Makanan Bayi Bule

Saya pernah menertawakan orang yang menggoogle judul postingan ini. Ketika itu saya tak habis pikir kenapa ibu-ibu ini repot pengen niru makanan bayi bule. Eh ternyata adik ipar saya juga sempat ingin melakukan hal serupa akibat melihat makanan bayi bule di youtube. Ia menggalau dan menulis postingan panjang di Facebook sambil bertanya-tanya apakah anaknya cukup gizi dan vitamin? Pinter dan sehat?

Ipar saya membandingkan makanan bayi bule dengan makanan bayi di Indonesia. Si bayi bule misalnya diberi 5 makanan yang berbeda dan terlihat bergizi tinggi seperti salmon atlantis, yoghurt, roti diolesi keju dan tuna. Bayi-bayi bule ini juga diberi cemilan sehat seperti blueberry dan kiwi. Jauh berbeda dengan bayi Indonesia yang makannya nasi dengan kuah bakso, sop, bayam.  Selain urusan menu, ipar saya juga terpukau melihat bayi-bayi yang umurnya belum setahun ini ‘makannya pinter’, gak berantakan.

Ijinkan saya, yang belum menjadi ibu dan belum punya rencana untuk menjadi ibu, memberikan sedikit cerita tentang bayi-bayi bule yang saya lihat dalam hidup saya (baca: keponakan-keponakan saya yang lucu) juga tentang makanan yang mereka makan.

Pertama, soal makanan bergizi. Buah-buahan yang dianggap kaya gizi seperti blueberry, kiwi dan berries lainnya adalah buah-buahan lokal bagi masyarakat disini. Harganya pun relative murah dan terjangkau. Ambil contoh kiwi, seringkali dijual seharga 49 atau 99 sen saja untuk enam biji. Sementara berries, sedikit lebih mahal dari kiwi tapi harganya memang tak semahal di Indonesia. Saat musim panas bahkan kita bisa memetik berries liar, asal telaten. Kenapa buah-buahan ini murah? Karena mereka buah lokal. Sama lokalnya dengan pisang kepok, mangga, manggis, rambutan, durian, jeruk dan juga pepaya di Indonesia.

Di Indonesia, mendapatkan buah-buahan ini memang tidaklah mudah dan tidaklah murah. Tapi seperti saya sebut di atas, ada buah-buahan lain yang ‘lebih lokal’ dan lebih mudah didapatkan.  Berries mungkin saja disebut sebagai buah super, tapi sebenarnya buah tropis seperti pepaya dengan enzim papain-nya juga gak kalah supernya kok, plus harganya murah. Satu hal yang perlu disyukuri oleh ibu-ibu di Indonesia, walau tak punya berries murah, Indonesia punya matahari dan matahari ini memberi vitamin D. Disini anak-anak usia 1  hingga 3 tahun itu banyak sekali yang mengalami kekurangan vitamin D. Jadi, count your bless.

Modyar aja kan kalau ibu-ibu disini pengen beli buat tropis.

Begitu juga dengan salmon, di sini, salmon adalah ikan lokal yang mudah didapatkan dalam kondisi segar dan lagi-lagi harganya murah. Satu ikan salmon utuh misalnya dijual dengan harga 12€. Tuna sendiri sedikit lebih mahal, kalaupun ada tuna murah biasanya tuna dalam kaleng. Sepengen-pengennya ngasih makan salmon, kalau kata saya sih mendingan gak usah, selain mahal, juga karena salmon yang di Indonesia itu sudah tak begitu segar. Ikan-ikan ini sudah menempuh perjalanan jauh dari Norwegia, jadi mendingan beli ikan lokal yang memang baru saja di panen dari lautan Indonesia. Soal keju tak perlu dibahas lah ya, sudah bukan rahasia lagi kalau makanan berbasis susu adalah makanan yang kurang sehat, walaupun rasanya enak.

