Dunia Waria

Pekerjaan saya yang saya tinggalkan di Jakarta, memberikan banyak sekali kesempatan dan juga ruang belajar, apalagi ketika berkaitan dengan diskriminasi dan kelompok-kelompok terpinggirkan. Nah salah satu kelompok terpinggirkan yang pernah saya pelajari secara singkat adalah transjender atau yang lebih dikenal sebagai waria.

The festivity of pride celebration. #GayPride #equality #LGBTrights #FacebookDublin #Ireland #Dublin

A post shared by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Waria ini merupakan kelompok yang sangat termarjinalisasi. Saking termarjinalisasinya, bos saya sampai pernah berpesan (rasanya pesan ini pernah saya tulis juga di blog ini): jika bertemu dengan transjender yang sedang mengamen atau mengemis, berilah mereka sedikit uang karena hidup mereka sangatlah berat.
Transjender itu hidupnya berat, sangat berat dan penuh dengan pergulatan sejak usia dini. Mereka berperang dengan dirinya karena merasa terperangkap di dalam tubuh yang salah. Dalam kondisi seperti ini, seringkali mereka mengalami tekanan dan juga perisakan dari lingkungan sosialnya. Soal perisakan dan LGBT, kapan-kapan saya bahas terpisah karena blogger malas ini masih belum selesai baca materinya. Keluarga yang seharusnya memberikan dukungan juga seringkali gagal karena malu terhadap lingkungan. Pada banyak kasus, transjender yang beranjak remaja dan mulai berani menunjukkan identitasnya, seringkali diusir atau bahkan dibuang dari keluarga (baca: tidak dianggap sebagai bagian dari keluarga) karena mereka dianggap aib. Anak-anak transjender juga tak sedikit yang lari dari rumah, atau bahkan mengakhiri hidupnya.
Transstudent org
Pada saat yang sama, para transjender juga harus berhadapan dengan masyarakat yang tak pernah bisa memahami pergulatan mereka. Wajar jika kita tak paham pergulatan mereka, karena mungkin kita tak punya informasi apa yang sebenarnya mereka alami. Nah jika ingin memahami mereka, mungkin salah satu kasus menarik yang bisa dipakai sebagai referensi adalah kasus David Reimer. David Reimer ini terlahir sebagai pria, tapi kemudian dioperasi menjadi perempuan ketika masih kecil kemudian dibesarkan sebagai perempuan. Sepanjang hidupnya ia mengalami pergulatan batin yang luar biasa, karena memang ia bukan perempuan dan ia tahu bahwa ia bukan perempuan. Pergulatan inilah yang dialami oleh para transjender, terjebak dalam tubuh yang salah, sementara hati dan pikiran mereka mengatakan bahwa mereka memiliki jender yang berbeda.
Kembali lagi pada transjender yang lari ke jalanan. Jalanan menjadi ruang yang lebih terbuka dalam menerima mereka, tentunya jalanan hanya ramah ketika Satpol PP tak sedang iseng beroperasi. Di jalanan yang keras ini banyak dari mereka yang terpaksa menjadi pengamen, atau pekerja seksual (bahkan menghadapi resiko diperkosa dan juga terpapar HIV/AIDS). Sementara beberapa yang lebih beruntung berada pada pekerjaan lain, seperti dunia hiburan ataupun kecantikan. Tapi harus diakui, pekerjaan bagi para waria memang hanya terbatas pada hal-hal tertentu, padahal saya yakin banyak dari mereka yang memiliki potentsi tapi kondisi menghentikan impian mereka.
