Refleksi Tinggal di Negeri Orang

Waktu berjalan dengan cepat dan tak terasa saya sudah hampir dua tahun tinggal di Irlandia. Meninggalkan keluarga untuk membangun keluarga baru; meninggalkan teman-teman selama belasan, bahkan puluhan tahun dan harus memulai pertemanan yang baru, serta meninggalkan pekerjaan yang begitu saya cintai dan memulai bekerja dari nol, dari bawah.

Proses perubahan ini tentu saja merubah saya sebagai individu dan merubah cara saya melihat berbagai hal. Bullshit, kalau orang bilang tinggal di luar negeri itu tak akan merubah apapun dari kita. Tinggal di luar negeri dan melihat hal-hal yang ajaib dan yang indah itu merubah banyak sekali cara berpikir saya. Saya juga mendapat banyak pelajaran berharga yang tak saya dapatkan di sekolah.

Soal telepon genggam

Seperti yang pernah saya tulis di sini, transportasi umum di Irlandia itu lumayan okay. Kebanyakan tepat waktu, walaupun ada meleset-melesetnya satu atau dua menit. Tergantung kondisi jalan. Meleset yang sampai sejam gak muncul pun juga bisa kejadian, tapi biasanya kondisi seperti ini diumumkan di media sosial supaya penumpang gak bengong nungguin bis.

Karena bis umum tak muncul setiap saat, saya belajar untuk tepat waktu. Biasanya saya sudah berada di halte bis beberapa menit sebelum jadwal. Suatu hari, saya datang 10 menit lebih cepat, lalu membunuh waktu dengan menjelajah internet. Sementara itu bis saya tak kunjung muncul. Tunggu punya tunggu, bis saya tak muncul dong ya. Berhubung sudah agak gelap, saya pun menelpon ke pusat bis menanyakan apakah bis saya mengalami masalah. Petugas tersebut menginformasikan bahwa bis saya sudah berada sekitar lima stop dari halte saya. Berhubung bis selanjutnya baru akan muncul lebih dari satu jam, saya pun terpaksa naik taksi (dan jangan dibayangin naik turun taksi di sini semurah di Jakarta ya). Sejak saat itu saya KAPOK dan gak mau lagi terlalu terpaku pada media sosial ketika menunggu bis.

Menghargai matahari

Matahari di Irlandia itu barang langka, cuaca di sini cenderung mendung dan kelabu. Bagi kami, hari yang kering dan tak hujan itu, adalah hari yang menyenangkan. Sementara hari yang indah itu ya yang ada mataharinya. Dikasih matahari 15 derajat aja kami sudah bersyukur banget. Kalau dikasih 20-24 derajat, yang mana sangatlah jarang, pantai-pantai di sini bakalan penuh dengan orang-orang yang berjemur.

Bagi kalian yang tinggal di Indonesia yang terik mataharinya bisa bikin kulit terbakar, hal-hal sederhana ini tentunya satu hal yang biasa saja. Tapi Irlandia mengajarkan saya bahwa matahari itu menyenangkan, kulit terpapar matahari (dengan sunblock ya), juga sebuah hal yang menyenangkan. Irlandia juga mengajarkan saya untuk selalu aktif, asal ada matahari harus keluar jalan kaki, biar gak depresi kekurung di dalam rumah terus karena cuaca yang hujan melulu. 

Hidup sederhana

Satu hal penting yang saya hargai dari orang-orang Irlandia adalah kesederhanaan mereka dalam menjalani hidup. Kebanyakan orang Irlandia gak diburu dengan gaya hidup yang mengejar kemewahan. Bagi mereka, bisa beli baju murah meriah Penney’s (di luar Irlandia disebut Primark) adalah sebuah kebanggaan luar biasa. Gak punya tas bermerek di sini juga bukan hal yang memalukan. Sungguh jauh berbeda dengan gaya hidup Indonesia yang rela nyicil tas bermerek atau bahkan menghabiskan seluruh gaji demi sebuah tas.

