Takut Dengan Bule Hunter

Beberapa hari lalu di Twitter saya berbagi screen shot komentar dari orang yang nyasar ke Blog saya. Setelah membaca tulisan Dear Bule Hunter, orang ini mengambil kesimpulan bahwa pelaku perkawinan campur (dan saya sebagai blogger) biasanya takut dengan bule hunter karena takut pasangan dirampas oleh para bule hunter, makanya banyak yang nyap-nyap soal bule hunter. Lap keringat sambil ngedumel, gini deh kalau pada gak paham sarkasme.

afraid

Bule hunter yang saya definisikan sebagai orang-orang yang mencari pasangan dengan spesifikasi warna kulit dan mengeklusikan pilihan lain, merupakan sebuah fenomena yang terjadi di Indonesia sejak jaman baheula. Di jaman baheula berburu bule itu untuk menaikkan kelas sosial, biar jadi Nyainya orang Belanda. Di jaman sekarang, sebagian masih berprinsip seperti itu, biar kaya, kelas sosialpun naik dan jadi nyonya-nyonya bule. Fenomena ini  tak hanya ada di Indonesia saja tapi juga ada di negara-negara lain. Rusia misalnya dikenal dengan mail order bridenya.

Nah apakah kemudian bule hunter itu menjadi sosok yang menakutkan dan harus ditakuti seperti layaknya kita diajarkan untuk takut pada pocong, kuntilanak, kuyang, nenek lampir, suster ngesot, sundel bolong, wewe gombel, dan banyak hantu lainnya (yang kok kebanyakan perempuan)? Atau layaknya sebagian orang takut pada badut-badut yang sedang musim dan sedang senang berkeliaran menjelang Hallowen ini? ya kaleeeee.

Ketakutan yang digambarkan oleh sang komentator (dan menurut dugaan saya banyak orang disana berpikiran sama) ini, menurutnya, para bini-bini bule itu pada takut kalau lakinya disamber bule hunter. Saya yakin di luar sana ada yang takut lakinya disamber bule hunter dan tak mempercayai loyalitas suami. Saya sendiri sangat percaya bahwa hidup itu harus berusaha keras, tapi bagi ada tiga hal yang sekeras apapun kita kerja tak akan bisa kita paksakan, hidup, mati dan jodoh. Jadi lagi-lagi, mengapa harus ketakutan pasangan direbut bule hunter, kalau jodoh toh tak kemana?

Ada satu hal yang gagal dipahami oleh sang komentator, yaitu soal ketidaknyamanan sebagian orang ketika melihat bule hunter. Sebagian mengeluhkan penampilan mereka yang norak. Tapi sejujurnya kenorakan pakaian ini ada dimana-mana dan dilakukan siapa saja. Hal ini bisa diatasi dengan mudah dengan buang muka saja. Atau kalau mau nekat, samperin aja bilang bajunya norak. Paling disiram air atau kalau beruntung disiram wine. Pastikan ketika nyamperin gak pas pegang sup panas ya.

Sebagian lagi mengeluhkan perilaku mereka yang seringkali dianggap murahan dan kurang berkelas  sehingga menuai  cibiran. Ini kemudian mengakibatkan sebagian besar perempuan yang memiliki pasangan orang asing dicibir dan disamaratakan. Seperti pernah saya tulis sebelumnya, banyak orang yang risih ketika para bule hunter crashing party apalagi acara resmi hari-hari nasional dari negara-negara asing di Indonesia. Cara masuknya bermacam-macam, ada yang masuk ketika pengamanan acara sudah mulai berkurang, ada juga yang pura-pura menjadi bagian dari rombongan diplomat beneran. Saya sendiri terpukau sembari sedikit malu karena keberanian dan kenekatan mereka. Sampai segitunya kah kalau harus berburu pria?

