Dunia Waria

Pekerjaan saya yang saya tinggalkan di Jakarta, memberikan banyak sekali kesempatan dan juga ruang belajar, apalagi ketika berkaitan dengan diskriminasi dan kelompok-kelompok terpinggirkan. Nah salah satu kelompok terpinggirkan yang pernah saya pelajari secara singkat adalah transjender atau yang lebih dikenal sebagai waria.
Waria ini merupakan kelompok yang sangat termarjinalisasi. Saking termarjinalisasinya, bos saya sampai pernah berpesan (rasanya pesan ini pernah saya tulis juga di blog ini): jika bertemu dengan transjender yang sedang mengamen atau mengemis, berilah mereka sedikit uang karena hidup mereka sangatlah berat.
Transjender itu hidupnya berat, sangat berat dan penuh dengan pergulatan sejak usia dini. Mereka berperang dengan dirinya karena merasa terperangkap di dalam tubuh yang salah. Dalam kondisi seperti ini, seringkali mereka mengalami tekanan dan juga perisakan dari lingkungan sosialnya. Soal perisakan dan LGBT, kapan-kapan saya bahas terpisah karena blogger malas ini masih belum selesai baca materinya. Keluarga yang seharusnya memberikan dukungan juga seringkali gagal karena malu terhadap lingkungan. Pada banyak kasus, transjender yang beranjak remaja dan mulai berani menunjukkan identitasnya, seringkali diusir atau bahkan dibuang dari keluarga (baca: tidak dianggap sebagai bagian dari keluarga) karena mereka dianggap aib. Anak-anak transjender juga tak sedikit yang lari dari rumah, atau bahkan mengakhiri hidupnya.
Transstudent org
Pada saat yang sama, para transjender juga harus berhadapan dengan masyarakat yang tak pernah bisa memahami pergulatan mereka. Wajar jika kita tak paham pergulatan mereka, karena mungkin kita tak punya informasi apa yang sebenarnya mereka alami. Nah jika ingin memahami mereka, mungkin salah satu kasus menarik yang bisa dipakai sebagai referensi adalah kasus David Reimer. David Reimer ini terlahir sebagai pria, tapi kemudian dioperasi menjadi perempuan ketika masih kecil kemudian dibesarkan sebagai perempuan. Sepanjang hidupnya ia mengalami pergulatan batin yang luar biasa, karena memang ia bukan perempuan dan ia tahu bahwa ia bukan perempuan. Pergulatan inilah yang dialami oleh para transjender, terjebak dalam tubuh yang salah, sementara hati dan pikiran mereka mengatakan bahwa mereka memiliki jender yang berbeda.
Kembali lagi pada transjender yang lari ke jalanan. Jalanan menjadi ruang yang lebih terbuka dalam menerima mereka, tentunya jalanan hanya ramah ketika Satpol PP tak sedang iseng beroperasi. Di jalanan yang keras ini banyak dari mereka yang terpaksa menjadi pengamen, atau pekerja seksual (bahkan menghadapi resiko diperkosa dan juga terpapar HIV/AIDS). Sementara beberapa yang lebih beruntung berada pada pekerjaan lain, seperti dunia hiburan ataupun kecantikan. Tapi harus diakui, pekerjaan bagi para waria memang hanya terbatas pada hal-hal tertentu, padahal saya yakin banyak dari mereka yang memiliki potentsi tapi kondisi menghentikan impian mereka.
Menariknya, di sebuah dokumenter saya mendengar bahwa di jaman Pak Harto yang konon sangat opresif para transjender hidup lebih nyaman dan damai. Dokumenter ini judulnya waria zone dan DVDnya bisa didapat dengan harga 12 Euro dari website ini. Sayangnya trailer dari film ini ada di Vimeo, jadi kemungkinan tak bisa ditonton oleh sebagian dari kalian, karena  #YangMuliaTukangSensorTiffie meninggalkan pencapaian indah selama masa jabatannya: SENSOR!
Kendati bicara tentang diskriminasi dan kerasnya hidup para waria, dua tahun lalu, ketika film ini diputar di lingkungan tempat saya bekerja, saya menengar bisik-bisik para waria yang terlibat di dalam film ini tak mendapatkan komisi apa-apa dari penjulan film ini. Mereka sudah dipaksa menandatangi pelepasan hak. Ini dua tahun lalu ya, semoga saja sekarang mereka sudah mendapatkan setidaknya segenggam beras.
Kendati waria sudah ada di lingkungan kita sejak lama, banyak dari kita yang tak tahu bagaimana cara berinteraksi dengan baik dan benar dengan mereka. Beberapa tips dari saya untuk berinteraksi dengan mereka:
  • Jangan pernah panggil mereka banci atau bencong. Tak sopan dan menyakitkan.  Jika punya anak, ajari juga mereka untuk bisa lebih baik pada waria. Setidaknya, tak perlu bisik-bisik dan meneriaki mereka, apalagi sampai lempar batu. Come on, they are human too.
  • Dalam berinteraksi, wajib hukumnya bertanya bagaimana mereka mau dipanggil. Jika mereka mempresentasikan diri sebagai perempuan, jangan sekali-sekali manggil mereka Mas, Abang atau Bli. Panggil mereka Mbak, Neng, Mbok, Kakak, ataupun Nona. Yang paling utama, jangan pula memanggil mereka dengan nama lahir mereka, kecuali mereka meminta hal tersebut. Bayangin aja kalau ketemu Caitlyn Jenner di Starbucks, gak bener kan kalau kita teriak-teriak Mas Bruce  lalu minta selfie.
  • Kelamin dan operasi menjadi sebuah hal tabu yang tak patut ditanyakan, dalam situasi apapun dan sedekat apapun. Mengapa? Ya mereka aja tak sibuk menanyakan bagaimana bentuk kelamin kita, kok kita tiba-tiba merasa punya hak untuk kepo menanyakan apa saja yang sudah mereka lakukan dengan kelaminnya. Kalau nanya tak boleh, megang-megang juga tak boleh dilakukan ya.
Sebagai manusia yang katanya berbudi luhur, tugas kita bukan menghakimi apalagi sibuk ngurusin kemana mereka pergi setelah mereka meninggal dunia (baca: sibuk ngumpatin mereka masuk neraka sambil komat-kamit, dosa…dosa…dosa padahal dirinya lagi bikin dosa). Tugas kita sebagai manusia itu cuma satu, memanusiakan mereka supaya mereka tak termarjinalisasi dan bisa mendapatkan hidup yang tenang. Kalau belum bisa, ya cukup seperti saya, rogoh kocek setiap kali melihat para pengamen transjender. Ingat ya, hidup mereka penuh dengan pergulatan dan kita tak perlu ikut-ikut bikin hidup mereka makin susah.
Permisi dulu, saya mau menghabiskan akhir pekan dengan ikutan ikut Gay Pride. Silahkan besok ditengok foto-fotonya di IG saya @binibule. Hashtagnya #binibule ya, gak pakai manja-manjaan, #BukanPerempuanManja.
xx,
Tjetje
Advertisements

