Kontroversi Hubungan Beda Usia

Perkawinan yang usia pelaku perkawinannya berbeda jauh, baik dilakukan orang asing maupun dilakukan orang Indonesia, selalu kontroversial dan mengundang tatapan penuh tanda tanya. Beberapa waktu lalu, saya turun dari sebuah tangga berjalan di Plaza Senayan, di depan saya ada pasangan beda usia, dua-duanya orang Indonesia. Dari bahasa tubuhnya mereka terlihat sebagai pasangan dan bukan ayah dan anak. Seperti diduga, mereka mengundang tatapan mata yang sadis dan cibiran. Saya yang berdiri empat langkah di belakang mereka saja bisa merasakan panasnya tatapan orang lain yang penuh cibiran. Sadis.

Mereka bukan satu-satunya pasangan yang mendapatkan tatapan panas. Coba google Sheldon Archer dan Yuyun. Sheldon Archer berusia 72 tahun ketika mengawini perempuan Probolinggo yang 49 tahun dibawahnya. Beberapa tahun lalu, berita perkawinan mereka menghebohkan jagat maya, bukan hanya karena perbedaan usia yang mirip kakek dan cucu, tapi juga karena si Sheldon ngomong kawin sama orang Indonesia itu gampang, tinggal mumbled a few words he didn’t understand.

Dua contoh yang jauh berbeda di atas memberikan gambaran bahwa pasangan dengan usia yang jaraknya jauh seringkali dianggap salah, tabu dan menyalahi norma. Masyarakat kita suka melabeli perempuan pencinta pria matang sebagai pencari status sosial (a.k.a social climber), materialistis, murahan dan pada beberapa kasus, perusak rumah tangga. Label ini bisa jadi dikarenakan anggapan bahwa pria matang biasanya sudah menikah (kemudian bercerai), memiliki kestabilan ekonomi,  cicilan rumah sudah lunas, mobil beberapa buah dan anak-anak yang sudah mapan. Label ini juga tak sepenuhnya salah karena ada perempuan-perempuan yang mengawini pria karena alasan ekonomi. Sadly, sebagian perempuan memang diajarkan untuk mencari pria yang lebih, lebih pintar, pekerjaannya lebih baik, penghasilannya lebih banyak supaya bisa diandalkan. Tak semua perempuan diajarkan untuk berdiri sendiri dan membangun kestabilannya.

Generation-03-27-11-400x396

Gambaran Pattaya dengan kakek-kakek yang dikerubungi gadis-gadis usia belia berkontribusi banyak pada image perempuan muda dan pria matang. Konon, di dalam dunia perdagangan jasa kasih sayang, perempuan-perempuan muda memang lebih menyukai pria matang. Duitnya lebih banyak, tidak banyak minta posisi ini itu dan lebih cepat selesai. Sementara bukan rahasia lagi bahwa ada pria-pria berusia matang yang memang berfantasi memiliki hubungan dengan perempuan yang sangat muda.

Tak heran kalau kemudian pria-pria yang berhubungan dengan perempuan yang lebih muda mendapat aneka rupa label seperti kegatelan dan tak bisa menahan napsu. Seringkali mereka dianggap tak sadar usia (apalagi jika usia pasangan barunya lebih muda ketimbang anak kandungnya) dan patriarki. Label yang paling akhir ini biasanya terjadi dalam perkawinan campur antara orang asing dan orang Asia. Ada anggapan bahwa mereka, orang-orang asing, menyukai perempuan Asia (apalagi yang lebih muda) karena lebih bisa diatur dan lebih menurut. Lalu muncul generalisasi bahwa parempuan yang kawin dengan pria asing biasanya mengawini pria yang usianya jauh lebih tua (kecuali saya yang sering diduga memiliki pasangan berondong). Label-label di atas tak sepenuhnya benar, tapi juga tak sepenuhnya salah, tergantung konteks dan latar belakangnya masing-masing.

Ada berbagai kekhawatiran yang membuat masyarakat kita melihat hubungan beda usia ini tabu. Beda usia, beda generasi diartikan berbeda selera. Yang satu suka Justin Bieber, sementara yang satu lebih suka Connie Francis. Yang satu menyukai golf, sementara yang satu menyukai olahraga ektrim yang bisa bikin alat pemacu jantung rusak seketika. Sebenarnya, pasangan dengan usia yang dekat pun pasti punya selera yang berbeda juga, punya perbedaan yang harus dikompromikan.

Pasangan beda usia juga rentan dicibir urusan anak. Dikasihani karena anaknya tak bisa lulus kuliah didampingi bapaknya, nggak bakal bisa kawin didampingi bapaknya karena bapaknya sudah berumur (dan diprediksi saat momen-momen itu, bapaknya sudah nggak ada). Saya bukan ahli psikologi, tapi dalam pikiran sederhana saya, anak hanya akan melihat cinta dan kasih saya dari orangtuanya. Bapaknya mungkin tak akan ada dalam masa tertentu, tapi bukan berarti kita semua tak rentan dengan hal serupa. Orangtua kita, bisa berpulang kapan saja dalam usia muda ataupun tua.

Masyarakat kita memang tak terbiasa dengan perkawinan dengan jarak usia yang terlampau jauh. Makanya pasangan beda usia selalu mendapatkan tatapan penuh tanda tanya. Keingintahuan untuk mencari tahu cerita dibalik hubungan itu yang dibarengi oleh penghakiman. Tapi yang saya heran, bukankah masyarakat kita selalu mengajarkan perempuan untuk mencari pria yang lebih tua karena pria yang lebih muda dianggap tingkat kedewasaannya belum terbentuk sempurna? Oh mungkin ketika mengajari lupa bilang: tapi jangan tua-tua banget, nanti Bapakmu bingung manggilnya apa!

Xx,
Tjetje
Sering dituduh punya pasangan lebih muda