Diskriminasi di Westin Nusa Dua Bali

Empat tahun lalu saya dan pasangan mengadakan resepsi kecil perkawinan di Westin Nusa Dua Bali. Sahabat-sahabat saya datang dari berbagai belahan dunia. Bahkan, pagi sebelum resepsi berlangsung, tukang rias, fotografer, saudara serta teman-teman saya bebas melenggang keluar masuk hotel tanpa harus saya jemput di depan hotel. Semuanya berjalan dengan lancar.

Empat tahun kemudian, ceritanya berubah. Saya bahkan tak boleh menjejakkan kaki di lobby hotel.

Jadi begini ceritanya:

Pagi itu saya akan menemui Fascha yang saya kenal dari dunia WordPress. Rupanya pada saat bersamaan ia sedang ada di Bali. Dan karena saya berada di Bali, saya tak berdandan. Pakai sandal jepit, celana pendek, atasan tipis, kacamata hitam menggantung di kepala, kulit terbakar matahari dari hasil berjemur, rambut dicepol ke belakang dan tangan menjinjing tas. Jangan tanya soal make up.

Pukul 10.13, saya turun dari taksi dan melalui proses pemeriksaan petugas. Tas saya letakkan di meja dan saya melewati metal detektor. Petugas kemudian bertanya tentang keperluan saya. Pertanyaan standar yang saya balas dengan ramah bahwa saya mau menemui seorang teman. Ia menanyakan di mana saya akan menemui teman tersebut, saya katakan bahwa teman saya menunggu di pinggir pantai. Lalu petugas bertanya nomor kamar teman saya. Ya jelas saya tak tahu dan tak perlu tahu. Lain halnya kalau saya memang mau bertemu di dalam kamar. Layanan ini sungguh berbeda dengan di hotel-hotel lain. Di hotel lain, saya akan langsung ditunjukkan arah tempat pertemuan saya.

Lalu, petugas berkata teman saya itu harus menjemput saya. Posisi saya saat itu masih berdiri di depan metal detector. Lalu ia menyuruh saya menunggu di luar saja, di depan pintu masuk. Gila UN Building aja gak segininya lho, setidaknya masih dikasih masuk lobby, tidak disuruh menunggu di luar. Bagi saya, perlakukan tersebut sangat aneh. Yang aneh lagi, tas saya tidak diberikan kembali oleh petugas. Hanya diletakkan di depan dia. Jadi untuk mengambil tas tersebut, saya harus menjangkau tas saya sendiri. Benar-benar pelayanan kelas dunia kan?

Petugas keamanan tersebut kemudian bertanya:

"Tamunya orang asing ya?"


Sumpah ini emosi saya sudah mendidih. Jadi, karena si Satpam menduga TEMAN, bukan TAMU, saya orang asing kemudian saya tidak diperkenankan langsung menemuinya? Kendati saya marah, saya masih menjawab ramah bahwa teman saya orang Indonesia. Ketika Fascha  datang bersama anaknya. Satpam langsung saya panggil dan saya menginformasikan bahwa saya sudah dijemput. Biar si satpam sekalian lihat, bahwa teman saya orang Indonesia. Lagipula, apa sih urusan dia, kalau saya menemui orang asing juga bukan urusannya kan? Dalam situasi ini, urusan kebangsaan orang yang saya temui tak ada hubungannya dengan keamanan sama sekali.

Dalam sejarah saya berurusan dengan banyak hotel-hotel di Nusa Dua, bahkan ketika RI 1, UN SG ataupun UNESCO DG berada di area Nusa Dua, tak pernah ada perlakukan seperti ini. Baru hari itu saja saya menerima perlakuan yang berbeda. Dari mulai tak dilayani semestinya (tas tak diberikan kembali kepada saya), hanya diperbolehkan menunggu di luar, harus dijemput di luar hotel, hingga ditanya pertanyaan yang bersifat pribadi dan tak sopan.

Saya tak sempat melihat nama pak Satpam. Ketika satu jam kemudian saya meninggalkan hotel, nama Bapak tersebut tetap tak terlihat oleh saya. Tapi saya tak kehabisan akal, begitu kembali ke hotel, saya langsung menelpon Westin dan meminta email GMnya. Saya diberikan email Managing Director Westin Nusa Dua. Dan saya kirimkanlah email panjang protes saya terhadap perlakuan yang bagi saya, sangat diskriminatif. Kenapa hanya saya, perempuan Indonesia yang datang sendirian ke hotel berbintang dengan mengenakan sandal jepit diperlakukan seperti itu? Tamu-tamu lain tak ada yang diperlakukan serupa.

Managing Director Westin menanggapi dengan cepat, kurang dari 30 menit, email permintaan maf dilayangkan kepada saya. Twitter saya juga direspon dengan cepat. Beberapa email juga langsung dikirimkan untuk proses investigasi. Dalam waktu kurang dari tiga jam semua urusan beres.

