Perempuan dan Aborsi

Ketika saya masih duduk di bangku kuliah sekitar belasan tahun lalu, seorang teman menelpon ke rumah saya. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar, ia tiba-tiba bertanya tentang tempat untuk melakukan aborsi. Kata dia, teman kuliahnya hamil dan ia berinisiatif membantu mencarikan tempat untuk aborsi. Seketika itu juga saya langsung menangkap bahwa dialah yang hamil.

Pada saat itu saya banyak mendengar teman-teman yang melakukan aborsi, tapi hanya sebatas mendengar dari mulut kesekian. Hanya satu orang teman pria saja yang pernah menceritakan dengan gamblang bagaimana proses aborsi berlangsung. Aborsi yang saya bicarakan ini tentunya aborsi ilegal, tetapi dilakukan oleh tenaga medis, seorang dokter yang berada di luar Malang. Bagaimana mengerikannya proses aborsi tak perlu diceritakan lah ya karena sungguh bikin ngilu.

Kengiluan ini bertambah parah ketika tahu bahwa dokter yang melakukan proses itu tak memperkenankan pasien untuk menginap di tempat praktek. Ya ampun yang kepikiran di kepala saya tentunya perut diobok-obok lalu tak lama ‘diusir’ keluar (eh bayar dulu dong ya dan biayanya ketika itu cukup buat bayar kuliah satu tahun). Dalam kondisi mental dan fisik yang tentunya saya bayangkan tak karu-karuan, masih ada perjalanan yang harus ditempuh dari luar Malang untuk kembali ke Malang, yang rata-rata harus ditempuh oleh anak-anak mahasiswa jaman 90-an dengan naik motor atau naik bis. Sementara secara mental dan fisik sang perempuan pasti kelelahan tak karu-karuan.

cartoon uterus

Teman-teman saya tersebut beruntung bisa melakukan aborsi yang ditangani oleh tenaga medis. Setidaknya prosesnya berlangsung dengan aman walaupun dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan ilegal. Ada banyak sekali proses-proses aborsi yang dilakukan tak aman, salah satunya dengan melakukan pijat. Pijatan yang dilakukan di area perut yang bertujuan untuk melepaskan fetus dari rahim, lalu dilanjutkan dengan peluruhan.

Proses peluruhan ini bisa dilakukan dengan pijat-memijat atau bahkan dengan meminum aneka rupa jamu-jamuan atau ramuan lainnya.  Selain minum jamu-jamuan, ada juga yang memakan nanas muda yang konon ‘panas’ sehingga menyebabkan kandungan yang masih muda luruh. Entah luruh semua atau luruh sebagian. Kalau luruh semua ya syukur, sementara kalau luruh sebagian dan infeksi, haduh…..

Bicara tentang aborsi tentunya tak bisa lepas dari proses menguburkan janin-janin tersebut. Konon tempat-tempat prakter dokter kandungan biasanya agak berhantu karena banyak terjadi proses aborsi. Nah, salah satu orang yang saya kenal pernah menguburkan janinnya di sebuah rumah miliknya yang tak ditempati. Rumah ini tak ditempati karena sedang mencari peminat untuk mengontrak. Orang-orang di perkampungan itu kemudian heboh karena di malam hari sering terdengar suara bayi menangis dari rumah kosong ini. Selidik punya selidik dan nampaknya penyelidikan tersebut melibatkan ‘orang pintar yang tidak minum tolak angin’, terungkaplah bahwa ada janin di rumah tersebut. Sang kenalan ini kemudian harus berurusan dengan warga kampung tersebut gara-gara urusan  janin bayi yang menangis tersebut. Saya sendiri tak tahu harus percaya atau tidak percaya dengan hal seperti ini.