Kedua soal bayi-bayi makan sendiri dan gak berantakan. Aduh ini video bohong bener deh. Ponakan saya yang umurnya tiga tahun pun biar dikasih makanan yang sudah dipotong kecil-kecil, dipasangin bip, juga masih berantakan sampai di lantai. Tapi proses belajar makan sendiri gak berhenti karena lantai berantakan dan mereka tetap disuruh makan sendiri. Sementara ponakan lain yang umurnya hampir setahun belum bisa makan sendiri, apalagi makan pakai sendok. Kalaupun megang sendok biasanya dibuat mainan aja. Bukan berarti dia gak diajarin makan sendiri, tetep diajari dengan memberikan makanan yang dipotong kecil-kecil supaya bisa langsung masuk ke mulut. Nah pertanyaannya Ibu-ibu di Indonesia bisa sabar dan telaten kalau lihat makan berantakan di meja dan di lantai? Ada juga gemes karena makanan terbuang lalu ngomel-ngomel.

Baby covered in spaghetti

Photo: huffington post

Ada satu lagi komentar ipar saya yang bikin saya ngakak kencang, soal dapur-dapur bersih à la katalog IKEA yang seperti tak ada kehidupannya. Ia juga berkomentar soal para ibu-ibu yang langsing, sempet dandan cantik dan rambutnya halus. Untungnya ipar saya sadar kalau para ibu-ibu ini cantik karena mau nongol di video youtube. Tapi selain itu ada satu hal yang mesti dipahami, dapur-dapur di sini cenderung bersih karena kecil dan begitu selesai masak langsung dibersihkan. Ditambah lagi, dapur disini tidak dipakai goreng terasi dan gorengan-gorengan lainnya yang minyaknya menyebar kemana-mana. Jadi bersih, gak berminyak. Ibu-ibu ini juga bisa segera mengecil, selain karena ngurus rumah tanpa pembantu pekerja juga karena pakai usaha ke gym. Patut dicatat, bapak-bapak juga sering ikutan bersih-bersih rumah. Jadi ya monggo itu bapak-bapaknya disuruh ikutan bersih-bersih rumah supaya ibu-ibu bisa segera ke gym.

Di akhir postingannya ipar saya berdamai dengan kenyataan bahwa meniru makanan bayi bule itu memerlukan seratus hingga seratus lima puluh ribu rupiah per hari. Ipar saya juga berdamai dengan kenyataan bahwa keponakan saya yang lucu adalah bayi Jawa yang lebih cepat disuapi nasi kuah kaldu, wortel dan bayam sembari digendong kain jarik sambil nonton kucing di teras #IndonesiaBanget. Bayi Irlandia mana bisa digendong di teras, selain harus dibungkus dengan baju berlapis, juga karena nyuapin di teras itu dingin. Lagipula disini tak ada kebiasaan makan sambil berdiri, semua duduk di kursi bayi atau di stroller.

Kesimpulannya, rumput tetangga tak selamanya lebih hijau dan percayalah, luar negeri tak selalu sebagus di video-video youtube itu. Jadi jangan berkecil hati karena makan makanan Indonesia dengan gaya Indonesia. Buah dan sayuran lokal kita toh sebenarnya tak kalah bermutu, walau tak bisa dipungkiri nyari buah lokal di Indonesia itu susah, karena pasar buah kita sudah tergempur dengan buah dari Cina yang murah dan kualitasnya dipertanyakan.

Btw, sudah tahu kan kalau hari Senin adalah hari terlarang untuk beli salmon di Indonesia?

xx,
Tjetje

Baca juga tentang makanan bayi bule di sini.