Pengungsi

Di postingan tentang sukarelawan di sini, Wulan yang pernah menghabiskan waktunya menulis isu tentang pengungsi di Indonesia meminta saya menulis tentang isu ini. Isu pengungsi merupakan isu yang panas di Eropa sejak beberapa waktu (atau bahkan tahun) belakangan ini. Herannya, setiap kali ngobrol dengan beberapa orang di tanah air tentang  ini, kok saya mendapat kesan banyak orang yang tak peduli atau bahkan tak tahu. Jadi, ijinkan saya berbagi sekilas tentang isu ini dari kacamata saya.

Sebelum beranjak lebih lanjut, ada baiknya kita bahas dulu tentang terminologi. Ada tiga terminologi yang bisa digunakan ketika membahas isu ini, yaitu pengungsi, pencari suaka, dan juga migran. Pengungsi menurut definisi saya adalah orang atau sekelompok orang yang mencari perlindungan ke negara lain karena dalam situasi terancam di negaranya. Beberapa situasi terancam ini antara lain minoritas satu agama atau etnis yang ditekan di negaranya (Rohingya contohnya), LGBT yang dihukum karena orientasi seksualnya, pembela HAM yang dicari pemerintah karena aktivitasnya, jurnalis yang dicari mafia, atau bahkan masyarakat sipil yang negaranya dalam keadaan genting. Sebelum diputuskan menjadi pengungsi biasanya mereka disebut asylum seeker/ pencari suaka. Pencari suaka ini mereka yang mengklaim sebagai pengungsi tetapi status mereka sebagai pengungsi belum diputuskan karena masih diproses. Soal lamanya proses bermacam-macam tergantung negara yang dituju.

