Pengen Punya Pacar Bule?

Saya tadinya engga kepengen, apalagi kepikiran bakal punya pacar Bule, apalagi jadi bini bule. Obsesi saya (dan mantan-mantan saya) di masa lalu justru pria-pria berkulit sawo matang nan seksi. Tapi Tuhan dan Cupid berkata lain, dikirimkannya pria berkulit putih, tanpa kuda putih, dari negeri nun jauh disana yang berhasil mencuri hati saya.

Punya pacar WNA, kalau ketemu temen lama pasti komentarnya: “enak ya, mau dong dicarikan pacar bule!” Entah apa maksudnya enak itu, tapi saya paling anti menjodohkan orang lain, mau bule mau lokal, buat saya no no. Resiko menjodohkan dua hati itu selain terlalu besar, karena bisa kehilangan teman, juga melelahkan. Teman-teman Kenalan-kenalan yang minta pacar bule itu biasanya juga melihat dan mengasosiasikan bule dengan kata glamor, status ekonomi dan sosialnya lebih tinggi sehingga hidup lebih enak dan mudah. Iya kalau jaman Belanda, para kompeni hidupnya lebih enak, sementara rakyat jelata merana. Jaman sekarang mah udah gak relevan lagi. Lagipula,  milyarder sekalipun yang uangnya berserakan, hidupnya juga gak gampang, mesti usaha kerja keras dulu.

Buat yang pengen punya pacar bule, saya sharing beberapa tips tidak biasa (baca: ngaco_, supaya tidak ngomel-ngomel dan kaget jika berkenalan dengan orang asing:

Sharing

Punya kekasih WNA itu berarti harus punya kemauan untuk berbagi segala hal termasuk berbagi tagihan. Jadi kalau makan di luar bareng ya tagihan ya dibagi dua. Kalau jalan-jalan terus sewa tuk-tuk ya bagi dua. Kalau gak, ya gantian bayarnya. Stop berpikiran bahwa bule itu = ahli waris paman Gober, terus mereka layak diperas.

Buat bule (dan saya) kesetaraan dalam hubungan itu penting. Jadi dia bayar, saya juga bayar. Harta dia  ya harta dia, punya saya ya punya saya. Gak ada prinsip yang berkata: hartamu milikku, hartaku milikku. Ada juga kok bule yang nggak keberatan bayarin, banyak mungkin, tapi perlu diterapkan di kepala bahwa mereka bukan ponakan Paman Gober ya.

Privacy

Sudah bukan rahasia kalau bule itu sangat menghargai privacy, walaupun gak semuanya, yang rumpi abis kayak emak-emak juga banyak banget. Bedanya sama orang Indonesia, nanyanya ga vulgar banget, baru kenal langsung nanya sejuta pertanyaan pribadi. Kalau bule pelan-pelan nggak langsung tembak. Main cantiklah. Tapi buntutnya sama, sama-sama pengen tahu. Penasaran emang bawaannya manusia. Namun pada umumnya, bule nggak akan nanya hal-hal pribadi kalau baru kenal, kalaupun sudah kenal juga banyak kok yang intrusif. Saya pribadi melihatnya mereka lebih santun dan lebih elegan kalau nanya, gak asal tembak.

Di negeri ini, boro-boro menjunjung, mau cari padanan kata privacy dalam bahasa Indonesia aja belum ketemu. Nggak deket dan pengen mendekat aja, kita udah nanya hal-hal personal macam:  Berapa umurmu? Kapan kawin? Sudah isi? Beberapa orang juga nekat nanya basa-basi:  “Gajinya gede ya?”. Hah sumpah lah ya, urusan uang itu urusan sensitif, jadi nggak usah nanya-nanya.  Intinya, kalau deket-deket  bule dilarang tanya pertanyaan yang bikin lawan bicara kita jadi ga nyaman dan sebel, termasuk soal agama. Kalau pengen nanya2 mendingan nunggu mereka yang memulai topiknya atau nunggu deket ya. Sekali lagi kalaupun deket juga gak bisa nanya sembarangan tentang hal-hal personal.

Alkohol

Sebagian bule itu minum alkohol, it’s part of their culture. Ada sih yang nggak minum, saya pribadi belum pernah menemukan yang nggak minum. Eh ada ding, calon Mertua saya nggak minum. Syahdan, di Irlandia banyak yang gak minum, selain karena mereka nyetir juga karena sejarah negara yang dulu sempat sengsara. Nah, kebanyakan orang Indonesia, ketika berkaitan dengan alkohol langsung berkata: nggak sesuai adat timur. Yang ngomong gini ketahuan kalau lihat Indonesianya cuma sebagian, gak menyeluruh. Negeri ini itu luas banget, nggak bisa diklaim bahwa disini nggak ada budaya minum. Tengoklah di Bali dengan araknya dan alkohol oplosan di Sulawesi yang terkenal bisa bikin terbang ke surga secepatnya (dan selamanya).

Bagian ini nggak menganjurkan orang untuk minum. Tapi kalau diajakin bule keluar minum, ikut aja. Diajakin minum itu bukan berarti orang harus minum alkohol. Kalau kebetulan agama melarang (eh emang ada ya agama  yang ngebolehin?) dan nggak minum, ya nggak perlu minum. Saat kumpul-kumpul gini jadi ajang untuk ngobrol dan yakinlah, kalau kita ngomong gak minum mereka akan menghormati kok.

Bicara tentang alkohol jadi nyerempet tentang pub. Bagi bule, mungkin lebih tepatnya bagi orang Irlandia, pub adalah tempat nongkrong, ngobrol, serta nonton pertandingan olahraga, macam Sevel di Indonesia. Cerita saya tentang persepsi salah tentang pub bisa dibaca disini.  Disini, nilai pub bergeser ke sisi negatif karena banyaknya pekerja yang menjajakan jasanya; ditambah lagi “budaya timur (Timur Tengah kali ye)” yang melihat alkohol sebagai hal yang super negatif.

Saya masih punya beberapa “tips gila” lagi (bukan tips sih, lebih ke ocehan ngaco), yang akan saya share di postingan selanjutnya. Tapi sebenernya yang paling penting kalau pacaran, sama siapapun & apapun rasnya, adalah menjadi diri sendiri. Tunjukkan semua kebaikanmu dan buang jauh-jauh keburukanmu (eh bukan disembunyiin lho ya, dibuang!).

 xx,
Tjetje