Advertisements

86 thoughts on “Makanan Bayi Bule

  1. “sudah bukan rahasia lagi kalau makanan berbasis susu adalah makanan yang kurang sehat, walaupun rasanya enak”. Aku pada dasarnya ga suka keju Mbak, selain ga cocok di lidah juga ga cocok di perut. Aku baru tau kalau makanan berbasis susu itu makanan kurang sehat, karena yang selama ini aku dengar dari teman dia selalu bilang kalau keju itu sehat, memangnya kenapa kurang sehat ya Mbak?
    Dan untuk hari senin terlarang untuk beli salmon pun aku gatau Mbak, ga ada membaca berita tentang itu. Ada peraturannya gitu kah Mbak?

    • Sederhananya, sapi dirangsang hormon supaya produksi susu berlebihan demi manusia. Belum lagi manusia itu gak perlu susu karena punya gigi,mamalia lain yg punya gigi pasti mengunyah dan berhenti minum susu. Ini industri aja yang membiasakan minum susu. Banyak lagi alasannya.

      Salmon itu di Jakarta datang hari Selasa dan Jumat. Sampai dia hari salmon ok. Nah Senin itu jadi hari kejepit jadi gak seger lagi.

  2. Aku belum tau kalau hari Senin adalah hari terlarang untuk beli Salmon di Indonesia. Emang kenapa tuh, Ai?

    Tapi ini topiknya aku banget deh, haha. Thanks for sharing. Dulu pas anak pertamaku baru awal2 makan solid food, aku sempet cari salmon di supermarket dan mataku sampe mau coplok liat harganya (iya lebay). Habisnya mahal banget. Udahlah akhirnya aku beli ikan di budhe sayur langgananku aja yang deket rumah. Toh buktinya anakku ya sehat dan pinter2 aja. Sama halnya dengan buah dan sayur, aku ga mau maksa harus kasih anakku butternut squash kalo adanya cuma labu kuning biasa. Lagian yang nyesek itu kan udah beli buah/sayur/lauk yang mahal trus dimasak ini itu super canggih taunya dilepeh aja sama si bocah. Udahlah, kalo anaknya doyannya makan ikan mujair digoreng plus sayur asem juga udah bagus banget ituuu. Irit! 😀

  3. kenapa mba? baru tau dilarang beli salmon hari senin. Pengalaman aku selama jd aupair ya Mba, ya itu, mama nya sabar banget anaknya buang sana sini makanannya. tetep aja didudukin di kursi. Trus dulu aku anaknya cm makan buah pisang aja koq setiap hari, makanan selama dr 8 -18 bulan, makanan kalengan yg dipanasin di microwave, abis itu br belajar makan makanan org dewasa yang dihaluskan. dan anaknya pinter aja sekarang. Jadi ya kadang aku bilang gaya hidup aja seh Mba. kadang di indonesia kita gaya hidupnya terlalu meniru. aku suka banget sama kalimat mba : “jadi jangan berkecil hati karena makan makanan Indonesia dengan gaya Indonesia”

  4. Kenapa terlarang beli salmon hr senin Mbak? *gak pernah beli salmon mentah…
    Klo aku belajar herbal, makanan yg paling sesuai utk kita adl yg bs didapat di daerah masing2… & salah satu penyebab susahnya mengobati penyakit pd saat ini adl orangnya tinggalnya di mana dan makanannya dari mana.. Jd yang lokal2 aja emang paling pas.. Oiya saat ada musim buah tertentu, itu harus banget dimakan krn bs jd sumber daya tahan tubuh (pas pancaroba kan gampang banget sakit, makan buah sesuai musim bs jd btk pencegahan peny)

  5. Oh iya nambah juga kalo anak2 bulenya cepet bisa makan sendiri mungkin soalnya rata2 nggak punya Mbak yang ngejar2 menyuapi makanannya juga 🙂 Anak tetangga di Jakarta kerjanya mainan iPad terus, makannya dikejar2 sama susternya yang menyuapi. Btw buah Indonesia tuh enak2 lho. Pepaya, nangka, lontar dll murah2

    • Iya bener Mar. Karena disuapi, kadang ada anak kecil yang biasa mengemut makanan atau lama bener makannya. Aku dulu didik si G masih kecil belajar makan sendiri pake cara temen dan ipar sini. G aku dudukin di kursinya dia, makan sendiri max 20 – 30 menit. Setelah itu aku beresin piringnya dan dia minum.