Menariknya, di sebuah dokumenter saya mendengar bahwa di jaman Pak Harto yang konon sangat opresif para transjender hidup lebih nyaman dan damai. Dokumenter ini judulnya waria zone dan DVDnya bisa didapat dengan harga 12 Euro dari website ini. Sayangnya trailer dari film ini ada di Vimeo, jadi kemungkinan tak bisa ditonton oleh sebagian dari kalian, karena  #YangMuliaTukangSensorTiffie meninggalkan pencapaian indah selama masa jabatannya: SENSOR!
Kendati bicara tentang diskriminasi dan kerasnya hidup para waria, dua tahun lalu, ketika film ini diputar di lingkungan tempat saya bekerja, saya menengar bisik-bisik para waria yang terlibat di dalam film ini tak mendapatkan komisi apa-apa dari penjulan film ini. Mereka sudah dipaksa menandatangi pelepasan hak. Ini dua tahun lalu ya, semoga saja sekarang mereka sudah mendapatkan setidaknya segenggam beras.
Kendati waria sudah ada di lingkungan kita sejak lama, banyak dari kita yang tak tahu bagaimana cara berinteraksi dengan baik dan benar dengan mereka. Beberapa tips dari saya untuk berinteraksi dengan mereka:
  • Jangan pernah panggil mereka banci atau bencong. Tak sopan dan menyakitkan.  Jika punya anak, ajari juga mereka untuk bisa lebih baik pada waria. Setidaknya, tak perlu bisik-bisik dan meneriaki mereka, apalagi sampai lempar batu. Come on, they are human too.
  • Dalam berinteraksi, wajib hukumnya bertanya bagaimana mereka mau dipanggil. Jika mereka mempresentasikan diri sebagai perempuan, jangan sekali-sekali manggil mereka Mas, Abang atau Bli. Panggil mereka Mbak, Neng, Mbok, Kakak, ataupun Nona. Yang paling utama, jangan pula memanggil mereka dengan nama lahir mereka, kecuali mereka meminta hal tersebut. Bayangin aja kalau ketemu Caitlyn Jenner di Starbucks, gak bener kan kalau kita teriak-teriak Mas Bruce  lalu minta selfie.
  • Kelamin dan operasi menjadi sebuah hal tabu yang tak patut ditanyakan, dalam situasi apapun dan sedekat apapun. Mengapa? Ya mereka aja tak sibuk menanyakan bagaimana bentuk kelamin kita, kok kita tiba-tiba merasa punya hak untuk kepo menanyakan apa saja yang sudah mereka lakukan dengan kelaminnya. Kalau nanya tak boleh, megang-megang juga tak boleh dilakukan ya.
Sebagai manusia yang katanya berbudi luhur, tugas kita bukan menghakimi apalagi sibuk ngurusin kemana mereka pergi setelah mereka meninggal dunia (baca: sibuk ngumpatin mereka masuk neraka sambil komat-kamit, dosa…dosa…dosa padahal dirinya lagi bikin dosa). Tugas kita sebagai manusia itu cuma satu, memanusiakan mereka supaya mereka tak termarjinalisasi dan bisa mendapatkan hidup yang tenang. Kalau belum bisa, ya cukup seperti saya, rogoh kocek setiap kali melihat para pengamen transjender. Ingat ya, hidup mereka penuh dengan pergulatan dan kita tak perlu ikut-ikut bikin hidup mereka makin susah.
Permisi dulu, saya mau menghabiskan akhir pekan dengan ikutan ikut Gay Pride. Silahkan besok ditengok foto-fotonya di IG saya @binibule. Hashtagnya #binibule ya, gak pakai manja-manjaan, #BukanPerempuanManja.
xx,
Tjetje
Advertisements