Kelompok ketiga adalah migran yang berpindah ke negara lain karena banyak alasan, biasanya alasan ekonomi (atau meminjam istilah Mbak Yoyen, migran cinta seperti saya) tapi kelompok ini bukanlah kelompok yang berada dalam keadaan bahaya. Dalam ilmu tolong-menolong, kelompok ini paling belakangan ditolong karena mereka tidak dalam keadaan bahaya. Di berita-berita pun istilah migran lebih banyak digunakan, karena mengatakan seseorang sebagai pengungsi ataupun pencari suaka itu gak bisa langsung, lagi-lagi mesti pakai proses. Dalam logika saya sih sederhana, ketika mereka belum minta suaka, belum diputuskan jadi pengungsi, masih di atas kapal di dekat Yunani ya otomatis disebut sebagai migran karena mereka berpindah.

Eropa sendiri, terutama di bagian barat dan di daratan utamanya, serta Inggris  dibanjiri oleh migran ini karena adanya gejolak keamanan di berbagai tempat di jazirah Arab dan juga di Afrika. Terus terang sebagai orang yang tinggal di Irlandia, saya tak tahu betapa parahnya keadaan di daratan Eropa sana. Yang saya baca hanya keriuhan penutupan perbatasan, migran yang setiap hari meninggal di dekat Yunani dan juga masalah penyerangan seksual oleh sebagian kecil migran yang terlambat ditulis media dan akhirnya bikin kisruh dan labelisasi parah pada para migran.

Sebagian kelompok tidak menyukai migran dan juga pengungsi karena banyak hal, beberapa hal yang saya tangkap misalnya takut adanya Islamisasi Eropa, takut perbedaan budaya terutama dalam hal memperlakukan perempuan dan yang paling utama takut kehilangan pekerjaan. Migran dianggap sebagai pencuri pekerjaan, bahkan di Eropa Timur sana ada yang sampai demo bawa-bawa poster. Agak lucu dan aneh ngelihat kelakukan mereka, karena sebagian penduduk dari negara itu migrasi ke Irlandia dan juga negara-negara Eropa lainnya untuk bekerja. Lha ya mereka boleh cari kerja kok yang dari negara lain gak boleh. Rasis!

Nah beberapa waktu terakhir ini, saya banyak menghabiskan waktu untuk sekadar ngobrol, ngopi atau bahkan makan siang dengan rekan-rekan dari jazirah Arab dan juga Afrika Utara untuk bertanya tentang pengalaman mereka selama tinggal di Irlandia. Hasilnya? Semua orang yang saya ajak ngobrol bahagia tinggal di Irlandia dan gak pernah mengalami diskriminasi ataupun perlakuan rasis di Irlandia. Bahkan mereka yang berjilbab sekalipun. Ini bukan berarti disini rasisme dan diskriminasi tak ada sama sekali, saya yakin pasti ada.

Keterbukaan orang Irlandia ini saya simpulkan dilandasi banyak hal, pertama karena orang-orang Irlandia pernah sengsara ketika terjadi kelaparan karena gagalnya panen kentang di jaman 1845-an. Sebagian penduduknya bermigrasi ke berbagai sudut dunia termasuk ke Amerika. Maka tak heran jika orang-orang di negeri ini, bahkan yang tua sekalipun, menerima manusia yang berpindah dari negara lain.

Bicara sejarah tentunya tak boleh lupa juga dimana orang Irlandia banyak ditekan karena agamanya yang Katolik, didiskriminasi urusan pekerjaan, pendidikan bahkan dianggap teroris (Catatan: jaman dulu hanya mereka yang Anglican yang bisa maju). Maka tak heran jika kepiluan dan didiskriminasi ini tak diulang oleh orang-orang Irlandia termasuk terhadap muslim. Jadi ya jangan heran kalau negara dan orang-orang di negara ini dianggap berperilaku Islami. Satu hal lagi yang bagi saya sangat menarik, keterbukaan ini juga dilatarbelakangi oleh fakta bahwa orang Irlandia itu moyangnya dari mana-mana, ada yang dari Spanyol, Inggris bahkan Viking.