Di Indonesia, aborsi sebenarnya bukanlah hal yang ilegal dan bisa dilakukan pada kasus-kasus tertentu, pada usia kehamilan tertentu tetapi hanya pada pasangan yang sudah kawin. Jauh berbeda dengan di Irlandia yang tidak memperbolehkan aborsi dalam kondisi apapun. Bahkan ketika nyawa ibunya menjadi taruhan, tak ada dokter yang berani melakukan tindakan karena takut dibawa ke pengadilan karena membunuh janin. Aturan ini merujuk pada agama Katolik yang dominan di Irlandia. Jeleknya, aturan ini berlaku pada siapapun dengan agama apapun. Termasuk pada Savita Halappanavar, pelajar beragama Hindu yang meninggal karena keguguran. Saat itu tak ada dokter yang berani mengeluarkan janinnya sehingga menyebabkan infeksi dan kerusakan organ yang berujung kematian sang ibu. Tragis, sungguh tragis.

Savita

photo: thejournal.ie

Perempuan-perempuan yang hendak melakukan aborsi dengan alasan apapun harus melakukan perjalanan ke luar Irlandia. Persis dengan pengalaman teman saya di paragraf atas yang harus pergi ke luar Malang dahulu. Ketika mereka punya cukup waktu untuk mempersiapkan perjalanan untuk aborsi sih ‘masih okay’, tapi begitu dalam kondisi emergency, aduh gak kebayang deh berapa Savita lagi yang harus meninggal sampai peraturan di Irlandia berubah.

Dalam urusan aborsi, saya memposisikan diri untuk tidak menghakimi perempuan yang melakukan hal tersebut karena banyak hal. Tetapi yang paling utama, perempuan adalah penguasa tubuhnya, bukan negara, bukan politikus dan bukan orang-orang lain di sekitarnya. Maka ketika seorang perempuan memutuskan untuk melakukan aborsi, sudah sepatutnya ia mendapatkan akses aborsi yang aman. Aman secara medis, aman secara hukum dan tentunya aman dari kecaman dan hujatan.

Selamat hari Perempuan!
Bagaimana dengan kalian, setujukah kalian dengan aborsi?

Xx,
Tjetje
Kematian Savita Halappanavar (Bahasa Inggris)

Advertisements

60 thoughts on “Perempuan dan Aborsi

  1. Inilah pentingnya metode preventif menurut aku. Kalau memang sudah pakai tapi ternyata tetep kebobolan lain cerita, sayangnya banyak (terutama di kalangan muda) yang having sex tanpa tau pendidikan seks, lalu ujung2nya aborsi, lalu menyesal, lalu makin berkepanjangan beban mentalnya. Sedih jadinya.

  2. Menurut Diana, masalah aborsi ini rumit. Banyak faktor yang terlibat. Ga bisa dilihat hanya hitam dan putih saja 😀
    Aborsi untuk kesehatan (menurut Diana) boleh-boleh saja asal sang ibu juga memilih hal tersebut. Namun untuk kasus Savita, bila bayi sudah tidak bisa dipertahankan dan nyawa ibu taruhannya, seharusnya tindakan medis (aborsi) diperbolehkan.

  3. ngilu bacanya mba 😦
    tapi iya sihh akupun pernah denger cerita tentang mahasiswi aborsi dan harus keluar Mlg buat dikuret…jangan2 kita membicarakan org yang sama :/

  4. Baru tau nih aku mba Tje kalo aborsi illegal di Irlandia. Aku kira justru di negara barat sana aturannya lebih loose..walau setelah gugling ternyata aturan di Aussie juga beda sih dari state satu ke state lainnya. Serem juga sih kalo ga boleh aborsi padahal nyawa udah diujung tanduk 😦

  5. Masalah setuju gak setuju itu agak susah ya mbak. Kalo yang sudah menikah dan ada masalah dengan janin nya sih lain cerita, tapi kalau masih remaja (atau wanita cukup umur) yang kebobolan, itu masih pro dan kontra. Gak bisa bilang setuju sepenuhnya soalnya nanti malah dipake alesan gapapa kebobolan kan nanti bisa aborsi..