Menariknya, dengan gaya biasa-biasa saja kita sebagai konsumen sangat dihargai. Coba di Jakarta, gaya biasa-biasa aja masuk mall. Kok ya di Jakarta, di Malang saja deh, gaya biasa-biasa aja bakalan menimbulkan pertanyaan. Saya sendiri pernah mengalami berhadapan dengan kasir yang ragu-ragu (dan tak enggan mempertanyakan keraguannya pada saya belanja dengan kartu kredit).

Pertemanan

Pertemanan saya rata-rata awet, berusia belasan, hingga puluhan tahun. Mencari teman itu memang seperti mencari jodoh, memerlukan proses panjang untuk mencari tahu kecocokan. Sejak menjelang pindah ke Irlandia, saya sudah banyak menerima wejangan dari para sesepuh yang tinggal di berbagai tempat di Eropa untuk berhati-hati dalam berteman dengan orang Indonesia. Pilih dengan hati-hati dan jangan terlalu banyak gaul dengan orang Indonesia.

Terus terang, cultural shock saya terbesar di Irlandia adalah soal pergaulan orang Indonesia. Memfitnah, melempar gosip, berargumentasi dengan emosi, atau bahkan menceritakan kembali rahasia dapur orang itu menjadi sebuah hal yang “biasa”. Orang-orang yang dengan entengnya membicarakan “teman-temannya” ini membuat saya mempertanyakan, apa yang akan mereka bicarakan tentang saya dengan orang lain?

Hidup dan pergaulan di Jakarta yang katanya kejam itu, ternyata gak ada apa-apanya dengan pergaulan di luar negeri. Pergaulan di sini keras, sangat keras. Satu wejangan yang saya pegang dengan teguh adalah untuk tidak menceritakan apapun dari dalam rumah tangga, yang baik, apalagi yang buruk, karena satu Irlandia (dari Selatan sampai Utara) bisa dengar. Tentunya dengan bumbu sana-sini. Beruntungnya, saya sudah dididik oleh Ibunda untuk menyimpan semua yang saya dengar dan tak menyampaikan apapun ke orang lain.

Now,
ijinkah saya pulang sejenak ke Indonesia, untuk menikmati matahari dan sembari bercanda-tawa dengan teman-teman terbaik saya, because I terribly miss them.

Kalian, punya pengalaman yang merubah cara pandang dalam melihat hidup? Sharing dong!

xx,
Tjetje

Advertisements

64 thoughts on “Refleksi Tinggal di Negeri Orang

  1. Asyik, mau liburan ke Indonesia, hehehe 😀 .

    Berarti cuaca di Irlandia mirip-mirip sama di Belanda ya. Pelit matahari. Tapi enaknya ketika matahari keluar adalah suhu udaranya nggak panas-panas amat! Kalau di Indonesia panasnya kan ya gitu deh, hahaha 😆 .

  2. Selamat liburan Ail. Selamat makan enak, kumpul keluarga dan sahabat. Ojok lali singkong bakar bbq yg kapan itu dirimu nanya di twitter. Aku dibawain adikku, tandas kurang dari seminggu hahaha nggragas.
    Yang pasti, sejak tinggal di sini aku semakin menikmati hidup yg apa adanya. Ga ngoyo dan melihat sesuatunya lebih sederhana. Lebih fokus dengan diri sendiri daripada memenuhi standar orang lain. Bersyukur lebih ayem meskipun perjuangannya ya ada saja.

  3. Hahah tags buat postnya bikin ngakak 😂😂

    Aku juga pas lg visit mertua di UK rasanya agak depresi, yg biasa ketemu matahari tiap hari klo sempet ketemu 5 menit aja udah happy banget. Pantesan orang UK ngomongin soal cuaca mulu!

    Aku sempet gaul ama ibu2 Indonesia, untungnya mereka masih biasa2 aja tapi tetep sih lebih enjoy sama temen2 sendiri di Indonesia. Thank God for technology!