Nah tapi walaupun Irlandia negara yang kelihatannya menarik, bahkan menjadi magnet para migran dari Eropa Timur, terutama Polandia, negara ini rupanya tak terlalu diminati oleh para migran dan pengungsi dari negara-negara yang terlanda konflik. Seorang pengacara yang fokus pada migran dan pengungsi pernah bercerita, satu hari ada trayek penerbangan baru yang dibuka dan langsung dari sebuah negara di Afrika ke Dublin (saya tak ingat negaranya). Pada penerbangan pertama ini sang pengacara memperkirakan pesawat ini akan dipenuhi oleh para migran dan para pencari suaka. Ternyata oh ternyata ia salah, saat itu hanya 7 orang saja yang mencari suaka.

Irlandia beberapa waktu lalu dikritisi oleh Merkel karena tidak menolong banyak migran dan juga pengungsi. Ya apa mau dikata, negara ini baru dihempas krisis ekonomi, terjadi krisis rumah yang bikin banyak orang menjadi homeless dan menggelandang. Bukan alasan juga untuk tidak menolong mereka, tapi ya apa pantas kalau orang-orang ini kemudian sampai di negeri ini kemudian menggelandang dan malah jatuh sengsara (ini yang banyak terjadi di daratan Eropa dan memicu sebagian kecil dari mereka kembali ke negaranya).

Anyway, cerita migran ini bisa berlanjut semakin panjang, tapi sebaiknya saya akhiri dulu dengan sebuah poster cantik yang tersebar di beberapa sudut Dublin:

Refugee Welcome

Bagaimana dengan kalian, ngikutin berita pengungsi juga gak?

xx,
Tjetje

Perempuan dan Aborsi

Ketika saya masih duduk di bangku kuliah sekitar belasan tahun lalu, seorang teman menelpon ke rumah saya. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar, ia tiba-tiba bertanya tentang tempat untuk melakukan aborsi. Kata dia, teman kuliahnya hamil dan ia berinisiatif membantu mencarikan tempat untuk aborsi. Seketika itu juga saya langsung menangkap bahwa dialah yang hamil.

Pada saat itu saya banyak mendengar teman-teman yang melakukan aborsi, tapi hanya sebatas mendengar dari mulut kesekian. Hanya satu orang teman pria saja yang pernah menceritakan dengan gamblang bagaimana proses aborsi berlangsung. Aborsi yang saya bicarakan ini tentunya aborsi ilegal, tetapi dilakukan oleh tenaga medis, seorang dokter yang berada di luar Malang. Bagaimana mengerikannya proses aborsi tak perlu diceritakan lah ya karena sungguh bikin ngilu.

Kengiluan ini bertambah parah ketika tahu bahwa dokter yang melakukan proses itu tak memperkenankan pasien untuk menginap di tempat praktek. Ya ampun yang kepikiran di kepala saya tentunya perut diobok-obok lalu tak lama ‘diusir’ keluar (eh bayar dulu dong ya dan biayanya ketika itu cukup buat bayar kuliah satu tahun). Dalam kondisi mental dan fisik yang tentunya saya bayangkan tak karu-karuan, masih ada perjalanan yang harus ditempuh dari luar Malang untuk kembali ke Malang, yang rata-rata harus ditempuh oleh anak-anak mahasiswa jaman 90-an dengan naik motor atau naik bis. Sementara secara mental dan fisik sang perempuan pasti kelelahan tak karu-karuan.

cartoon uterus

Teman-teman saya tersebut beruntung bisa melakukan aborsi yang ditangani oleh tenaga medis. Setidaknya prosesnya berlangsung dengan aman walaupun dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan ilegal. Ada banyak sekali proses-proses aborsi yang dilakukan tak aman, salah satunya dengan melakukan pijat. Pijatan yang dilakukan di area perut yang bertujuan untuk melepaskan fetus dari rahim, lalu dilanjutkan dengan peluruhan.

Proses peluruhan ini bisa dilakukan dengan pijat-memijat atau bahkan dengan meminum aneka rupa jamu-jamuan atau ramuan lainnya.  Selain minum jamu-jamuan, ada juga yang memakan nanas muda yang konon ‘panas’ sehingga menyebabkan kandungan yang masih muda luruh. Entah luruh semua atau luruh sebagian. Kalau luruh semua ya syukur, sementara kalau luruh sebagian dan infeksi, haduh…..

