Reverse Culture Shock: Semakin Kaget Ketika Pulang Kampung

Musim gugur lalu saya berada di Indonesia untuk melepas rindu pada keluarga, makanan dan teman. Tak sampai satu tahun, saya kembali lagi ke tanah air untuk menghadiri acara-acara penting bersama keluarga, melepas rindu dengan sahabat-sahabat saya terbaik dan tentunya untuk berburu vitamin D. Kulit saya harus digelapkan sebelum saya kembali ke Dublin.

Seperti biasa, beberapa hal kecil membuat saya tercengang dan tersenyum-senyum sendiri. Kekagetan saya yang pertama bukan soal culture shock, tapi dengan kondisi ekonomi Indonesia. Lesu sekali ya. Mal Ambasador yang menjadi tempat wajib bagi saya untuk berbelanja sekarang sungguh sepi. Pegawai-pegawai yang dulunya seakan tak peduli jika pengunjung hanya lihat-lihat, sekarang mendadak ramah walau kita hanya lihat-lihat. Bahkan di satu toko saya dilayani oleh dua orang pegawai. Kepala saya juga masih berada di harga-harga dua tahun lalu ketika saya meninggalkan Indonesia. Jadi setiap kali berbelanja dan melihat angkanya yang ‘mencengangkan’ karena inflasi, saya cuma bisa mikir, yang bergaji UMR itu bagaimana bertahan hidup? Bahkan kalau UMRnya 3 juta rupiah, rasanya berat sekali.

Premanisme juga sukses membuat saya tercengang. Pengemudi taksi daring di Malang digebukin oleh supir angkutan umum jika tertangkap mengangkut penumpang dari tempat-tempat umum seperti mall, hotel, restaurant atau stasiun. Tak hanya dipukuli, kendaraan mereka juga berisiko ditabrak atau dipecahkan kacanya. Bagi saya, taksi daring itu bukan saingan angkutan umum, tapi nampaknya angkutan umum semakin tergerus dan sakit hati ketika melihat orang beramai-ramai naik taksi daring dan membagi biayanya sama rata. Sungguh barbar sekali cara manusia mempertahankan penghidupannya. Tolong jangan tanya dimana hukum.

My Jakarta and its motorist. #motorcycle #IndonesiaBanget #Jakarta

A post shared by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Soal aparat hukum, seperti kalian baca di postingan ini, seorang teman saya kehilangan tasnya berserta semua barang berharga di dalamnya. Ketika laporan ke polisi, kami diperlakukan dengan tidak baik. Pak polisi begitu kasar dan galak, seakan-akan perlu menunjukkan otoritas bahwa ia adalah aparat, padahal ia itu pelayan masyarakat yang dibayar dengan uang pajak kita. Kepolisian nampaknya masih perlu banyak berbenah, apalagi soal bantuan biaya administrasi. Sungguh tak bisa saya pahami, orang kehilangan kok disuruh bayar. Di Dublin, polisi itu tegas, tapi juga bersahabat. Sungguh jauh berbeda dari di sini.

Bandara Soekarno Hatta sendiri mulai berbenah menjadi cantik. Terminal 3 Ultimate itu sungguh luar biasa cantik, megah dan tentunya bersih. Kebersihan ini tentunya tak mencakup kebersihan dudukan kloset yang selalu dihiasi dengan bekas-bekas sepatu. Semoga saja kebersihannya bisa terus terjaga. Dampak dari kepindahan ini menyebabkan terminal dua jadi kurang terurus. Hanya ada dua lounge yang tersisa dan salah satu lounge yang kami masuki diwarnai dengan kecoa kecil. Si kecoa menjelajahi kaki saya dan orang Indonesia biasa-biasa saja melihat kecoa di area di mana makanan disajikan. Coba kalau di Irlandia, kejadian seperti ini bisa langsung saya laporkan untuk diinspeksi kebersihannya.

Soal makan, di 2017 ini saya masih melihat orang-orang makan dengan mulut terbuka dan membuat meja berantakan. Saya sungguh bersimpati dengan mereka yang bekerja di lounge ataupun restauran dan masih mampu bersikap manis terhadap orang-orang ini, walaupun wajah mereka begitu lelah dan orang-orang ini tak mempedulikan eksistensi mereka, kecuali jika para tamu ini membutuhkan sesuatu.

Saya menemukan bahwa orang yang nyetir di Malang itu jauh lebih lambat ketimbang di Jakarta. Wajar kalau mereka lambat, karena sepeda motor yang jumlahnya semakin membludak itu tak bisa nyetir lurus. Pada saat yang sama, mobil-mobil juga melakukan hal yang sama. Salah satu sopir taksi yang saya tumpangi berkata bahwa menyetir mobil itu “harus lincah” dan bisa mencari celah-celah sempit. Preeeeet!

