Dibangunkan Jerit Tangis Anak-anak Badui

Tidur saya yang nyenyak, walaupun hanya beralaskan sleeping bag di atas lantai bamboo yang berisik, dikoyak oleh sahut-sahutan tangisan anak-anak Badui dalam, termasuk anak Ibu Pemilik Rumah yang berteriak-teriak ‘Ambu…Ambu….’. Di kejauhan ayam berkokok dengan nyaring dan kisah pertemuan alu dan lesung dengan bantuan lengan kokoh para perempuan Badui pun dimulai.

Badan saya super remuk, kaki saya sekeras batu, kaku dan susah dilipat. Tapi dengan kondisi seperti itu saya memaksakan diri untuk ke sungai, melihat kehidupan Badui di pagi. Para ibu-ibu ternyata sudah sibuk menumbuk padi, beberapa melakukannya sambil menggendong bayi di punggungnya. Beberapa perempuan yang bertelanjang dada di sungai langsung menaikkan kembennya ketika melihat kami berjalan ke arah sungai, nampaknya mereka malu. Suasana di sungai saat pagi ternyata sangatlah ramai tak hanya dengan orang dewasa tapi juga dengan adik bayi yang belum genap satu tahun. Seorang anak kecil yang baru bisa berdiri, mungkin baru berumur setahun juga sudah dimasukkan ke dalam sungai. Bikin saya yang anak kota ini deg-degan, takut kalau ia terpleset dan terguling masuk ke dalam sungai. Sambil melihat anak-anak kecil itu saya bertanya dalam hati, apakah anak-anak ini mengenal vaksin? Gak usah repot dijawab, jawabannya sudah jelas gak kenal. Huruf aja gak kenal kok vaksin.

soaking wet

Little Red Riding Hood basah kuyup dari atas kepala sampai ujung kaki. Kamera pun mengalami kelembaban luar biasa, makanya tak bisa ambil foto banyak-banyak. (foto courtesy of Ms. A.R. Amalia)

Little Red Riding Hood basah kuyup di Badui. Kamera pun ikutan mandi, makanya foto cuma seiprit.

Menu sarapan pagi kami adalah nasi dan mie instant yang kami bawa dari kota, saya tetap konsisten dengan puasa tidak makan mie instan dan hanya memakan nasi putih dan abon ayam. Pagi itu Ajak, porter saya juga sudah muncul di tempat kami tinggal dan bergabung untuk sarapan mie instant. Perut orang Badui dalam pun sudah teracuni mie instant. Yang menyedihkan, tuan rumah meminta kami meninggalkan botol plastik yang akan kami bawa pulang. Nampaknya botol ini diminati oleh beliau supaya bisa digunakan lagi untuk mengisi air. Ah padahal bambu tempat air mereka lebih baik ketimbang plastik-plastik itu.

Pagi itu kami melewati rute yang berbeda dan sempat melewati kuburan serta  lumbung padi milik masyarakat Badui. Lumbung itu nampaknya menjadi incaran tikus, kami bahkan bertemu bayi-bayi tikus yang masih merah di areal lumbung. *teringat Ibu saya yang anti tikus dan pernah menyiram bayi tikus merah itu dengan air mendidih* Saya sudah sangat berharap tidak ada tanjakan yang mengerikan lagi, ataupun turunan yang mengerikan. Harapan saya pupus, kali ini turunan yang luar biasa curam dan licin. Awalnya saya sukses tak jatuh sama sekali, hingga akhirnya saya jatuh sebanyak 5 kali, padahal saya tak membawa beban apa-apa di pundak, apalagi di punggung. Bandingkan dengan pedagang bakso pikulan yang kami temui di sebuah tanjakan, ia sedang menuju Badui Dalam dan tentunya berusaha untuk tidak jatuh sama sekali.

Kami juga sempat terpisah dari rombongan pertama dan nyasar. Untung saja kami bertemu dengan rombongan kedua, jika tidak, mungkin kami berakhir satu malam di tengah hutan. Hikmah dibalik nyasar itu kami berpapasan dengan makluk terganteng se-Badui Dalam (versi saya), kulitnya bersih seperti porselen, dengan muka mirip-mirip orang Jepang atau Korea. Saya sebenarnya penyuka pria eksotis dengan kulit coklat, tapi untuk mas Badui Dalam ini saya membuat pengecualian karena ia ganteng banget. Sayangnya si Mas tak bisa diajak selfie karena kami ada di dalam Badui Dalam. Aaaaarhg!!!!

Ketika kami mulai masuk ke dalam Badui Luar, ada satu hal yang membuat saya bersorak kegirangan: kamar mandi. Kamar mandi yang tanpa lampu ini terasa sebagai modernisasi yang indah. Tak hanya menemukan kamar mandi, kami juga menemukan pedangan aneka rupa minuman botol. Ajak, sang porter saya dari Badui Dalam yang setia mengangkut tas saya selama dua hari ini memilih SPRITE untuk menghilangkan dahaga. Owalah sarapan mie instan, siang minum soft drink ya. 

