Sekilas Tentang Seks Bebas

Beberapa waktu lalu Stephanie dan juga Astrid mempublikasikan tulisan di blog mereka yang berkaitan dengan seks bebas. Stephanie menerima pertanyaan tak sopan dari temannya tentang budaya seks bebas di luar, sementara Astrid mendapatkan pertanyaan tak senonoh tentang hubungannya dengan pasangannya. Benang merah yang saya tangkap dari kedua postingan tersebut ada pada bagaimana persepsi dan keponya sebagian orang Indonesia terhadap seks bebas di dunia barat.

Sebagian orang Indonesia suka sekali mengatakan bahwa bule merupakan penganut seks bebas tanpa mau melihat ke dalam negeri sendiri dan memahami fenomena seks bebas yang juga terjadi di Indonesia. Sebagian orang Indonesia juga suka menganggap bahwa seks adalah pembicaraan yang tabu jika dilakukan oleh orang Indonesia, tetapi hal ini tak menjadi tabu ketika urusannya dengan mereka yang memiliki pasangan bule.

Sebelum bicara lebih lanjut tentang hal ini, mari kita lihat dulu apa sih sebenarnya definisi seks bebas. Dari berbagai definisi yang muncul saya menyimpulkan bahwa seks bebas adalah:  “Kegiatan senggama (coitus) yang dilakukan di luar ikatan perkawinan dan bertentangan dengan norma agama ataupun norma sosial”.

Tak bisa diingkari di negara barat, hubungan seksual di luar perkawinan adalah hubungan yang wajar terjadi, apalagi jika dua orang dewasa sama-sama suka. Tak ada pelanggaran norma disini, karena norma di barat dan di Indonesia jauh berbeda. Tetapi berbeda dengan pemikiran banyak orang Indonesia, ini bukan berarti orang barat itu langsung nyosor dan suka kegatelan jika melihat lawan jenis kemudian langsung grepe-grepe macam kasus di Jerman pada saat tahun baru kemarin. Satu kata kunci yang penting dari hubungan di luar perkawinan ini adalah dua-dua individu sebagai pemilik tubuh sama-sama setuju dan sama-sama cukup usia. Masyarakat barat cenderung tak peduli dengan urusan ranjang orang lain, karena mereka tak ikut memiliki tubuh orang lain apalagi ranjang orang lain. Bagi mereka bukan tugas mereka untuk meluruskan moral orang lain. Apalagi orang lain yang sudah dewasa.

Walaupun begitu, perlu dicatat bahwa tidak semua orang di barat seperti ini. Masih ada komunitas dan kelompok yang mempertahankan keperawanan dan keperjakaan. Biasanya, mereka yang mempertahankan keperawanan dan keperjakan adalah kelompok-kelompok relijius.

Hal ini tentunya berbeda dengan di Indonesia dimana hubungan seks tidak hanya menjadi urusan dua individu yang memiliki alat kelamin, tapi menjadi bahan konsumsi seluruh masyarakat dan juga pemerintah yang ingin ikut ngurusi kelamin yang bukan milik mereka apalagi jika mereka dianggap melanggar norma-norma. Padahal lho ya mereka yang melakukan hubungan seks di luar perkawinan ini biasanya melakukan di balik pintu tertutup, jauh dari pandangan masyarakat. Tapi kegiatan ini kemudian berubah menjadi kegiatan terbuka karena pintu yang terkunci ini didobrak oleh masyarakat.

Seperti saya sebut di atas, bule dan bangsa barat kemudian dianggap sebagai bangsa yang tak bermoral karena melakukan hubungan seks bebas, sementara Indonesia dianggap sebagai bangsa bermoral yang menghindari hubungan seks bebas. Satu hal yang perlu diketahui, orang-orang yang dianggap tak bermoral ini jauh lebih cerdas dalam urusan ranjang karena mereka sudah dibekali dengan informasi mengenai penyakit menular seksual, cara pencegahannya serta tentang kontrasepsi dan pencegahan kehamilan. Jika kemudian anak-anak muda ini memutuskan untuk melakukan hubungan di luar perkawinan setidaknya mereka sudah tahu resiko -resiko yang akan dihadapi.

Lagi-lagi hal ini berbeda dengan di Indonesia, dimana pendidikan seks menjadi hal yang tabu, bertentangan dengan norma dan tak layak diajarkan. Kok pendidikan seks, ngajarin masang kondom seperti foto saya di bawah ini saja dianggap sebagai sebuah hal yang berdosa karena dianggap mempopulerkan hubungan seks di luar perkawinan. Tabunya pendidikan seks ini secara tak langsung berkontribusi pada tingginya penularan penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS yang di Indonesia pertumbuhan tertingginya ada pada pasangan heteroseksual, bukan pada pasangan homoseksual. Nah kalau sudah begini, silahkan tanyakan pada diri sendiri mengapa ibu-ibu rumah tangga banyak yang terkena HIV/AIDS di Indonesia. Karena bapak-bapak yang suka jajan ke Mangga Dua, Kalijodo, Alexis dan aneka surga dunia lainnya itu tak pernah tahu cara masang kondom yang benar dan tak punya kesadaran untuk mengenakan kondom. Bahkan mungkin mereka tak tahu resiko yang mereka hadapi ketika jajan. Mungkin juga mereka memasrahkan diri, kalau waktunya kena STI (sexually transmitted disease) ya waktunya. 