Dulu, ketika saya di Indonesia memang saya begitu terbiasa dengan suara klakson, di Dublin, klason menjadi sesuatu yang jarang didengar, bahkan dalam sejarah saya menyetir di Dublin, saya baru satu kali membunyikan klason. Dalam perjalanan dari Soekarno-Hatta ke kediaman saya, pengemudi yang menjemput saya sukses membunyikan klakson sebanyak tiga kali dari bandara hingga depan rumah. Yang di depan rumah itu agak menyebalkan, karena suara klakson meminta supaya pintu pagar dibukakan, padahal waktu sudah mendekati tengah malam. Para tetangga, mohon maaf jika tidur Anda malam itu terganggu.  Di Indonesia sendiri saya tahu Prambors FM rajin menyiarkan iklan layanan masyarakat. Terlalu sering membunyikan klakson itu tanda orang tak memahami cara menyetir yang benar.

Kamu sudah dengar berapa klakson hari ini?

xx,
Tjetje
Yang selalu dianggap aneh kalau pakai kacamata hitam di bawah terik mentari

Advertisements

29 thoughts on “Reverse Culture Shock: Semakin Kaget Ketika Pulang Kampung

  1. Ah, jadi makin penasaran sama Terminal 3 Ultimate-nya CGK 😛 .

    Untuk urusan klakson, at least di Indonesia masih nggak se-“royal” di India dalam hal pembunyian klaksonnya. Dulu sewaktu di sana, rasanya klakson-klakson itu terus berbunyi antara jam 6 pagi sampai jam 10an malam. Jadilah klaksonnya juga difungsikan sebagai alarm pagi, hahaha 😆

  2. Reverse culture shock: Bunyi2an dimana2, mau radio dipinggir jalan, bunyi konstruksi, orang teriak2 jualan barang, kayaknya kuping ini diinvasi banget. Bukti bahwa gw selama ini tinggal di daerah yang lumayan tenang. Terus sama kumpulan orang dimana2… begitu gw balik dari liburan dari Indonesia, gw langsung ke pantai deket rumah disini, menikmati suasana damai, tenang dan bebas asap motor/mobil, dan orang banyak….

  3. hahah, bener bgt mba masa aku pake kacamata itam pas lg terik malah di liatin sm orang2 😓
    bener banget soal aparat itu,, waktu aku kehilangan kemarin juga di sambut ngak ramah dan di oper2 dari satu tempat ke tempat lainnya,,, huff!

      • Hihi.. di NZ, biasanya yg gua lihat, kalau misalnya di highway, ada truk kontainer gede, terus jalanan nanjak atau menurun dan banyak mobil di belakangnya, biasanya si truk bakal minggir, biar yang lain lewat dulu. Nah yg lewat biasanya suka pencet klakson sekali buat say thanks, tapi yang paling depan aja, yg belakangnya yah tinggal ngikut, tanpa klakson, dan angkat tangan say thanks gitu..

      • kalau di NZ, kayaknya sama kayak di Indonesia, cukup angkat tangan aja.. kecuali kalau nyebrang, hehehe.. Kalau gak di zebra cross, angkat tangan pun dicuekin, gak bakal brenti..

  4. Setuju banget sama semuanya Mbak. Soal yang polisi itu, aku perhatiin buat orang Indonesia, tegas = galak, jadi buat nunjukin authority mereka merasa harus begitu. Padahal kan beda banget. Aku juga paling ga tahan sama bisingnya, dan satu lagi, personal space! Kalo ngantri di Indonesia, aku suka ga nyaman sama orang belakang yang mepet banget. Takut diselak kayanya, tapi ga nempel2 juga kali.

  5. Mudah2an pas tahun depan liburan ke Indonesia ga kaget2 banget dengan perbedaan budaya. Tapi ya pasti ada bagian yg bikin kaget ya, itungannya kalau tahun depan berarti nyaris 4 tahun ga pulang. Tapi aku sudah bisa menduga, bagian jalan kaki di trotoar itu yg akan bikin kaget karena di sini kan jalan kaki enak banget sedangkan di sana jalan kaki rebutan sama pemakai sepeda motor.

  6. Hihi..soal klakson, kalo ga di klaksonin, angkot dan ojek suka ngetem seenak udelnya mbak, ini kasus deket rumahku sih. Di depan stasiun, jalannya pas buat 2 mobil 2 arah, tapi supir angkot itu tega sekali bisa ngetem santai nungguin penumpang yang keluar stasiun. Merasa aman karena ada premannya, sampai pernah suatu hari ada anggota TNI yang kebeneran lewat sampai turun dr mobil dan ngegebrak angkotnya saking ga mempan di klaksonin..hehe..

    Mungkin krn mall nambah buanyak, jadi pengunjungnya tersebar kali ya mbak. Soale kmrn ada diskon nike di salah satu mall sampai ricuh saking ramenya (meskipun tgl “tua”) 😂

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s