Berapa banyak dari kalian yang punya Whatsapp di telepon genggam? Saya yakin hampir semua dari kalian memiliki aplikasi yang mempermudah dan membuat biaya komunikasi lebih murah. Whatsapp, seperti juga Blackberry Messenger, memberi ruang pada individu-individu untuk membuat kelompok-kelompok yang kita kenal sebagai WhatsApp group.
Dalam grup WA biasanya terdapat batasan orang yang bisa tergabung, Hanya 100 orang saja untuk setiap grup (silahkan dikoreksi kalau angka ini salah). Dengan jumlah yang 100 orang saja, grup WA ini biasanya selalu berisik. Berisik karena banyak hal, tapi yang pasti karena hampir semua orang ingin berbicara. Tak heran jika kemudian ada fitur silent yang bisa diatur hingga satu tahun.
Saya sendiri tergabung dalam beberapa grup WA dan aktif menjadi penonton kelakuan orang-orang. Berdasarkan pengamatan saya, ada berbagai tipe orang yang ada di dalam grup. Beberapa di antaranya saya ulas di bawah ini:
Tukang kirim hoax (penipuan)
Membagikan informasi yang tak benar, atau tanpa mengecek ulang bagi saya adalah perbuatan tercela. Sangat tercela. Apalagi jika informasi ini membuat orang panik dan cemas, terutama berkaitan dengan bencana ataupun kesehatan, duh makin gemas saya. Herannya, orang-orang masih banyak yang tak memahami bahwa informasi yang diakhiri dengan kata “bagikan pada teman, saudara tercinta” atau bantu broadcast seringkali menyesatkan. Banyak juga informasi yang sudah basi, seperti informasi anak hilang, dan terus-menerus disebarkan. Atau bahkan informasi-informasi lowongan pekerjaan yang belum tentu benar atau bahkan sudah lewat batas akhir pengiriman dokumennya.
Tukang dagangan
Berdagang itu sah-sah saja, wong namanya orang berjuang melanjutkan hidup. Tapi bagi saya berdagang dan mempromosikan barang juga harus etis. Di banyak grup saya sering melihat orang-orang yang mempromosikan dagangannya lagi, lagi, lagi dan lagi sampai bosan. Tiap hari promosi tentang dagangan yang sama, lama-lama rasanya bosan.
“Serunya” lagi, diskusi tentang produk-produk dagangan ini seringkali berlangsung di dalam grup, bukan dalam pembicaraan private. Akibatnya, grup menjadi berisik karena salah satu anggota ingin membeli sebuah produk tetapi harus mengajukan seribu pertanyaan terlebih dahulu. Ah capek deh.
Tukang guyon tak sensitif
Orang Indonesia itu seneng bercanda dan bercanda itu sehat untuk kesehatan jiwa. Guyonan bisa ditemukan dengan mudahnya di dalam grup, karena ada saja anggota grup yang menyebarkan joke. Tapi yang tak mengenakkan ada saja orang-orang yang menyebarkan guyonan yang tak sensitif. Entah tak sensitif jender atau tak sensitif bencana. Jika kemudian ditegur, alamat yang menegur kena tegur balik karena dianggap tak bisa santai dalam hidup. Susah memang menjelaskan bahwa ada hal-hal, termasuk pemerkosaan, yang tak pantas dibuat bahan ketawaan.
Tukang ngobrol tanpa henti
Seperti saya bilang di atas, notifikasi grup whatsapp itu tak berhenti. Kalaupun diatur dalam mode silent tanpa notifikasi, pembicaraan di grup akan terus-menerus diunduh oleh sistem. Entah mengapa ada saja orang-orang yang ngobrol terus-menerus, seringkali hal-hal yang tak penting hingga larut malam. Pembicaraan tanpa henti hingga malam ini bagi saya tak sensitif karena tak mempertimbangkan 90 orang lainnya yang ada di dalam grup dan kebutuhan mereka untuk beristirahat. Kalaupun telepon genggam diposisikan silent, baterai telepon genggam mereka juga perlu istirahat.
