Susahnya Hidup Tanpa Plastik

Bulan Juli sudah berlalu, katanya bulan tersebut adalah bulan untuk diet plastik, atau tanpa plastik. Faktanya saya susah banget untuk tidak menggunakan plastik. Jadi izinkan saya untuk mengaku dosa, saya pendosa besar dalam mengkonsumsi plastik yang berkontribusi merusak lingkungan dan membuat hidup para hewan susah.

Air minum kemasan

Dosa terbesar saya dalam mengkonsumsi plastik adalah air minum kemasan. Di tempat saya bekerja, air minum kemasan ini disediakan secara gratis. Setiap hari saya setidaknya mengkonsumsi tiga hingga empat botol, tergantung berapa lama saya harus berbicara. Untuk mengurangi konsumsi plastik botol dari stainless steel sudah pernah dibagikan. Botol yang dibagikan pun oke punya, keluaran Klean Kanteen dengan insulasi yang sangat bagus. Air hangat bahkan bisa tetap hangat hingga lebih dari 12 jam. Sementara air dingin juga akan tetap segar, bahkan es batunya seringkali masih ada, tak sepenuhnya mencair. Saya punya beberapa botol ini, tapi selalu lupa membawa ke kantor dan tiap kali dibawa ke kantor, selalu terbawa lagi ke rumah. Tobat deh, mungkin sudah saatnya saya meninggalkan satu di kantor, satu di rumah dan satu di dalam tas saya untuk dibawa-bawa. Nampaknya bertobat itu memang tak murah, mengingat kalau beli sendiri, di Dublin, harganya mencapai lima puluh Euro.

Plastik rumah tangga

Selain botol plastik, saya mengkonsumsi banyak plastik di dapur rumah. Konsumsi terbesar saya untuk plastik pembungkus (zip lock). Freezer saya tertata rapi, dari tempe, cabai, hingga aneka rempah saya simpan dalam plastik individu. Kalau dilihat cantik dan sangat rapi. (Nanti kapan-kapan saya bikinkan tour freezer lagi ya di IG story). Soal yang satu ini sedang saya coba kurangi. Saya dengan mengumpulkan botol-botol kaca supaya cabe bisa langsung saya hancurkan untuk masuk ke botol. Tapi tempe, saya belum menemukan solusinya. Tempe-tempe saya tertata rapi dalam porsi delapan potong, supaya kalau menggoreng tak perlu repot. Kotak plastik freezer sendiri tak memungkinkan, karena sudah beberapa hancur akibat dinginnya freezer. Mungkin ada yang bisa membantu memberi ide?

Plastik dari supermarket

Di samping dua hal di atas, sampah plastik di rumah kami juga datang dari supermarket. Supermarket lokal kami menggunakan banyak plastik. Tomat terbungkus plastik, daun bawang dibungkus plastik dengan rapat, ketimun pun dibungkus satu-persatu dengan plastik. Banyak produk segar lainnya juga dibungkus plastik supaya tak cepat layu. Soal ini, sudah beberapa kali di bahas di media di Irlandia, tapi baru satu supermarket yang melakukan aksi nyata untuk mengurangi konsumsi plastik. Sisanya penuh dengan plastik.

Yang menyebalkan, beberapa banyak plastik yang kami gunakan ternyata tak bisa didaur ulang. Di sini, kebanyakan produk memberikan informasi materi pembungkusnya dan apakah pembungkus tersebut dapat didaur ulang atau tidak. Produk daging misalnya, seringkali plastik pembungkusnya plastik film yang tak bisa didaur ulang, otomatis plastik ini harus dibuang ke tempat sampah hitam dan biaya pembuangannya lebih mahal. Lima kali lipat dari pembuangan sampah yang bisa didaurulang. Lingkungan rusak, kantong pun bocor.

Plastik belanjaan

Di Irlandia sendiri plastik untuk membungkus belanjaan tak diberikan dengan gratis, harus membayar. Kantong plastik biasanya dihargai 70 sen. Kantong ini sendiri cukup kokoh dan biodegradable. Saya sendiri memiliki kantong belanja dari kain, buatan Ibu saya. Kantong-kantong ini saya simpan di bagasi mobil, jadi kapapun saya belanja, tak perlu repot beli plastik. Tahun ini, ibunda saya akan berkunjung lagi dan saya sudah pesan khusus, tas belanja dengan motif-motif Indonesia.

Sedotan

Dari segala dosa di atas, ada satu hal yang saya tak merasa berdosa: sedotan. Saya tak senang menggunakan sedotan, alasannya sederhana: sahabat saya yang menyukai ilmu pengetahuan berkata bahwa minum dengan sedotan itu tak sehat. Saya begitu mempercayai ucapan sahabat saya ini (dan tak pernah repot mengecek kebenarannya), yang jelas informasi ini terpatri di kepala saya. Jangan minum dengan sedotan, tak sehat. Alhasil, ketika melihat sedotan stainless Klean Kanteen beserta sikat penggosoknya di toko, saya tak tergoda. Minum buat saya ya harus ditegak, biar puas.

Bagaimana konsumsi plastik kalian?

Xx,
Ailtje

Advertisements