Badui Blog 1

Tukang bakso vs Mbak-mbak takut ketinggian. Jembatan segitu aja bikin saya keder. Btw, teman-teman saya ada yang berpapasan dengan anak Badui yang lagi bermain, bikin jembatan!!!! Photo courtesy of Ms. A.R. Amalia

Perjalanan kami diakhiri dengan istirahat di rumah guide kami, Lamri, seorang anak Badui Luar. Tak banyak foto yang bisa diambil dari perjalanan ini karena hujan yang senantiasa menemani. Tapi yang paling banyak kami rekam adalah pelajaran hidup. Dalam perbicangangan kami dengan Lamri, sempat timbul pertanyaan, mengapa orang Badui tidak mau sekolah, rupanya  bagi mereka sekolah itu membuat pintar, sementara kepintara itu membuat kita membodohi orang. Sebuah sindiran halus bagi kita semua untuk selalu merunduk, seperti padi yang menjadi salah satu tanaman andalan orang Badui.

Saya juga belajar dari Ajak tentang hidup. Ketika melihat tanjakan 45 derajat ia meyakinkan saya untuk tidak memikirkan tantangannya, “Jangan dipikir, kalau dipikir susah”. Hidup ini memang jangan memikirkan apa yang akan kita hadapi, susah ataukah mudah, tetapi yang paling penting diri kita harus selalu siap dan bersemangat untuk menghadapi keduanya.

Kepulangan kami tak berkesan dan tak memiliki cerita menarik, karena kereta yang lebih mahal dua kali lipat panas, bau, pesing dan kursinya terbatas. Tak apa yang penting kami berhasil meracuni satu gerbong dengan bau Ciboleger. Ini istilah yang diberikan pedagang asongan di atas kereta.

Biaya mengunjungi Badui sangatlah murah, tetapi diperlukan tenaga dan kaki yang kuat. Kalau kakinya tak biasa jalan mendaki seperti saya bakalan sengsara. Bagi kalian yang masih muda, saya sarankan untuk pergi ke Badui. It worth every pain and every fall.

Selamat hari Senin, mari bekerja keras seperti orang Badui!

Xx,
Tjetje

Semalam di Desa Cibeo Badui Dalam

Warning: postingan ini super panjang!

Saya yang takut ketinggian ini sempat menyesal karena nekat pergi ke Badui demi melihat desa yang menolak teknologi, apalagi ketika harus naik sebuah bukit dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Tapi penyesalan terbayar setelah saya tiba di puncak pelataran, disambut indahnya gunung berkalung awan dan bukit-bukit nan hijau. Sayangnya kami sudah berada di Badui Dalam sehingga tidak boleh mengambil foto.

Setelah berjalan 5,5 jam, bermandikan hujan dan berbalut lumpur ( dibeberapa sudut desa saya harus meluncur, perosotan karena licin) rombongan kami tiba di desa Cibeo dan disambut anak-anak berpakain tradisional yang kecantikannya mengalahkan Manohara. Anak-anak perempuan mengenakan perhiasan layaknya perempuan Dayak, sementara anak laki-laki bersenjatakan golok di pinggangnya. Seorang  perempuan paruh baya berjilbab tampak duduk tak jauh, menjual jajanan khas kota berbungkus plastik. *WHAT?????!!!!*

Di depan rumah Badui yang dibangun tanpa paku, terletak sebuah penggorengan untuk menampung air hujan dari atap. Mulanya saya agak bingung, mengapa mereka meletakkan penggorengan di tanah, hingga seorang anak berdiri di dalam penggorengan itu, mencuci kakinya. Rumah orang Badui Dalam, atau urang Kanekes, tempat kami menginap terdiri dari satu satu kamar saja, di dalam kamar tersebut terdapat tungku untuk memasak. Selebihnya tak ada sekat.

Masyarakat Cibeo membagi sungai menjadi dua, untuk pria dan perempuan. Untuk perempuan lokasinya di dekat tempat menumbuk padi, dekat dengan jembatan bambu yang merupakan gerbang kampung Cibeo. Mereka yang berkunjung ke desa Cibeo pasti disambut dengan pemandangan perempuan segala usia yang sedang sibuk melakukan aktivitas buang air, mencuci peralatan memasak, mencuci pakaian, mandi, bahkan mengambil air untuk memasak. Tak hanya manusia yang melakukan aktivitasnya disini, anjing pun minum dari air ini.

Sungai untuk pria berada agak jauh dari aktivitas para perempuan. Para pria mewarisi air yang mengalir dari lokasi perempuan. Makanya mereka sudah biasa melihat kotoran manusia, hadiah dari perempuan Badui, mengalir ketika mereka sedang beraktivitas. Persis yang dialami seorang rekan dalam rombongan kami.

Pakaian perempuan Cibeo berupa kain panjang untuk menutup bagian bawah dan kemben untuk bagian atas. Jika mereka hendak buang air, maka mereka tinggal mengangkat kain panjangnya dan jongkok memasukkan pantatnya ke air. Pengamatan saya, tidak ada kegiatan cebok karena arus air langsung membersihkan ketika mereka jongkok. Konon para pria di Badui Dalam juga tidak mengenal celana dalam, pakaiannya hanya berupa sarung pendek.