Sebagian lainnya mengeluhkan keagresifan mereka yang luar biasa. Engga bikin takut kok, tapi meminjam istilah jaman sekarang: gengges banget! Jelas-jelas #CincinKawinSegedeBagongGakDilihat, bahkan ketika istri dan anak dibawa pun masih digodain. Atau dalam konteks hubungan pekerjaan, tukar menukar nomor telpon tiba-tiba mengirimi foto selfie super seksi yang alasannya salah alamat. Sah-sah aja kok, tapi seperti saya bilang, hal-hal seperti ini membuat  sebagian orang gengges dan jadi mikir, ” apaan sih?”

Nah yang bikin makin gengges lagi tuh, kalau kemudian para orang asing itu bertanya pada orang Indonesia (ini sering banget saya alami). Mengapa mereka sangat agresif ketika berkaitan dengan urusan pria, tapi begitu berurusan dengan pekerjaan super lelet. Mengapa mereka tak malu meraba-raba diplomat yang sudah dibuai alkohol di depan publik, seakan tak ada norma lagi. Atau mengapa mereka menelpon-nelpon tanpa henti dan juga mengirimkan pesan, permintaan pertemanan di media sosial. Lalu pertanyaan lainnya, apakah mereka seperti ini juga pada orang-orang yang bukan orang asing? Nanti kalau dijawab, engga cuma sama bule aja, akan berbuntut panjang. Mengapa mereka rasis dan hanya berlaku seperti itu pada orang kulit putih.Ya ndak tahu, tanya aja sendiri. Dan masih banyak mengapa-mengapa lain yang kadang membuat saya lagi-lagi malu dan pusing menjawabnya.

Di forum-forum di dunia maya fenomena ini juga banyak dibahas dan tentunya dinikmati oleh kedua belah pihak. Sah-sah saja wong sama-sama dewasa. Tapi tetap di relung hati saya ada rasa sedih yang mendalam ketika para bule itu berkata, hidup di Indonesia itu enak, mau ganti-ganti cewek  gampang. Meski sang bule gak bermaksud mengenelirasi, tetep bikin sedih. Rasanya kok perempuan Indonesia itu jadi gak berharga dan gak bernilai banget.

Terlepas dari segala hal yang gengges di atas, bule hunter adalah sebuah fenomena yang banyak menginspirasi tulisan-tulisan saya. Bagi saya, perilaku mereka sangat menarik untuk diamati dan direkam. Tanpa mereka, saya tak akan punya seri Dear Bule Hunter.  Jadi, mengapa mereka harus ditakuti?

xx,
Tjetje

[Dear Bule Hunter] Kalian Sungguh Menakjubkan

Wahai para bule hunter, saya paham dengan keinginan kalian untuk memiliki penghidupan yang lebih baik dengan cara mengawini pria-pria bule bergaji dollar. Keinginan untuk naik ke jenjang sosial yang lebih tinggi itu wajar, manusiawi dan diakui dalam ilmu sosiologi. Dalam teori yang saya pelajari, manusia normal akan bekerja keras untuk bisa naik ke strata sosial di atasnya.

Oh para bule hunter, saya takjub dengan definisi kerja keras kalian yang sangat berbeda dengan defisini yang kebanyakan orang. Kerja keras kalian, untuk menggaet pria-pria bule harus bermodalkan kemampuan intelegensi, layaknya detektif-detektif di film. Kalian harus bersusah payah menghapalkan national day negara-negara tetangga, ajang kumpu-kumpul para ekspatriat, bahkan ajang sepak bola mereka lalu mencari tahu lokasi acara tersebut.  Sungguh hebat ilmu intelegensi anda.

Oh para bule hunter, saya lebih takjub lagi ketika kalian bekerja keras untuk bisa masuk acara-acara tersebut tanpa undangan. Kemampuan kalian untuk menyusup ke acara-acara resmi mengalahkan kemampuan James Bond menyusup sarang musuh. Tak hanya itu, kalian harus kucing-kucingan dengan para security, event organizer, pegawai kedutaan, bahkan pihak manajemen hotel yang setiap saat siap mengusir anda. Tak mudah tentunya melarikan diri dari kerumunan massa dengan sepatu tujuh belas centimeter.

