Tukang Lapor

Postingan tentang nyonya OKB kemarin menuai banyak kritik, pujian dan yang terpenting menuai cerita-cerita baru dari berbagai belahan dunia. Nah dari berbagai cerita yang saya dengar, ada satu topik yang kerap muncul, yaitu soal melaporkan orang lain untuk menjatuhkan individu tersebut. Parahnya, kegiatan lapor-melapor ini melibatkan aparat keamanan dan penegak hukum di negara tempat bermukim.

Melaporkan paspor ganda 

Bagi WNI memiliki paspor ganda itu tidak diperkenankan, kecuali untuk anak-anak yang memiliki orang tua dengan dua kewarganegaraan berbeda (lazimnya disebut sebagai anak perkawinan campur). Paspor ganda pun dibatasi hanya hingga usia tertentu. Tetapi, di beberapa negara memiliki paspor ganda itu dimungkinkan. Pada saat yang sama, negara juga memiliki sistem yang lemah untuk melacak mereka yang memiliki paspor ganda. Klop kan?

Ruang ini kemudian dimanfaatkan oleh mereka yang ingin memiliki paspor ganda. Saya sendiri tak pernah mau menyalahkan mereka yang ingin memiliki paspor ganda, karena pastinya susah sekali melepas paspor Indonesia, walaupun pada saat yang sama memiliki paspor ini membuat urusan visa jadi rumit.

polisi

Source: toonpool

Salah satu kesalahan dari mereka yang memiliki paspor ganda, mereka tak tahan untuk tak cerita ke orang lain. Dan di komunitas Indonesia, hal seperti ini dengan mudahnya tersebar, hingga ke telinga tukang lapor yang tentunya tak segan membawa hal tersebut ke telinga para pegawai di KBRI.

Hasilnya? Kewarganegaraan dilepas dengan cara yang sering kali menyedihkan. Bahkan konon ada yang paspor Indonesianya dirobek dan dilemparkan oleh petugas imigrasi. Sang pelapor tentunya mendapatkan kepuasan batin luar biasa. Sementara yang dilaporkan mengalami duka nestapa karena kehilangan koneksi formal dengan Indonesia.

Lapor urusan jualan makanan

Jualan makanan di Indonesia itu gampang, tinggal modal minyak panas, pisang, tepung, kompor serta penggorengan sudah bisa berdagang. Eh jangan lupa ditambahkan, kertas koran untuk membungkus gorengan tersebut. Jualan bubur pun tak kalah gampang, cukup modal bubur, sebungkus micin, mangkok dan dua buah ember untuk mencuci mangkok kotor.

Di beberapa negara maju, jualan makanan itu susah, karena perlu ijin dan level kebersihan yang tepat. Ijin usaha tak hanya susah tapi juga mahal. Disini, konsumen sangat dilindungi, bahkan jika sampai sakit, restauran bisa dengan mudahnya dilaporkan. Laporan ini kemudian akan berdampak panjang, seperti inspeksi hingga pencabutan ijin usaha.

Tapi itu tak menghentikan orang-orang yang punya ketelatenan masak dan juga bakat berdagang. Ini mah hukum alam saja, yang gak bisa masak seperti saya butuh makanan, sementara yang punya hobi masak butuh menyalurkan hobinya, plus dapat bonus uang. Klop kan?

Nah tapi biasanya ada saja yang gerah dan gak tahan melihat orang lain berdagang tanpa ijin, hingga kemudian lapor ke otoritas. Sang pedagang makanan diperiksa, sang pelapor puas tak terhingga, kasusnya pun tak jarang masuk pengadilan, atau berakhir dengan pemeriksaan panjang karena tak membayar pajak. Yang tak kalah sial, konsumen merana luar biasa karena tak tahu cara meramu rempah nusantara. Walhasil, konsumen harus makan take away lagi take away lagi deh. Eh kalau take away yang di bawah ini saya saya gak keberatan, asal gak tiap hari:

Melaporkan perselingkuhan

Pernah melihat seseorang atau pasangan dari orang yang kalian kenal berselingkuh? Baik itu selingkuh tanpa komitmen atau selingkuh dengan komitmen (baca: punya simpanan). Jaman di Jakarta dulu saya sering melihat hal-hal seperti ini, dan pelakunya tak kenal suku, agama, dan ras. Saya sendiri punya prinsip tak akan melaporkan perselingkuhan seperti itu. Buat saya, itu urusan mereka berdua, dan saya tak mau berada di antara kedua pasangan tersebut.

