Tabrakan Kekeluargaan

Cerita  saya pulang kampung memang selalu aneh-aneh dan berwarna. Alkisah dua minggu lalu saya naik Uber di Malang dan kendaraan yang saya tumpangi ditabrak dari belakang oleh seorang anak remaja yang nampaknya baru belajar menyetir kendaraan matic. Pengemudi Uber berinitiatif turun untuk menyelesaikan permasalahan ini dan si bocah meminta kendaraan untuk minggir saja. Ternyata, si bocah dan kendaraan Ford Everestnya kabur! Terjadilah kejar-mengejar di dalam Uber, di tengah kemacetan kota Malang.


Singkat cerita, sang penabrak yang belum juga genap berusia 20 tahun ini tertangkap dan sang pengemudi Uber meminta kartu identitasnya. Soal tabrak-menabrak ini kemudian diselesaikan dengan negosiasi. Pengemudi meminta 700 ribu rupiah untuk bagian belakang kendaraannya yang penyok yang kemudian ditawar ke angka 500 ribu rupiah. ATM sudah siap akan diambil lalu tiba-tiba Ibu dari pelaku turut campur melalui telepon. Runyamlah, karena korban harus berbicara melalui telepon dengan ibu-ibu yang teriak-teriak penuh emosi dengan aneka tuduhan ini itu.

Intinya, ibu sang pelaku hanya mau memberikan uang 250ribu rupiah saja, karena ini musibah. Namanya musibah itu dua belah pihak harus mengerti. Kemudian, Ibu pelaku yang tak mengindahkan fakta bahwa anaknya kabur dan tak minta maaf sama sekali atas hal ini, menuduh bapak pengemudi Uber ini melakukan pemerasan karena kerusakan kendaraan tak begitu parah. Kerusakan kendaraan memang tak begitu parah, bagian belakang kendaraan sedikit penyok, sementara mobil pelaku baik-baik saja (karena mobilnya besar).

Ada banyak hal yang membuat saya tercengang dari kejadian ini:

  • Asuransi

Jaman saya kecil dulu, ada dua tante teman mama saya arisan yang mengalami tabrakan ketika parkir dan mobilnya saling beradu. Urusannya gak pakai ribut-ribut, semua diselesaikan secara elegan oleh asuransi dan arisan pun berjalan lancar tanpa drama. Peristiwa itu membekas sekali di kepala saya, kalau mau punya kendaraan itu ya harus bayar asuransi. Jadi kalau ada apa-apa akan terlindungi.

Saya mendengar kendaraan-kendaraan jaman sekarang juga sudah banyak yang diasuransikan all-risk, apalagi jika masih mencicil. Tapi, untuk setiap klaim asuransi dikenakan biaya klaim setidaknya 300ribu rupiah. Untuk kerusakan yang lebih parah, dana yang diminta akan lebih tinggi.

  • Definisi musibah

Bagi korban, kejadian ini memang musibah. Tapi bagi pelaku, saya melihatnya sebagai sebuah kelalaian, apalagi menyetir kendaraan matic itu cenderung lebih mudah. Ditambah lagi, pelaku juga nekat melarikan diri yang menunjukkan bahwa si bocah ini memang tak berniat bertanggung jawab atas perbuatannya. 

Pendekatan si Ibu yang ngotot bahwa ini musibah sungguh tak berperikemanusiaan sama sekali. Ia beranggapan karena ini musibah, maka kedua belah pihak harus sama-sama menghadapinya dengan cara yang dimau oleh si Ibu; harus ditanggung oleh kedua belah pihak. Pengemudi Uber harus bersedia menerima 250ribu rupiah yang diberikan oleh si pelaku dan masalah harus selesai sampai di situ saja. Ia sama sekali tak mikir bahwa korban, selain dirugikan dengan kendaraan yang penyok juga dirugikan dengan waktu yang harus hilang ketika kendaraan diperbaiki. Buat saya, keengganan untuk bertanggung jawab secara penuh ini egois sekali.

  • Kekeluargaan

Sudah menjadi tradisi, kejadian-kejadian seperti ini diselesaikan secara kekeluargaan dengan cara negosiasi tadi. Saya melihat, cara kekeluargaan ini sebetulnya bukan cara yang efektif sama sekali, karena tidak ada perhitungan yang tepat. Urusan kekeluargaan ini sebenarnya hanya melatih kepandaian tawar-menawar. Salah satu pihak pasti dirugikan, apalagi jika pihak tersebut tak punya ilmu negosiasi yang baik.

Berdasarkan pengalaman orang yang saya kenal, kehadiran aparat sendiri tak akan banyak membantu. Peristiwa kecil seperti ini pasti disarankan untuk diselesaikan secara kekeluargaan dan pelaku diharapkan memberi santunan selayaknya. Kalaupun ada kematian, beberapa orang sekalipun, tak ada ada hukum yang berlaku keras e.g pelaku dicabut SIMnya hingga puluhan tahun, pelaku dimasukkan penjara.