Oh para bule hunter, saya semakin takjub dengan kemampuan kalian menjalin komunikasi tanpa awkward moment  dan tidak kehabisan topik pembicaraan. Oh kehebatan masih ditambah dengan kemampuan non-verbal pada tingkat mahir! Bagaimana tak mahir jika dalam waktu kurang dari sekian puluh detik kalian berhasil berbisik-bisik manja di telinga para diplomat. Lima belas detik kemudian, tangan kalian sudah menari-nari di tubuh diplomat tersebut, membuat mereka kebingungan,  salah tingkah dan malu. Sama bingungnya dengan para undangan resepsi hari nasional negara tetangga. Mereka terlalu bingung hingga hanya bisa menunduk melihat sepatu, lalu mengalihkan pembicaraan ketika para orang asing bertanya tentang apa yang terjadi.

"Of course your wife doesn't understand you, she only speaks Thai."

Oh para bule hunter, saya terkaget-kaget ketika tahu sebagian kecil dari kalian mampu membuat pria beristri bertekuk lutut semudah Mbak Jamilah menundukkan pria itu. Kesabaran, ketekunan, strategi serta tentunya sedikit kebekuan hati kalian adalah kunci kesuksesan.

Oh bule hunter saya semakin takjub ketika kalian bisa merayu seorang suami untuk meninggalkan istrinya yang sedang hamil. Merayu suami orang, merebutnya dari sang istri dan membuatnya menceraikan sang istri adalah perjuangan keras yang luar biasa. Saya semakin takjub ketika tahu bahwa membuat pria menceraikan istrinya yang sedang hamil. Bukan hal mudah tentunya dan sekali lagi, perlu strategi, kesabaran dan kemampuan untuk meyakinkan orang.

Oh para bule hunter, saya takjub dengan kepiawaian kalian untuk membuat pria-pria berusia matang bertekuk lutut dengan mudahnya. Padahal, belum tentu lutut mereka yang menua itu bisa ditekuk lho mbak; apalagi jika minyak di lutut itu sudah mulai menipis. Sekali lagi saya tak heran kalau anda memilih para pria matang; penghasilan dan tabungan mereka sudah cukup memadai dan investasi mereka sudah mulai berbuah. Oh betapa kalian sungguh cerdas untuk memilih pria yang tak pelit dan tak cerewet. Pilihan tepat ini membuat saya yang Ekonomist ini merasa gagal mengimplementasikan pengetahuan investasi saya.

Oh para bule hunter, ketakjuban saya tentunya dikalahkan oleh takjubnya Bapak anda di kampung yang melihat makluk tinggi, putih, berhidung mancung yang datang melamar. Saking takjubnya Bapak anda beliau sampai bingung bagaimana memanggil calon mantunya. Dipanggil nama nanti kualat karena budaya melarang memanggil nama orang yang lebih tua, dipanggil Abang tentunya sangat aneh.

Oh para bule hunter, rasanya ketakjuban saya tak habis-habisnya ketika tahu di luar negeri sana kalian masih rajin berburu bule.

Selamat hari Valentine para bule hunter, semoga kalian tak berhenti membuat saya takjub

Baca juga: [Dear Bule Hunter] Kawin Sama Bule Itu Nggak Enak
Dear Bule Hunter: Tinggal di Luar Negeri itu Gak Enak

Disclaimer: Tidak semua perempuan yang bersama pria asing melakukan hal-hal tersebut di atas. Oknum-oknum atau kejadian di atas tidak mewakili semua perilaku bule hunter di Indonesia dan bukan merupakan kebiasaan yang dilakukan banyak bule hunter. Mereka yang disebut di atas hanyalah butiran debu.

[Dear Bule Hunter] Kawin Sama Bule itu Nggak Enak

Beberapa hari yang lalu ada yang searching dengan kata kunci “kawin sama bule enak gak, pindah ke negaranya dan ganti kewarganegaraan?” Semenjak saya beli domain binibule ini emang kata kuncinya selalu sensasional dan jadi hiburan tersendiri. Buat siapapun yang bertanya, ingatlah kalau hujan batu di negeri sendiri itu lebih enak ketimbang hujan emas di negeri orang. Hidup di Indonesia nggak bisa dibilang hujan batu karena sebenernya hidup di Indonesia itu enak banget. Mau bukti?