      • Iya mereka malah jadi gak suka makanan. Kasihan, abisnya malah jadi gak tahu rasa makanan… tahunya kalo disuapinnya nurut jadi boleh main iPad 😦
        Si G belajar makannya berapa lama tuh Mbak, makan sendiri apa bareng semuanya di meja makan?

      • Iya, makannya lama karena disuap satu sendok terus main bentar, baru disuap lagi. Seingetku G mulai belajar makan sendiri dibangkunya setahun deh sampe bisa rapi makannya. Sementara itu aku selalu alas lantai dengan koran jadi beresinnya gampang. Repot dikit ya risiko namanya punya anak kecil ya waktu itu 😉

      • iya namanya anak kecil pasti berantakan sih, rumah temenku yang anaknya dua juga berantakan. tapi dia emang guru tk gitu jd dia bilang berantakan gpp karena buat perkembangan anaknya juga hehehe

  6. Nah itu Mbak Tjetje. Saya percaya kalo apapin yang dikasih Tuhan buat satu daerah mestinya juga bagus buat orang-orang di daerah itu. Hihihi. Yagapapa juga mau ikutan makanan bule tapi buah lokal juga gak kalah kan ya. 😀

  7. Iyes, Beli Salmon sebaiknya hari Selasa karena soal stok kan ya? ^_^

    Btw soal memberi makan anak bayi itu aku concern banget. Aku suka cara bule kasih makan anaknya, duduk di meja dan rapi. Aku suka bukan karena bulenya sih, tapi aku suka caranya. Membiasakan anak duduk saat makan adalah bagian dari pembelajaran disiplin serta pengenalan proses makan yang benar.
    Kalo pas makan digendong atau sambil lari-larian, apa bedanya dengan pas main? Anak ndak belajar perbedaan antara aktivitas makan dan main. Itu menurutku. Dan aku strict soal ini. B selalu duduk saat makan, bahkan saat ia sulit makan aku nggak leleh menggendong atau ajak main sambil disuap. Menurutku kalau dia gak mau makan ya udah. Nanti kalau lapar akan minta. Poin ini untuk membiasakan B mengenali dirinya sendiri termasuk mengenali rasa lapar serta rasa kenyang. 🙂 Tapi ya ini aku. Belom tentu cocok juga buat ibu lain 🙂 parenting itu sesuatu yang sebaiknya nggak dicampuri menurutku 😀

    Iiih jadi panjang! 😛
    Btw aku sepakat soal buah lokal! Untunglah di daerah rumahku buah-buah lokal mudah di dapat pada musimnya. ^_^ Waktu kita makan buah lokal sebenernya membantu mengurangi emisi gas dari bahan bakar saat proses transport buah impor. Ok, mulai panjang. Stop dolo 😛 Hahaha

  8. waktu saya ngajar dulu ank2 ngak semua makan makanan gaya “anak bule” dan mereka ttp pintar dn jago dalam bidangnya masing2. yg penting asupan gizi terpenuhi aja sudah cukup jd ngak usah maksain harus makan makanan bule 😀

  9. Kayaknya ibu2 in general suka ribet sama urusan makanan bayinya. Pastilah mereka bimbang apa anaknya udah cukup gizi apa enggak. Kalau udah kaya gitu aku pasti berargumen –> aku lahir akhir tahun 70an, makanan seadanya, pasti sempet beli snack2 toxic (pewarna tekstil) dulu waktu jaman sekolah, gedenya baik2 saja tuh. Haha.

    Soal makanan, aku rasa itu rumput di tetangga selalu lebih hijau, seperti orang di Indonesia pengen makanan kebarat2an, yang di sini pengen makanan ketimur2an.