Tukang Menyebar Ayat
Baru-baru ini salah satu orang di grup yang saya ikuti memutuskan untuk keluar dari grup karena: terlalu banyak ayat di dalam grup tersebut. Mengindahkan ayat-ayat tersebut memang sebuah hal yang mudah, tapi tentunya lama-lama gerah juga kalau grup yang harusnya dibuat menjadi ajang memperkuat pertemanan berubah menjadi rumah ibadah. Apalagi jika ayat-ayat yang dibagikan tak relevan dengan agama dari sebagian anggota grup. Saya sendiri sangat memahami ketidaknyamanan ini karena sudah beberapa kali mengalami sendiri.
Grup whatsapp itu dibuat untuk menjalin komunikasi dan pertemanan. Informasi yang dibagi-bagikan selayaknya informasi yang penting dan tak menipu. Soal bagi-bagi informasi ini saya jadi ingat kata-kata Femi Oke, presenter Al-Jazeera: ketika menyebarkan informasi yang salah, kredibilitas kitalah yang dipertaruhkan. Tak hanya itu, dalam bergaul di grup WhatsApp, kita dituntut untuk bisa sensitif dan menjaga kenyamanan bersama. Ketika tak ada kenyamanan lagi, jangan heran jika banyak orang-orang yang keluar dari grup. Ngapain juga masuk di grup jika berisik, kurang bermanfaat dan menghabiskan baterai.
Menurut kalian adakah hal lain yang mengganggu di grup whatsapp?
Xx,
Tjetje
Gak suka ngucapin selamat ulang tahun di grup WA

source: http://www.jeffbullas.com (data 2015)
Kalau aku di Line Mbak, karena aku ga pake Whatsapp.
Kan aku ga pakai smartphone, jadi aku install Line di hp Mama dan pakai Line dari PC. Ada 1 grup yang isinya cuma 3 orang, tapi temen aku suka ngomongin hal yang ga penting dari pagi sampai malam, otomatis notifnya jadi sampai ratusan. Nah kan aku jarang buka Line di hp Mama ku jadinya tiap aku buka di hp, hp nya jadi hang dong Mbak.:(
Udah dari aku ngomongin baik-baik sampe aku leave group masih ga nyadar juga, masak ia tiap hari ngomongin hal yang sama, mulai dari dia mau nyapu, ngepel, mertuanya ngomel-ngomel, masakan apa yg dimakan hari ini. Kan aku lelaaahhhhh Mbak.*maaf jadi curcol.:D
WA buat aku lebih ringan, Line berat banget.
Kl ngucapin selamat ulangtahun yang copas. Berasa ngasih doa gak tulus. Jadi aku sebisa mungkin kasih ucapan selamat tanpa copas. Kl gak mending gak usah ngucapin selamat.
Truss berita hoax kl dibenerin nyolot. Hmmmm
Bahas berita politik dukung mendukung akhirnya nyolot nyolotan. Paling hot dukung ahok ato bukan. Yaelaaah kita disurabaya ngapain bahas ahok sampe dibawa berantem. Milih juga nggak
Ah Ahok ini Hot topic karena rasisme di Indonesia jadi muncul lagi. Bahkan pakai bawa2 Mei 1998.
Nah aku cukup gregetan karena masalah Mei 1998 diungkit-ungkit lagi Mbak, karena aku ngerasain gimana dulu horrornya saat itu. Walaupun saat itu aku masih kelas 4 SD, tapi aku ingat jelas dan masih terekam jelas setiap detailnya.
Selain semua poin yang disebutin di atas, aku kok terganggu sama yang kalo ngetik semuanya serba disingkat, hampir semua huruf vokal dihilangkan, dan ga pake tanda baca.