1)      Mau beli ini itu deket

Di negeri kita itu mau beli apa-apa deket dan gampang. Saya nggak ngomongin lipstick NARS yang nggak eksis di Indonesia *curhat*, tapi cabe, garam, atau air dalam kemasan. Mau beli mah selemparan batu aja, tinggal ke warung seberang, warung pojokan, warung ujung gang atau kalau lebih males lagi, angkat telpon dan minta dianterin. Di jalan, di dalam kereta pun kalau mau apa-apa gampang, bisa buka jendela beli dari asongan atau melipir bentar ke trotoar, cari pedagang. Kalau macet pun di Jakarta atau di Puncak, mendadak kita dimanjakan dengan aneka rupa penganan, dari kerupuk, bakpao, tahu, gemblong. Semua pedagana dengan leluasa jualan di tengah jalan.

Di luar negeri, nggak ada warung, asongan, apalagi delivery air kemasan galon. Jam 6 sore toko-toko udah pada tutup, jadi ya selamat kalau keabisan garam silahkan ketok tetangga atau makan tanpa garam aja. Kalau mau cabe, jauh bow harus ke Asia Market dulu. Mending kalau cabenya murah, sudah mahal, gak bisa beli segenggam macam di pasar-pasar tradisional.

2)      Tolong-menolong

Udah deket, kita pun suka males, alasannya PANAS. Nah kalau males enak tinggal whatsapp aja mbaknya pekerja rumah tangga untuk jalan, kasih tip 5000 juga udah cukup kan? Di kantor juga gitu, mau apa-apa tinggal minta office boy office helper untuk  nyariin. Kebiasaan tolong menolong ini juga berlaku di instansi-instasi, urus passport minta tolong, urus dokumen ini minta tolong. Beres dalam sekejap, enak kan? Di Irlandia mau nyuruh siapa bayar pekerja rumah tangga itu mahal, bayar supir nggak bakalan mampu deh kecuali kawin sama orang kaya, nyuruh-nyuruh orang ngasih 5000 bakalan dicekik kali. Nggak ada budaya suruh-suruh, apa-apa harus dikerjain sendiri, termasuk ngangkat barang yang beratnya kayak galon.

 3)      Pijet

Abis nyuruh-nyuruh kan capek tuh. Di Indonesia kalau capek gampang, tinggal pijet aja. Indonesia ini kan negeri surga jadi mau pijet tinggal nelpon aja, datang mbak-mbaknya, murah pula. Buat pria malah ada bonus mengeluarkan si pelari ulung dari dalam tubuh. Di luar negeri mau pijet, sejam bisa 50 – 60 Euro, mending enak, cuma macam kucing dielus-elus. Jangan dibayangin pula bahwa itu pijet plus-plus.

 4)      Aneka rupa pekerjaan ‘ajaib’

Di Indonesia pekerjaan-pekerjaan yang tak terpikirkan itu eksis. Tukang Anak dibawah umur yang jadi ojek payung berdedikasi menyelamatkan make up mbak cantik dari guyuran hujan berkeliaran di mana-mana. Di Irlandia dan negara barat lainnya, boro-boro. Lupa bawa payung berarti hujan, basah dan dingin kena angin cuy!

Di banyak kota, tukang parkir juga setia membimbing yang gak bisa parkir. Ngejagain pula, cukup ditukarkan dengan 5000 rupiah. Coba di Irlandia, mesin parkir yang nelen uang itu gak bisa teriak lurus, banting kiri, kiri patah, jadi kalau belajar nyetir kudu serius, nggak bisa tembak-menembak SIM.

Just married to get into the country.