  10. Soal susu, manusia secara umum ga bisa proses laktose… ada beberapa bagian yang toleransinya lebih besar, ada juga yang toleransinya kecil sekali, jadi alergi. Baiknya memang udah ga mengkonsumsi susu ketika sudah dewasa, atau alternatif susu almond, susu kedelai, dst. Kalau dairy product masih susah, aku masih suka banget sama keju sama mentega 😛

  11. Pingback: Hot and Cold Food | Si Koper Biru

  12. Aku gak tau sih dulu dikasih makan apa. Kayaknya sih seperti bayi-bayi Indonesia lain kali ya… tapi kata susterku (yang sampe sekarang masih keep in touch banget), dari kecil aku dibiasain makan sambil duduk di meja dan kursi untuk bayi itu dan disuapin sampe abis. Jadi kalo dia ngeliat suster-suster jaman sekarang yang ngasih makan anaknya diluar rumah sambil jalan2 dan pake dot hybrid campuran dot sama sendok, dia suka geli sendiri karena dari kecil si anak gak dibiasain disiplin kalo kayak gitu cara ngasih makannya.

    • Aku setuju kalau makan duduk itu melatih disiplin, kemudian kepala jadi mengasosiasikan duduk dikursi tertentu dengan makan. Sementara anak Indonesia kalau makan sama main. Cuma Ibu-Ibu di Indonesia aku lihat gak telaten lihat anaknya makan cuma sedikit kalau didudukkan.

  13. makanan paling sehat itu memang yang paling deket sama kita ya mbak Tjetje. Makanya lebih enak ke tukang sayur atau pasar karena sayur dan buahnya lebih segar.

    kalau soal anak Indonesia yang susah makan sendiri sih karena ga dibiasain aja itu buat makan sendiri. Ibunya suka ga sabar lihat anak makan berantakan x_x

  14. Dulu guru Biologiku di Indonesia bilang orang Jepang pintar-pintar karena makan nasi 😀 ga jelas banget hehe.
    Memang sih waktu di Indonesia aku kaget liat harga strawberry yang udah kecil-kecil tapi mahal. Tapi on the other hand buah-buah seperti pepaya dan durian (!) justru lebih jauh terjangkau. Puas aku beli banyak durian abis dalam satu malam :p

    • Hahahaha….random banget itu guru biologi. Iya buah-buahan impor memang mahal di Indonesia tapi, ada juga buah impor dari China dan Thailand yang murah dan menghancurkan harga buah lokal di Indonesia. Pasar buah-buahan Indonesia saat ini cukup menyedihkan sih.

  15. Eh kok aku meskipun nggak ada yang bantuin rawat anak (kecuali suami) nggak langsing-langsing juga? Hihi…Btw di sini (Jerman) bayi umur 1-2 tahun dikasih pil tambahan vitamin D, jadi kasus kekurangan vit. D sepertinya di sini sudah langka.

    Iya, yang di Indonesia itu harusnya lebih senang karena ada pepaya (di sini ada tapi impor dari negara antah berantah, mahal dan nggak enak rasanya), ada macam-macam jenis pisang, ada rambutan, manggis, duku euh…Sayurannya juga macam-macam jenisnya (tiba-tiba pengen kenikir dan kecipir 😀 ) di sini nggak adaaa. Di Indonesia makanan bayi yang nggak asik menurut saya adalah snack kemasannya yang banyak mengandung gula. Di sini makanan kemasanpun harus mengikuti syarat ketat kesehatan untuk bayi, no sugar no salt, gluten free.

  16. Bener Tje, ngga semua yang dari luar negri itu bagus. Yang aku suka tentang hal makan/makanan untuk anak kecil di Indonesia itu bahwa anak lumayan cepet ikut makan menu orang dewasa. Ngga sukanya cara makan anak Indonesia yang disuapi orang. Sebaliknya di Belanda kadang anak kurang diajar cicip makanan yang mereka kurang suka, jadi repot kalo beranjak besar ngga suka ini itu. Positifnya anak sini dari kecil udah biasa makan sendiri.