“mf y ibu2 bsk sy gk bs dtg arsn slnya pp yy msh drwt d rs blm bs plng ntr sy ttp uang arsn k b hendro sj y”
aku lama deh mikirnya. (clue: yy adalah singkatan nama anaknya -_-“)
Aduh ini gak pernah belajar bahasa Indonesia ya 😦
Tukang ngobrol tanpa henti + OOT. Di salah satu grup WA ku ada yg seperti itu, malesinnya lagi kalo dia lempar obrolan di grup tapi ga direspon, langsung deh japri. Oh ya, aku suka blokir orang di WA kalo sudah terlalu mengganggu privasi 😆
Terus pernah ditanyain gak kenapa gak bisa dikontak via WA lagi? Aku pernah lho, terus aku jawab aja: iya kamu aku Block. Reseh sih. 😀😀😀
Yang paling ngeselin kalo ada beberapa orang ketawa2 ngebahas kejadian lucu mereka disaat gak semua anggota grup lain alami, pas ditanya “ada apasih?” malah dijawab “rahasiaaaaa”, ih rese banget! Langsung aku jawab “Ya kalo rahasia jangan share di grup laaaaaaaahhhhhhhh😜😜😜😜😜”
Wah itu bikin penasaran aja ya.
lah ya kan…ngeselin emang 😀
Kirim gambar2 atau foto2 lama yg semua org juga punya. Males aja karena kesimpen di gallery. Eh tp bisa diatur sih supaya gak tersimpan otomatis tp tetep aja ganggu. Belon video dll.
Aku jg bny silent digroup2 WA yg isinya lbh dr 10 orang. Ikutan karena diadd dan kalau keluar diomelin
Keluar aja gpp Non, bilang aja batere nggak kuat. Soal foto udah aku setting, kalau gak ngeselin banget karena folder jadi penuh.
beruntung saya tidak termasuk dalam grup whatsapp apapun mba ail,kalo pun ada yang masukin saya langsung keluar sendiri,bahkan di grup wa keluarga sekalipun saya malah keluar karena pas jadi anggota grup pun saya tidak banyak memberikan kontribusi yang ada jadi tau semua urusan keluarga si tante dan si om A,B,C,D yang menurut saya kurang layak dibagikan di grup.
Poin kamu menarik. Kebanyakan grup WA memang kurang bermanfaat hanya jadi ajang bergunjing gak jelas.
nah itu dia mba,lebih baik menghindar dan tidak tahu apa-apa,pokonya saya menghindari banget yang namanya grup-grupan.
Menarik idenya. Ini aku mau keluar dari beberapa grup karena ngabisin baterai
Waktu masih pakai nomer Indonesia aku tergabung banyak banget grup di WA. Beberapa kali bahkan keluar grup karena ga tahan dengan guyonan atau topik obrolan, maksudnya aku ga nyambung sebelah mananya yang lucu. Atau tiba2 aku diciduk tanpa ijin masuk grup. Kesel, aku ngomel2 biasanya trus aku keluar. Nah sejak pakai nomer Belanda, dan Hp yang pakai nomer Indonesia itu kehabisan baterai dan aku males ngisi, akhirnya mati sampai nomernya ikutan kadaluarsa. Kalau yg nomer Belanda ini hanya 3 grup yg aku ikutin, dua grup jadi anggota pasif banget, yg satu grup aktif karena isinya teman2 dekat hanya berempat. Nomer Belanda ini memang agak eksklusif, cuman sedikit yang di Indonesia tahu.
Aku masih pakai nomor WA Indonesia karena alasan yang sama, males berbagi nomor Irlandia. Soal ijin masukin grup bener banget Den. Suka reseh asal masukin dan grupnya gak jelas.
Paling males kalo ada yang negur via WA group. Karena aku ikut WA group keluarga, sering banget ada om/tante yang kalo gak suka langsung skak mat di group. Kalo sama kita yang lebih muda sih mending (paling cuma ngegerutu dalam hati) tapi kalo udah seangkatan, jadinya ribut deh di WA group 😦
Sebenernya kebanyakan WA group cuma bikin HP cepet nge hang. Dulu aku sering di invite, sampe akhirnya aku leave atau decline sekalian. Abis lama lama jadi gak penting
Ribut di grup, kemaren malah ada yang ngebahas hutang temen di grup. Rameeee.
klo saya justru yg rese bukan dr grup mba, terkadang beberapa temen yg dagang itu broadcast, itu bs seminggu sekali pula, atau broadcast event2 tertentu dan terus menerus, klo udah eneg, saya biasanya delete no nya dr kontak hp, klo kita ga save no yg nge broadcast, message nya ga akan masuk, that’s work for me sometimes hehehe
Broadcast individual aku gak pernah ngalamin. Kebanyakan hanya pas di grup.