Bicara tentang aborsi tentunya tak bisa lepas dari proses menguburkan janin-janin tersebut. Konon tempat-tempat prakter dokter kandungan biasanya agak berhantu karena banyak terjadi proses aborsi. Nah, salah satu orang yang saya kenal pernah menguburkan janinnya di sebuah rumah miliknya yang tak ditempati. Rumah ini tak ditempati karena sedang mencari peminat untuk mengontrak. Orang-orang di perkampungan itu kemudian heboh karena di malam hari sering terdengar suara bayi menangis dari rumah kosong ini. Selidik punya selidik dan nampaknya penyelidikan tersebut melibatkan ‘orang pintar yang tidak minum tolak angin’, terungkaplah bahwa ada janin di rumah tersebut. Sang kenalan ini kemudian harus berurusan dengan warga kampung tersebut gara-gara urusan  janin bayi yang menangis tersebut. Saya sendiri tak tahu harus percaya atau tidak percaya dengan hal seperti ini.

Di Indonesia, aborsi sebenarnya bukanlah hal yang ilegal dan bisa dilakukan pada kasus-kasus tertentu, pada usia kehamilan tertentu tetapi hanya pada pasangan yang sudah kawin. Jauh berbeda dengan di Irlandia yang tidak memperbolehkan aborsi dalam kondisi apapun. Bahkan ketika nyawa ibunya menjadi taruhan, tak ada dokter yang berani melakukan tindakan karena takut dibawa ke pengadilan karena membunuh janin. Aturan ini merujuk pada agama Katolik yang dominan di Irlandia. Jeleknya, aturan ini berlaku pada siapapun, dengan agama apapun. Termasuk pada Savita Halappanavar, pelajar beragama Hindu yang meninggal karena ada kasus dengan kehamilannya. Saat itu tak ada dokter yang berani mengaborsi bayinya, sehingga menyebabkan infeksi dan kerusakan organ yang berujung kematian sang ibu. Tragis, sungguh tragis.

Savita

photo: thejournal.ie

Perempuan-perempuan yang hendak melakukan aborsi dengan alasan apapun harus melakukan perjalanan ke luar Irlandia. Persis dengan pengalaman teman saya di paragraf atas yang harus pergi ke luar Malang dahulu. Ketika mereka punya cukup waktu untuk mempersiapkan perjalanan untuk aborsi sih ‘masih okay’, tapi begitu dalam kondisi emergency, aduh gak kebayang deh berapa Savita lagi yang harus meninggal sampai peraturan di Irlandia berubah.

Dalam urusan aborsi, saya memposisikan diri untuk tidak menghakimi perempuan yang melakukan hal tersebut karena banyak hal. Tetapi yang paling utama, perempuan adalah penguasa tubuhnya, bukan negara, bukan politikus dan bukan orang-orang lain di sekitarnya. Maka ketika seorang perempuan memutuskan untuk melakukan aborsi, sudah sepatutnya ia mendapatkan akses aborsi yang aman. Aman secara medis, aman secara hukum dan tentunya aman dari kecaman dan hujatan, karena sesungguhnya, memutuskan untuk melakukan aborsi itu tak semudah mulut-mulut mengeluarkan hujatan kepada mereka.

Selamat hari Perempuan!
Bagaimana dengan kalian, setujukah kalian dengan aborsi?

Xx,
Tjetje
Kematian Savita Halappanavar (Bahasa Inggris)

Mengasihani Pekerja Anak

Sepulang belanja mingguan kemarin, sambil menenteng tiga tas belanjaan yang cukup berat, saya teringat pada adik-adik yang biasanya nongkrong di lantai dasar ITC Kuningan. Adik-adik ini menanti mereka yang selesai berbelanja dan menawarkan jasa mendorong troli belanja. Di Irlandia, jasa dorong troli tak eksis sama sekali. Boro-boro jasa dorong, pinjam trolinya pun mesti memasukkan koin 2€ untuk memastikan troli dikembalikan ke tempat semula.