Eh tapi banyak sekali orang-orang yang memilih untuk melaporkan ketidaksetiaan tersebut kepada mereka yang menjadi korban perselingkuhan. Ya jelaslah hal-hal seperti ini bisa bikin kawah candradimuka murka. Namanya orang murka tak kenal logika karena emosi sudah merasuk dan alhirnya membuat hubungan suami istri yang (mungkin) bisa diperbaiki jadi semakin runyam. Mending kalau perselingkuhan memang benar-benar terjadi, lha kalau sang pelapor matanya lupa dikasih kacamata? Makanya beli kacamata kuda aja.

Saya sendiri gak mau sok suci, saya juga hobi melapor, tapi saya pelapor yang selektif, yang saya laporkan hanya urusan kriminalitas ringan yang berhubungan dengan keamanan. Baru-baru ini misalnya saya melihat mayat terapung di salah satu sungai di Dublin. Tak hanya saya, ada banyak orang yang melihat dan mengambil foto, tapi kebanyakan dari mereka melenggang saja. Saya yang melapor ke aparat tentunya ‘kena getahnya’, karena kemudian tak diperkenankan ke kantor dan harus berdiri diterpa angin dingin, menunggu pemadam kebakaran, perahu karet, ambulans serta polisi untuk mengangkut jenasah tersebut. Untungnya polisi disini sigap, tak sampai sepuluh menit jenasah diangkut, kontak dan informasi saya dicatat. Sehari kemudian Pak Polisi datang ke kantor untuk mengambil pernyataan saya. Proses ini masih panjang, karena kemudian saya harus bersaksi di pengadilan. Ya bow, ini laporan berbuntut panjang.

Melaporkan orang itu hak prioritas masing-masing individu dan merupakan tanggung jawab masing-masing. Lapor melapor juga bukan eklusif punya orang Indonesia saja, tapi banyak dilakukan oleh komunitas lain juga. Seperti saya tulis di atas, saya sendiri enggan melaporkan teman-teman, atau bahkan kenalan saya, apalagi jika hal tersebut mengacaukan kehidupan dan keuangan mereka. Cukuplah saya ngelaporin jenasah mengambang atau melaporkan kenakalan remaja yang berakhir dengan polisi kejar-kejaran di depan rumah. Saya pun dengan tenangnya nonton dari atas, sambil minum sari jahe. Aaaah drama kehidupan.

Jadi, kalian pernah nemu tukang lapor model apa?

xx,
Tjetje

 

Advertisements

40 thoughts on “Tukang Lapor

  1. belum pernah ketemu sih mbak yang kayak gini..paling lapor melapor ke bos buat cari muka, nah ini banyak denger ceritanya dan ngeliat sendiri..tapi sampai yang melibatkan aparat/otoritas belum pernah..

  2. Tje — mau OOT dikit tentang usaha makanan. Deuhhh sampe capek deh denger saran orang suruh aku buka resto/jualan makanan aja. Krn orang2 mikirnya di mana2 kayak di Indonesia lah modal sosial media juga udah bisa langsung dagang.

    Btw soal paspor ganda — kejam amat ampe laporin yng spt itu 😦 banyak ya Tje kejadiannya? Dan KBRI langsung mutuskan gitu kalo WNI-nya langsung lepaskah, atau boleh disuruh memilih final?

    • Kalau buka restauran masih bagus ya, masih legal Mar, tapi kalau buka lapak mah mengerikan. Asal ada yang iri, habis deh Mar.

      Paspor ganda aku nanya langsung ke Embassy, mereka gak punya sistem pengecekan kalau di IE. Tapi yang naif tuh ibu2 yang punya dua paspor, pulang ke Indonesia dan paspor Indonesianya gak ada bisa Irlandia. Ya otomatis langsung ketahuan lah.