    • Nah itu lalu merujuk pada postingan sebelumnya tentang seks bebas dan edukasi resiko seks pranikah. Dan aborsi itu menurutku gak semudah memutuskan beli kacang, panjang pertimbangannya. Pada remaja sekalipun.

  6. Kl aku sih terserah yg punya rahim aja. Tapi kebanyakan di Indonesia yg punya rahim kalah sama kemauan yg punya penis. Jadi harus ada pendidikan soal reproduksi, terutama buat yg punya rahim, biar ga nyesel di belakang atau bahkan harus membayar dengan nyawa.

  7. Aku setuju hanya demi alasan kesehatan ya Ai 😦
    bacanya aja udah serem, soalnya yang gak aborsi aja udah ngilu di aduk2 dibawah sana, konon yang aborsi huhu. Menyedihkan ya cerita ini.

  8. Mba Al, aku baca ini pas lagi ‘M’ (sorry), terus kefikiran dan tiba2 perutku sakit kayak kontraksi ngebayangin ini. Padahal ini cuman ngebayangin aja apalagi si pelaku ya ckckck. Kalo menurutku aborsi untuk alasan medis sih ya sah sah aja asal pasutri setuju, tapi kalo diluar itu mendingan jangan diaborsi. Sudah melakukan zina (dosa) malah menambah dosa dengan membunuh janin.

  9. Dulu jaman kuliah pernah ikut klub debat topiknya ini nih. Berdasarkan riset waktu itu sih, kami, saya sampai sekarang punya pendapat kalau aborsi itu hak perempuan dan punya jeda waktu sampai 16 minggu umur janin. Tapi memang sih urusannya bukan sekedar dilegalkan tapi harus seiring pengetahuan seks juga, soal kontrasepsi misalnya.

  10. Menurut aku aborsi itu urusan pribadi, terserah yang bersangkutan dan tergantung situasi.

    Aborsi di situasi tertentu menurutku lebih optimal daripada dipertahankan, misalnya kalau nyawa ibu dalam bahaya, atau anak muda yang masih terlalu muda untuk punya anak, karena nantinya kalau mereka belum siap untuk hidup sebagai ibu yang kasihan anaknya sendiri.

  11. Memang sulit ya kasus semacam ini. Di satu sisi, pelarangan (secara hukum) bikin orang kalau melakukannya jadi sembunyi-sembunyi yang mana artinya kebersihan dan prosesnya tidak dikontrol dan terjamin kan. Di sisi lain, jelas masalahnya bakal berat karena berurusan dengan mental juga.

  12. Aku merinding bacanya mbak tje. Menurut aku pribadi si calon ibu yg berhak memutuskan aborsi atau nggak. Daripada punya anak tp belum siap (contohnya karena masih kemudaan), kan nanti kasian anaknya juga. Memang pendidikan seks di indonesia masih harus diperbanyak ya…

  13. Kalau di Belanda gini Ail, ini yang tertulis dibuku pelajaran bahasa Belanda ya “Aborsi diperbolehkan untuk usia kehamilan sampai 24 minggu, tetapi hanya jika ibu dalam keadaan darurat, dan hal ini harus dikonsultasikan sebelumnya dengan dokter. Situasi darurat ini salah satu contohnya : jika wanita muda hamil dan dia merasa tidak bisa membesarkan anak yg dikandungnya, dia ingin memilih aborsi. Hal tersebut diperbolehkan tetapi harus tetap sesuai dengan aturan hukum di Belanda” begitu yang tertulis dibuku pelajaran.

  14. Ngilu mba bacanya. Sakit badan dan mental kalau harus di jalani ya?
    Kalau di bahas boleh atau ga boleh bakal panjang mba, apalagi ada orang/komunitas yang suka memaksa orang menelan pendapat mereka.
    Menurut aku pribadi itu terserah yang punya badan. Kalau dia mau keep/give up asal datang dari dalam hati ya monggo karena setelah itu dia masih harus menjalani hidupnya ke depan, jadi jangan sampai ada penyesalan seumur hidup.