Kembali lagi pada adik-adik itu, jaman dahulu kala, sekitar tahun 2006-an, saya seringkali jatuh kasihan pada mereka dan akhirnya meminta mereka untuk mendorong troli hingga ke bagian lobi depan ITC Kuningan. Si adik beralasan memerlukan dana untuk membiayai sekolahnya sehingga ia bekerja di pusat perbelanjaan. Beberapa tahun belakangan ini saya semakin jarang ke belanja di Carrefour, kalapun kesana, saya sudah tak pernah lagi melihat mereka. Mungkin mereka sudah dihalau oleh petugas pengamanan.

Selain menjadi joki troli, pekerja anak juga dengan mudahnya ditemukan di beberapa jalan utama menuju kawasan 3 in 1 di Jakarta. Kebanyakan dari mereka dibawa oleh ibunya dan sangat jarang yang dibawa bapaknya. Usianya beragam, dari mulai bayi hingga sudah usia sekolah. Saking senangnya mengamati joki, saya bahkan mengamati seorang joki yang dari hamil, hingga anak bayinya lahir  masih tetap menjajakan jasa joki. Saking gilanya (atau mungkin terhimpit ekonomi), anak bayi yang masih mungil ikutan di bawa! Ibu joki yang masih muda ini bisa ditemukan di depan lapangan futsal di samping Standard Chartered Casablanca. Untungnya, ketika menggunakan jasa joki, saya sudah tersadar bahwa menggunakan jasa joki anak itu tidak baik. Selain karena kemungkinan mereka anak sewaan, banyak dari anak-anak ini yang dilelapkan dengan obat tidur demi selembar dua puluh ribuan. Bagi sebagian dari kita, selembar dua puluh ribu itu tak begitu banyak, bahkan tak bisa membeli segelas kopi di warung kopi internasional. Tapi bagi mereka, jumlah itu sangatlah banyak hingga membuat mereka rela menidurkan anak-anak tanpa dosa dan membiarkan mereka terpapar pada polusi ibu kota.

d93857fded9920d4d102702ceae235ac

Besarnya rasa sosial kita, serta kemauan untuk membantu mereka yang miskin juga membuat jumlah pengemis anak-anak di berbagai kota di Indonesia, terus meningkat. Karena rasa kasihan dari kitalah anak-anak itu harus terpapar teriknya matahari, berdiri di perempatan meminta recehan dari deretan kendaran. Sementara orang tuanya, duduk berteduh di perempatan sambil mengawasi mereka, layaknya mandor mengawasi para tukangnya. Soal pengemis tak perlu dibahas lebih lanjut, karena sudah pernah saya bahas dalam tulisan terpisah tahun yang lalu.

Pekerja anak lain yang bisa kita temui adalah penyemir sepatu. Dulu, saya sering melihat mereka berkeliaran di bandara Soekarno Hatta, tapi akhir-akhir ini saya tak pernah melihat mereka lagi. Bicara tentang penyemir sepatu, saya  jadi teringat dengan seorang anak yang mematahkan hati saya. Ketika itu, saya sedang duduk di KFC (saya punya ritual tak sehat untuk makan KFC di bandara dan jaman dulu saya rajin melakukan perjalanan dinas. Haduh…gak sehat bener) dan seorang anak kecil duduk bersembunyi ketakutan di balik tempat pembuangan sisa makanan. Rupanya, ia sedang menghindari kejaran petugas keamanan bandara. Saya menawarkan adik itu untuk duduk dan makan bersama saya. Selain karena sepatu saya tak perlu disemir, saat itu saya juga telah berhenti memperkerjaan anak di bawah umur. Adik itu menolak dan lebih memilih diberi uang saja ketimbang seporsi KFC.

Penolakan itu menampar saya. Saya terhenyak ketika tahu ia lebih menyukai uang. Tapi wajar jika anak-anak di bawah umur lebih menyukai uang ketimbang makanan. Dengan uang, mereka jadi memiliki kekuatan untuk membeli dan memutuskan apa yang mereka mau. Makanya, tanggung jawab untuk menghentikan pekerja anak ada di pundak kita, orang-orang yang pernah, sering, atau bahkan sedang memperkerjakan anak-anak di bawah umur.

IMG_4568

Foto para joki anak di NTT yang dipasang di sebuah pameran di Paris.