31 thoughts on “Dunia Waria

  1. Aaahhh setuju banget. Aku pernah bilang ama suamiku, untuk keluar dari kloset dan benar2 berubah jd transjender, para waria di Indonesia ini berani2 sekali. Soalnya hidup jadi waria di Indonesia ini beraaaatttt banget. Dah kayak kasta paria deh! Pernah nonton dokumentari dari Vice ttg kehidupan waria di Indonesia, terutama di Jogja, ada di YouTube.

  2. Aku akur banget sama tulisanmu ini Sa. Thanks tipsnya lho. Kadang aku bingung gimana harus berinteraksinya. Soal panggilan itu juga bikin bingung. Sekarang jadi ada gambaran 🙂
    Thanks!

  3. Saya juga lebih memilih memberi uang atau buah saat yg mengamen di warung adalah seorang transgender daripada yang lain. Mereka bukannya ga mau berusaha, tapi seperti yang mbak bilang, jarang yang mau memberi mereka kesempatan untuk usaha di bidang lain.
    Dan menurut saya mereka adalah orang2 paling pemberani (terutama wanita transgender). Salah besar kalo ada seorang pengecut trus dipanggil banci (walaupun wanita transgender juga tidak mau dan tidak boleh dipanggil banci, tapi mungkin mbak paham maksud saya).
    Trus soal David Reimer, saya kira tadinya dia intersex. Eh ternyata semua adalah hasil keegoisan ortunya 😥

      • Iya, mbak, cuma ga kepikiran aja kok bisa setega itu. Bahkan bayi intersex aja kan di beberapa negara ga boleh dioperasi langsung (kecuali kalo keadaannya bisa membahayakan si bayi) karena kebanyakan hasilnya antara gender dan jenis kelamin yg dipilih oleh orangtua berbeda dan bisa mengakibatkan lebih banyak masalah lagi ke depannya.

  4. Sejak kecil saya terdidik untuk menghormati waria. Tapi semakin besar saya jadi tau ada sebab/faktor yg membuat mereka seperti itu. Walopun saat saya bekerja di salah satu divisi yg menangani permasalahan mengenai penentuan jenis kelamin yaitu saat akil balig. Membutuhkan usaha yg luar biasa saat para ahli memutuskan individu ini akan menjadi laki2 atau perempuan.

  5. Kak Tje, I tell u what, justru bergaul sama cowok2 yg maaf kecewek2an itu jauh lebih menyenangkan loh. Mereka umumnya bisa jadi tempat bertukar pikiran yg asikk dan not likely going to judge. Jujur aja, kalau aku lebih nyaman temenan sama lgbt ketimbang sama mereka yg kerjanya cuma bisa bilang ini salah itu gak boleh. Dibilangnya lgbt nular, tp aku gak ketularan tuh 😀

      • Hehehe tergantung juga sih. Banyak juga masalah perisakan yang ada di dalam komunitas MOGII (marginalized orientation gender identity and intersex). Biasanya dialami oleh para sahabat yang Bisexual, Transgender, Pansexual dan kami yang Asexual. And they could be more vicious and painful because we thought that they should be more understanding. Didn’t they face the same thing from heteronormative and amatonormative society what they’re doing to us?

  6. Setuju dengan bullet point yang kedua. Panggilan itu sepertinya memang salah satu hal yang paling tricky ya. Tetapi bisa ditebak dari cara mereka berpenampilan sih, hehe. Aku pernah menghadapi situasi serupa soalnya dimana ada seorang profesor yang transjender. Tapi karena ia merepresentasikan diri sebagai wanita, ya dipanggilnya “Miss” gitu deh dan merujuk dia sebagai “her” atau “she”, hehe 🙂 .

  7. Sang orangtua jg sama menderitanya mba, menderita mikirin masa depan sang anak secara duniawi kesempatan kerja yg ada sangat “terbatas” hanya pd profesi2 tertentu jd ortunya mikir kelak ketika dia semakin dewasa bagaimana? siapa yg akan ngurus? Dan banyak lg, namanya jg ortu (apalagi mikir masa depan akhirat, maaf nyinggung sedikit) mau disuruh pergi dr rumah lha wong anak sendiri, ini kejadian dg saudara jauh di kampung mba, sejak SMP sudah mulai menunjukkan kecenderungannya. Kalau dg transjender Biasanya saya manggilnya sis atau ses dari zus (belanda) ga tau kenapa saya memutuskan memanggil begitu.

  8. Postingannya bagus banget Tje… aku di Jakarta dulu jarang deh lihat Waria, apa mungkin aku jarang jalan-jalan di jalanan. Dan kalau lihat Waria itu pasti ada anak-anak kecil yang nyanyi nyanyi melecehkan di jalanannya. Kasihan. Diingat jadi kalau liat mereka ngamen, aku kasihkan uang.

  9. padahal fenomena ini jaman dulu banget juga udah ada kan, kayak gemblak-nya warok gitu… dan dulu kayanya diterima aja deh ama masyarakat sekitar..

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s