  3. Wah dimana-mana org ngelapornya sama aja ya. Masalahnya kl gak paspor ganda, jual makanan tanpa ijin. Hahha Kl aku sih males ngurusin kayak gt. Apalagi kl sampe kehilangan rantangan makan indo. Ihik

    Tapi keliatannya org2 tersebut juga gak hati2 sih ya. Udah tau kegiatannya ilegal tp malah suka koar2. selalu hati2 juga percaya sama org. Kadang bangsa sendiri bisa lebih kejam sama sesamanya. 😓

    • Nah itu dia…
      Kadangkala takpikir-pikir salah sendiri juga… lebay gitu.
      Banyak soalnya orang yang udah tindakannya melanggar hukum tapi dipamerin kemana-mana (mungkin dengan harapan biar dianggap lihai bin cerdik gitu deh), tapi masak iya kepintaran memanipulasi hukum kok dibanggain.
      Akhirnya kalau ketemu yang tiba-tiba tega kan nyesel sendiri toh…

  4. Saya sih jarang bergaul dan lebih memilih untuk gak lapor apapun. Takutnya sekalipun kita benar, nanti pihak pelapor bisa marah sama kita. Ntar dendam dan malah melakukan hal-hal buruk kepada kita. Takutnya itu aja sih.

  5. Wakssss yg contoh pertama dan kedua, sadis-sadis dengki gimanaaaa gt ya?!? Ah amit2 punya kenalan kyk gitu. Aku kan takut dilaporin krn punya anu….anu ganda…. lemak ganda ….. *korset mana korset* #apaseeeeh 😂😂

  6. Aku pernah banget ini hihihi, kebetulan ada orang Indonesia satu super mega nyebelin disini, noraknya setengah amit dan agak2 psikopat gitu. Nah pada suatu saat dia jual pil pelangsing dari Thailand. Semua grup2 di fesbuk yang dia anggota itu dibombardir sama iklan pil pelangsing ini, nyebelin ga? Pada waktu itu aku masih jadi admin salah satu grup WNI disini (ini grup semi offisial krn kita cm boleh posting klo ada pertanyaan konkrit yg kita membutuhkan jawaban dari yang bener2 tahu, ga cuman internet, atau post minta tolong etc etc), udah diperingatkan tiga kali masih bandel.

    Akhirnya setelah tiga kali di peringatkan, dia di block, dia marah berkoar2 kemana2 klo kita ini kurang ajar, sok elit padahal disini nggak ada temannya (bener banget ini buat aku, aku males bertemen sm orang Indonesia hahaha) lalu menyebar fitnah2 ga jelas pula. Aku akhirnya gemes, krn dia jualan pil pelangsing yg sebenernya substansinya di larang masuk EU, apalagi DK. Aku laporin ke Depkes disini, plus iklan2nya klo dia jual pil pelangsing tanpa CVR (nomer pendaftaran perusahaan). Uh sebel banget aku sama dia.

    Akhirnya dia stop jualan, kayaknya dikasih peringatan juga sama Depkes, dan…ujung2nya dia GEMUK lagi… bwahahaha. rupanya pil itu manjur juga, dulu dia sempet langsing waktu jualan.

  7. Haduh, orang kepo makin hari makin banyak. Heran juga dengan para tukang ngadu ini, padahal kita ya nggak ada dosa sama mereka tapi kok ya dilaporin terus, seakan-akan hidup kita ini film yang menarik banget buat orang-orang seperti itu. Makanya sekarang-sekarang saya jadi malas terlalu banyak mengumbar apa-apa, haha, meski sering ngetwit tapi twitnya yang penuh teka-teki gitu deh #eh. Bukan geer tapi kita tak tahu siapa saja yang baca. Salah-salah ada orang yang tak senang bisa mati kutu dibuatnya.

  8. Aku barusan laporin akun jualan di FB. Dia jual produk vitamin anak, nah iklannya pake foto2 bayi lucu nan montok menggemaskan. Masalahnya, bayi2 itu tak lain dan tak bukan adalah si kembar leia & lauren, yg mana aku hampir yakin bhw foto2 yg dikasih logo merk vitamin itu belum/gak ijin dulu sama pemilik foto aslinya. Aku laporin via DM instagram ke emaknya si bayi kembar, kayaknya sih mau ditindaklanjuti cuma aku ga tau update-nya gimana. Oiya, setelah aku komen “jangan embat foto anak orang tanpa ijin” kemudian aku diblock sama akun FB yg jualan itu, kak. 😜

  9. Saya suka melapor dr smp.

    1. Kumpulan remaja smp pacaran sambil peluk cium di taman bermain komplek. Langsung saya ambil motor dan ngacir ke satpam komplek. Lapor ttg perilaku tak senonoh mereka.

