Label Jelek Untuk Janda

Akhir tahun lalu jagat pergosipan di Indonesia dihebohkan dengan kemunculan Mulan Jameela yang mengadakan wawancara dengan Dedi Cobuzier. Inti bincang-bincang itu ada dua, pertama minta maaf ke Maia  dan yang kedua soal haters yang punya banyak waktu untuk komentar ajaib di IGnya Mulan  Komentar-komentar di IG Mulan itu sadisnya gak karu-karuan, bahkan bawa-bawa almarhum ibunya. Coba deh kalau punya waktu iseng-iseng bacain.

Tapi benang merah yang saya baca, para haters ini kesel luar biasa karena Mulan mengawini Dhani yang pada saat itu belum bercerai secara resmi dari Maia yang merupakan bekas partner Mulan bernyanyi. Label perusak rumah tangga pun semakin kencang di tempelkan pada Mulan. Padahal siapa yang tahu kalau rumah tangga tersebut mungkin sudah rusak dan guncang ketika Mulan datang. Perbincangan itu kemudian mengingatkan saya pada sebuah tulisan saya yang tak kunjung usai, tentang janda dan ketakutan masyarakat kita.

Tidak bisa dipungkiri masyarakat kita, terutama di daerah yang tidak terlalu individualis, banyak yang tidak menyukai dan ‘takut’ pada janda. Takut jika rumah tangga mereka mendadak menjadi berantakan karena ada janda yang tinggal tak jauh dari rumah mereka. Ketakutan ini tak hanya kepada janda cerai saja tetapi juga janda mati dan akan semakin menjadi-jadi ketika janda tersebut cantik, masih muda dan tak punya anak, atau biasa disebut sebagai janda kembang.  Herannya, ketika ada anak gadis orang yang cantik, masyarakat cenderung tak terlalu takut pada anak gadis ini. Mungkin masyarakat kita menyamakan janda dengan vampire, vampire memangsa darah sementara janda memangsa laki orang.

Ketakutan-ketakutan ini juga dipupuk oleh media televisi melalui adopsi tayangan-tayangan di televisi yang menggambarkan kecemburuan berlebihan ketika seorang pria yang sudah kawin berbicara dengan janda. Cuma berbicara doang lho ya. Seringkali kemudian para istri tersebut menjadi sangat cemburu dan berakhir dengan adu mulut atau bahkan adegan murahan saling menarik rambut.

Lucunya, yang ditakuti tak hanya janda saja, tetapi juga anak-anak janda. Ibu-ibu insecure banyak yang cemburu kalau kalau suaminya ngobrol ataupun memberi perhatian pada anak janda. Takut jika bapaknya jatuh cinta pada anak tersebut dan buntutnya tertarik mengawini ibunya.

Janda tak hanya kurang disukai dalam lingkaran ibu-ibu insecure, tapi juga seringkali tidak disukai oleh calon ibu mertua. Ibu-ibu yang memiliki anak lajang seringkali berang ketika tahu anaknya berpacaran dengan janda. Seringkali ibu dan kadang bapaknya, enggan memberikan restu karena malu jika harus memiliki menantu janda. Rasa malu ini biasanya berangkat dari pemikiran yang menyamakan janda dengan barang yang sudah terpakai. Menyedihkan memang di jaman abad 21 ini masih ada yang menganggap manusia seperti itu. Tak hanya soal restu, orang tua juga biasanya seringkali menganggap anaknya tak kompeten karena tak bisa mencari anak gadis. Padahal cinta tak mengenal status, mau janda, mau duda, mau lajang, semuanya bisa ditembak cupid kapan saja.

