Perilaku Khas Turis Indonesia di Luar Negeri

Kalau kemaren saya menuliskan tentang kelakuan turis Cina, sekarang giliran saya menulis tentang perilaku turis Indonesia. Biar gak dimarahin dan diprotes, saya kasih disclaimer dulu bahwa nggak semua turis Indonesia berlaku seperti ini. Ini hanya berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya, baik pengamatan langsung maupun mengamati media sosial.

Toilet tanpa air

Toilet kering nampaknya sering dikeluhkan turis Indonesia yang jalan-jalan ke luar negeri. Tak cuma mengeluh, banyak dari mereka yang kemudian melabeli orang asing itu sebagai orang yang jorok karena hanya menggunakan tissue. Kadang kita dengan mudahnya melabeli manusia lain kurang baik dengan kita, tanpa tahu bagaimana mereka membersihkan dirinya dan tanpa mau tahu bahwa toilet kita mungkin lebih jorok daripada pantat orang asing. Tengoklah bandara internasional Soekarno Hatta yang masih juga jorok.

Nasi Putih

Rasa nasi maupun jarangnya makan nasi sering juga sering dikeluhkan. Kalau tahu negara tujuan itu lebih sering makan roti ataupun makan mie, baiknya para pemakan nasi ini bawa rice cooker (kayak saya!). Innovator di Indonesia juga mesti bisa melihat peluang ini *million dollar idea* dengan bikin mini rice cooker yang bisa dinyalakan dengan power bank, jadi nanti turis Indonesia, di sudut New York, bisa menambahkan nasi ke atas daging steak Wagyu.

image

Lihatlah rice cooker saya!

Jalan Kaki

Ya maklum, di negeri ini tak ada kebiasaan jalan kaki jauh. Ditambah lagi, turis-turis Indonesia itu sering bergaya kecentilan, menggunakan hak tinggi agar sama tingginya dengan para orang asing. Alhasil setelah jalan beberapa kilometer langsung teriak kesakitan. *eh ini mah saya*. Ketidakbiasaan untuk jalan kaki ini juga bisa jadi peluang bisnis dengan bikin pelatihan fisik untuk mempersiapkan turis Indonesia jalan-jalan ke luar negeri.

Disiplin

Lucunya, turis Indonesia seringkali menjadi disiplin di luar negeri. Jadi anti jaywalking, jadi rajin buang sampah sembarangan dan jadi patuh aturan. Takut dimarahin orang asing kali ya. Walaupun, ada juga yang memalukan Indonesia, kasus vandalism gunung Fuji contohnya.

Belanja Terus

Mama saya pernah memasuki sebuah toko souvenir, ketika tahu bahwa mama berasal dari Indonesia sang empunya toko langsung girang. Menurutnya, turis Indonesia kalau beli suvenir banyak banget. Beberapa tahun yang lalu saya pernah baca, salah satu toko mahal di Paris (can’t remember what), punya shop attendant khusus untuk orang kaya Indonesia yang hobi belanja ke Paris. Belanja emang wajib buat turis Indonesia, apalagi belanja oleh-oleh buat tetangga sekampung.

Mahal

Turis Indonesia juga suka mengeluh tentang harga mahal. Transportasi umum mahal, makan mahal, tapi kalau beli oleh-oleh gak pernah komplain mahal. Tapi barang-barang mahal ini sering dibeli dengan dalih kualitasnya lebih bagus daripada di negeri sendiri. Kemarin, saya sempat nguping dengan keluarga yang dengan bangganya beli parfum di Paris yang katanya kualitasnya jauh daripada di Indonesia. Sama aja kali, asal belinya asli.

Kebanyakan selfie

Saya perhatikan turis Indonesia kalau di luar negeri lebih repot foto-foto heboh ketimbang menikmati suasana sebuah tempat wisata dan membaca informasi sebuah tempat bersejarah. Jarang banget saya lihat turis Indonesia yang ngorek informasi ke guide, padahal, guide itu punya banyak informasi. Foto-foto tersebut tentunya akan berakhir di social media untuk bahan pamer karena sudah jalan-jalan ke luar negeri. Eh tapi saya juga suka pamer lho, pamer tongsis dan tomsis ke para orang-orang asing. Sambil bilang: this is the best thing from Indonesia; biar kata made in China tetep di klaim sebagai barang Indonesia. Biarin norak, yang penting bisa promosi tentang Indonesia dengan cara yang menarik dan bikin orang asing terkagum-kagum.

Femi Oke Tweet

 Menurut kamu, apa perilaku khas turis dari Indonesia?