[Dear Bule Hunter]: Iya Kawin Sama Bule itu Enak Kok!

Ada yang berkata pada saya, “Mbak Ail, kenapa sih kok nulis Dear Bule Hunternya negatif banget dan gak ada bagusnya. Padahal kan kawin sama bule itu tak selamanya sengsara, pasti ada enak-enaknya. Kenapa gak nulis sukanya juga, jangan dukanya doang. “Baiklah, demi para pembaca yang budiman, akan saya berikan gambaran indahnya kawin sama bule dan tinggal di luar negeri.

Lapar tinggal buka tudung saji 

Ingat jaman-jaman indah ketika dalam kondisi kelaparan pulang kerumah lalu membuka tudung saji dan terhamparlah makanan nusantara di bawah tudung saji tersebut? Hamparan makanan nusantara yang masaknya rumit, bumbunya banyak dan terkadang perlu berjam-jam untuk sekedar mematangkan potongan daging dan santan supaya meresap. Rasanya buka tudung saji itu kan nikmat sekali, apalagi ketika ada kepulan nasi hangat bersama tempe, ayam goreng dan sambal kecap. Persis seperti kenikmatan membuka tumpukan hadiah di hari Natal.

Nah kawin sama bule itu enak banget. Saking enaknya, tiap kali kelaparan tinggal buka aja itu tudung saji. Jreng…jreng…jreng…di luar negeri tudung saji itu kosong dan harus diisi sendiri. Eh tapi ngisi tudung saji itu gampang banget kok. Pengen tempe penyet? Gampang, tinggal ke toko Asia beli tempe. Pengen nasi goreng pete, gampang, tinggal rogoh recehan beli pete. Pengen makan kerak telor? Lebih gampang lagi, taruh laptop di bawah tudung saji, masukkan nomor kartu kredit lalu pulang untuk beli kerak telor.

Wueeeenak kok kalau kawin sama bule itu, pengen makan apa-apa tinggal masak sendiri. Bahan-bahan juga gampang ditemukan, kalau gak ketemu mah tinggal pulang aja ke Indonesia. Kalau males, bisa order online. Makan makanan Indonesia di luar negeri itu gampang, gak perlu sakit tenggorokan manggil-manggil si Mbak, apalagi repot-repot nungguin gerobak pedagang nasi goreng yang tak kunjung lewat. Tinggal jalan aja ke dapur, racik sendiri.

Rambut kece badai

Image sebagai istri bule yang nyonya besar itu kan harus tetap terjaga, jadi dalam kondisi apapun rambut harus tertata rapi, serapi rambut Dian Sastro. Angin musim dingin pun tak boleh merusak tatanan rambut ini, kalau perlu hairspray satu botol disemprotkan ke rambut. Nah biar tak kalah dengan para artis-artis ibu kota, ada baiknya jika para penata rambut itu dipanggil ke rumah supaya bisa menata rambut.

Gak punya uang buat bayar penata rambut? Ya ampun, malulah sama gaji Euro? Anak kos di Jakarta aja yang gajinya rupiah aja tiap pagi bisa manggil tukang salon untuk ngeblow rambut di pagi hari. Potong rambut pun tak perlu repot-repot ke salon tinggal hair dressernya yang dipanggil. Kualitasnya pun tak ciamik, bisa bikin rambut jadi mengkilat seperti model-model shampoo terkini.

Eh tapi menjadi istri bule kan bikin pintar, pintar mengakali. Gak sanggup panggil hair dresser ke rumah ya tinggal beli hair dryer mutakhir, lalu duduk diam selama dua jam ngeblow rambut sendiri. Enak kan gak perlu kehilangan pulsa untuk sms atau telpon hair dresser dan yang paling penting lebih irit 40 Euro untuk ngeblow rambut?

Kawin sama bule bisa punya rumah seperti di Downtown Abbey

highclere_castle Photo: janeaustensworld.wordpress.com

Luar negeri itu ya penuh dengan rumah-rumah besar seperti Downtown Abbey. Orang-orang bule itu pada kaya raya, rumahnya segede gaban, domestic helpernya segambreng, yang ngurusin kebun ada sendiri, yang ngurusin dapur ada sendiri. Miriplah dengan Downton Abbey yang punya pasukan untuk ngurusin rumah. Tapi perlu dicatat, rumah-rumah segede gaban itu adanya pada abad 17, jadi kalau mau rumah segede itu balik aja ke abad 17an dan kawini bule dari abad itu. Atau, mungkin bisa mengincar pangeran Harry yang  masih lajang, karena jaman sekarang keluarga mereka salah satu keluarga yang punya helper segambreng-gambreng.

Nah bini bule abad 21 itu rumahnya beda dari bini bule abad 17. Rumahnya kecil gak ada kolam renangnya pula. Eh tapi jangan salah lho rumah kecil itu enak banget, mau ke dapur dekat, mau ke toilet dekat. Lebih enak lagi ketika dapur kotor, bersihinnya cepet. Kalau toilet kotor, gampang tinggal ambil brush dan pembersih, semprot-semprot, gosok-gosok, hitung-hitung bakar tempe penyet dari bawah tudung saji tadi.

Penutup

Tulisan Dear Bule Hunter ini muncul karena adanya orang-orang yang menggoogle kata kunci: “kawin dengan bule itu enak”. Tulisan-tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang realitas kerasnya kehidupan di luar negeri supaya mereka yang berburu bule tidak keblinger dengan fantasi bahwa hidup dengan bule di luar negeri itu indah, seindah gambar-gambar cantik di Instagram ataupun facebook. Jangan salah lho, istri-istri bule yang kaget melihat kehidupan di luar negeri itu jumlahnya tak sedikit, karena harapan mereka yang terlalu tinggi. Ditambah lagi mereka tak punya pengalaman mengalami hidup di luar negeri dan gambaran tentang luar negeri hanya didapat dari film Hollywood atau film seri macam Downtown Abbey.

Tulisan ini tak boleh dipahami sebagai larangan untuk memburu bule. Berburu pria itu, termasuk pria berkulit putih adalah hak setiap manusia. Tapi sekali lagi,  memburu pria karena warna kulitnya itu rasis. Bahkan bagi beberapa teman bule saya, memilih karena warna kulit itu penghinaan. Memilih pasangan sejatinya berdasarkan kualitasnya sebagai manusia, bukan karena warna kulitnya.

Permisi dulu, saya mau enak-enakan ngosek toilet sampai bersih. Enak tho?

Xx,
Tjetje