IMG_2400

Hayo siapa yang tahu bagaimana cara memasang kondom dengan baik dan benar?

Di negeri barat, perempuan-perempuan yang memutuskan untuk melakukan hubungan seks tidak kemudian dianggap sebagai perempuan murahan karena sudah tak perawan lagi. Jauh berbeda dengan perempuan-perempuan di Indonesia yang langsung dicap murahan karena pernah melakukan hubungan seks di luar perkawinan. Sebaliknya, sang pria tak pernah dicap murahan, malah mereka dianggap sukses merenggut keperawanan anak orang. Konon di Indonesia perempuan dianggap lebih berharga ketimbang pria, sehingga perempuan harus bisa menghargai dirinya dengan mempertahankan keperawanannya. Tidakkah ini kemudian sebuah diskriminasi kepada pria-pria karena mereka dianggap tak lebih berharga ketimbang perempuan sehingga mereka bisa mengumbar keperjakaannya?

Bicara tentang hal ini ini saya jadi teringat pada seorang mbak-mbak gaul di Malang yang baru bercinta dengan pacarnya yang juga anak gaul Malang. Keesokan harinya, sang pria yang merasa jawara karena sudah berhasil menggauli perempuan ini bertutur kemana-mana menceritakan kehebatannya di atas ranjang dan detail panasnya percintaan mereka di atas ranjang. Sementara sang perempuan lebih tertutup untuk urusan percintaan. Ya konstruksi sosial kita memang membolehkan pria kehilangan keperjakaannya, malah sering dianggap hebat karena bisa menaklukkan anak gadis.

Pemahaman sebagian orang Indonesia tentang seks bebas di luar negeri seringkali salah. Sebagian dari mereka beranggapan bahwa di negeri barat itu, berhubungan seks bisa dilakukan semudah para aktor dan aktris di televisi mendapatkan pasangan untuk tidur bersama seperti di film-film seri yang ditayangkan di TV. Pria-pria Indonesia yang haus dengan seks kemudian juga sering menggoogle bagaimana caranya mendapatkan pasangan perempuan bule supaya mereka bisa dapat seks dengan mudahnya. Di blog saya ini pria-pria bule hunter makin banyak dan kata kuncinya selalu nyerempet ke urusan ranjang. Terlihat sekali kalau ada kelompok-kelompok kecil yang berambisi menjadi seperti Barney di How I Met Your Mother yang maunya meniduri perempuan untuk kesenangan belaka. Padahal, gak semua orang di barat seperti Barney dan tentunya tak semudah itu meniduri perempuan. Salah menangkap sinyal dari perempuan bisa berakhir di penjara karena percobaan pemerkosaan.

Pada akhirnya, sebelum kita menghujat moral bangsa barat karena keputusan sebagian dari mereka untuk melakukan hubungan seks sebelum perkawinan, ada baiknya kita melihat ke dalam negeri dahulu. Melihat pergeseran nilai di masyarakat kita dimana banyak anak-anak muda tak perjaka dan tak perawan lagi. Seks bebas bukan ekslusif punya orang asing saja, tapi juga menjadi fenomena gunung es di Indonesia. Fenomena yang tabu dibicarakan dan didiskusikan. Tanyakan pada diri sendiri, solusi apa yang bisa ditawarkan pada mereka? Yang jelas, melarang penjualan kondom seperti yang dilakukan Satpol PP di Makasar pada saat Valentine lalu tak akan menyelesaikan masalah, karena seks tanpa kondom jauh lebih nikmat tetapi jauh lebih beresiko.

Pernah ngobrol dengan remaja jaman sekarang tentang seks bebas?

Xx,
Tjetje

Advertisements

105 thoughts on “Sekilas Tentang Seks Bebas

  1. Ngeri..Hehe, aku pan masih kolot mbak, tapi sungguh ga mau ikut campur apalagi menghakimi urusan ranjang orang. Yang coba aku lakukan hanya menanamkan value yang benar bagiku pada anakku dan tegas padanya bagi sesuatu tidak benar. Hehe, tapi sekali lagi, tidak ingin mencampuri urusan orang. Ngapain amat yak nanya2 hal pribadi begitu sama orang lain, apalagi kalo ga deket. Ga sopan amat. Haha

  2. Ngomong-ngomong seks bebas ya di Indonesia banyak banget tapi tutup mata dan diam-diam. Malah beberapa kenalan gue gak pernah periksa organ kewanitaan sama sekali dengan alasan malu padahal hal-hal gitukan sebetulnya perlu.

    • Buaaaaaanyak banget tapi tabu ngomonginnya. Yang bikin gemes ya HIV/AIDS tertinggi di ibu2 itu kan salah satu indicator kegagalan pria untuk mengamankan kelamin. Entah gagal paham atau emang gak mau. Gemes aku tiap ngomongin ini pasti emosi jiwa.

