.

Perkawinan sejenis ini tentunya mendapat tentangan dari banyak pihak, terutama mereka yang konvensional. Alasannya agama, karena homoseksual dilarang oleh agama, semua agama, dan menjadi homoseksual itu berdosa. Alasan agama ini tentu saja tak akan pernah ketemu dengan konsep layanan antara negara sebagai penyandang kewajiban untuk memberikan pelayanan dan warga negara sebagai penyandang hak, termasuk hak perkawinan.

Banyak orang yang juga berargumen bahwa perkawinan gay tidaklah diperlukan. Saya pribadi melihat sungguhlah tidak adil jika pasangan heteroseksual bisa mencatatkan perkawinannya sementara pasangan gay tidak bisa. Padahal, dua-duanya sama-sama membayar pajak dan idealnya mendapatkan layanan dan juga privilege yang sama dari negara. Perkawinan gay itu penting untuk banyak hal, termasuk hak untuk membuat keputusan ketika salah satu pihak sakit, urusan warisan ketika salah satu pihak meninggal dua, adopsi anak, pembelian property, pemotongan pajak karena kawin (di Irlandia ada potongan pajak sebesar 3,300 euro per tahun bagi yang sudah kawin) serta urusan administrasi yang antara warga negara dan negara.

Gay marriage juga sering seringkali dituduh merusak tatanan keluarga tradisional, dimana anak-anak sewajarnya dibesarkan oleh bapak dan ibu, bukan ibu dan ibu, ataupun bapak dan bapak. Ada ketakutan bahwa mereka yang dibesarkan oleh pasangan gay & lesbian, kehilangan figur bapak ataupun ibu, kemudian tidak bisa tumbuh menjadi individu yang sempurna. Sepertinya ada ketakutan anak-anak ini akan tumbuh menjadi gay ataupun lesbian, seakan-akan menjadi gay ataupun lesbian itu bisa diwariskan, diajarkan atau lebih parahnya ditularkan. Padahal gay bukanlah penyakit, tidak menular dan bukan kelainan jiwa.

suasana perayaan gay marriage

Suasana perayaan di Dublin Caste. Photograph: Clodagh Kilcoyne/Getty Images taken from the Guardian. Click to see the original link

Akan selalu ada pro dan kontra terhadap perkawinan sesama jenis, bagi saya itu wajar, karena kacamatanya berbeda. Satu dari kacamata agama, satu dari kacamata administrasi negara dan hak asasi manusia. Dan debat panjang pun nggak akan pernah usai, baik di negeri ini maupun di negeri lain. Tapi satu hal yang bisa kita akhiri adalah perilaku homophobic kita, penghakiman-penghakiman serta perilaku diskriminatif kita terhadap mereka. Konon katanya kita ini berbudi luhur, tapi kenapa kita sering sekali melabeli gay sebagai pendosa berat, hingga lupa bahwa kita sebenarnya juga sama-sama pendosanya. Pendosa yang tak punya hak untuk menunjuk dan menimbang dosa orang lain.

Selamat berakhir pekan!

xx,

Tjetje

Tukang bikin dosa