Jadi sekali lagi, fungsi aparat apa untuk memberikan solusi terbaik?

  • Intimidasi

Ibu dari si bocah tersebut juga melancarkan aksi intimidasi kepada pengemudi Uber. Padahal ini anaknya yang nabrak, anaknya yang kabur. Ia ngamuk-ngamuk dan mengatakan ia akan membawa kakaknya dan beberapa orang lain yang lebih ahli untuk menganalisis berapa kira-kira ongkos kerusakan.

Padahal pengemudi sudah menginformasikan kepada sang anak, berapapun biaya yang dikeluarkan ketika perbaikan, tagihannya akan diberikan pada sang anak untuk dibayar. Tapi tetap, si Ibu ngotot bahwa bapak pengemudi Uber memeras anaknya.

Sampai saya meninggalkan Malang, pengemudi Uber tersebut baru dibayar 250ribu rupiah. Mobilnya belum juga diperbaiki. Sementara sang penabrak melenggang bebas, tak ada catatan bahwa ia pernah menyetir dengan cara yang ngawur. Coba kalau ini kejadiannya di Irlandia, premi asuransi pelaku pasti langsung melonjak karena keteledorannya.

Di Indonesia, menyetir kendaraan itu susah. Aturan lalu lintasnya sungguh kurang jelas. Belum lagi ilmu menyetir yang digunakan ilmu lincah, bukan ilmu menyetir lurus sesuai marka jalan. Dalam kejadian seperti ini, saya melihat ada tiga hal yang bisa menyelamatkan pelaku, ilmu negosiasi, uang, serta anggota keluarga yang memiliki jabatan tinggi. Nilai santunan uang sendiri juga tak pernah ditulis dengan jelas, berapa yang harus dibayarkan untuk tiap-tiap kejadian. Semuanya tergantung keiklasan masing-masing pihak. Susah sudah kalau pakai ilmu iklas ini, karena gak semua orang punya ilmu tersebut.

Kamu, pernah menghadapi negosiasi tabrakan?

xx,
Tjetje

Advertisements

17 thoughts on “Tabrakan Kekeluargaan

  1. Ini masih fenomena dunia jalanan/di jalan raya. Alhasil berujung kasus atau selesai tanpa embel-embel. Namun, ilmu saling ikhlas ini memang tidak tuntas. Saya berpendapat, selagi belum ikut pihak berwajib dan kedua pelaku/korban suka sama suka alias damai, tidak jadi soal. Yang masalah bila salah satunya tidak terima tadi. Apalagi jual nama. Aduuh…ini saya rasa orangnya tidak sportif.
    Ada sebuah cerita sangat inspiratif tentang hal ini dimana sebuah angkot menabrak mobil mewah. Sopir angkot yang salah dengan terus terang, sopan dan tidak emosi sekalipun bertampang preman (kali itu saja mungkin) minta maaf dan berunding. Sang sopir mobil mewah yang memang kaum the have, berpangkat, karena situasi dan aura dari niat baik sopir angkot, dia terbawa sabar dan memulai pembicaraan. Sopir angkot dengan seluruh keterbukaan dan kemampuannya untuk biaya, waktu dan lainnya menyelesaikan masalah tabrakan dimana mobil mewah itu lumayan penyok, si sopir mobil mewah berpikir…”Wah orang ini jujur, tidak mampu ganti dengan segera, tapi menyicil beberapa bulan, keluarganya di rumah menunggu uang tarikan yang tak seberapa dan sangat jauh dengan harga ganti rugi mobil saya, daripada berlama-lama, saya tutup aja perkara, kan ada asuransi, kenapa bikin masalah?” Kira-kira begitu pemikiran sopir mobil mewah. Sehingga akhirnya berlaku lagi ilmu ikhlas tadi, tapi dalam catatan, jarang ditemui. Kebanyakan orang emosi, egois dan sedikit angkuh. Padahal dibalik itu ada makna dan jalan. Makna? Si sopir mobil mewah, mobilnya berasuransi all risk. Total ganti baru. Sopir angkot? Selain dipecat, ganti rugi lagi. Terus? Anak istri di rumah menyambut kedatangan ayah tercinta sekalipun preman, berwajah sedih dengan tangan hampa dan tidak jadi beli ini itu untuk makan hari itu atau buat beli alat sekolah anak, susu anak dan lainnya.
    Hmm…terlalu melankolis πŸ˜€ Tapi intinya, ilmu ikhlas selagi masih ada yang kecewa, sia-sia. Lebih baik terus terang, jabarkan, jangan takut, negara kita ada hukum dan jangan diingkari. Tak selamanya susah itu ada. Betul kan Mbak? He he he…jadi sok tau saya Mbak. Maaf, ini spontan lho.
    Terima kasih.