Pernah join grup Whatsapp yg diisi beberapa orang yang hobi jadi provokator dan sengaja bikin drama di grup. Biar rame gitu munkin, ujungnya sih perpecahan. Trus akibat adu domba, muncul grup baru yang memfitnah admin di grup awal. Dramalah hahaha. Kalo udah nemu yang gituan pilih keluar dari grup, ktimbang jadi silent reader yang lama-lama jadi nggak sehat pikiran hihihi.
Drama dari televisi dipindahkan ke WA ya. Malesin banget.
Grup watsapp saya tinggal 3 yg semua anggotanya ga aktif, hasilnya paling cuma info kabar keluarga siapa yg meninggal/ terkena musibah. Kl ada yg gabungin saya paling betah seminggu kemudian mengeluarkan diri. Soal ayat2, saya blokir sepupu dari sepupu saya krn paling hoby ngirimin beginian bukan ga mau belajar tp saya ga cocok aja.
kalau di WA Group kantor, setiap ada yang ultah/melahirkan/peristiwa duka yg ngucapin selamat/belasungkawa lewat Group yaa 100 orang …. hhmmm *sabaaaaaar
Iya gak diucapkan secara personal, padahal kan belum tentu orang yang bersangkutan baca grup.
Dan pernah juga ybs justru ga ada di dalam Group. Baru sadar setelah berpuluh2 ucapan. Hahaha…
Saya banyak mengalami itu semua di grup mbak. Sukanya nomor kita di-add tanpa izin, hasilnya hp bunyi setiap menit. Kalau dicek terus capek juga, tidak dicek takut ada yg penting. Jadinya kalau grup yang tidak terlalu penting mending keluar walaupun sepertinya menjadi omelan anggota lain siapa yang left 😄
Ah capek kalau mikir omelan orang, aku kalau gemes ya keluar.
Aq sih g pernah ikutab grup gtu…wa cuma buat komunikasi dg temen2 deket aja.
Yang paling kesel itu kalau ada yang nyebar hoax mbak. Gak dicek dulu atau juga klarifikasi dulu apakah semua berita itu benar apa gak.
Kita juga mudah terprovokasi karena malas mengecek sumber berita ya 😦
Iya mbak Ai. Sedihnya di situ. Bbrp kali dpt berita aneh2 males jadinya. 🙈
Saya mending leave grup-grup yang banyak orang-orang yang Mbak jelaskan di atas :hehe. Tapi syukurlah di semua grup yang saya join di WA, belum ada grup dengan anggota-anggota toxic seperti itu :hihi. Ya semoga kita tidak menjadi bagian dari orang-orang seperti itu di grup-grup yang kita ikuti ya Mbak :hehe. Tapi WA memang sangat memudahkan :hihi.
Iya WA memang memudahkan komunikasi (dan murah), tapi reseh-resehnya itu gak kuku.
Kalau aku sebaiknya lebih baik “mencegah” daripada “mengobati” dalam artian aku nggak pernah mau join grup yang besar-besar gitu, hahaha 😆 . Berapa kali diajak (setengah dipaksa) join grup yang isinya semua anak SMP dan SMA. Gila berapa ratus orang itu. Dan dari awal aku sudah dengan tegas menolak karena toh aku nggak kenal dekat dengan semuanya.
Kebetulan pernah menjadi admin suatu grup (aku sih yang bikin grupnya, ahahaha 😆 ) untuk grup teman dekat semasa kuliah. Dalam berapa jam sudah ada satu anggota yang promosi dagangan. Langsung saja aku tegur bahwa tidak pantas di grup ini untuk jualan karena tujuan dibuatnya grup ini bukan lah untuk itu.
Wah bagus kalau adminnya mau negur Zilko. Kebanyakan admin gak peduli. Btw good point yang di atas, lebih baik gak masuk grup daripada ribet sendiri ya.
Alhamdulillah aku ikut grup wa ada sekitar 15 dan yang sekarang adem ayem ga ada yg aneh2.