Janda baik itu yang kawin ataupun yang cerai sering kali dilabeli hal-hal buruk seperti pengeruk uang, perebut suami, simpanan, tukang guna-guna laki orang dan banyak label jelek lainnya. Herannya label-label negatif terhadap janda ini tak diberikan kepada para duda, baik itu duda yang istrinya meninggalataupun duda yang bercerai. Nampaknya masyarakat kita jauh lebih bersimpati kepada para duda ini, sehingga memunculkan istilah duren, ataupun duda keren. Padahal jaren – janda keren, atau jantik – janda cantik juga banyak. Kalau begini harus diakui masyarakat kita memang masih seringkali tak adil pada perempuan, apalagi terhadap janda.

divorce marriage

Jumlah angka perceraian di Indonesia naik setiap tahunnya dan otomatis jumlah janda dan duda semakin meningkat. Perempuan-perempuan masa kini tak takut lagi untuk menjanda,  selain karena kemandirian ekonomi juga karena adanya keberanian untuk meninggalkan perkawinan tak sehat. Bagi saya, perempuan yang berani meninggalkan perkawinan yang tidak sehat harusnya diberikan acungan jempol karena butuh nyali untuk melakukan hal tersebut. Apalagi dalam lingkungan yang  masih sering takut pada janda. Tugas kitalah sebagai anak-anak muda untuk berhenti takut dan berhenti memberi label negatif kepada janda.

Di lingkunganmu, adakah kekejaman mulut pada janda?

Xx,
Tjetje

Advertisements

83 thoughts on “Label Jelek Untuk Janda

  1. KOnstruksi sosial di negra kita itu bikin sedih terkait perempuan dan statusnya 😦 Banyak, Saa. Banyak banget yang mencibir dan berpikir jelek sama janda.
    Btw iya, aku setuju sama pendapatmu soal ibu-ibu insecure tsb.

  2. untunglah kalo di lingkungan tidak ada yang celotehan rendah mengenai status janda, walaupun ada beberapa tetangga yang berstatus janda cerai. bahkan beberapa tetangga salut dengan mereka karena berani bertindak dan tidak diam saat pasangan sudah mulai menunjukan gelagat tidak seharusnya dilakukan oleh pasangan mereka.
    lagi pula, siapa sih yang mau jadi janda, tapi orang-orang ngejudgenya ngalah-ngalai komentator bola.

    saya sempat lihat acara talk show di tran* tv yang di pandu oleh Maudy Koesnaedi beberapa waktu lalu. ada seorang wanita yang menikah karena dijodohkan, dari awal menikah si wanita mendapat perlakuan buruk baik verbal maupun fisik, dan itu berlangsung hingga 20 tahun, sampai akhirnya si wanita ini memutuskan untuk bercerai. 20 tahun bayangkan hidup bersama monster penghisap kebahagian. yah walaupun alasan di balik bertahan yaitu tidak ingin membuat orang tua bersedih. kalo kyak gitu mending jadi janda pas masih muda tau makan asem ma garem terus selama 20 tahun.

    semoga rumah tangga kita semua di lindungi oleh Tuhan.

  3. Another valid point Mbak Tjetje. Menghapus stigma memang susah. Gak segampang balik telapak tangan karena orang yang takut sama janda pasti juga menularkan ketakutan ke anak-anaknya dan orang di sekitarnya. Butuh pikiran uang bener-bener terbuka buat mengubah itu. Yes masih ada perlakuan tidak adil untuk perempuan di negara kita dan saya males banget kalo ada yang becandaan dengan ngirim foto perempuan cantik berpakaian minim. *maapkeun gak fokua

  4. hmmm, iya. masyarakat memang kejam. butuh bertahun-tahun untuk janda baik-baik mengakui statusnya terhadap lingkungannya, karena takut dicap macam-macam. apalagi kalau memang punya rekan lelaki banyak karena dunia kerjanya seperti itu.

  5. Status janda jadi label yang mengerikan. Tapi ada juga sih mba, perempuan single menikah dengan duda (apalagi kalo dudanya diangap secara materi cukup) jadi omongan kanan kiri ini kejadian dg orang yg saya kenal. Tp mungkin prosentasenya ga sebanyak label jelek kepada janda ya.

    • Menurutku masih lebih manis kalau ke duda ketimbang ke janda. Apakah ini ada hubungannya antara anggapan perempuan bergantung secara ekonomi pada pria maka perempuan wajib yang masih tingting. Sementara kalau prianya duda gpp asal mampu. Aduh…

  6. Status janda jadi label yang mengerikan buat sebagian orang ya. Tapi ada juga mba kejadiannya ke single yang menijah dg duda apalagi kalo dudanya dianggap cukup berpunya jadi omongan sana-sini, ini kejadian dg beberapa orang yg saya kenal. Tapi ya mungkin prosentasenya ga sebanyak label mengerikan kepada janda ya.