  3. Males bgt deh klo ngomongin ini ama teman sebangsa yg suka nyinyir. Mantan kolega di kantor lama pun suatu waktu pengen dijejelin cabe deh mulutnya wktu dia komen ke aku,”nih yg udah lama sekolah di luar pasti sih udah gak perawan lagi.” (Segininya aku ga pcran ma bule wktu itu). Ngenes bgt topik ini krn di luar sana pun byk menawarkan tempat-tempat indehoi buat para remaja saat ini. Tapi kok yg diarah masih yg pasangannya bule.

  4. Lagi-lagi stereotype ini mah.. Kalo ngomong soal sex dengan remaja sih belum pernah, tapi pernah ngomong dengan seseorang (cewek) umur awal 30an dan dia bilang bahwa dia dan suaminya sudah melakukan hubungan sex sejak mereka pacaran waktu kuliah dulu.. Ujungnya dia bilang: mba Em, jangan bilang-bilang ke orang lain ya (soal sex hubungan zaman pacaran itu).
    Sulit mengubah persepsi (tabu soal pendidikan/pengetahuan sex) ini kalo semua secara harfiah dikaitkan dengan agama, tak ada orang yg mau dituduh tak bermoral.

  5. Pernah.. Dan sayangnya mereka gatau apa2 mbak 😦 lebih menekankan agama (blindfold and dumbfounded) tp logika ga jalan. Giliran hamil, pd ngantri deh aborsi/bunuh diri. Banyak kasus di Udayana begini

      • Ada beberapa hal di artikel tersebut yang saya setuju tapi ada juga yang saya tak setuju. Kondom emang gak 100% melindungi tapi dia mengurangi resiko. Nah masang kondom salah, kok masang buka plastiknya salah aja bisa beresiko lho.

        Soal agama saya bukan pakarnya jadi gak mau berkomentar. Pun beragama, buat saya, bukan berarti harus menabukan pembicaraan tentang seks.

      • iya, mba artikelnya terbuka untuk dikritisi, intinya menurut saya pemakaian kondom itu sebetulnya termasuk pencegahan yang sifatnya di hilir, sementara faktor pendidikan seks dan agama pencegahan dari hulu, ada pihak2 (dan produsen kondom tentunya) yg lebih memfokuskan solusi di hilir dgn mengabaikan / menganggap solusi di hulu gagal. Padahal kenyataan banyak yg (1) salah dalam menyampaikan (cara berkomunikasi yg tdk tepat, setengah2, tdk berlandaskan ilmu, atau tdk mengajarkan berpikir dg konsekuensi logik), (2) tidak lengkap (pendidikan seks tanpa agama dan atau sebaliknya), bahkan ada yg (3) sama sekali tidak melakukan solusi dari hulu ini (menganggap tabu). Bila kampanye kondom itu dilakukan di desa2 yg ga tau soal kontrasepsi dan banyak sdh menikah untuk alasan KB, ini oklah. Kalau seperti yg tjd di kota besar dan dikampus2..bila di analogikan itu seperti kasus narkoba, kampanye nya ayo supaya aman pake jarum suntik baru saja (penasaran apasih itu? oh narkoba..jd kalo pake jarum suntik boleh dong), atau bagi2 parasut gratis supaya selamat kalau tergelincir ke jurang (oh jadi boleh ya jalan ke jurang asal bawa parasut). Kata kunci yg memancing penasaran. Karena otak menyerap kalimat positif. Ingat iklan yg kita benci diulang2 akhirnya malah inget? Selain tdk menyelesaikan permasalahan. Bandingkan bila pencegahan dari hulu, yaitu berantas narkobanya, tangkep bandarnya, dan hindari jalan mendekati jurang…kira2 lbh make sense ga drpd kasih jarum dan parasut? Dianggap sudah tdk tertolong krn di hulu berantakan? ya gimana ini juga ibarat rumah sudah kebakaran tapi yg kemudian disiram adalah minyak bukan air. yang ada malah makin membakar…padahal spt di artikel tdk ada jaminan alat kontrasepsi itu bisa aman mencegah penyakit.. jadi.lebih mendingan ubah cara berpikirnya yang dirubah dg hukum yg jg dipertegas atau senjatanya yg dikondomkan? Mana yg lebih murah…Kalau yg terakhir, jelas produsen kondom yg beruntung ya.. Padahal budaya dan kebiasaan yg salah pencarian solusinya tidak bisa dilakukan serampangan. Harus sistematis dan jelas golnya. Spt halnya pemberian jenis obat oleh dokter. Maaf ya mba kalau kepanjangan jawabannya…kalau singkat tanpa analogi takut slh phm..kira2 itu saja…smg tdk ada salah kata.

      • Gak papa panjang, mari berdiskusi dan bertukar pikiran. Btw, hukum yang dipertegas itu maksudnya bagaimana ya? Apakah mereka yang melakukan seks sebelum kawin dihukum?