Pekerja anak tak hanya bisa ditemukan di perempatan jalan, bandara, pusat perbelanjaan, tapi mereka ada di berbagai sudut kota. Bahkan mereka mungkin ada di dapur rumah-rumah orang kelas menengah atas karena menjadi pekerja rumah tangga. Kemiskinan membuat mereka meninggalkan sekolah dan memilih mencari uang. Baik untuk membantu orang tuanya, atau untuk melanjutkan hidup. Tanggung jawab pengentasan kemiskinan, yang merupakan salah satu pelanggaran hak asasi manusia, ada di tangan pemerintah. Tapi sebagai manusia, tentunya kita bisa turut berkontribusi, dengan cara yang paling sederhana, dengan berhenti mempekerjakan anak-anak.

Mempekerjakan anak-anak dengan landasan kasihan merupakan aksi yang tak hanya merusak kesempatan mereka untuk bermain, tapi juga berkontribusi pada perubahan persepsi mereka tentang uang dan pendidikan. Anak-anak ini akan melihat bahwa tak diperlukan pendidikan untuk bisa mendapatkan uang. Cukup pasang wajah memelas, maka uang akan datang. Walaupun hari ini bukanlah World Day Against Child Labour, hari ini Hari Hak Asasi Manusia, tapi  mari berkomitmen untuk menghormati hak anak dan berhenti memperkerjakan mereka. Rasa kasihan dan belas kasihan kita sebaiknya disalurkan melalui lembaga sosial, lembaga amal, badan kemanusiaan khusus anak seperti UNICEF atau rumah-rumah ibadah.

Sudahkah kalian berhenti mempekerjakan anak-anak?

Xx,

Tjetje

Perkawinan Sesama Jenis di Irlandia

Salah satu topik yang juga disarankan untuk ditulis di dalam blog ini adalah tentang legalisasi perkawinan sesama jenis kelamin di Irlandia, terimakasih banyak Adie atas ide tulisannya. 

Lebih dari 60% pemilih pada bulan Mei lalu menyatakan persetujuannya terhadap perkawinan sesama jenis, melalui referendum. Irlandia kemudian menjadi negara pertama yang melegalkan perkawinan sesama jenis melalui referendum. Dan semua mata pun memandang negeri kecil yang penduduknya hanya 4.5 juta dengan penuh keheranan.

Wajar jika banyak orang menoleh keheranan terhadap hasil referendum yang menarik ini, mengingat 84.2% warga negara Irlandia adalah pemeluk Katolik Roma. Orang-orang Irlandia dikenal sebagai pemeluk Katolik yang cukup kuat. Apalagi jika berkaca pada sejarah ketika Henry VIII membuat Anglican supaya bisa menceraikan istrinya Catherine of Aragon. Saat itu, Irlandia mati-matian mempertahankan agamanya. Selain itu, sekolah-sekolah di Irlandia juga banyak dikelola oleh gereja, sehingga pengaruh gereja Katolik terhadap masyarakat Irlandia bisa dibilang cukup kuat. Sama seperti agama lainnya, Katolik juga menolak perkawinan gay.

Lalu bagaimana bisa orang-orang yang sangat Katolik ini menerima perkawinan sesama jenis? Ada yang mengatakan bahwa keberhasilan penggantian konstitusi untuk memperbolehkan perkawinan antara homoseksual serta lesbian ini merupakan tanda-tanda bahwa pengaruh Katolik dan Gereja telah memudar. Tetapi, ada juga yang mengatakan bahwa sebenarnya ini merupakan tanda keberhasilan Katolik mengajarkan cinta kasih terhadap sesama manusia, termasuk gay dan lesbian. Tingginya angka persetujuan menunjukkan tingginya kesetaraan, pemahaman hak asasi manusia serta cinta kasih kepada manusia lainnya, tanpa diskriminasi terhadap orientasi seksual.