5)      Jalan Kaki

Di luar negeri itu gak ada ojek, apalagi gerobak ojek untuk menyelamatkan diri dari hempasan banjir. Taksi juga mahal bow, alhasil kalau kemana-mana harus jalan kaki. Definisi jalan kaki di luar negeri itu nggak cuma 100 – 200 meter, tapi pakai kilometer ya bow. Kalau baru jalan 20 – 30 menit itu mah: deket. Udah gitu jangan disangka jalannya lambat kayak di Jakarta (Orang Jakarta itu jalannya lambat, coba ke Malang deh, disana jalannya p  e  l  a  n   b  a  n  g  e  t!). Di luar negeri itu kalau jalan mesti cepet, kalau gak cepet nanti kedinginan. Alhasil, betis kaku macam betisnya Gatot Kaca. Lihat lagi ke nomor 3, kalau betis kaku pijetnya mahal, jadi kalau mau dilemaskan kudu nempel koyo. Iya, koyo yang di Indonesia nggak dianggap keren itu!

Banyak orang berpikiran pendek bahwa kawin sama bule itu enak, bisa hura-hura, uangnya gak ada nomor serinya. Kebanyakan lihat expat di Indonesia sih, jadi mikirnya begitu. Di Indonesia mah mereka jadi expat, ada allowance expat, rumah dibayarin, mobil dibayarin, gaji banyak kelebihan karena rumah dibayarin. Pulang kembali ke tanah airnya, belum tentu mereka bisa naik taksi tiap hari, mabok bayarnya.

Kawin sama bule juga bukanlah jalan menuju keenakan dan kesuksesan. Duh, kalau mau enak itu kawin sama anaknya orang kaya di Indonesia, itu juga kalau kalian bisa ngegaetnya. Jadi anak orang kaya di Indonesia itu enak, nabrak orang sampai mati nggak perlu masuk penjara *Syid!*, kalau pengen ini itu tinggal tunjuk sana sini dan kalau pengen makan sesuatu tinggal minta dibayarin.

Kalau pengen hura-hura dan enak-enakan itu kerja keras, yang keras jangan santai-santai!

Wahai para bule hunter, bule itu manusia, bukan ATM, bukan juga PERURI yang nyetak uang setiap saat. Mereka manusia yang punya hati. Jadi kalau mau kawin sama mereka itu mbok ya yang tulus, pakai cinta. Daripada kualat karena niatnya nggak baik, mendingan kau batalkan niat cari bule buat tiket menuju kemakmuran. Mending pacaran sama anak pejabat aja deh, sumpah hidup lebih gampang, selama bapaknya gak ditangkap KPK ya!

Bule Hunter

Suatu hari saya mendengar pepatah baru yang tak diajarkan di sekolah di Indonesia, jangan sampai juga diajarkan, bunyinya: “No matter how ugly you are, if you are bule, you will always get a girl in Jakarta or in Indonesia.” Bukan orang Indonesia yang ngomong, tapi seorang asing. Ini sebenarnya sindiran buat sebagian perempuan di Jakarta yang terobsesi pada pria berkulit putih atau yang umum dilabeli bule hunter ataukah ini penenang hati buat para pria yang butuh perempuan sih? Entahlah.

Bule hunter adalah orang yang menginginkan pasangan berkulit putih. Alasan di balik pemilihan kulit putih bermacam-macam,  dari perbaikan keturunan, perbaikan kelas sosial hingga perbaikan status ekonomi. Yang saya tahu, di Indonesia kebanyakan bule hunter itu perempuan, tentunya ada yang pria, tapi hingga saat ini saya belum bertemu. Kata bule hunter sendiri memiliki konotasi agak negatif, baik di kalangan bule sendiri maupun di kalangan sebagian orang Indonesia. Mungkin karena para bule hunter ini seringkali hanya mau dengan bule dan menolak pria lokal (atau ditolak pria lokal).

cari pacar bule

Uniknya, perempuan yang biasanya malu-malu, kalau menyangkut bule mendadak berubah menjadi agresif. Begitu tahu nomor handphone si bule, nggak pakai babibu, langsung tancap gas dekati si bule bahkan nekat mengirimi foto selfie yang bikin melotot. Kalau belum tahu nomor telpon, segala cara dicoba demi mendapatkan nomor handphone atau pin BB. Kalaupun si bule sudah kawin, nggak jadi masalah, malah jadi tantangan tersendiri. Mbak pemburu bule ini juga dari berbagai kalangan lho, dari penjaga fotokopian hingga manajer restaurant.