    2. Waktu anter anak saya yg TK les berenang, ada sepasang remaja anak smp yg berenang lalu peluk cium di kolam. Saat itu banyak anak TK sedang di kolam. Saya tegur mereka tapi pura2 ga dengar. Langsung saya lapor ke security kolam.

    3. Waktu saya smp kelas 1 ada kakak kelas yg mengancam saya krn mereka pikir saya lagi PDKT dengan ketua osis. Mereka melarang saya ke kantin. Kl mereka liat saya ke kantin bakal habis lah saya.
    Besok pagi nya saya datang sangat awal ke sekolah, lapor ke wakil kepsek. Siangnya sebelum pulang saya dipanggil oleh pak wakepsek, diminta untuk menunjuk satu per satu kakak kelas yg mengancam. Saat bel pulang kakak2 kelas pasti melewati jendela kantor wakepsek kl mau ke gerbang. Saya tunjuk satu2 mereka yg mengancam saya. Besok siangnya saya bisa melenggang bebas jalan ke kantin dan kakak kelas tidak ada yg berani towel2 saya. 😀

    Hihi cuma 3 aja sih laporan saya yg penting, kl lapor2 yg lain mah biasa krn sibling rivalry. Sok cari muka ke ortu jd cari2 kesalahan adik. Hahahaha

  10. Huaaaa. Saya belum pernah sih nemu tukang lapor gini Mbak. Palingan dulu ada senior di kantor lama yang super mega nyebelin, pas saya resign dan dapet kerjaan di tempat baru kulaporkan borok-boroknya ke HRD dan atasannya dia dengan tujuan ada pembinaan. Setelah itu sayanya keluar dan ga ada hubungan lagi. Huehehehe…

    Kalo yang lapor paspor tega sih ya.

    Sementara yang jual makanan, emang di sini enak banget kalo mau jualan. Segala modal ember doang ama penggorengan dan minyak udah deh jadi.

  11. Kalau aku sih lebih suka tidak melapor, kecuali kalau sudah melewati batas dan yang pantas dilaporkan itu sampai “mengganggu”-ku cukup parah (definisi “mengganggu” mah tergantung dari situasinya ya 😀 ).

  12. Waaaah aku beneran baru tau lho ada ya orang yang lapor2in gitu? Astaga.. yang jual2 makanan ngena bgt nih. Disini kan aku jualan cireng, ketoprak dan masakan Indonesia gitu. Rumahan sih, open PO.. nanti nganterin ke yang pesen. Serem juga kalo ada tukang lapor2 gitu. Passport juga udahlaaaah, diem aja lah ya. Tapi suka gatel sih entah pengen cerita apa pamer apa gimana, jatuhnya ngerugiin diri sndr deh

  13. Waw, ada mayat terapung? Tapi bete jg yaa klo cm lapor ada mayat, tp diintrogasi panjang.. Truz ada smacem reward gak krn udh ngelapor ada mayat?

  14. Saya pernah jadi saksi mata “istri ngelabrak selingkuhan suami di gym” haha. Jadi ceritanya lagi di ruang ganti. Si ibu ini ngelabraknya dg cara halus, pertama nanyain namanya si mbak selingkuhan. Setelah confirmed orangnya benar, langsung deh disemprot. Wuih reaksi si mbak hanya begini “tanya aja sendiri ke suami ibu ” ( lalu pergi ). Habis itu si ibu nelpon temannya dong, ceritain keberhasilan dia melabrak si mbak hahah. Nah saya ngapain aja dong ? Ya dicuekin , lah hahahah…

  15. Saya juga pernah ngelaporin seorang sopir di kantor lama. Gara2 orang ini colek2 saya, entah sengaja atau tidak. Saya tolak, masih dicolek2. Gak terima, saya laporin kelakuan dia ke bossnya. Dia ditegur dong. Eh, dia malah curhat ke orang lain gara2 saya dia kena tegur. Asem.
    Di lain waktu ada teman wanita yg merasa dilecehkan secara verbal oleh sesama kolega. Saya bilang, kalo dia tidak terima diperlakukan kaya gitu laporin saja ke HRD ( istri boss besar ). Kemudian teman ini lapor, dan si pelaku kena tegur boss. Eh, dia curhat ke orang lain ( perempuan juga ). Bukannya ngebela sesama perempuan yg dilecehkan, orang tsb malah ikutan menyalahkan teman saya. Cih.

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s