Mungkin ada dari kalian yang berpikiran bahwa saya lebay, terlalu berlebihan dalam bereaksi. “Urusan gini kan gak penting, biarin aja, toh sudah lewat.” Bagi saya, urusan seperti ini sangatlah penting. Apa yang saya coba dapatkan dari protes saya? Di masa yang akan datang tak ada lagi ceritanya orang lain, terutama perempuan Indonesia, diperlakukan seperti itu. Yakinlah, kalau hari itu rambut saya blonde, kulit saya putih saya tak akan diperlakukan sama. Pada saat yang sama kalau hari itu saya pria Indonesia, gak bakalan kejadian seperti ini. 

Kamu, pernah mengalami diskiriminasi serupa?

xx,
Tjetje

Advertisements

24 thoughts on “Diskriminasi di Westin Nusa Dua Bali

  1. Bagus. Tje, kamu ambil tindakan yang tepat: tegas tapi tetap elegan.. 👍 Seingatku aku gak pernah ngalamin, semoga jangan sampai kejadian deh di siapa pun.. Bagus juga respon dari manajemen hotelnya ya.. Semoga beneran ada tindak lanjut perbaikan..

  2. Aku pernah mengalami diskriminasi serupa. Menurutku ini diskriminasi ya. Waktu itu aku kesel banget tapi aku diem aja. Bukan di hotel, tapi di Uber. Jadi aku pesan uber XL karena pergi ber6. Begitu drivernya sampe di lokasi penjemputan, kami saling memastikan supaya nggak salah. Karena aku yang pesan, ya aku yang berhadapan sama drivernya. Drivernya ragu gitu kalau yang aku pesan uber XL. Tapi kami tetep dikasih naik. Begitu di dalam mobil, drivernya bilang gini “Iya tadi saya ragu kalau beneran uber XL yang dipesen. Soalnya saya pernah ditipu. Tapi tadi saya lihat mbak ini *sambil nunjuk adik saya yang duduk di samping dia* kayaknya habis pulang gereja, jadi saya percaya aja” terus aku nggak kayak abis pulang gereja gitu? Terus kalau nggak dari gereja nggak bisa dipercaya gitu? Ya aku tahu sih karena adikku cantik aja, beda sama aku 😂

  3. Aku pernah didiskriminasi waktu jadi jurnalis dan nginep di salah satu hotel di Jakarta. Pas breakfast, ngantri dong didata si mbaknya yang tanya nomor kamar, dan bule di belakang aku dikasi duluan sama mbaknya. Aku otomatis protes waktu itu si mbak bilang “ya ini kan tamu dari luar negeri?” SO? Saya sama2 bayar kok (well, waktu itu dibayar kantor, but that’s not the point).

    Kadang bete sama perilaku orang Indonesia yang mendewakan bule, waktu traveling sama ScandiGuy pun kadang orang Indonesia nanya ke dia duluan, barulah ngeh kalau saya yang punya kemampuan untuk memutuskan ini itu nantinya. Eh jangankan di Indonesia, disini pun pernah, waktu mau pesan mobil pulang (delivery) dari IKEA, waktu itu sopirnya imigran dari negara Timteng, yang diajak ngomong si ScandiGuy melulu padahal dia nggak ngerti bahasa Danish, dan aku yang bayar itu delivery. Akhirnya nggak jadi pake si bapak supir yang ini, pake mas2 yang lain. Aku bete banget, karena tiap kali aku yang jawab inquirynya si bapak ini, dia beralih ngomong ke ScandiGuy kayak aku nggak dianggap.

    Aku sendiri juga imigran di negara orang, tapi imigran2 dari negara2 yang aku sebut sungguh kadang bikin jengkel kelakuannya.

  4. Kalo random check airport termasuk diskriminasi juga gak?
    Waktu lagi transit, mau masuk ke gate penerbangan tujuan ke amerika, aku dan beberapa orang Asia kena random check lamaaaa banget, sedangkan org kulit putih gak ada yang dicek.. kan curang

    • Hmmmm dulu ada yang pernah ribut soal ini, ribut panjang sampai masuk medsos dan mencak-mencak karena dia berjilbab. Sementara yang lain melenggang bebas. Ini agak ribet ya, karena otoritas bandara emang punya kewenangan penuh untuk bisa ngecek randomly. Aku yakin sih ada yang random tapi sebenarnya bermotif ras atau bermotif lain. Tapi ya gak bisa disamaratakan.

  5. Ya! Memang harus dilaporkan ya. Bagus ada reaksi dari pihak Westin, semoga ke depannya tidak terulang lagi (wishful thinking ini, hahaha 😆 ).

  6. Aku juga rada kaget mbak, as guest disini yg nginep disini juga tiap pulang pergi bawa bungkusan selalu diperiksa looooh … sebel deeeh! Aku penasaran aja apa mereka selalu gitu ke semua tamu, yg wrn kulit gelap atopun terang. Kaya’nya aku juga bakalan komplen deh

  7. Wah aku pernah juga tuh di diskriminasikan karena rambutku ngga blond dan mataku ngga biru di sebuah restoran di Grand Hyatt Jakarta. Aku langsung minta bicara sama manager restoran tsb.