  15. di meksiko city, maksimal 12 minggu, boleh aborsi dan tidak dikenai tindakan kriminal. Ini cuma di Meksiko City ya. Karena kan tiap negara bagian hukumnya beda beda

  16. menurut saya, aborsi itu bukan masalah dosa atau tidaknya, kan kita punya kehidupan masing-masing toh ?… ( itu urusan anda )
    tetapi jika hukum melarang aborsi karena dianggap membunuh, bagaimana jika janin yg dibawanya sakit ? bagaimana jika membahayakan nyawa si ibu ? ini bukan lagi masalah hukum … melainkan masalah nyawa manusia.. where is the humanity ????

  17. Kalo utk ajaran katolik, direct abortion (artinya membunuh si bayi just because) itu dk boleh, krn sama saja dengan membunuh anak yg sdh di luar rahim. Kl inderect abotion, dibolehkan. maksud dari indirect abortion misalnya si ibu hamil, tapi saat hamil, dia menderita kanker. nah, kalo si ibu kemo utk kanker tp side effectnya membuat si bayi meninggal, itu termasuk inderect abortion, krn tujuan utama dari kemo ini adalah utk menyembuhkan si kanker ini bukan utk membunuh si bayi. kalo direct abortion kan tujuan utamanya adalah membunuh si bayi itu, itu yg tdk boleh. Kalo utk kasus savita yg meninggal krn keguguran, ajaran katolik membolehkan kuret, kl memang si bayi sdh tdk bernyawa lagi di dlm rahim. Tp saya tdk tau pokok masalahnya dan prosesnya yg menyebabkan si savita meninggal. mungkin dia hamil, dan tujuannya direct abortion, krn ilegal di irlandia, trus cari abortion gelap, dan tdk berhasil, dan pendarahan.

    • Dalam kasus Savita dia keguguran dan terjadi infeksi yang infeksinya gak kedeteksi. Pemerintah Irlandia dituntut dan kabarnya harus memberi kompensasi 1 juta euro. Tapi nyawa juga gak bakal balik. Disini orang tahu kalau menggugurkan gak boleh dan gak akan sebodoh itu untuk menggugurkan di Irlandia. Mendingan nyebrang dikit ke Inggris tapi gak mati.

      • kalo keguguran, knp nuntut pemerintah ya? kan nggak ada hubungannya dengan hukum aborsi. semua kehamilan juga ada resiko keguguran, dan kalo keguguran kan bayinya memang sudah meninggal secara alami di dalam rahim, dan si tubuh memang harus mengeluarkan si bayi yg sdh meninggal. dan memang tubuh kadang nggak bersih ngeluarin sisa2, makanya bisa dibantu sama kuret.nah, kalo nuntut RS yg nggak bener nanganin kuret ato nggak cek bener2 sesudah keguguran masih masuk akal. kecuali ya itu, dia aborsi gelap, nggak bersih, jd pendarahan. itupun kalo ke RS, biasanya hrs ditolong, krn bukan masalah aborsi lagi, kan aborsinya sdh terjadi. RS hanya harus membersihkan sisa2 yg ada.

      • Jadi lebih tepatnya kehamilan dia bermasalah yang kemudian meracuni darahnya. Kesempatan bayinya untuk hidup juga gak ada (atau kecil). Makanya semestinya dia diaborsi, tapi dokter gak mau melakukan tindakan karena takut masuk penjara. Akibatnya dia mati pelan-pelan keracunan darahnya. Ini pemahamanku yang bukan orang medis ya.

        Parahnya, si Savita itu mahasiswa kedokteran gigi, sedikit banyak tahu dia akan mati kalau gak ada tindakan. Dan dia dibiarkan mati!!!!