Dulu pernah di grup pengajian, ada yg dlm sehari postingan dakwah super panjang dan sehari bisa 8 postingan. Akhirnya ditegur oleh ketua pengajian. Eh yg ditegur ngeyel, katanya kl ga suka ya tinggal hapus aja. Sampai 3x ditegur ramai2 oleh seluruh anggota grup dia masih bandel, akhirnya kami bikin grup baru dan dia ga di invite. Alhamdulillah sekarang tenang banget.
Wah di grup pengajian pun yang dakwah bisa dianggap mengganggu ya. Menarik. Btw, banyak banget grup yang diikuti.
Kalau aku males ngegrup meski tergabung d 4 grup, tp kebetulan 4-4nya gak berisik.. Biasanya aku sih yg tukang nyebarin info beasiswa atau lowongan kerja. Secara d grup aku isinya beasiswa dn job hunter semua. Yg bikin ill feel emang yg suka kirim ceramah agama. Cara menyampaikan kebaikan kok harus pake nakut2i? Wkwk
Ah soal agama ini memang repot sih, aku berapa kali diskusi soal HAM juga disemprot urusan agama.
Ember banget ka. Gak cuma HAM aja yg klo diomongin bikin dsemprot, tp ketika curhat masalah pribadi juga suka dtanggapi dgn ceramah (yg menurut aku spt menghakimi dan sok tahu banget, tp dgn bawa2 nama Tuhan). Suka langsung didakwa kita gak bersyukur, tukang maksiat atau apalah yg intinya bikin kita semakin jatuh. Mereka seakan2 paling benar dn bijak.
Aku dulu waktu awal2 belajar agama jg pernah berada d kelompok ‘garis keras’ lah, tp lama2 aku mulai nyadar dan nyesuaiin dgn kondisi. Sekarang aku jaga jarak aja sm mereka yg ‘garis keras’. Bukannya gimana2 sih…
kalau ikut grup WA plg enak itu jadi admin atau…..lurker (silent member) sekalian…kalau jd moderator bisa mengarahkan ke jalan yg benar, kalau tiba-tiba ada poin2 diatas yg dirasakan mengganggu…atau dijadikan grup yg pasif sekalian….wkwk….(baru aktif kl ada acara),.ga enaknya ga bisa kabur begitu saja…kl lurker…ya terserah semua mau bicara apa…pokoknya sehari clear chat ni clear chat…plg tricky kalau di grup yg mengharuskan aktif kalau ga di kick…
Hah ada grup yang mengharuskan aktif? Gila sadis bener.
iya mba banyak kok yg menerapkan spt itu tp mmg sifatnya grup share dan diskusi yg sifatnya keilmuan (bkn ngobrol ngalor ngidul)…krn kalau ga diterapin sistem spt itu tdk ada yg bicara, bnyk yg maunya disuapin info saja…
aku paling gak suka di whatsapp itu di grup yg ngobrol tanpa henti menggangu bgt yg gak penting juga diobrolin kak
Bener, biasanya pada kesepian terus nyari keramain deh.
Ada beberapa grup juga di Whatsapp, dari grup yang isinya cela2 an bodoh tapi seru, sampe yang isinya temen2 yang dah punya anak semua, omongan nya gak jauh dari anak, yg mana gak masuk lah di aku, tapi kalau keluar dari grup malah dibilang ga solider, pdhl dah pernah kasih tahu juga, kalau aku ga ngerti sama pembahasan di grup jadi aku silent reader aja ya. Eh disuruh yah berkicau lah sesekali.. haha.. sampe ada juga grup yang isinya cuma broadcast doang.. busyett emang bikin habis batere doang.. hehe
Wah masih diikuti ya, kalau aku sudah cabut tuh. Males kalau gak ada manfaatnya.
Nah itu dia, mau cabut, nanti di add lagi, haha.. Ya sudah lah, silent-in aja..
Ah malesin banget tuh.
Fenomena WhatsApp ya, mbak 😆 Aku keluar dari grup kantor karena resign tp kadang masih kontak2an sama temen lama via japri, keluar juga dari grup gereja krn berisik -_-” Orang mudanya demen banget ngobrol di grup, aku sampe heran mereka ini gak kerja apa ya saban hari ngomong ga brenti2 LOL
Aku juga keluar dari WA grup kantor begitu resign. Kayaknya it’s the right thing to do.