    Good for you to report the incident to the MD of Westin.

    Anne

    Sent from my iPhone

    >

  8. Wah parah sekali. Padahal masih di negeri sendiri, Bali apalagi. Entah apa pertimbangannya sampai penampilan yang dijadikan alasan untuk menolak seseorang masuk ke lingkungan hotel bahkan tanpa ditanya maunya apa. Mungkin generalisasi yang salah kaprah.
    Saya juga pernah menonton satu video Sacha Stevenson yang membahas masalah ini; bahwa ia (atau suaminya, kalau saya tak salah ingat) pernah mengalami perlakuan diskriminatif berbasis ras di tempat berbeda, yang sedihnya, di Bali juga.
    Tapi terima kasih banyak Mbak, saya jadi dapat ide untuk bagaimana menghadapi perlakuan diskriminatif dari pekerja keamanan seperti itu… jaga-jaga kalau saya main ke suatu hotel dan diperlakukan seperti ini. Amit-amit, sih.

  9. bulan lalu aku ada conference di westin, gak nginep di situ, tapi panitianya yang menginap di sana. karena pagi-pagi aku janjian sama temen panitia jogging di pantai, sempet worry juga takut ga dikasih masuk. jadilah memang sengaja pakai kaos lari berlogo universitas supaya bisa lolos masuk di jam enam pagi itu. rasanya kalo aku pake kaos biasa juga gak dibolehin masuk tuh..

  10. Pernah mbak ailsa, kejadiannya di Bali. Saya Dan suami menginap di hotel di Sanur. Waktu breakfast. Waitressnya Tanya tamunya minum kopi atau teh? Buset aku mungkin dikira psk. Aku marah sekali tapi gak aku lawan itu waitress. Bangsa Kita rata-rata masih menganggap orang eropa berpasangan dengan perempuan Indonesia pasti perempuan gak bener. Di Negara western juga masih Ada konotasi negatif pria kulit putih dengan wanita Asia. Setuju banget mbak compliant ke gm hotel tsb. Mbak menginspirasi saya untuk speak up. Regards

      • Iya bener Mbok.. Jangan emosi dulu.. Hehe
        Orang Bali memang kebiasaan manggil orang asing itu tamu. Bahasa Balinya tamiu. Itu panggilan menunjukkan respek loh sebenernya. Mau yg turis atau yg udah bertahun2 jadi imigran tetep aja bakal dipanggil tamu.

      • Contoh rutin yg saya alami :
        Orang kepo : Mbok suaminya tamu ya? Atau Mbok bapaknya si baby tamu ya?

        Saya: wah bukan tamu lagi. dia udah tinggal di sini lama, udah jadi orang Bali.. Bli Made adane jani 😄😄😄 🙏

  11. Sering sih Mbok kena diskriminasi. Terutama di tempat2 wisata. Apalagi saya kemana2 sering berdandan kucel lusuh ala mahasiswa kere (emang aslinya kere sih 😂). Mulai dari dicuekin waiter di warung, gak dikasik duduk2 di depan pantai hotel. Padahal pantai kan milik umum, bukan milik hotel 😤.
    Mana banyak pula cerita kalau di club2 dan bar2 gitu orang lokal enggak boleh masuk. Kecuali bareng bule. Tapi ini saya belum mengalami sendiri soalnya saya juga gak pernah main ke club dan bar.

    Yang paling bikin sakit ati di Lombok, Mbok Ailtje. Saya pergi mendaki sama suami, bapak dan ibu mertua. Baru turun gunung dan mau check in, eh bookingan villa saya mau dialihkan ke villa lain secara sepihak gara2 tamu bule mereka minta tambah nginap lagi sehari. Kita protes keras, soalnya villa lain gak ada yang seperti kita mau. Lagipula udah capek banget ini pengen cepat2 istirahat. Akhirnya kita pergi makan dulu sementara mereka bilang ke tamu bule bahwa yg check in berikutnya udah datang. si tamu bule mengalah dan pindah ke villa lain. Yg nyebelin Manajer villanya bilang gini ke saya ,” kemarin saya kira rombongan Mbak orang lokal semua, jadi kalo kami pindahkan ke kamar di villa lain Mbak bisa lebih pengertian lah dengan bagaimana keadaan kita di sini. Eh ternyata Mbak bawa bule juga.. Maaf ya Mbak”. Duh.. 👎😕😕.

    • Susah ya di Indonesia itu nyampur, ada rasisnya karena kita gak bule jadi second class citizen. Terus karena kita perempuan suka riskan diperlakukan beda (seksis). Lalu, penanpilan yang kurang OK juga jadi dasar pelayanan 😦

  12. Hahaha.. Sering banget mba tjetje, sekarang di negara tercinta sendiri jika menginap di beberapa hotel khususnya di Bali terlihat sekali diskriminatifnya begitu juga pelayanan di restoran atau swalayan.
    Karena tampang biasa2 saja dan memakai sandal, tidak ber make up, beberapa oknum melakukan tindakan perbedaan dengan tamu atau customer yang lain.

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s