      • oh..itu bicara kondisi yg plg ideal ya. Menurut saya yang namanya hukum positif sebetulnya membakukan norma etika dan nilai2 (agama) yang ada di masyarakat. Diformilkan menjadi hukum negara. Sekarang, agama apa, sih, yang memperbolehkan melakukan seks bebas? Adat mana yang memperbolehkan? Itu adalah nilai2 positif… kenapa tdk dipertegas dengan hukum? Kita merujuk pada berbagai kesamaan dalam definisi “seks bebas”, ya (dalam bahasa Indonesia, silahkan googling). Selingkuh sudah memiliki hukum positif (tidak diperbolehkan), kemudian di negara2 maju melakukan hubungan seks dengan pasangan dibawah umur bisa kena sangsi. Bisa kita lihat derajat pengaturan (tahapan berdasar ikatan perkawinan, kemudian umur) yang memang berbeda-beda, sebetulnya seks bebas itu sendiri memang tidak diperkenankan. Tapi sekali lagi, ini pendapat saya, lho….ah, jadi terlalu panjang lagi, ya? kpn2 deh bikin tulisan serupa nanti .sy undang mba berdiskusi…trmksh 🙂

      • Nah saya sejujurnya kurang setuju kalau urusan seks bebas dibawa ke ranah hukum, pertama karena tidak ada urgensi dan tidak prioritas, kedua karena ini urusan tubuh masing-masing, negara gak perlu ngurusin. Apalagi kalau pelakunya sudah sama-sama dewasa dan sudah bisa menentukan apa yang terbaik untuk dirinya sendiri.

        Lalu pertanyaan selanjutnya, adakah agama dan juga norma sosial gagal memberikan pemahaman tentang resisko seks yang tidak aman?

      • Iya gagal. Tmn sy org perancis saja prnh bercerita disana sebagian besar umat katolik, tp yg ke gereja plg 10% Disini muslim jg sama, brp persen yg phm agama sesungguhnya? Bkn agamanya yg keliru, tp cara menyampaikan nilainya dan tanpa pendidikan ttg seks. Norma sosial kalau mau ditarik ke blkg basisnya kan dari agama. 🙂

      • Ah menarik itu tarikan norma sosial dan agama. Nah ketidakefektifan (kayaknya saya makai kata gagal parah bener) itu yang semestinya 1) diperbaiki 2) cari cara lain. Saya pilih nomor 2 😋

  6. Kalo dulu ngomong sama remaja resikonya seks bebas emang kerjaannya. Malah sekarang belum lagi. Cuma pernah dimintain tolong ngobrol sama sepupu yg suka buka situs porno.

  7. Kalo ngomongin seks di Indonesia mah udah salah kaprah kemana mana deh mba, apalagi kalo udah bawa bawa agama. Dibilangnya udah tabu/dosa *tapi anak seabrek abrek, entah doyan entah gak tau kontrasepsi*
    Miris kadang, info yang didapet jadi gak jelas akhirnya malah kejeblos bukan cuma kedalam dosa tapi juga kedalam sumber penyakit :/
    Aku justru banyak dapet info dari temen (sesama cewe karena kalo sama cowo sih ujung2nya jadi porno gak jelas) sama dari google. Ortu dulu gak pernah ngomongin soal seks karena tabu. Dianggap nanti juga lo tau sendiri 😀
    Nanti kalo sampe punya anak, mesti dibekali sedini deh, ngeri kalo diajarin orang lain kan 😦

    • Nah itu soal Google ya jadi satu hari pernah ada analisis tentang kata2 dan gambar yang paling banyak di googling di Indonesia yang muncul top 70%nya porno. Makanya institusi negara gemes ngurusin porno. Tapi ya apa itu analisis kan bisa lihat sebaran usia pengguna?

      *ngelantur deh*

      • 70% wow!
        Sebenernya di Indonesia tuh kurang informasi yang proper tentang seks terutama untuk kalangan muda. Mereka penasaran jadi nya cari info sembunyi2 (kebayang kalo nanya ke ortu pasti salah tingkah, nanya ke pemuka agama langsung dibilang berdosa). Sekarang ada google, tapi informasi disitu kan juga gak bisa disaring mana yang ngawur mana yg bener. Yah jadi gitu deh, ujung2nya seks=dosa 😀

  8. Di luar juga banyak kok, mbak, yg menganggap murahan cewek yg sering ganti pasangan (cuma ONS tanpa ada pasangan tetap) yg disebut slut-shaming. Tetap aja seperti di sini cuma cewek yg kena ‘teguran’, cowok mah jawara kl bisa nidurin banyak cewek.
    Dan seperti di Indonesia juga, mereka yg Asexual juga dianggap cuma caper aja. Mana ada orang yg ga tertarik sama siapapun? Bukannya hawa nafsu itu adalah sifat dasar manusia? Cuma bedanya di Indonesia, Asexual itu bagus pas remaja sampe umur 25an. Setelah itu mereka diharapkan buat menikah dan menikmati kegiatan seksual dalam ikatan perkawinan. Kl ga mau nikah, bakal diceramahi macam2 sampe mau dirukyah segala.
    Kl kata adek, “pas mbak muda ayah ibu seneng banget mbak ga suka main apalagi gaul sama cowok, eh pas waktunya nikah tinggal bingung sendiri pas si mbak ga pengen nikah”

    • Ah bener yang shaming itu ada masuk bullying dan biasanya tinggi di beberapa negara terutama diantara remaja. Ah kapan2 aku bahas.