  2. Awalnya aku ingin berkomentar “Mungkin seharusnya diselesaikan dengan mediasi pihak yang berwajib”, tetapi ternyata toh tidak efektif ya, hmmm…

  3. Pernah! Tapi kayaknya ga separah ini. Dulu pas aku belajar nyetir, aku nabrak bajaj. Untungnya si pak bajaj ngerti aku masih belajar jadinya dia gak peras aku dengan minta duit banyak. Tapi abis itu aku jadi trauma menyetir.

  4. Wah jadi inget kejadian 2x mobilku ditabrak, yang pertama pengemudi Mba Mba bawa mobil Terios mungkin ngga sadar body mobilnya gede dan maksa nyempil di jalanan sempit yang lagi macet alhasi mobilku lecet parah dan bagian belakangnya sobek, si Mba Mba sukses melenggang kabur padahal aku cuma mau negosiasi minta klaim biaya asuransi mobil 300rb πŸ™‚ πŸ™‚

    Yang kedua di tanjakan mau keluar parkiran, mobil depan entah kenapa meluncur turun kembali, mobilku ngga bisa mundur karena di belakang ada mobil lagi. tapi kali ini pengemudi Bapak Bapak inisiatif turun, meminta maaf, dan akan bertanggung jawab πŸ™‚

    Sisanya yah kalau diserempet motor, ngelus dada aja, Percuma kalau diajak negosiasi malah kita yang salah πŸ™‚

  5. Aku nggak pernah nyetir di Indonesia, nggak berani meskipun punya sim internasional. Dulu pas disini mobil pernah ketabrak depannya oleh mobil yg pas lagi mundur kurang peka. Penyelesainnya gampang. Dia nggak lari, dan langsung kasih aku nama dan nomor telpon supaya bengkel di cabang mobil langsung kontak dia dan asuransinya. Nggak repot sama sekali.

  6. Kebetulan sekali empat hari yang lalu aku juga mengalami tabrak lari.

    Sore jam enam-an, lagi padet-padetnya jalan, tetiba dari belakang dihantam keras sama kalau nggak salah innova (nggak ngeliat dengan jelas mobilnya apa gegara lumayan gelap nggak bawa kacamata).

    Aku sih nggak apa-apa, pake seatbelt dan duduk di kursi penumpang.

    Supirku doang lumayan kenceng kena setir soalnya di depan dan lagi nggak make seatbelt (God know why-_-).

    Mobil juga lumayan rusak, besi yang dibelakang nya itu ampe mau copot sebelah. Untung pake asuransi.

    Orangnya asli langsung kabur lewat kebetulan ada jalan kecil ke kiri.

  7. Pernah pas parkir di apotek deket rumah. Aku parkir horizontal, si ibu parkir vertikal. Alhasil pas anaknya bawa mobil mundur, kena pintu belakang mobil sampe sedikit penyok dan mobil kedorong. Karena malas urusan aku suruh adek yang baru selese beli obat buat ngomong sama si ibu. Tapi adek kalah otot haha akhirnya aku ikutan juga. Dibilang mobil udah lama, penyok dikit aja, endesbre endesbre. Udah di ubun-ubun emosi mbak Ai, bentak-bentakan sama si ibu. Akhirnya dia mau kasih nomer hape sama alamat, tapi dimintai sim anaknya nggak mau. Sampe di rumah, mama yang nego sama si ibu itu karena lebih sabar. Aku sih kena a UK karena dianggap lalai. Udah posisi parkir juga mana tau mobilnya mau pergi. Ampun. Kalo diingat sebel bukan main. Apalagi si ibu Bawa-bawa saudara apalah apalah. Hedeh.

  8. Aku pernah ditabrak motor siang bolong, eh tapi dia yg nyalah2in aku dengan alasan “kasian orang kecil”. Aku sampe dikerubungin orang gitu Tje, panik aku. Masih bocah pula, belum 20. Akhirnya mamaku datang, ya gitu “cara kekeluargaan”. Kita ga ganti motor nya, dia ga ganti mobil aku. Impas deh. Padahal aku ngga salah, wong lg nyetir lurus di jalur yang benar tau2 dia nyeruduk. Tapi yaudah lah, biar cepet dan aman aja kata mamaku :\ habis itu sempet ada berapa lama ngga berani bawa mobil, sekarang sih udah biasa lagi.. hehe

  9. Ihhh gemez dan sebel amat Ai bacanya aza! So typical deh, makanya susah bener buat Indonesia untuk maju ya abis mentalnya masih seperti si ibu dan anak itu! Aku dsini perna ditabrak dan menabtak jiga, tapi yaitu pihak asuransi yg mengurus kita tinggal tukeran nomor telpon aza. Ga ada kata2 kasar ga ada intimidasi.

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s