  4. Sejak tinggal di luar negeri, aku rasa yang berubah aku nggak lagi ragu2 untuk ngomong blak2an sama orang. Kalau dulu masih ada perasaan nggak enakan (lalu dipendam terus bikin kesel sendiri) sekarang kalau nggak suka sama sesuatu langsung aja dikeluarin, jadi nggak dipikirin lagi. Yang jelas aku jadi kurang populer di kalangan orang Indonesia disini gara2 ini hahaha, biarin deh, yang penting aku tentrem di hati.

    Selamat berlibur, enjoy makanan2 yang bertaburan dimana2 (it amazes me every single time, klu lihat di Indonesia setiap jengkal literally selalu ada tukang jual makanan).

  5. Banyak sih pengalaman yang akhirnya mengubah pandangan Mbak… terutama soal pekerjaan. Pada akhirnya itu mengubah pandangan yang tadinya idealis jadi realistis, terus membuat diri lebih bisa adaptasi, meski artinya adaptasi itu adalah dengan kegilaan, haha. Cuma, dari cerita itu, kayaknya beberapa golongan orang Indonesia yang ada di luar negeri justru lebih tidak bisa menjaga mulutnya, ya? Apa karena jauh dari kampung halaman jadi standar moralnya sudah tidak ada, ya?

  6. Duh mbak Ail, banyak banget deh pelajaran yang nggak aku dapet di sekolah karena tinggal di luar negeri. Yang paling utama ya jadi lebih sederhana dan nggak ngedengerin gosip. Untungnya setelah aku lulus kuliah aku udah malas bergaul sama mahasiswa Indonesia karena dramanya nggak jauh beda dari ibu-ibu Indonesia yang mbak ceritain.

  7. selamat berlibur mba!
    mudah-mudahan aku masih punya kesempatan buat merubah cara pandang dalam melihat kehidupan…pengen punya pengalaman tinggal di LN barang 1-2 tahun 😀

  8. Selamat liburan Mbak Tjetje…selamat berkumpul sama keluarga dan sahabat plus makan makanan Indonesia di tanah air 😀

  9. Hidup di luar Indonesia itu bikin aku lebih mandiri dan terbiasa urus ini itu sendiri. Plus, jadi bisa belajar masak juga, drpd kelaperan krn kl makan diluar or take away bisa bikin bankrut😜 Happy mudik!😘

  10. Hidup sederhananya Aku setuju, mungkin lebih ke menghargai orang apa adanya, tanpa ngeliat apa yang dia pakai atau jabatan yang mereka punya. Aku pernah masuk outlet Prada di Belanda, dan para penjaga tokonya tetep nyapa ramah meski cuma liat2 aja, ga beli. Hal yang nggak akan dilakukan di Indo karena pasti belum apa-apa udah dilepehin yang jaga akibat penampilan yang kurang kece dan cetar :”))). Jangankan Prada, pernah masuk toko laptop, baru mau nanya2 masnya yang jaga udah bilang, ‘Kalo di sini kita jual laptopnya mulai harganya xx juta ke atas.’ Okelah, belum apa-apa udah dianggep sobat kizmin :”))))

    • Nah itu, maunya di sini itu kalau kamu gak beli ya jangan lihat-lihat. Padahal itu salah banget. Kalau di butik ternama, harusnya orang dibuat bermimpi dulu. Suruh coba, suruh lihat di depan kaca, kalau bagus, komporin bayar pakai kartu kredit atau nabung dulu.

  11. Ada, mbak. Aku sekolah dari TK sampai SMP di sekolah swasta. Yang namanya sekolah swasta itu disiplin banget, jarang ada jam kosong. Kalau ada pun, mungkin hanya 40 menit. Tapi, semenjak aku sekolah di negeri, jam kosong adalah hal yang lumrah. Jadi, aku harus bisa mengatur waktu supaya nggak jadi sia-sia. Jujur, aku kadang masih bingung mau ngapain kalau ada jam kosong