      Soal aseksual ini aku masih harus belajar banyak lagi karena belum populer. Harusnya kemaren pas rame2 LGBT sekalian diekpos ya soal aseksual biar orang tahu.

      • Seharusnya sih gitu tapi banyak juga LGBTIQ yg ga suka disandingkan dengan Asexual, ada yg karena mereka takut disamakan dengan Asexual (yg orang pikir Asexual = selibat) dan akan dituntut untuk tidak berhubungan seks lagi. Ada juga yg menganggap Asexual itu tidak patut masuk LGBTIQ karena mereka mengira Asexual itu = tidak punya seksualitas, dan banyak lagi.

      • Masalahnya banyak LGBTIQ yg ga suka dan ga pengen Asexual jadi bagian dari mereka karena beberapa stereotipe Asexual yg dianggap mengancam dan ga ada tempat di komunitas mereka.

  9. Kadang Indonesia yang katanya negara dengan adat ketimuran memang sering kebablasan… Dan saya rasa, media banyak berperan disini, dengan judul-judul berita yang bombastis…

  10. Ah Mba, ini bener banget… aku pernah sampe nyolot jawabin orang dan bilang emangnya makna bule itu sex bebas, mereka di jalanan umum gitu ngesex sama semua orang. Keselll banget Mba, gara2 punya pacar orang luar, becanda aja pasti nyerempet soal begituan. Paragraf penutup Mba Tje bagus banget, belajar untuk melihat ke dalam dan gak menjadi orang yang munafik 🙂

  11. Inilah susahnya di Indonesia, apa2 masih dikaitkan sama norma agama dan parahnya karena masyarakatnya demen banget ngurusin orang lain. Jadi inget waktu masih kos2an di daerah palmerah ada yang sempat dikarak telanjang karena ketauan tidur bareng (setauku statusnya juga sama2 single, alias bukan selingkuh atau apa – not that it’s OK to do so either).

    Aku kalau ada yang tanya masalah2 begituan sudah pasti jawabannya “Jadi ini menyangkut kehidupanmu dibagian mananya ya?”. Untungnya temen2 sekarang nggak ada yang kepo kaya gitu (kalau dulu ada pun udah lama dijauh2in).

    Masalah seks juga menyangkut masalah kekerasan seksual. Coba sih bandingkan kasus perkosaan di negara maju / liberal / pornografi legal dibanding negara fundamentalis macam Saudi Arabia yang keliatan sedikit aja udah terangsang? Lagi2 agama. Ah aku mau nulis ah masalah losing my faith ini kapan2 di blog

    • Ini jadi pertanyaan juga buat aku Va, soalnya agama di Indonesia itu kan termasuk kenceng banget. Di sekolah di rumah diajarin agama, tapi hal-hal yang dipandang negatif dan katanya hal-hal berdosa jalan terus. Bikin bertanya-tanya, apakah ada pemahaman agama yang salah ataukah ah embuhlah kalau soal agama nyerah deh.

  12. Ini bener banget deh ya mbak. Lagipula kalo disini, cowok-cowoknya lebih ditanamkan pemahaman “no means no”. Kalo ceweknya gak mau berhubungan seksual ya gak boleh dipaksa. Consentual sex itu penting banget. Selain itu yang ceweknya juga udah paham banget soal kontrasepsi, masa subur dll, jadi kalo mau berhubungan seksual yang “for fun” juga udah ngerti itung-itungannya biar gak hamil.

    Menurutku pendidikan seks di Indonesia harus ditekankan bukan ke abstinence tapi ke protection. Karena kalo abstinence, orang orang jadi penasaran, terus pada nyobain. Mending kalo tau gimana cara proteksi, kalo nggak kan berabe.

  13. Pernah mba, sekitar lima belas tahun yg lalu, waktu aku kerja di pabrik ngobrol dengan anak buah sendiri, dia cerita bahwa dia pertama kali melakukan seks sewaktu dia masih smp dengan tetangga nya yg ngekost dengan perempuan yg lebih tua dari nya. Menurut dia, dia tak sendirian yg melakukan seks dini, dia bercerita bahwa ada temen nya yg sama seperti dia. Perusahaan dimana dulu saya bekerja berada di pinggiran kota Bandung, masih dipedesaan gitu, yg mematahkan perkiraan ku, dulu aku kira seks bebas hanya ada di perkotaan

  14. aku punya pengalaman yang sama mbak. dulu pas awal2 sama matthias, kalo temen cowok tau aku mau pergi sama dia sering banget diginiin: “awas lu ati2 bunting” emang usil banget orang2 indonesia itu…

  15. Sering banget aku merasa terkejut membaca topik-topik yang panas di Indonesia. Hobi banget ngurusin ranah privat (terutama seks) orang lain 😆 . Apa nggak ada topik lebih berbobot dan penting yang bisa diurusin dan didiskusikan ya?

