Tukang Pamer

Orang pamer pada dasarnya sah-sah aja, asal hal yang dipamerkan hasil keringatnya sendiri. Tapi sedari kecil, kebanyakan dari kita, dididik untuk sederhana dan nggak perlu pamer-pamer ke orang lain. Selain karena pamer itu berdosa, pamer juga bikin orang lain cemburu & orang cemburu itu membahayakan keselamatan kita.

Hadirnya media social sejak berapa tahun belakangan ini *eh sudah sepuluh tahun lebih kali ya*, merubah perilaku manusia. Mendadak, kita semua lupa dengan ajaran orang tua untuk menjadi humble dan tidak pamer-pamer. Mereka yang suka pamer jadi bersorak riang gembira karena mendadak punya panggung pertunjukan kekayaannya. Tak hanya menyediakan ruang bagi pencinta pamer, sosial media  juga juga melahirkan tukang-tukang pamer yang baru, saya contohnya. *tutup muka, malu*

Secara nggak sadar saya suka pamer makanan & check-in di restaurant tempat saya makan. Sementara kalau lagi makan mie ayam pinggir jalan, saya nggak pernah check-in. Perilaku pamer makanan ini baru saya sadari sebagai perilaku yang menyebalkan ketika saya berada di luar Indonesia. Selain karena foto itu bikin kepengen (apalagi kalau lagi di negeri orang), foto-foto makanan yang kadang rupanya buruk rupa itu sedikit manfaatnya.  Saya dan banyak orang juga suka pamer foto jalan-jalan, di luar negeri ataupun di dalam negeri. Biar eksis dan bisa pamer kalau udah jalan ke luar negeri.

Orang bilang batasan antara pamer sama berbagi informasi itu tipis banget. Kalau kata saya, ketika postingannya nggak bermanfaat buat orang lain, nggak menghibur dan cuma bikin orang lain cemburu, itu udah mengarah ke pamer. Contohnya: pamer hasil belanjaan yang segambreng di depan menara Eiffel, lebih parah lagi kalau bon belanjaannya dimasukkan social media. Soal harga, ini jadi dilema banget buat blogger seperti saya. Niat hati cuma ngasih referensi orang supaya orang tahu dan bisa memperkirakan anggarannya, tapi di sisi lain disangkain pamer juga.  Tricky!

Bini-bini bule (ga semua lho ya) tanpa disadari juga ada yang suka pamer, dari yang printilan kecil-kecil macam parfum sampai tas-tas bermerek, koleksi perhiasan bling-bling sampai rumah ataupun mobil mewah milik pasangan. Cara pasang mobilnya kadang suka ajaib, dengan gelempohan macam putri duyung di depan mobil. Kemudian ditulisi mobil yayangku. Seperti saya omongin di atas, pamer  hasil keringat sendiri, atau pasangan itu monggo, silahkan, nggak melanggar hukum dan nggak bikin harm juga. Walau kadang saya suka bertanya, apakah nilai-nilai yang diajarkan orang tua pada jaman dahulu kala itu sudah efektif?

Kadang saya suka bertanya sendiri, apakah pameran yang dilakukan istri bule ini semakin menguatkan pandangan bahwa istri bule dilimpahi banyak uang, apalagi yang dipamerkan barang bagus melulu, tas bagus melulu yang tentunya tak dibeli di mangga dulu sementara yang buruk rupa tak pernah dikeluarkan. Mungkin mbak bule hunter kalau lihat pemandangna seperti ini jadi semakin terpecut untuk menggoogle PIN BB bule dan  mencari bule kaya, kalau perlu suami orang pun direbut. (catatan: hampir tiap hari ada orang menggogle bule kaya, pin BB bule kaya, kawin dengan bule kaya)

Gak cuma istri bule yang demen pamer, ibu-ibu plat merah*maaf ya, bukannya saya tak mau inclusive, tapi postingan saya memang lebih sering melihat dari kacamata perempuan* juga demen banget pameran. Eh halo…kalau kerjanya dibayar oleh taxpayer money, ada nggak ngeri tuh pamer-pamer di social media? Ntar ada yang iseng angkat telpon dan laporan ke KPK gimana? Berabe kalau sampai jadi kartun di sebuah majalah dan dianalisa belanjaannya dari ujung rambut sampai ujung kepala, pakai price tag pula. Kayak si Ratu dari Barat Jawa itu.

Pada intinya, pamer pencapaian dalam sebuah hidup itu sah-sah aja. Tapi kalau pamer ati-ati, jangan sampai bikin orang jadi dengki. Akan lebih menyenangkan kalau kita pamer di sosial media hal-hal yang bikin orang seneng dan bermanfaat. Tapi itulah nature social media dan manusia, kita hanya mau menunjukkan yang bagus dan  menutupi yang kurang bagus.

Buat yang sering lihat temennya pamer di social media, nggak usah iri, ingatlah kalau hidup gak segampang pamer foto di fesbuk. Jadi kalau ada yang pamer, ga usah terbuai, tapi semangat kerjalah. Kerja keraslah biar duitnya banyak. Kalau gak mau capek ya cari bule yang kaya raya *lho* atau cari anak pejabat kaya yang belum ketangkap KPK.

Ratu pamer favoritku Syahrini, siapa ratu pamer favoritmu?

Syahrini

Baca juga Kebablasan Berbagi di Sosmed.