    • Aku yang gemes kalau disuapin itu disuapin di jalan sama Mbak-mbak yang sibuk ngerumpi. Aduh terus makanannya pada berdebu deh.

      Anak disini diajarinnya makan plain mbak, jadi gedenya kalau lihat terlalu banyak bumbu kaget.

  17. Hallo mbak ai. Finally bisa komen, setelah lama hiatus. Sebelumnya maaf kartu posnya aku gak terima mungkin pas itu lagi banyak tukang dan lagi renovasi. Next aku mau ikut lagi kl ada giveaway penasaran sama kartu posnya.
    Soal makanan bayi aku belajar dari pas kasih makan noura salmon, Telor ikan dll yang mahal banget malah gak doyan. Nyeseknya dobel soalnya mahal mahal beli. Semenjak itu lebih milih makanan lokal aja.
    Aku juga biasakan dia makan dimeja makan tanpa ada gangguan termasuk nonton tv, biar dia fokus.
    Trus soal cemilan, ada ibu ibu yg biarin anaknya gak banyak makan tapi disediakan susu dan cemilan. Kl aku lebih milih makan besar trus kl noura masih laper pengen nyemil cuma ada camilan buah dirumah.
    Suka banget sama postingan mbak ai apalagi kl bahas fenomena sosiaaal. Tooop.

  18. Ai, makan digendong jarik sambil jalan2 dan tiap mau nyuap bilang “tuh ada kucing tuh….pus….pus….” Aku liat trus hampir tiap hari depan rumah hahhaa. Ada bny yg bawa bayi soalnya depan rumah sambil jalan2.

  19. Hehehehe, pengaruh internet juga kayaknya mbak. Emak-emak yang rajin google resep solid food untuk bayi umur 1-18 bulan mungkin menemukan banyak resep seperti makanan bule *barangkali ya mbak, aku cuma menerka

    Anakku makan apa aja, sesuai dimana emaknya belanja..hahaha, tapi kebanyakan local food lah..orang seringnya belanja di masmas sayur..

  20. Itu stereotip orang aja mbak menganggap daerah luar sana lebih bagus. Semua yang masuk ke perut, alias makanan, dari semua tempat di muka bumi ini filosopinya sama. Sama-sama mengenyangkan dan membantu makhluk hidup untuk tetap hidup dan bertumbuh. Masalah bayi bule hmm aku cerita dikit deh ya di sini.

    Aku itu campuran, keluarga Ibu dan Ayah itu Minang-Turki-Belanda. Tapi gen yang ada di Ibu itu udah samar-samar dan tercampur-campur akibat berbaur dengan moyang Minang. Sekarang wajahku bentuknya samar-samar juga. Tapi tradisi Turkish kami kental dan diusahakan lestari di keluarga :))

    Aku aja gak pernah suka makan kebab, hayoloooooh gimana tuh? Ada juga ideologi tentang…hmm..klo kawin ama pasangan bule dari utara sana, anaknya harus ngikut gaya hidup salah satu orang tua yang bulenya. Ada hubungannya juga sama anak bule ‘pintar-pintar’ kayak yang mbak bilang, masih kecil makannya udah rapih. Alaaaaah gak ada itu. Sama aja semuanya pas bayi, gak ngerti apa-apa 🙂

  21. Saya baru menemukan anda hari ini, lupa juga kenapa jadi bisa menemukan anda saat lagi asyik berselancar d google hari ini, oh ya, yg pasti bukan karena lg searching bule di google. 😀 😀 :D….. ngeklik halaman anda, dan tanpa terasa nge-scroll trus sampai kebawah, next post, next, next. 😀 . Saya juga share satu artikel anda ke facebook. Lucu, segar, memberi cara pandang berbeda dalam melihat bule. 😀 😀 .

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s