    Dan terkadang niat dan aksinya bertolak-belakang. Aku ingat beberapa waktu lalu pernah ada perintah dari seorang pejabat untuk melarang penjualan kondom karena dengan akses ke kondom, penyebaran HIV/AIDS akan semakin meluas. Lho????

  16. Budaya Indonesia, semakin ramah (entah mengapa) semakin ingin tahu banyak hal orang lain yang bukan urusannya, termasuk masalah beginian.

  17. Temen perempuanku pacaran sama bule, orang sekitaran dia langsung godain “bule tuh lebih gede yaaa?” atau semacam itu. Padahal sama bulenya gak pernah di apa2in krn temenku sebenernya pgn doing sex after married. Pernah saking kebanyakan di godain sama temen kantor laki2, finally temenku marah dan buka suara kalo dia belum pernah berhubungan sex sama pacarnya. Dan malah jadinya pikiran temenku kebalik, lebih respect sama pacarnya ketimbang temen kantornya yang suka bully dia ternyata di belakang dia ketauan kabur dari tanggung jawab menghamili orang lain.

    • Iya di Indonesia kok aku lihat sepertinya dihina banget dan dilabeli jelek banget kalau pasangannya bule. Sementara kalau pasangannya orang Indonesia biasa aja. Padahal orang Indonesia yang melakukan seks sebelum kawin buanyaaaaak banget, yang selingkuhan banyak banget. Kalijodo boleh tutup tapi Alexis masih berjaya 🙂

      • Betul!! Aku sebel banget sama tipikal hipokrit model begitu. Padahal jaman sekarang gak ada bedanya kehidupan jakarta sama di luar negri. Kumpul kebo? Banyak. Cewek simpanan? Cari di mall gede. Affair kantor? Hmmm…
        So? Apa bedanya warga Jkt sama warga luar??

  18. Ga pernah Mba, iya ya gimana mereka anggap seks bebas ya? Kayanya si masih tabu Mba, apalagi kalo mereka hobinya share info ga penting dari FB. Makinan tabu pasti hahahaa.

  19. Pingback: Your Body is a Battleground* |

  20. Nice post mbak Tjetje! Aku punya temen baik cewek bule America yg student exchange di Indonesia beberapa tahun lalu yang kena sexual assault dari rekan cowok Indonesia. Karena mungkin salah penilaian juga dari pihak cowok, di kira semua bule freely have sex with anyone. Akhirnya temenku itu harus kembali ke US untuk mendapatkan bantuan counseling. It was very upsetting. Semoga tidak akan terjadi dengan student exchange yang lain.

  21. Alamak, dari jaman dulu sampai sekarang era internet ternyata masih byk org Indonesia yg mikir bule penganut seks bebas 😀 😀 Seks sebelum menikah mungkin iya (dan itupun gak semuanya kayak gitu) tapi bukan seks bebas dalam pemahaman ala Indonesia: seks tidak bertanggung jawab atau tiap hari ganti pasangan. Kacau banget memahami bule.
    Benar artikel Tjetje, banyak yg sudah melakukan seks sebelum menikah di Indonesia dan konyolnya tanpa pemahaman apa itu seks, jadi akhirnya kasus kayak MBA atau kena HIV. Yang paling parah ya sebenarnya yang sudah menikah tapi ternyata gak puas, jadi jajan seks sana sini. Itu sebenernya yg bikin gemes luar biasa. Bukan apa-apa, saya pas magang di Jakarta, ada beberapa karyawan laki-laki (Indonesia) yg jelas-jelas punya bini dan anak, coba-coba ngedeketin mahasiswi magang buat kencan semalem dua malem atau bermalem-malem. Dikira kita ini butuh mereka habis-habisan dan kencan dengan mahasiswi itu kyk jadi ajang rekor mereka. Bule-bule expat yg kerja di sana justru gak kayak gitu.
    Duh, maaf kalau keluar jalur, soalnya isu ini suka membuat emosi jiwa 😀

    • Nah ini mungkin terminologinya juga yang salah, karena seks bebas (yang mungkin disadur dari free seks) dianggapnya wild wild west, asal lihat perempuan disamber aja.

      Oh Mbak yang sudah kawin gak setia, apalagi di Jakarta buaaaaanyak banget dan udah gak ada malu-malunya lagi kalau mau pijet, karaoke atau aktivitas lain yang pakai plus plus.

  22. isu ini memang selalu kontroversi ya mba, karena banyak perspektif yang terkait, termasuk nilai budaya, agama dan sebagainya. Padahal free sex bukan hanya di negara-negara Barat saja, tapi justru di tanah air yang sayangnya bisa dijumpai di banyak tempat. Tapi ya ngga pas juga kalau selalu menuduh orang-orang bule semua berperilaku seperti ini, karena banyak juga teman-teman di AS yang justru konvensional sekali dan tidak mendukung seks bebas.