  7. Ugh, ini salah satu alasan kenapa saya bahagia nggak tinggal di Indonesia lagi. Selalu ada aja label untuk orang, tanpa memperdulikan perasaan yang dikasi label. Makanya aku liat banyak orang (perempuan terutama) yang perkawinannya menyiksa tapi tetep dibetah2in karena perceraian itu stigma banget, lalu status sebagai janda rasanya ga sanggup dijalanin.

  8. ibu mertua saya, janda cerai sejak suami saya SMA. Kakak saya nmr 2, janda mati, sejak hampir 5 taun lalu. Ibu saya, janda mati 3 bulan lebih. Alhamdulillah, saya gak pernah dengar kata2 buruk tentang mereka. betul kata mba ai, masyarakat kita, suka ngjudge yg enggak2 ttg janda. kalo orang jawa bilang “nggebyah uyah” semua disamaratakan. padahal gak semua janda seperti itu. emang kalo janda, gak boleh lagi idup bahagia? 😀

    • Syukurlah gak ada omongan miring. Saya pribadi menduga ada korelasi antara usia janda dengan omongan miring. Setuju banget emang gak boleh digebyah uyah. Tapi ya susah bener dengan struktur sosial masyarakat kita yang masih diskriminatif. Padahal kan mestinya janda itu dipelihara, apalagi anak janda.

  9. Well written mba Ai…
    Pernah denger org lain ngomentarin temen yang janda gini, “janda kan uda pernah gituan, jadi pasti kangen untuk ngelakuin itu lagi, dan pasti cari laki buat gituan”… pikirannya kok so shallow gitu sih…

  10. mungkin, mungkin nih ya, masyarakat melabeli janda sebagai sesuatu yang harus dihindari karena mereka menganggap janda “lebih berpengalaman” dibandingkan anak gadis yang belum menikah.
    iya betul sekali, labelling buruk pada janda tidak hanya berhenti pada si janda itu sendiri, tapi bisa jadi labelnya menurun ke anak-anaknya.
    padahal lho ya, seperti yang mbak Tjetje bilang, ada sebagian perempuan yang berani menjadi janda karena perkawinannya “tidak sehat”. bukan karena si perempuan “gatel”. di lingkungan saya, sejauh ini, tidak ada yang bermulut kejam pada janda, tapi tidak tahu lagi jika seorang wanita dengan status janda mulai masuk ke dalam “ranah pribadi” mereka ya. misalnya, kalo anak laki laki kebanggaan keluarga yang nikah sama janda, entah keluarga yang bersangkutan masih mampu menilai wanita secara objektif, ataukah bakal menolak karena status jandanya. *btw, jadi inget sama salah satu seleb deh kalo ngomongin janda gini*

  11. Engga bisa dipungkiri, stigma buruk untuk janda memang masih kuat sekali di Indonesia. Saya punya beberapa teman yang menjadi “korban mulut jahat” karena statusnya janda, punya anak, ditinggal (mati) suami, tapi masih cakep dan enerjik. Kadang rasanya mau sumpel mulut orang-orang yang menganggap janda itu hal buruk.

  12. Umm dulu tuh sering banget denger ibu ibu kompleks rumah pada gosip ttg janda. Cuma kan masih kecil, jadi ga ngerti2 banget. Malah banyak tau dari novel, cerita, atau sinetron cerita2 miring ttg janda ini.

    Padahal orang jadi janda belum tentu kegatelan godain suami orang. Jadi single parents itu apalagi buat wanita 2x lebih berat loh. Ada temenku yang udah jadi janda (padahal belum lagi umur 35), tapi di mataku mereka bukan aib. Mereka berani melangkah kan kaki keluar dari rumah tangga yang abusive. Salut untuk mereka. Mereka ga kepikiran tuh berumah tangga lagi, udah fokus hidup mandiri gak minat sama laki (for now) apalagi laki orang lain.