Ajak Badui

Fotonya sengaja dipotong supaya yang berdiri disampingnya tak ikutan nongol di blog

Fakta menarik lain yang kami temukan, ternyata, hanya perempuan yang mengambil air dari sungai, laki-laki tidak melakukan hal tersebut. Padahal bambu untuk mengangkut air itu beratnya ketika penuh air luar biasa. Bambu mirip kentongan itu panjangnya sekitar 60-70 cm dengan dua lubang kecil di sisi atas, dekat pegangannya untuk mengeluarkan air dan diletakkan berjajar di  depan rumah mereka. Saya sendiri tidak sanggup mengangkutnya, kalah dengan anak kecil di Badui.

Kami mengobrol dan mengajukan banyak pertanyaan kepada Tuan Rumah, dari mulai upacara kematian, warisan, perkawinan hingga program KB. Tak ada listrik di Cibeo, karena mereka menolak modernisasi, untungnya mereka tidak menolak senter, sehingga saya dapat menyalakan senter untuk menjadi penerang di rumah seluas 6 x 7 meter tersebut.

Mereka yang meninggal dikuburkan di makam yang terletak di seberang sungai. Jenazah dibungkus kain dan ditali pada bagian atas kepala, leher dan kaki, serta tak lupa dimandikan terlebih dahulu. Tidak di sungai tersebut, tetapi ada tempat pemandian khusus. Setelah dikuburkan, selesailah urusan antara yang hidup dan yang mati, tidak ada acara ziarah seperti kita yang tinggal di kota, walaupun ada selamatan kematian pada hari 1, 3 dan 7.

Menurut tuan rumah kami, warisan dibagi rata, tidak ada perbedaan antara laki dan perempuan. Warisannya berupa tanah untuk bercocok tanam. Jika mereka hendak membuka lahan baru untuk bercocok tanam, maka Pu’un-lah (kepala suku) yang berhak memberikan izin, apakah mereka diperkenankan atau tidak.

Perjodohan merupakan hal yang lazim dilaksanakan di Cibeo, kualitas yang dicari bukan kecantikan ataupun kekayaan, tetapi kemampuan bertanam. Proses lamarannya bisa memakan waktu hingga 1 tahun dan “mas kawin” yang disiapkan berupa kain dari pihak pria untuk pihak perempuan dan dari pihak perempuan untuk pihak pria. Salah satu bagian dari upacaranya adalah perempuan mencuci kaki pria.

penenun badui

Perempuan Badui Luar sedang menenun di depan rumahnya

Kendati snack modern masuk mengincar anak kecil, KB tak masuk di Cibeo. Tak heran desa ini dipenuhi oleh anak kecil. Anak-anak perempuan berusia 5 tahun pun sudah sibuk menggendong adiknya yang masih bayi. Masyarakat Badui juga tidak mengenal perceraian karena mereka monogami. Di Cibeo juga tidak ada kasus kehamilan di luar perkawinan. Komentar seorang teman, “Ya bagaimana ada kasus kehamilan di luar perkawinan jika mereka dikawinkan ketika libido mereka belum muncul”. Satu pertanyaan yang tak pernah saya tanyakan tentang dimana mereka membuat bayi, karena rumah mereka tanpa sekat yang berlantai bambu, berisik jika diinjak.

Urang Kanekes tidak diperkenankan kawin dengan Badui Luar, jika melanggar, mereka harus keluar dari Badui Dalam. Begitu juga dengan Badui Luar,  mereka tak diperkenakan kawin dengan orang non-Badui. Hukuman keluar juga dilakukan jika mereka melakukan kesalahan seperti naik kendaraan. Sebelum keluar mereka akan dipaksa bekerja, tanpa dibayar, kemudian dipindahkan ke sebuah wilayah khusus untuk “mereka yang bersalah”. Setelah mereka membayar kesalahan, barulah mereka dikeluarkan.

Rupiah dan perdagangan sudah mulai dikenal di Cibeo. Ketika kami datang, langsung ada  yang datang membawa tenunan, cincin dan gelang. Model tenunannya sederhana dengan warna yang cerah. Orang Badui Dalam kadang juga bekerja menjadi porter, mengangkut barang bagi anak kota yang manja seperti saya. Selain itu, mereka juga berjualan madu hutan, ini yang seringkali dibawa ke Jakarta. Berjalan kaki tanpa alas tentunya.

Di wilayah Cibeo terdapat satu area terlarang yang tidak boleh dimasuki pendatang seperti kami, yaitu daerah “Alun-alun”, dimana Pu’un bertempat tinggal. Kami tidak sempat bertemu Pu’un, apalagi minta jampi-jampi, karena saat itu sedang musim upacara. Ah sudah bisa masuk Badui saja kami bersyukur, apalagi karena kami membawa seorang teman yang bermata sipit. Konon mereka menolak orang Indonesia keturunan China, walaupun mereka berhati merah putih.

xx,
Tjetje