  23. ya dibilang wajar org indonesia menganggap bule itu penganut seks bebas..yo pantas kan sesuai budaya mereka di sana…..tak ada batasan pergaulan….agama pun tidak jadi penghalang….jangan sampai orang indonesia terkena budaya seperti itu…..tapi saya lihat dan saya terawang indonsia ini ada potensi bahaya ini…hmmm ngeri bangettttts

  24. Aku kaget setengah mati begitu adekku (yang sekarang semester 6) cerita kalau salah satu temen dekat dia pas SMA dulu mau pinjam uang untuk aborsi. Jderrr! Rasanya langsung tersadar kalau si bungsu ini udah gedhe, udah bisa bikin bayi sendiri. Tapi hal ini tetep cuma di antara dia dan temen-temennya dan aku juga, orang tua nggak perlu tau, bisa panjang urusannya.
    Nah karena sama ortu pun nggak gitu deket, urusan seks juga kita nggak pernah bahas. Aku merasa mereka (adek-adek) pun lebih nyaman ngobrol sama temen-temen mereka. Kalau ada hal yang salah (problematis ala-ala topik 50 Shades of Grey yang lebih ke abusive/stalking) itu aku baru obrolin. Dan langsung dicap propaganda hahahaha (belum ngomongin feminisme, pro-LGBTQA, dan seterusnya)
    IMO, aku sih ga permasalahin mau mereka seks di luar nikah atau nggak, yang penting mereka ngerti safe sex, nggak kayak kasus temen adekku di atas itu. Sometimes, aku merasa bersyukur bisa berpikir yang cukup terbuka, karena kalau enggak, dengan ortu yang masih sangat tradisional dan relijius, siapa yang bisa jadi temen bicara adek-adekku? Daripada mengobati, mending mencegah; makanya, daripada calon anak-anak nanti nggak ngerti dan salah jalur, mending pendidikan seks dikenalin kalo udah waktunya.

    • Aku setuju sekali Diah, urusan seks memang sebaiknya diperkenalkan dengan cara yang benar, bukan dibiarkan begitu saja. Aku kebetulan ketika beranjak remaja diberi buku tanya jawab tentang seks. Sayang bukunya gak ketemu dimana 😦

      Soal aborsi, nanti pada hari Perempuan aku share ya cerita tentang aborsi.

  25. dari iseng ngetik di google “kenapa anak blasteran jadi artis semua” akhirnya mendarat di blog ini… bahasannya pun ringan, ucul, dan miris melihat alasan pengen nikah sama bule…
    kalo masalah seks bebas mah, pada dasarnya indonesia melarang seks bebas karena budaya timur.. tapi kenyataannya nahlo, malah banyak sekarang yg bisa meretas anak gadis orang di forum dewasa 😀 😛 #tepokjidat

    pada dasarnya itu semua kembali ke masing2 pribadi, tetapi secara umum barat memang lebih terbuka, di indonesia dianggap tabu, tapi ya itu, banyak yg udah ber-ehem2 sama pacarnya… malah lebih parah daripada barat sekarang kayaknya …mungkin karena dianggap tabu dan dikekang, sehingga jadinya lebih parah wakaka

  26. beberapa kali dapat share dari ibu-ibu yang adalah teman ku, kalau anak-anak sekarang dari SMP disekolah mereka sudah diajarkan mengenai sex education tapi koq karena budaya kita kali yach rasanya mendengar cerita seperti itu jadi aneh aja. Karena anak-anak mempelajari sex bukan sebagai edukasi tapi jadi semangat memperagakannya. Mungkin juga karena pengaruh TV kali yach jadinya mereka melakukan di toilet sekolah dan itu kasus bukan sekali dua kali tapi aku sudah dengar beberapa kasus. Yang ada malah lebih parah dari film yang biasa dipertontonkan di tv luar. Aku nya yang aneh atau gimana yach. Hehehe

    • Dari jamanku dulu kalau pelajaran biologi juga suka pada rame sendiri apalagi kalau bagian alat vital. Padahal itu science ya (belum yang sex education). Ya gimana emang kulturnya pada malu2 kalau urusan alat vital.

  27. gada abisnya mba kl bahas masalah ini, bikin geregetan ya tuhan. pendidikan seks dianggap tabu, krn sesungguhnya bertentangan dgn nilai moral (?) dan agama (?). lah terus kl anaknya sembunyi2 berhubungan seks tanpa bekal ilmu yg cukup dan akhirnya hamil terus aborsi gimana? gagal paham saya.

  28. Aku baca ini kok miris banget ya, Sa 😐
    Btw aku setuju sama kalimatmu yang ini: “Bagi mereka bukan tugas mereka untuk meluruskan moral orang lain. Apalagi orang lain yang sudah dewasa.:

  29. Aku sampai sekarang memang nggak ngerti kenapa pembagian kondom dan omongan tentang sex itu dianggap tabu. Akibat dari kurang sex education kan seperti yang disebutkan di koment2 yang lain ya itu.. kriminalitas karena nafsu. Jadi inget dulu pernah baca koran ada satu anak muda yang perkosa balita karena nafsu habis nonton Baywatch.