Defisini perkawinan sendiri di Irlandia berbeda dengan definisi perkawinan di Indonesia. Di Indonesia perkawinan dianggap legal ketika sudah sah menurut agama. Sementara di Irlandia ada dua macam pencatatan perkawinan, agama dan sipil, ataupun secara sipil saja. Dengan persetujuan ini maka seluruh pasangan gay dan lesbian bisa mencatatkan perkawinan secara sipil dan menerima hak serta kewajiban yang sama dengan warga pasangan heteroseksual. Perkawinan gay pertama di Irlandia kemungkinan besar baru akan terjadi pada saat musim gugur, karena perubahan ini tak bisa terjadi instan. Ada proses administratif yang nampaknya cukup panjang. Walaupun secara hukum perkawinan ini masih agak lama, Tourism Ireland langsung mengeluarkan video yang menargetkan pasangan gay untuk kawin di Irlandia. Video ini dikeluarkan tak lama setelah pengumuman hasil referendum.

Situasi di Irlandia tentunya sudah tidak seperti dahulu lagi, sekarang saya melihat pasangan gay lebih terbuka, terutama di tempat-tempat umum. Di taman misalnya, pasangan gay tak malu-malu lagi untuk bermesraan dan bergandengan tangan menyusuri sisi-sisi Dublin. Di media masa, juga mulai ada pengumuman pertunangan antara pasangan-pasangan gay. Gay parade yang berlangsung hari Sabtu minggu lalu menjadi ajang perayaan besar-besaran, terbesar dalam sejarah Irlandia, terhadap perubahan ini. Sayangnya saya melewatkan gay parade tersebut karena harus kembali ke tanah air.

Perkawinan sejenis ini tentunya mendapat tentangan dari banyak pihak, terutama mereka yang konvensional. Alasannya agama, karena homoseksual dilarang oleh agama, semua agama, dan menjadi homoseksual itu berdosa. Alasan agama ini tentu saja tak akan pernah ketemu dengan konsep layanan antara negara sebagai penyandang kewajiban untuk memberikan pelayanan dan warga negara sebagai penyandang hak, termasuk hak perkawinan.

Banyak orang yang juga berargumen bahwa perkawinan gay tidaklah diperlukan. Saya pribadi melihat sungguhlah tidak adil jika pasangan heteroseksual bisa mencatatkan perkawinannya sementara pasangan gay tidak bisa. Padahal, dua-duanya sama-sama membayar pajak dan idealnya mendapatkan layanan dan juga privilege yang sama dari negara. Perkawinan gay itu penting untuk banyak hal, termasuk hak untuk membuat keputusan ketika salah satu pihak sakit, urusan warisan ketika salah satu pihak meninggal dua, adopsi anak, pembelian property, pemotongan pajak karena kawin (di Irlandia ada potongan pajak sebesar 3,300 euro per tahun bagi yang sudah kawin) serta urusan administrasi yang antara warga negara dan negara.

Gay marriage juga sering seringkali dituduh merusak tatanan keluarga tradisional, dimana anak-anak sewajarnya dibesarkan oleh bapak dan ibu, bukan ibu dan ibu, ataupun bapak dan bapak. Ada ketakutan bahwa mereka yang dibesarkan oleh pasangan gay & lesbian, kehilangan figur bapak ataupun ibu, kemudian tidak bisa tumbuh menjadi individu yang sempurna. Sepertinya ada ketakutan anak-anak ini akan tumbuh menjadi gay ataupun lesbian, seakan-akan menjadi gay ataupun lesbian itu bisa diwariskan, diajarkan atau lebih parahnya ditularkan. Padahal gay bukanlah penyakit, tidak menular dan bukan kelainan jiwa.

suasana perayaan gay marriage

Suasana perayaan di Dublin Caste. Photograph: Clodagh Kilcoyne/Getty Images taken from the Guardian. Click to see the original link

Akan selalu ada pro dan kontra terhadap perkawinan sesama jenis, bagi saya itu wajar, karena kacamatanya berbeda. Satu dari kacamata agama, satu dari kacamata administrasi negara dan hak asasi manusia. Dan debat panjang pun nggak akan pernah usai, baik di negeri ini maupun di negeri lain. Tapi satu hal yang bisa kita akhiri adalah perilaku homophobic kita, penghakiman-penghakiman serta perilaku diskriminatif kita terhadap mereka. Konon katanya kita ini berbudi luhur, tapi kenapa kita sering sekali melabeli gay sebagai pendosa berat, hingga lupa bahwa kita sebenarnya juga sama-sama pendosanya. Pendosa yang tak punya hak untuk menunjuk dan menimbang dosa orang lain.

Selamat berakhir pekan!

xx,

Tjetje

Tukang bikin dosa