Tukang nyebar hoax sama ayat-ayat Quran itu yang ganggu. Tapi kadang aku bales2in aja pake quotes dari Pope Francis, Dalai Lama, Gandhi dsb.
Oh terus di grup WA aku ada pentolan PKS dooonggg… Males banget deh campur adukkin agenda politik sama ajang silahturahmi. Blah.
Aduh politik dibawa-bawa. Eh gak kebakaran tuh dibalas pakai quotes?
Hampir semua grup saya mute. semua Media gak download. Yg dinyalain notifnya cm grup keluarga inti sama grup temen akrab aja.
Kenapa gak keluar aja?
Masih butuh juga grup nya. Hehe
Aku ada ikut grup WA temen2 SMP dulu. Grup ini aktif selalu, aku mute tapi ngga keluar karena obrolannya ok dan hampir ngga ada hoax. Dan mereka sering ketemu dan makan siang bareng, share foto2 makanannya aku suka lihatnya 😉
Kalo grup yang ngeselin seperti kamu tulis diatas langsung aku keluar Tje. Biasanya sih setelah sehari, ngga kuat.
Wah gak kepengen ya Mbak kalau lihat foto-foto makanan yang enak :)? Aku paling gak tahan kalau grup isinya makanan semua.
Menurut Saya, ketika memutuskan untuk ber-socmed. Dituntut hati yg luass untuk menerima segala gangguan yg Mbak sebutkan di atas. Karena gak semua orang mengerti etika ber-socmed dengan baik.
Benar, tapi toleransi harus ada batasnya, kalau gak kita dijajah.
Ketika diinvite oleh seseorang masuk ke dalam grup tanpa kasih tau sebelumnya dan ternyata banyak anggota grup yang ga dikenal 😧😧
Maunya apa?
Lha wong yang orangnya dikenal aja males kalo ga deket dan ga ada kepentingan, apalagi yg ga kenal.
Ada 1 grup yg saya mute karena berisik, tapi tidak enak keluar krn anggota grup adalah yg dituakan si lingkungan. Tapi ya ampunnn..klo saya cek mlm, itu notifikasi bisa sampe ratusan dr 1 grup itu aja..
Ada grup yg udah di left tp keras kepala menginvite lagi, left lagi, masuk lagi..errgghh..
Hehe..itu ga enaknya sih mbak, tp manfaatnya banyak juga buat komunikasi dgn catatan ya dengan grup yg kita memiliki kepentingan, atau dekat dengan anggotany
Terus yang mengesalkan nomornya jadi nyebar kemana-mana ya 😦
Aku pake wa dan bbm aja mbaa.. Aplikasi chat lainnya, enggak.. Grup di wa sampe belasan trus disilent smua.. Komen seperlunya, biasanya malah closed chat without read :))
Aku cuma punya WA dan Viber. Dulu Viber jadi aplikasi andalan saat pacaran, sekarang sudah gak pacaran gak dipakai lagi.
BBM menurutku lebih reseh dari WA.
WA group, sy tergabung dlm 4 group. Sekolahan anak, herbalife club,family (keluarga suami) dan group bbrp teman yg thn lalu dtg ke KL (salah satu teman sy memuat group ini krn bbrp wkt yg lalu mereka berencana dtg lagi ke KL)
Sekolahan anak, pd saat awal tergabung si admin group menyebutkan poin2 peraturan yg diantaranya tidak ada SARA, politik, gosip& jualan jualan. lumayan lah group ini gak terlalu berisik
Family group, sy sengaja silent group ini krn kadang berisik.. ini isinya lumayan pada dewasa orang2nya.. Dlm arti gak ada masalah drama keluarga tumpah di group. Malahan yg ada sesekali tampil berita2 politik, kata kata bijak dan hal2 yg lucu. Ada juga saling mengucapkan Happy birthday, terus kalo pas ada hari raya keagamaan kita pada saling kasih ucapan. Seru banget krn semua agama ada disini bahkan ponakan yg mengaku dirinya atheis juga kasih ucapan. Pernah ada sekali kejadian, salah satu ponakan posting foto umbi kentang yg bentuknya mirip (maaf) genital pria; langsung bbrp saat stelah postingan itu salah satu ipar yg melihat skak mat itu ponakan bahwa postingan itu tidak patut nongol di group, dan si ponakan minta maaf – case closed.