    • Duh itu anak muda mengerikan sekali, lagipula Baywatch kan juga gak porno. Tapi kayaknya banyak yang gak bisa menahan napsu karena lihat perempuan pakai bikini. Bahkan ada travel blogger yang suka bikin postingan2 ngintip orang berbikini berjemur. Menjijikkan banget.

      Soal kondom, kayaknya emang lebih “mendingan” berhubungan seks tanpa kondom. Lebih gak tabu dibandingkan pakai kondom.

  30. Menurut aku org Indo itu kebanyakan sok suci sih, kayak aku dulu sebelum nikah sama suami pasti pertanyaan temen2 kayak “kamu udah ngapain sama dia?” Dan seputar pertanyaan ranjang. Padahal mah org Indo yg kumpul kebo juga banyak, yg ons gonta ganti pasangan juga banyak. Tapi kalo liat cewek Indo yg pasangan sama bule langsung dpt stigma negatif. Bingung sayah..

  31. Pacarku Sendiri kebetulan orang luar Mba.. Dan udah kenyaaang bgtt aku dapet pertanyaan yang ga sopan luar biasa menurutku.. Ada yang nnya ‘eh dia di sunat ga?’ ‘Eh gimana itunya bule enak ga?’ Dan dia nyebut kata ‘itunya’ tu beneran disebut secara frontal. Emosii banget kadang.. Tp lama lama udah kebal Mba.. Atau kalo dy lg dateng kesini deuhhh ‘bae bae bunting bu, susah dicari nti buat tanggungjawab’ sedih Mba :’) kalo dapet pertanyaan ajaib. Hahaha

  32. Ini bahasan yg rempong ya klo di Indonesia, pdhal smakin dtutupin itu akan bikin smakin penasaran, apalg yg dpt info-nya jd sembarangan n apa adanya. Semoga semakin banyak pihak yg nemu cara untuk menjelaskan secara bijak n ga parno soal seks k anaknya/generasi muda.

    Buat gw, urusan seks ya terserah masing-masing aja. Ga usah nyubit klo ga mau dicubit, intinya bgitu. Tp ternyata salah satu teman baik malah dgn merdekanya bilang gw bego karena milih untuk nunggu. Sementara selama ini gw ga keberatan sm gaya hidup dia.
    Dan ada satu tmn kantor yg dgn suara toa-nya nanya d kantor yg masih penuh manusia, gmana cara gw nolak untuk berhubungan seks sm M. Ampir aja tangan melayang deh tuh Tje, it’s none of her or anybody’s business! Duniaaaaaa duniaaaa 😤

  33. entah kenapa, banyak di tanah air yang punya pemikiran berbaur “bule” baik itu tinggal di negara nya terlebih lagi pacaran, pasti berujung pemikiran seks bebas ini. saya pernah dibilang teman, oh, aku nggak mau pacaran sama bule karena nggak mau di “test drive”, jelas-jelas saya pacaran sama bule waktu itu. artinya? dia kuliah di belanda loh mbak bukan yang tinggal di indo dan cuma lihat film, aneh kalo pemikiran seperti itu dipelihara.

    ini pernah saya tulis di sini juga. https://coretandeninablog.wordpress.com/2015/12/15/apa-salahnya-pacaran-dengan-bule/

    • Ya memang susah merubah persepsi yang menyamaratakan. Butuh proses dan butuh exposure pada hal2 yang membalikkan persepsi itu. Nah masalahnya gak semua orang punya kesempatan melihat hal yang sebaliknya. Jadi nempel deh di kepala.

  34. aku ngomongin soal seks bebas dg adek cowok yg masih lajang, topik yang kurang nyaman sih, tapi aku merasa aku perlu ngingatin dia, aku bilang ingat HIV (tapi terlalu jengah untuk bilang, pakai kondom ya) karena aku ngerti aja melihat pergaulannya dia, sepertinya dia tidak selibat. Btw, semua isi fikiranku soal seks bebas vs seks bebas di indonesia sudah mbak tuangkan disini, mudah-mudahan membuka fikiran yg sempit

  35. Sekarang kita ada di jaman yang sama di mana jaman yang orangnya sama2 ngawur, sekarang liat orangnya aja baik sama nggak. Dan juga Intinya.. apa ya baik sex di luar nikah, gitu aja dah mas mbak, jangan ada pembelaan dengan kata “dari pada” buat membenarkan hal yang sudah jelas salah. Coba pikirkan pas kalian punya anak, dan dia ketemu berbuat sex dengan orang lain, apalagi sampai hamil. Gimana jadinya? Ini juga buat laki2.. Jangan sok ke barat2an. Bejat bener ni!!

    • Coba tolong mas Joko dijelaskan, yang sok kebarat-baratan itu maksudnya gimana ya? Karena di barat itu gak semua orang bejat lho, yang memilih tidak melakukan seks pranikah juga banyak. Jangan semua-semua disalahin barat melulu, coba sekali-sekali lihat ke dalam sendiri, apa yang salah dengan negeri kita sampai anak muda lebih mudah tergiur seks dan tak peduli pada resikonya.

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s