  12. Hahahaha ada benarnya juga tuh yg ditulis tjetje😂😂😂

    Pernah dulu punya pengalaman pahit yg sebenarnya gw berniat baik. Diajak ketemu nih si drama queen untuk dijelasin eh malah rame sendiri di medsos sampe nama gw di tulis jelas apalagi ditambah sama tmn2 kompor jadi deh! Prinsip gw “the winner takes it all” waktu itu. Ga usah berkoar-koar ntar ketahuan juga siapa yang sebenarnya biang kerok.
    Sekarang punya temen deket cuma 3 yang suka masak2an bareng.😃😊

    Ngomong2 matahari, di sini ada matahari dikit danau/pantai langsung penuh pada mandi dan jemuran. Puas2 in berjemur tjetje di Indonesia.😃😊

    Happy holiday!😉

  13. Walaupun aku tinggal di luar negeri nya singkat, tapi beruntung dapet temen selain orang Indonesia jadi bisa belajar banyak soal cara pandang hidup.. contohnya yang merubah aku banget, temen orang Rusia yg dia udah sukses di negaranya, tapi tetap merasa kurang dan pengen S2 ke Inggris. Jadilah ditinggal tuh semua jabatan, mulai dari nol di Inggris. Padahal waktu itu dia udah diatas 30. Kena banget di aku, jadi belajar, oooh hidup itu gak terpaku umur, hidup itu ngga melulu jalan lurus, belok ngga apa, start over itu boleh banget, asal semua tujuannya positif ya 😀

    Coba kalo di Indonesia, kisah kayak dia udah abis diomongin orang kali.. iii gak sayang tuh jabatan ditinggal? iii umur 30 belum nikah kok malah ninggalin karir pindah ke negara asing? dll dsb hehehe

    Btw, selamat liburan yaaa! 🙂

  14. Halo Mbak Ail,

    Wah banyak banget hal yang bikin cara pandangku berubah setelah tinggal di luar negeri. Dan aku sangat bersyukur banget. Sebenernya aku dari jaman tinggal di Indonesia, gak suka ngurusin urusan orang, nah sekarang makin gak pernah banget! Alhasil aku cuma punya sedikit temen Indonesia disana. Udah diwanti-wanti juga kalo ibu-ibu disana sombong-sombong ala OKB gitu. Katanya sih kalo gak pake tas bermerk terkenal, mereka ogah nemenin kita. Aku bener-bener gak habis pikir deh. Mereka beneran sudah ibu-ibu atau sebenernya masih ABG. Menurutku sih hal-hal seperti itu sangat kekanakan ya.

  15. Setahun tinggal di Australia sih yg ngerubah pandanganku adalah bahwa semua pekerjaan asal halal ga ada yg hina. Kalau di Indo kebiasa berasumai yg kerja kantoran pasti derajatnya lebih tinggi drpd yg kerja blue collar. Ternyata di Aussie semua org sama mau yg kerja kantoran apa cuma cuci piring di resto. Mungkin karna standar gajinya juga beda kali ya gak kayak di Indo yg jomplang banget, jadi disini walau cuci piring doang tapi bisa tetep kongkow di cafe seminggu sekali. Terus jadi lebih PD dan mencintai diri sendiri juga, karena di LN no matter what you wear people dont give a damn about you. Kalo di Indo pake baju apa dikit dibully secara fisik/body shaming.

  16. Hello Mba Ail,

    Sudah 2 tahun ini sy tinggal di Cape Town, walaupun sebelumnya sy sudah merantau di kota orang tapi rasanya amat sangat berbeda. Yang paling sy rasakan setelah tinggal di luar negeri adalah pentingnya menghargai privasi orang lain, menjadi diri sendiri tanpa ada “persaingan” di lingkungan sosial. Dan sy sangat senang karna bisa menjadi diri sendiri tanpa harus mendengar pertanyaan “Agamamu apa? Usiamu berapa? Sudah nikah kok gak mau cepet2 punya momongan? dan berjuta pertanyaan lainnya yg sebetulnya gak penting atau memberikan dampak sedikit pun di hidupnya..
    Tapi sy selalu yakin kalau inilah kehidupan dan kita hanyalah sebatas “manusia” yg memiliki banyak karakter.

    Selamat berlibur Mba Ail, salam hangat dari Cape Town
    Xx

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s