    Dan entah kenapa stigma negatif itu gak pernah dilabelin untuk duda. Ehm bapak2 juga ga ada yang insecure kalo ada duda ganteng di lingkungan rumah :/

  13. mungkin nggak kalau stigma itu berasal dr jaman sejarah dimana duda itu tdk mengancam karena laki2 bisa cari uang sendiri, sementara dulu itu janda kalau sudah ditinggal mati untuk bisa selamat diri sendiri (plus ana-anak) ya harus nikah lagi…janda juga lebih “pengalaman” ketimbang gadis..

      • menikah secara resmi, bukan spt prostitute, di jaman dulu hal itu termasuk hal yg biasa, rasional, karena saat itu belum ada persamaan hak dan sulit bagi wanita berkeluarga bekerja. kalau skrg ya sdh beda lagi…anggapan seperti itu dianggap menghina harga diri si wanita…

  14. Iyaaa itu juga yg nyangkut sipikiran ku? Kok kalau duda, duda keren? Jatoh2nya malah asik2 aja
    Kalau janda? Ya gitu deh! Sebel memang.

    Ada ya kasus di tempat tinggalku. Temanku ini (perempuan)pernah punya anak tanpa menikah, lalu akhirnya mereka pisah juga sih krna cowonya emang bregsek. Trus dia pacaran ama cowo yg istilahnya perjaka (intinya belum pernah married) . Si cowok disuruh putus ama temenku ini krna dia udah ga gadis lagi. At the end gue bertanya2 apa orang yg udah pernah melakukan kesalahan di masa lalu ga pantas dapat masa depan yg bagus? Gimana kalau semua calon mertua berpikiran cetek seperti itu? Kesian ceweknya kan?

    Bener kan tuh kata2mu tje.namanya pun jatuh cinta mana bisa pilih2 mau janda duda or whatever.

      • Kasihan tje. Dan krna abangnya si cowo itu temenan juga ama temenku (ya kami semua temenan) eh deketlah si abangnya ama temenku..trus pacaran trus ditentamg lagi kan ama emaknya si cowok…hadeuhhh anak gue jatoh ke lubang yg sama…pikirnya. abangnya mah nekat…marriedlah mereka. Makin murka lah emaknya (bapaknya mah santai aja) sampe akhirnya lahirlah cucu mereka..masih tanpa restu. Cuman gara2 status dan masa lalu si cewe. Padahal si cewe juga yg jadi tulang punggung keluarga mereka saat ini. Harusnya emaknya si cowo berterimakasih ada yg nampung anaknya *hahaha jahat deh gue* abisan sebel ama emaknya si cowok… (btw temen gue ini dan suaminya sekarang adalah 2 orang baik dan tulus dan bener2 saling mencintai) jadi sebodo amat apa kata orang

  15. Aku dah berkali-kali lihat itu yang Mulan mbak. Bahkan sampai ada instagram haternya juga. Memang yang komen banyak dan rata-rata sadis sama dia. Btw di tempatnya ortuku yang desa saja janda kok biasa saja ya. Maksudnya ya sudah gitu. Nah yang biasa jadi omongan itu kalau janda genit. Kalau ini beneran dah, aku aja juga kurang suka lihatnya kalau kegenitannya dah mulai ditempatkan ke suami orang. Tapi aku sepakat banget dengan meninggalkan perkawinan yang tidak sehat. Lah kalau sudah tidak bahagia ngapain masih bertahan, buatku sih ajaib.

  16. Mengubah stigma masyarakat, apalagi yang sudah tertanam seperti ini, bakal susah banget ya. But still, bukan berarti lantas terus harus “menyerah” dengan itu, hehe. Iya juga, di Indonesia memang status janda itu kayak gimanaa banget ya.

  17. karena di budaya kita (indonesia) jika ada perpisahan maka yg pertama disalahkan pihak perempuan, egois, ngga mau mengalah demi keutuhan rumah tangga (ini yg ribet). Makanya di beberapa daerah (Sumatra) banyak perempuan memiliki prinsip lebih baik dimadu daripada dicerai. Karena kalau jadi janda selain derajatnya akan turun (kaya ngga dipake) maka dia akan dituding egois tidak mau mengalah demi keutuhan rumah tangga.