Herbalife group, ini juga sy silent krn kadang berisik tapi lumayan juga sih buat sekedar mengingatkan sy ttg protein & kalori meskipun sebenarnya juga sy berpikir bahwa mau sehat bukan cuma pake produk itu doang. Lumayan lah, setidaknya kan sy jd berasa punya teman disini, gak kesepian banget..
Group KL trip, skrg sepi krn udah pd dtg kemarin pas awal bulan. Mungkin nti kalo mau kesini lg itu group aktif lagi.
Dari semua group tsb sy jarang komen/posting.. Kalo perlu perlu banget baru sy masuk kalo gak ya udah skip aja.. Untuk foto sy set jadi gak masuk album jadi gak penuh. Oh, sy juga rajin tuh Clear chat biar gak terlalu panjang rantai pesannya😄😆
Aku rajin hapusin tanpa baca 🙂
Tukang ngobrol tanpa henti itu benar sekali mba. Ditinggal 1 jam, notifikasi sudah lebih dari 300 messages. Bingung bacanya, apalagi balasnya. Kalau saya ada satu lagi mba, tukang ngomong jorok, haha.
Ah untungnya gak pernah ketemu sama yang tukang ngomong jorok. Kalau soal tukang ngobrol, biasanya messagenya aku hapus. Males bacanya dan biasanya gak penting.
Syukurlah mba haha.. Kalau sudah masuk di group yang orang-orangnya tukang ngobrol dan beberapa dari mereka suka ngomong jorok, saya pasti leave dari sana. Sayang baterai hpnya, haha
Inilah kenapa gw ga pny WA. Sempet punya, lalu di add ini itu sama temen2 di Indonesia yang intinya itu grup adalah grup ngobrol ngalor ngidul nggak penting. Males liatnya, kaya hidup gw seputar layar henpon aja.
Eh, tapi kakak2 dan temen2 orang Indonesia lainnya emang begini, hampir tiap menit menatap layar hape dan cekikikan sendiri. Mana enak sih hidup ga bisa melihat pemandangan yang diliat cuman layar hape doang?
Ini Indonesia banget Va, kalau ketemu repot dengan hp masing-masing tapi giliran di WA aktif banget 😑
Aku sempet negur loh, pas kita di Norway di dalam kereta yang pemandangannya scenic banget, terus kakak gw dua2nya pada pelototin hp (ada wifi di kereta). Haduh plis deh.
Barusan ngobrol sama temen yang abis pulang dari Bali. Dia sampe stress ngeliat orang liburan cuma repot pose dengan bikini cantik terus abis foto sibuk upload. Gak sibuk menikmati pemandangan. Ya Indonesia.
Aku Ada grup WA temen angkatan kuliah mba ttp yg eksis yaa anak2 yg dulu jaman kulah pada eksis dikampus, dan lebih banyak cowonya kalo udh malem malesinn bgt obrolannya mulai pada ngeres ngirim2 gambar Ga jelas lah yg aga seronok. Akhirnya aku leave aja. Hahhaha
Sayang yang WA gak punya mekanisme untuk melaporkan gambar jorok. Engga kayak di Fesbuk Messenger.
ada grup WA temen-temen SD yang akhirnya saya leave grup aja.. soalnya yang cowok-cowoknya ga bisa dikasih tau untuk gak kirim gambar-gambar cewek bugil atau setengah bugil.. lah kalo diliat anak saya yang kebetulan mainin HP saya gimana dong..
eh, pas dikomplen malah dibilang gak seru.. atau dibilang ya jangan dikasih pinjem anak dong HPnya.. jadinya kan sebel… kalau mau tukeran gambar khusus gambar bugil ya bikin aja grup sendiri..
Astaga vulgar banget itu.
Klo saya grup wa yg ngeselin krn anggotanya ada yg share foto foto wanita dengan pakaian mengumbar aurat. Demi menjaga dari pandangan yg menambah dosa, dengan terpaksa saya tinggalkan grup WA temen teman main bola.
Hah sampai ada yang kayak gitu segala. Untung saya gak pernah nemu yang begini.