Bule Hunter Matre

Ngomong-ngomong tentang perempuan bermotif ekonomi, ada perempuan yang menyeleksi calon pasangannya dari uangnya agar ketahuan pelit atau tidak. Cara testnya standard, dengan disuruh bayarain makana enak di restaurant dan bayar belanjaan. Kalau tak mau keluar uang, jangan harap hubungan bakalan berlanjut, apalagi ngarepin si mbak buka kaki lebar-lebar, eh maaf, bertekuk lutut.

Jaman ngekost di tempat lama, ada mbak-mbak pemburu bule yang cerdas (atau licik?). Tiap bulan kosnya dibayar oleh opa bule bahkan kendaraan pun disediakan si opa. Si Opa tak tinggal di kost-kostan, dia hanya jadi “ATM” yang secara rutin mampir ke kost untuk bayar.  Kamar kost boleh dibayari oleh si Opa tapi yang menghangatkan ranjang di malam hari, mas bule lainnya. Suaranya kalau lagi bercinta bisa menembus tembok kamar-kamar kos di sampingnya. Panas!

Mengapa Bule?

Beberapa hal yang menurut saya membuat bule terlihat lebih menarik ketimbang pria Indonesia adalah cara mereka memperlakukan perempuan. Perempuan bagi mereka kedudukannya sejajar dan punya suara dalam memutuskan sesuatu. Hal-hal kecil yang dilakukan pria, seperti membukakan pintu, menyilahkan perempuan duluan, sudah bikin perempuan terbang ke langit. Tapi perlu dicatat, membawakan tas perempuan nggak termasuk di dalam list ya, kalau ini sih bikin ilfil. Perlu dicatat, gak semua pria bule melakukan hal-hal seperti di atas lho ya. 

Bagi sebagian WNA, fenomena mencari bule ini ‘menguntungkan’ karena mereka bisa dengan mudahnya mendapatkan kekasih, dari kekasih sekejap, kekasih gelap hingga kekasih beneran. Guyonan sebagian dari mereka, sebagian perempuan Indonesia itu gampangan. Asal didekati bule, diajak makan, langsung deh buka kaki, eh… bertekuk lutut.  Disisi lain, ada juga WNA mengganggap seleksi yang dimulai dengan memilih kulit putih mereka itu sebagai hal yang salah. Bagi mereka, kriteria warna kulit untuk memilih pasangan itu bukanlah hal yang benar bahkan bisa dikatakan rasis dan membuat mereka tersinggung. Pemilihan pasangan itu seharusnya dari kualitas dan kepribadian mereka. Contoh kriteria yang benar, menurut mereka, adalah cerdas, punya pekerjaan yang baik, tidak merokok, datang dari keluarga baik-baik.

Blog ini banyak mendapatkan kunjungan dari para bule hunter. Kata kunci untuk mencari bule beraneka ragam, dari pin blackberry bule (hari gini masih pakai blackberry?), cara pengen punya pacar bule, kenalan bali bule, hingga  cari pacar bule tinggi putih ganteng. Kalau Cuma google aja kapan berhasilnya? Kalau mau cari bule itu mestinya modal dikit, daftar di dating site lah atau gaul di lingkungan yang banyak bulenya. Kalau mau nekat, nulis aja di expat forum, cari pacar bule, kayak yang di bawah ini.

minta pacar bule

Jadi bule hunter itu sah-sah aja (asal gak hunting suami orang ya!), tapi saran saya, jangan memilih pasangan karena kulitnya atau rasnya. Seleksilah pasanganmu lebih dalam, kalau kata orang Jawa dari bobot, bibit, bebet nya. Bule itu sama dengan manusia lainnya, ada yang baik, ada yang jahat, ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang tukang mukul ada yang perhatian.  Yang membuat cara pikir mereka adalah bagaimana mereka dibesarkan dan dilingkungan serpeti apa. Jadi jangan asal nyamber bule ya. Seleksi yang bener, daripada sengsara di masa yang akan datang.

Bule hunter ini fenomena unik, bagaimana menurut kalian?