  18. Mohon diperjelas mbak, maksud dari paragraf terakhir mbak, apakah mbak tjetje setuju aborsi semata-mata karena perempuan adalah si pemilik tubuh sehingga boleh melakukan aborsi apapun alasannya (termasuk direct abortion) atau setuju aborsi tapi harus dengan alasan yg masuk akal? (misal medis)

    • Secara pribadi saya tidak menyukai ide melakukan aborsi karena ketika dengar dengan detail bagaimana aborsi terjadi saya ngeri. Apalagi ketika dilakukan secara ilegal.

      Pada saat yang sama saya juga tak punya (dan tak mau punya) hak untuk melarang perempuan melakukan aborsi. Apapun alasannya. Baik medis maupun non-medis. Kita semua perempuan dewasa yang sudah mampu memutuskan yang terbaik dan mampu bertanggung jawab.

      Mungkin secara singkatnya, saya pro choice. Bagi saya penting buat perempuan memutuskan sendiri apa yang dia mau. Bukan orang lain yang memutuskan.

  19. Sedih bangat dengar kisah Savita. Keputusan aborsi memang hak yang punya rahim dan aku setuju sepanjang menyangkut kesehatan ibu dan kesejahteraan sang anak nantinya. Kalau ibunya memang belum siap akan kehamilannya, rasanya kehadiran sang anak di dunia ini pun secara mental akan susah menerima keberadaan dirinya sendiri yang dari lahir sudah tertolak.

  20. Mbak Ailsa, membaca posting ini sy jadi ingat kisah sahabat sy jaman dulu pas kuliah. Sekitar thn 2000/2001 sahabat sy hamil dr pacarnya yg juga teman kuliah kita bersama. Setelah dibicarakan bersama pacarnya itu – dan setelah cari biaya tentunya, saat itu udah masuk 4bln akhirnya teman sy memutuskan utk aborsi. Terus terang sy kaget juga pas dengar pengakuannya bhw dia mau aborsi tapi kemudian sy kuatkan & coba yakinkan bahwa itu adalah keputusannya sendiri & juga yg terbaik buat dirinya & masa depannya & sy bilang bhw sebagai teman sy siap membantu jika dibutuhkan. Singkat cerita mereka pergi ke sebuah klinik yg cukup terkenal di – kalo ga salah, di area Jakarta pusat di jalan Raden Saleh. Saat itu sy gak ikut antar karena sy udah mulai kerja sambil kuliah jadi sy tahunya malah pas udah sekitar 2minggu setelah aborsi. Jadi, menurut cerita sahabat sy ini, di sekitaran klinik itu / di sepanjang jalan itu ada penjual makanan/Warung rokok, petugas parkir mereka udah lihay banget & seolah mereka jadi PR/Public relations bagi mereka yg sedang cari klinik aborsi… Sahabat sy & pacarnya tidak perlu lagi PR ini karena mereka emang udah tahu ke klinik mana yg dituju. Sahabat sy cerita bahwa ‘eksekusinya’ bikin ngilu – persis sprt yg mbak ceritakan di atas.. Well, akhir ceritanya.. Sahabat sy ini dgn pacarnya tidak pernah menikah dan kadang2 ada timbul sedikit drama di antara mereka..yg intinya, “lo jangan lupakan apa yg pernah kita perbuat. Lo jangan sok pencitraan sm perempuan lain” sahabat sy tsb sempat down ketika ada kabar bhw sang pacar yg dulu itu menikah. Sahabat sy juga move on dgn pacar barunya.. Lambat laun belakangan, sahabat sy ini jatuh sakit & hasil diagnosa dokter dia sakit lupus (itu pun ketahuannya belakangan krn awalnya sakit pernafasan) bulan Mei tahun 2010 dia meninggal dunia..
    Maaf ya mbak, jadi panjang..tapi kalo dengar / baca ttg aborsi ya sy jadi ingat sm sahabat sy itu..

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s