  18. Lucu nya di daerahku kalo ada bujang nikah sama janda, ibu nya si bujang pasti waswas dan mati2an nasihatin anaknya biar gak nikah sama janda. Tapi begitu anak gadis nikah sama duda, ibu si gadis pasti maklumi dengan alasan ” gapapalah, lakinya udah punya pengalaman berumah tangga jadi bisa ngajarin anak saya”. Apalagi kalau dudanya ada anak, terkadang ibu2 sekitaran rumahku jadi makin respek. Hadeuh…

  19. Janda = barang yang sudah tak terpakai. Lah emangnya duda enggak?!
    Di kawasan aku tinggal gada sih mbak yg mulutnya kya gitu, mgkn krn kawasan kampus jd siapa juga yg udah jd janda 😅 tp kalo temen duda mah aku banyak, biasa2 aja tuh.

  20. stigma di masyarakat ini yg harus kita rubah sedik demi sedikit dan juga seharusnya penayangan di tv2 itu lebih di saring lagi karena itu yg membentuk pikiran di masyarakat, ya kalo yg nonton bisa nyaring gpp nh kalo semua nya nelan mentah2 ya akhirnya jadilah seperti ini 😦

  21. Pinter2 bawa diri, pinter2 bergaul… Insyaallaah belum ada yg “nyinyir” sama saya :). Kalaupun ada, udh ga kaget lagi, toh sebelum mutuskan jadi single dari A sampe Znya udah difikirin terlebih dahulu. Semangat utk saya 😀

  22. Terima kasih Mbak buat postnya. Ini bener2 hidup keluarga kami. Dulu aku dan mamiku dikata2in karena nggak punya ayah, sampai saking malunya aku ngebohong (kata mamiku ya, aku sendiri ga ingat) dan cerita kalau ayah biologisku itu fire fighter yang meninggal dalam tugas. Padahal kenyataannya dia itu edan dan treated my mom badly. Well, who gets the last laugh now? Pas berkunjung ke Indonesia semua kagum dan heran bagaimana anak janda ini bisa hidup mandiri dan sukses mau jadi calon dokter.

      • Yeps. Lagipula, siapa sih yang mau jadi janda by choice. Kebanyakan juga karena terpaksa, mau nggak mau. Took me years to understand that there’s nothing wrong with our family, that sometimes, things just don’t go the way we planned them to be.
        Terima kasih Mbak x

  23. Di desaku ada mbak, dia sudah lama jadi janda. sering banget dapet omongan miring dari tetangganya, saya jadi geram sama tetangga-tetangganya. padahal kan kita sama-sama pengen hidup tenang, tapi mereka malah merusak ketenangan janda tersebut.

  24. Kalo mikir stigma masyarakat di lingkungan kita gak ada habisnya mbak. Orang tua saya yang cerai dari sejak saya kecil jadi bahan omongan dan bahkan saya jadi kena bully, ibu saya yang menjanda dan memutuskan tinggal sendiri setelah beberapa lama sampai akhirnya memutuskan untuk menikah lagi juga jadi bahan omongan di lingkungan sekitar, walaupun janda tapi punya usaha tetep aja jadi omongan. bahkan di umur saya yang kepala tiga ini yang notabene saya masih single dan bisa beli rumah sendiri juga jadi bahan omongan kalo saya itu simpanan. padahal orang gak pernah tahu sejarah dibelakang itu semua, tapi menghakiminya udah kayak yang yang paling yes hidupnya :). Sekarang sih prinsip saya udah rai gedeg kalo kata orang jawa.

  25. Itulah … perempuan adalah obyek yang dinilai dari seksualitasnya. Jadi janda = bermasalah, telat kawin = bermasalah, kawin muda = bermasalah, tidak kawin = lebih bermasalah lagi. Jadi istri orang juga dibikin ribet dengan aturan macam-macam (yang biasanya dibumbui ayat-ayat). Karena laki-laki dianggap sebagai subyek yang memiliki hak dan kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri, biasanya mereka cenderung mendapatkan penilaian netral (kecuali kalau pengangguran, preman, kriminal, yang emang sudah pasti negatif, baik pria maupun wanita maupun yang bukan dua-duanya). Ini nih, salah satu hal yang harusnya bisa menjadi salah satu isi dari pendidikan seks untuk usia dini (yang sayangnya juga banyak dipermasalahkan di Indonesia).

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s