Warna-warni Salon

Jaman saya kuliah dulu, saya hampir tak pernah cuci rambut di rumah, selalu di salon. Harap maklum, jaman itu saya masih pelajar yang hanya tahu betapa mudahnya menghabiskan uang dan tak begitu paham bagaimana susahnya mencari uang. Apalagi, cuci rambut di jaman itu tergolong murah meriah, apalagi di kota Malang.

Nah, selama hobi nyalon itu, saya suka banget mengobservasi hal-hal yang terjadi di salon. Beberapa pengamatan akan saya ulas di sini.

Penghematan handuk

Pernahkan kalian menghitung dan memperhatikan, berapa banyak handuk yang digunakan ketika mencuci rambut? Satu di punggung, kemudian setelah selesai, rambut akan dikeringkan dengan handuk lain lagi. Pada intinya, untuk mencuci rambut di salon diperlukan banyak handuk.

Nah untuk melakukan penghematan, beberapa salon menggunakan kembali handuk yang diletakkan di punggung kita, yang seringkali tak basah, pada klien yang berbeda. Geli dan jijik banget kan ya?! Tips saya, kalau berada di salon, minta supaya semua handuk yang digunakan baru, kalau perlu perhatikan darimana mereka mengambil handuk.

Shampo murah meriah

Shampo di salon-salon itu biasanya shampo yang dibeli dalam jumlah besar di toko-toko perlengkapan salon. Kualitas shampo ini jangan ditanya, tak akan sebagus kualitas sampo yang kita gunakan di rumah. Tentu saja semakin bagus salon yang kita kunjungi, akan semakin bagus shampo yang mereka gunakan. Ada satu hal menarik yang pernah saya lihat di sebuah salon, mereka menggunakan botol shampo ternama, tapi di dalamnya di isi dengan sampo literan berkualitas murahan. Kepala gak bisa bohong bow, entengnya gak sama.

Untuk ngakalin hal-hal seperti ini, ada baiknya kalau kita bawa shampo sendiri dan tak perlu repot-repot menggunakan shampo murah meriah. Tapi tentunya kita jadi repot sendiri, karena bawa-bawa botol shampo dan conditioner.

Ruang merokok

Masuk ke salon itu tujuannya satu, supaya rambut bersih dan wangi. Nah, salah satu salon yang pernah saya kunjungi di Mall Ambassador sana (ya elah, nyalon kok ke Ambassador) punya ruangan khusus untuk merokok yang baunya aduhai tak terkira. Tahu sendiri kan bau rokok itu melekat di rambut, kulit dan pakaian.

Jadi sesungguhnya saya kurang paham kenapa harus ke salon dan melakukan perawatan rambut jika akhirnya rambut harus bau rokok lagi? Oh well, buat perokok mungkin ini bukan masalah, tapi buat saya ini masalah banget, karena bau rokok dari ruang sebelah akan masuk ke ruang lain yang bebas merokok. Gagal deh rambut bau wangi layaknya taman bunga.

Ganti-ganti capster dan tips

Ini saya perhatikan khas Jakarta banget, yang mencuci rambut biasanya tak sama dengan yang ngasih creambath, nanti yang ngeblow beda lagi. Nah kalau sudah begini, kerepotan akan ada saat ngasih tips, karena para pegawai ini biasanya banyak bergantung dari tips. Nyarinya bakalan susah, karena balik lagi orangnya beda-beda. Jaman saya di Malang dulu gampang banget, yang ngurusin satu atau dua orang saja, jadi ninggal tipsnya juga gampang.

Dengan jumlah orang yang banyak gini, ngetipsnya juga pusing, karena untuk banyak orang.

Asuransi Salon

Jaman saya masih remaja dulu, rambut saya pernah dipapan yang pakai banyak papan di atas kepala. Berat banget deh. Begitu hasil papan jadi, ada seiprit rambut saya yang masih keriting. Waktu saya balik ke salonnya, sang pemilik salon tak peduli gitu. Boro-boro peduli, minta maaf aja engga. Coba kalau di sini, bisa dituntut!

Nah, satu hal yang membedakan Irlandia dan Indonesia adalah asuransi. Di Irlandia, salon itu luar biasa mahalnya, karena tak sembarang orang boleh menyewa kursi di salon, mereka harus punya kualifikasi dan juga punya asuransi. Asuransi ini berguna untuk melindungi hairdresser dan juga klien, jika ada hal-hal yang tak berjalan sesuai rencana. Seperti rambut saya tadi. Tujuannya diluruskan, jadinya malah lurus campur keriting.

Nah hal-hal di atas yang umum di salon-salon di Indonesia, tak akan ada di salon-salon di Irlandia. Pendapatan mereka juga sudah layak, sehingga tips tak lagi diharapkan. Sayangnya, salon di Irlandia tak menawarkan creambath, karena creambath cuma ada di Indonesia. Kalaupun ada creambath, konsumen Indonesia pasti akan kecewa berat, karena pijit di sini hanya dielus-elus, tak seperti di Indonesia yang penuh tenaga.

Kamu, kapan terakhir kali ke salon?

xx,
Tjetje
Keluar masuk beberapa salon ketika mudik

Advertisements